Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Permaisuri


__ADS_3

Permaisuri menurunkan kaki dari atas tangga halaman istana Ibu Suri. Di bawah langit kerajaan itu, ia merasakan semilir angin menerpa tubuhnya. Entah angin kebaikan atau sebaliknya, titik perjuangan dimulai malam ini. Membentuk putra mahkota agar layak menjadi Raja. Akankah ia berhasil ? Hembusan nafas frustasi terdengar tipis dari bibirnya. Pembawaan permaisuri yang tenang, sangat sulit untuk menebak isi hati dan pikirannya.


"Mari permaisuri, sebentar lagi putra mahkota akan berkunjung ke istana anda." Seorang Dayang mempersilahkan permaisuri melangkah lebih dulu.


"Bagaimana karakter putra mahkota?"


Dayang terkesiap mendengar pertanyaan yang terlontar dari permaisuri. Ia menundukan wajah takut untuk menjawab yang sebenarnya, sebab ia tak berhak menilai calon rajanya.


"Maafkan saya permaisuri."


Senyum terlukis di wajah permaisuri, hingga bulan di langit merasa iri dengan kecantikan yang terpancar di wajahnya. "Tidak perlu dijawab, aku hanya mengujimu, pertahankan kesetiaanmu. Kelak kesetiaan kalianlah dibutuhkan putra mahkota."


Bak angin segar, Dayang merasakan hembusan aura positif yang menerpa hati dan tubuhnya. Baru beberapa jam, pengantin putra mahkota sudah menunjukan wibawa sebagai permaisuri. 


Permaisuri memasuki istana, di dalam nya tak kalah mewah dengan istana di kerajaan asal. Wanita itu segera memerintahkan Dayang untuk membantunya membersihkan diri. Permaisuri menjulurkan kaki ke dalam bak yang di penuhi air dan ratusan kelopak bunga tak luput pula aromaterapi alami sebagai pelengkapnya. 


Tubuh lelahnya perlahan kembali segar setelah berendam air dan dimandikan para Dayang. Ia menikmati sensasi gosokan lembut tangan para Dayang di tubuhnya.


"Permaisuri, waktunya anda makan malam." Kepala Dayang bersuara di balik tirai.


Para Dayang membantu permaisuri berdiri dan mengganti kain yang dikenakan saat mandi. Mereka terkejut mendapati bekas luka di punggungnya.


"Itu luka di medan perang." 


Seolah mengerti dengan tatapan terkejut para dayangnya. Permaisuri langsung menjelaskan disertai seulas senyum.


"Maafkan kelancangan kami, permaisuri." 


Para Dayang kembali menunduk, tubuh mereka gemetar tak berdaya, kini mereka paham permaisuri di hadapan mereka ini. Bukanlah wanita biasa layaknya putri raja manja dengan segala kemewahan.


Usai membantu permaisuri berpakaian dan berhias, seorang Dayang meletakkan meja dan menyusun beberapa makanan di atasnya.


"Silahkan makan malam permaisuri." 

__ADS_1


Kepala Dayang duduk di sisi permaisuri sementara yang lainnya menyapih agak jauh menunggunya selesai makan. Perasaan mereka campur aduk, takut jika permaisuri tak menyukai masakan koki istana. Namun ketakutan itu lenyap melihat permaisuri memakan makanannya dengan penuh penghayatan. Sungguh, luar biasa permaisuri putra mahkota itu.


"Pangeran tiba di istana."


Permaisuri segera berdiri di ikuti para Dayang, mereka menyambut kedatangan putra mahkota bersama Pengawal Ta dan Kasim nya.


Putra mahkota melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam, Iris matanya menatap tajam pada permaisuri yang menunduk hormat menyambut kedatangannya.


"Tinggalkan kami berdua." 


Titah itu terucap dari bibir putra mahkota, dengan gerak cepat seluruh dayang keluar dari tempat itu mengikuti langkah kasim dan juga pengawal putra mahkota. 


"Pangeran, anda sudah makan malam?" Permaisuri mengangkat wajahnya hingga manik mata mereka saling mengunci.


"Simpan saja perhatianmu itu ! Sekarang katakan padaku, rencana apa lagi yang ayahmu susun hingga mengirimmu sebagai permaisuriku ?!" 


Permaisuri tersenyum tak menunjukkan rasa takut sedikitpun, meski wajah pangeran begitu datar disertai sorot mata yang dingin.


"Kami tidak membuat rencana apapun, saya diutus kesini untuk menjadi permaisuri dan Ratu di kerajaan ini."


"Saya tunggu penemuan anda pangeran, ini malam pernikahan kita, apa anda akan bermalam disini?" Permaisuri mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Ya, rambut itu belum sempat di gulung ke atas menandakan dirinya wanita bersuami.


Putra mahkota melemparkan pandangannya ke atas, tak dipungkiri kecantikan serta kemolekan permaisuri sangat menguji naluri lelakinya, dan ia ingin sekali mengungkung tubuh permaisuri di bawah tubuhnya yang gagah. 


"Jaga sopan santunmu, permaisuri ! Meski kau telah menjadi istriku, tapi aku tak berniat menjadikanmu teman tidurku." Putra mahkota berusaha menutupi wajah merahnya dengan bersikap angkuh.


"Terserah pada anda, kelak jika sudah dinobatkan menjadi Raja, maka saya yang berhak melahirkan seorang putra mahkota untuk anda." Senyum mengejek terlihat di bibir permaisuri.


"Aku akan memiliki selir." 


"Miliki selir sebanyak mungkin, tapi Ratu tetap pemenangnya. Kecuali kematian datang menjemput saya maka anda berhak mengangkat Selir menjadi Ratu tapi dengan syarat dari keluarga bangsawan atau keturunan raja seperti saya. Atau anak Selir akan saya angkat sebagai anak maka dia bisa menggantikan anda kelak sebagai Raja."


Putra mahkota sekali lagi bungkam, ketidak tahuannya masalah ini membuatnya tak berkutik, itulah kenapa pangeran kedua tidak bisa menjadi raja. Sebab selir Ve bukan dari bangsawan seperti Ratu. Hanya karena keponakan jauh dari perdana menteri Ma bisa membuatnya menjadi Selir  dengan sebuah konspirasi. Benar yang diucapkan Ibu Suri tempo hari, kini putra mahkota yakin bukan omong kosong belaka.

__ADS_1


Laki-laki itu menyipitkan mata menatap lekat wajah permaisurinya, sungguh kecantikan itu tiada duanya. Sangat lancang gumpalan lembut di dalam tubuh putra mahkota memuji permaisuri. 


"Jangan harap aku akan bermalam disini." Ketus putra mahkota membuang wajah ke arah lain. Ia berusaha menguasai gugup yang tiba - tiba menyerang. 


"Anda yakin, pangeran." 


Kaki permaisuri melangkah kecil mengelilingi tubuh putra mahkota.  Aroma plumeria menguar dari tubuhnya hingga membentuk peri-peri kecil bersayap membawa roh putra mahkota ke taman plumeria. 


"Tentu saja yakin!" Ketus putra mahkota ketika peri-peri kecil bersayap melepaskan rohnya dengan kasar ke dalam raga hingga kesadaran laki-laki itu kembali dari halusinasinya. "Jauhkan tanganmu !" Bentaknya saat jari telunjuk permaisuri mendarat di dada. Sungguh sangat memalukan jika degupan sumber kehidupannya terdengar. 


"Baiklah, karena anda tidak akan bermalam disini. Bolehkah, saya melanjutkan makan malam ini?" Permaisuri menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk. 


Tunggu, kenapa rasanya tidak rela dalam hati putra mahkota setelah permaisuri menjauhkan tubuhnya. "Makan saja" Intonasi itu masih belum bersahabat. 


"Baiklah, bisakah anda keluar ?" 


"Kau mengusirku ?!" 


Putra mahkota tak terima namun melihat tatapan permaisuri tegas dan tajam nyali nya sedikit menciut. Baru saja ia ingin menunjukan taring tapi permaisuri lebih dulu menunjukkan kuku tajamnya. 


Tanpa berkata putra mahkota memutar tubuh dan meninggalkan permaisuri. Hatinya begitu dongkol belum sempat menunjukkan siapa dirinya di hadapan permaisuri. 


"Anda sudah selesai?" Pengawal Ta melangkah menghampiri. 


"Mari kembali ke istana ! Bisa-bisanya permaisuri mengusirku !" Gerutu putra mahkota sambil melangkah cepat.


"Anda diusir permaisuri ?" Pengawal Ta menatap tak percaya. Bukankah laki-laki di depannya ini sangat keras ? 


"Sangat membuatku kesal ! Besok aku akan membalasnya." 


Pengawal Ta dan Kasim saling pandang dan tersenyum tipis. Akhirnya putra mahkota menemukan lawan yang sepadan. Kini mereka yakin jika permaisuri mampu menaklukan laki-laki angkuh itu. 


 

__ADS_1


 


__ADS_2