Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Seringai puas tercetak di bibir hitam seorang pembunuh bayaran yang kini bersandar santai di badan mobil jeep. Laki-laki itu menatap kobaran api yang melahap mobil mewah dengan jarak tiga meter dari posisinya. Sesekali manik mata coklat gelap itu melirik senjata di tangan kanan, kemudian menghisap panjang nik0tin yang jadi candu di jari kiri. 


Hanya sekali kerja, target sudah dapat dimusnahkan. Seringai iblisnya semakin lebar ketika notif dari sebuah benda pipih di saku jaket berbunyi, sekali hisap lagi puntung candu sebagian laki-laki itu habis di bibir hitam si pembunuh bayaran. Dengan gerakan slow motion, ia menjatuhkan kampas manis yang masih menyisakan sedikit bara api ke atas aspal. Sepatu pantofel penuh kilatnya menghancurkan puntung rokok itu dengan brutal, seolah benda itu adalah target yang baru saja di lenyapkan. Puas dengan aksinya, laki-laki itu merogoh saku jaket yang dikenakan lalu terbahak melihat pundi uang yang masuk dengan nominal sangat besar. 


"Berapa jumlahnya ?" 


Pria itu tersentak sekilas suara mengisi ruang rungu, manik mata coklat tuanya terbelalak melihat sosok berdiri dengan gagah meski wajah dan kulit ada luka gores. Bahkan ketampanannya berkali lipat dengan rambut poni luruh ke depan kening. 


"Ka—kau ! Bagaimana bisa selamat dari kobaran api itu ?!" Tubuh yang semula bersandar di badan mobil jeep itu refleks berdiri tegak. 


"Hei, aku bertanya berapa keping uang yang masuk kedalam benda itu?!" 


"Tuan, bukan keping tapi lembar. Era ini memakai lebar bukan lagi keping." 


"Rei, aku lupa jika berada di zaman modern ! Tapi hukuman p@ncung masih berlaku, 'kan ? Di istanaku pembunuh bayaran akan di eksekusi mati apabila targetnya raja. Dan dia menargetkan aku !" 


"Tentu." Reiki menyeringai jahat namun tak melepaskan tatapannya pada sosok yang masih berdiri dalam keadaan terkejut. 


"Aku tidak menyangka, seorang pimpinan Tyaga grup tidak mudah untuk di tumbangkan." Laki-laki itu mengarahkan kembali senjata andalan sambil tersenyum. "AAHH." Teriaknya ketika tongkat bisbol dilempar keras oleh Bree. 


"Kau menargetkan aku ! Dasar tidak berguna !" Si tuan muda melambung tubuh ke udara dengan berpijak di salah satu pohon. Kaki yang terbungkus sepatu mahal itu tepat mengenai wajah pelaku. 


"Sial !" Tidak hanya menerima, pembunuh bayaran itu juga membalas. Satu gerakan ia mampu bangkit dan berdiri lalu memutar tubuh dan berniat menghantam bagian dada. 


"Bela dirimu sangat lemah." Bree bisa menangkis serangan lalu membalas memukul rahang pria itu. 


"Tuan." Reiki menatap tidak percaya. "Apa selama anda koma belajar ilmu beladiri ?" Takjub itu membuang siaga. 


Si pembunuh bayaran berguling dan meraih D€sert Eagle kembali. Lalu bergerak cepat untuk berdiri mengarahkan moncong senjata di kepala Reiki yang setengah menoleh pada Bree. 


"Aahh !" 


"KEMANA KEWASPADAAN MU, REI !" Tanpa sadar Bree meneriaki asistennya itu dengan perasaan terkejut luar biasa. 


"Tu—tuan, anda menembaknya." Reiki memutar tubuh melihat si pembunuh bayaran tersungkur di bawah badan mobil sambil meringis menyentuh bahu kanannya. "Dan anda menembaknya dengan tangan kiri." Lanjutnya masih dalam mode takjub.


"Kau hampir mati, Rei ! Berhenti takjub seperti itu !" Bree sangat kesal melihat tingkah Reiki yang lengah. Andai dia terlambat menarik pist0l dari tangan asistennya itu. Maka bisa saja Reiki menjadi korban. 


"Tuan, sisanya serahkan pada kami. Lanjutkan saja perjalanan kalian." Lima orang pengawal datang sedikit terlambat. 


"Kenapa kalian terlambat ?! Keselamatan tuan muda sangat penting !" Reiki kembali pada dirinya lagi setelah sadar dari rasa takjubnya. 

__ADS_1


"Sepertinya ini sudah direncanakan, sebelum kami tiba disini ada sedikit kendala disebabkan beberapa orang." Sahut salah satu di antara lima orang itu.


"Lalu dimana mereka ?" Bree bertanya sambil meraba bagian keningnya yang terasa perih.


"Sudah kami lenyapkan." 


"Apa ?!" Bree terbelalak hingga meringis merasakan sobekan di sudut bibirnya terbuka. "Sekarang, kalian bawa dia menggunakan mobilnya. Kurung di Mansion lama dan yang sudah kalian lenyapkan sapu bersih jejak kita. Jangan menyiksanya." Lanjut titah si tuan muda. 


"Anda yakin, Tuan ?" Reiki juga merasakan sensasi perih di bagian lengan.


"Ya, aku ingin memberinya makan dan memeliharanya dengan baik. Seperti cacing alaska yang dipelihara ratu Filia di dalam ponsel." Bree memberikan kembali pist0l di tangannya kepada Reiki. "Aku baru tahu kalau di era ini memelihara cacing bukan di dalam tanah lagi." 


"Sekarang kalian bawa dia dan tinggalkan mobil ini untuk kami pakai, Jangan lupa kirim yang lainnya untuk membersihkan kekacauan itu." Tunjuk Reiki pada kepingan mobil milik Bree yang tersisa.


"Baik Tuan, beberapa orang akan mengawal anda." Ketua dari kelompok pengawal itu menunjuk pada mobil putih yang baru tiba. 


Bree mempercayai si pembunuh bayaran di tangan para pengawalnya. Laki-laki itu mendaratkan tubuhnya di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Meski perih terasa di bagian kulit tergores tak memutuskan niatnya untuk mencari tahu penyebab kebun plumeria terbakar. 


...----------------...


Kilas Balik.


Reiki merasakan mobil mulai tidak terkendali. Asap juga mulai mengepul masuk ke dalam. Dapat dipastikan bagian bawah badan mobil sudah ada yang rusak. Manik matanya melirik sekilas ke belakang melihat kondisi sang atasan.


"Mari." Bree bergeser kekiri lalu membuka pintu yang masih berfungsi. Kondisi berpihak,  mobil melintasi semak yang sedikit tebal. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya dengan lemas dan memberikan pengamanan untuk kepalanya. Laju mobil yang sudah lumayan berkurang sedikit memberikan keberuntungan. 


"Ah, lumayan sakit ya, Tuan." Reiki merasakan kulit pipinya tergores rumput. 


"Iya, aduh keningku rasanya sobek." Bree meraba keningnya sambil meringis perih.


"Hanya sedikit, Tuan." Reiki menoleh lalu merasakan bagian lehernya tergores. "Ternyata perih." Sambungnya terkekeh pelan.


"Kita selamatkan, Rei ?" Bree berusaha duduk dan merasakan sudut bibirnya terluka. "Aw, bibirku sakit." Rintihnya pelan. 


"Tuan, sepertinya coat anda basah lepaskan saja. Masih ada jas di dalamnya." 


"Iya, Rei." Bree terperanjat karena dentuman keras. "Mobil itu meledak !" 


"Syut ! Lihat disana, kita targetnya. Ini bukan perampokan." Reiki menarik ujung jas Bree hingga kembali duduk. "Kita biarkan sebentar sambil mengatur strategi." 


"Dimana tongkat bisbol ku." Bree mencari benda yang sempat ia pegang saat akan menjatuhkan diri. 

__ADS_1


"Ini tuan, sekarang kita bersiap muncul di depannya. Saya juga akan membawa senjata." Reiki memperlihatkan pist0l yang terselip di saku jas. 


"Baiklah."


Kilas balik selesai


...----------------...


Mobil dikendarai Reiki dan Bree tiba lokasi tujuan. Netra keduanya menyaksikan sendiri kebun plumeria habis tanpa sisa. Hanya arang yang tertinggal dari beberapa kayu sekitar, asap api terlihat mengepul tipis pertanda bara si jago merah masih ada. 


"Tuan, Rei !" 


"Pak Alfon, apa sebenarnya terjadi?" 


"Mari masuk dulu ke rumah, sepertinya anda berdua dalam keadaan tidak baik." Laki-laki paruh baya itu melihat wajah Reiki dan Bree bergantian.


"Pak Alfon, perkenalkan ini pimpinan Tyaga Grup. Putra mahkota Tayga Adrian." 


"Saya Bree." 


"Oh, Ya Tuhan maafkan saya tidak mengenali anda." Pak Alfon langsung mengulurkan tangan. "Suatu kebanggaan bisa berkenalan langsung dengan pimpinan Tyaga Grup. Mari kita ke gubuk kami, Tuan." Sambungnya dengan kristal bening pertanda haru. 


"Terimakasih." Bree menepuk lembut tangan pria paruh baya itu.


Pak Alfon mengajak tamunya untuk masuk ke dalam rumah minimalis. Asri dan banyak tertanam bunga plumeria. Sudut bibir Bree terangkat melihat kecantikan bunga-bunga itu.


"Silahkan." Pak Alfon mendorong daun pintu. "Bu, ada tamu dari Tyaga Grup." Sambungnya memanggil sang istri.


"Selamat datang di rumah kami, maaf keadaanya seperti ini." 


"Tidak apa-apa, kedatangan kami kesini ingin tahu lebih banyak kejadian yang menimpa kalian." Reiki membuka percakapan tentang tujuan. 


"Kemarin, ada seseorang yang datang ingin membeli tanah kebun itu. Tapi kami menolaknya dengan tegas dan mengatakan jika sudah terikat kontrak dengan Tyaga group. Suatu kehormatan bagi kami petani kecil bisa menyuplai barang untuk Tyaga grup. Orang itu pergi dan malamnya sekitar pukul satu. Ada warga yang membangunkan kami dan mengatakan jika kebun telah terbakar." Cerita istri Pak Alfon yang bernama Melka. 


"Karena panik tentang kontrak yang telah disepakati, kami menelpon kantor induk yang dijawab oleh bagian informasi. Kami menyampaikan masalah ini di sana." Lanjut Pak Alfon.


"Maafkan kami, harusnya kami menghubungi anda tuan Reiki." Ibu Melka menatap sendu dengan perasaan tidak enak hati. 


"Jadi, apa kalian benar-benar tidak bisa menyuplai ke kami. Sementara proyek ini sudah mulai berjalan, bila gagal maka Tyaga grup akan kehilangan kepercayaan. Seperti halnya Tyaga otomotif." Sahut Bree. 


"Ya Tuhan, anda pimpinan Tyaga group !" Ibu Melka baru menyadari seorang Bree setelah beberapa menit berlalu.

__ADS_1


"Iya."  Bree tersenyum. "Kami harap anda memiliki kebun lain selain disini." Lanjutnya penuh harap.


__ADS_2