
Bukan waktunya bermain, Bree dan Reiki memasang waspada tinggi. Ada sekitar tujuh orang bertubuh besar menghadang jalan mereka dan kali ini orang-orang bertopeng itu sudah mengelilingi mobil.
"Tuan, bila ada kesempatan bawalah mobil ini jangan pedulikan saya."
"Kita hadapi sama-sama, Rei. Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi mereka semua sendiri." Bree mulai memikirkan strategi.
"Mereka bertujuh sementara kita berdua."
Bree tersenyum tipis. "Hanya bertujuh. Yang biasa aku hadapi lebih dari ini." Ucapnya bangga. "Sepertinya aku tidak akan memakai senjata ini, katana lebih baik."
Reiki membuka kasar daun pintu dan menutupnya kembali, dari aksinya itu satu orang terdorong keras dan satunya terjepit tangan.
Bree akan berbuat hal yang sama namun tersentak ketika tujuh orang itu telah melambung di udara tanpa perlawanan. Pengawal yang mendampingi mereka datang tepat waktu dan membereskan kekacauan itu.
"Lanjutkan perjalanan anda." Salah satu dari pengawal itu mengetuk kaca sisi kemudi.
Reiki mengangguk. "Bereskan mereka tanpa jejak." Ucapnya kemudian melajukan mobil.
"Rei, kita tidak jadi berperang?"
"Tidak tuan." Manik mata laki-laki itu terbelalak melihat sang atasan berpenampilan aneh. "Kenapa ikat pinggang anda ada di kepala?"
"Ck, dasar orang aneh ! Apa kamu tidak tahu jika ini sebagian pakaian perang. Di istana memang seperti ini. Hanya saja kainnya lebih lembut. Kau tahu gunanya agar rambut tidak menutupi pandangan." Bree melemparkan tatapan malas.
Reiki sekuat tenaga menahan tawa agar tidak pecah, keanehan Bree adalah hiburan tersendiri untuknya di tengah kesibukan dan rasa lelahnya aktivitas. Tak hanya itu, Bree yang saat ini lebih nyaman dibanding dulu yang hanya fokus bekerja.
...----------------...
Senja tak meninggalkan jejak, di kaki langit sebelah barat telah menggelap sempurna, saat mobil putra mahkota Tyaga berhenti di pelataran mansionnya. Bree dan Reiki memasuki pintu utama, disana Filia tengah menunggu dengan cemas.
"Bree." Nama itu terucap dengan sempurna tanpa embel-embel tuan.
"Ratu Filia, kamu menungguku?" Si tuan muda sumringah mendapati sang pemilik hati menunggunya tak jauh dari pintu utama.
"Iya, perasaanku tidak enak. Syukurlah kamu kembali dengan baik-baik saja." Filia menipiskan senyum melihat ikat pinggang melingkar di kepala laki-laki itu.
"Aku senang melihatmu mencemaskanku, tunggu sebentar aku harus membersihkan tubuh." Bree melemparkan senyum penuh cinta pada sang ratu.
Filia mengangguk lalu tersenyum apalagi mengingat foto yang dikirim Reiki saat siang. Ia mengayunkan langkah ke arah dapur meminta bibi Mei menyiapkan white tea.
__ADS_1
"Tuan sudah pulang." Bibi Joana baru saja meletakan beberapa makanan di atas meja.
"Iya, aku meminta bibi Mei membuatkan white tea."
"Terimakasih Nona karena memberikan perhatian pada tuan muda." Bibi Joana tersenyum senang.
Berselang beberapa menit, pria yang dibicarakan memasuki ruang makan. Wajahnya lebih segar dan bersih, tidak ada lagi ikat pinggang atau baju kumal yang melekat di tubuhnya. Bree mengayun langkah dengan hati riang dan menghangat.
"Tuan, makanan sudah siap." Bibi Joana menatap penuh kasih sayang pada si tuan muda.
"Terimakasih, Bi. Mari kita makan. Dimana Rei ?"
"Saya di sini tuan, selamat makan." Laki-laki itu menyahut sambil mendaratkan tubuh di atas kursi. Sejenak lirikan nya jatuh pada objek yang mengocok perutnya seharian.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Rei?" Bree menangkap lirikan sang asisten padanya. "Mata jelekmu tidak akan membuatku terpikat."
"Bree." Tegur Filia karena Reiki tersedak air yang baru diminumnya. "Kamu membuatnya tersedak." Lanjut gadis itu lembut.
"Maaf ratu."
"Minta maaf pada Asisten Rei." Filia melipat tangan di atas meja dengan tatapan penuh titah.
Manik mata Reiki menyipit memperhatikan cara makan atasannya itu. Dalam benak laki-laki itu berkata, apakah dia benar-benar raja ? Cara mengunyah, mengambil makanan dan duduknya yang rapi benar-benar berbeda dari Bree sebelumnya.
...----------------...
Waktu semakin bergulir, kini di dalam ruang kerja milik Bree Tyaga sudah ada tiga sahabatnya. Para laki-laki itu datang setelah makan malam dengan membawa laporan masing-masing.
"Apa yang kamu temui di kertas itu?" Lemparan tanya jatuh pada Leon. Iris mata si tuan muda nampak menunggu jawaban yang baik. Bree menyandarkan tubuhnya di dinding sofa sambil bersedekap.
"Di kertas itu masih tertinggal debu dari serbuk." Leon menjawab dan menggulirkan pandang pada semua wajah yang ada di depan mata. "Dan hasil penelitianku, itu adalah racun."
Bree mengangguk pelan sambil mencernah di dalam tempurung kepala. "Itu racun dan hasil pemeriksaan for€nsik kedua orang tuaku meninggal disebabkan racun. Apa jenisnya sama?" Pertanyaan itu tertuju pada Eros dengan sorot obsidian yang tajam.
"Iya, jenisnya sama. Seperti yang kita ketahui Paman dan Bibi meninggal bunuh diri karena putus asa tidak bisa menemukanmu dan Axel di dalam hutan."
"Itu narasi yang dibuat seniormu, bukan?" Seru Axel mengepal tangannya kesal. "Karena itu kasusnya ditutup."
"Iya." Eros menghela nafas panjang. "Dan kasus kematian orang tuamu. Hampir sama seperti yang dialami Bree, kerusakan pada mobil dan menyebabkan kecelakaan." Sambungnya tak kalah kesal. "Jangan khawatir aku akan menyelidiki ulang kasus ini." Eros menatap yakin wajah teman-temannya.
__ADS_1
"Kita bisa memulai dari kasus kematian tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka. Saya yakin semua akan berkaitan." Sahut Reiki meletak gelas white tea yang telah tandas.
"Reiki benar, kita mulai dari kasus orang tuaku. Bagaimana perkembangan Bibi Chen dan juga Paman Gio?" Bree menyetujui usul asistennya dan melemparkan tanya pada Axel.
"Kondisi mereka sedikit lebih baik, berkat Aslan mereka tidak lagi ketakutan. Filia juga meresepkan beberapa obat untuk mereka. Untuk pita suara, sepertinya membutuhkan waktu sedikit lama."
"Syukurlah, siapa yang tega melakukan itu pada mereka ? Pantas saja setelah pemakaman mereka menghilang dan aku juga tidak mencari tahu." Sesal Bree mengusap wajahnya kasar.
"Bukan hanya mereka, tapi nyawamu juga jadi target." Sahut Eros mengambil bantal sofa dan meletakan di tengkuknya. "Bagaimana tawananmu?" Tanya laki-laki itu sambil memejamkan mata.
"Mungkin dia sedang menikmati kenyamanannya saat ini." Bree menuang kembali white tea ke dalam gelas. "Aku yakin, tuan nya pasti heboh mencari keberadaan cacing alaska itu." Sambungnya santai.
"Nama mekanik itu Regi." Ucapan Reiki menegakkan kembali tubuh para sahabat atasannya yang mulai layu duduk di sofa. "Orang-orang saya gagal menemukan dia, sepertinya gerak kita terendus lawan."
"Kamu benar, kesimpulanku lawan yang sebenarnya adalah ada didekat kita sendiri. Jadi hati-hatilah dalam berencana karena tembok juga memiliki kuping." Ujar Eros dengan mimik serius.
"Tadi kami hampir berperang lagi."
"Apa ?!"
Pernyataan Bree mengejutkan para sahabatnya. Semua mata mengarah pada laki-laki itu yang tengah santai mengunyah cemilannya.
"Apa benar, Rei ?" Leon melemparkan tatapan tajam pada asisten itu. "Ini sudah masuk fase berbahaya. Musuh telah terang-terangan mengincar Bree. Jangan terlalu santai dengan keselamatannya, kerahkan keamanan Tyaga untuk terus berjaga." Sambung laki-laki itu memberi perintah.
"Bree, lebih baik kamu bekerja dari Mansion saja beberapa waktu. Keselamatanmu sangat dipertaruhkan." Eros mulai cemas pada posisi si tuan muda.
"Mereka tidak akan berani menyentuhku." Bree meletakan gelas yang telah kosong. "Mereka bisa memilih ingin mati dengan cara seperti apa ? Di penggal, di panah, di tembak atau di keluarkan jantungnya."
"Bree ! Ini bukan lelucon, hentikan omong kosongmu !" Axel tahu betul jika si tuan muda yang tidak pandai membenteng diri dari musuh merasa sangat kesal. "Jangan melanjutkan cerita konyol bahwa kamu seorang raja dengan kemahiran ilmu pedang." Sambungnya meluapkan kejengkelan.
Obsidian Bree Tyaga memang tajam dan berwarna hitam pekat. Namun, itu sama sekali tidak mengintimidasi para sahabatnya. Di mata mereka, dia adalah seorang yang lemah dan harus dilindungi. Kemanjaan yang diterima sejak kecil tak membuatnya pandai dalam ilmu bela diri. Tuan Adrian begitu menyayangi putra mahkota itu hingga tak membiarkannya terluka sedikitpun.
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang. Ingat Bree besok kamu bekerja dari rumah dan tunggu situasi aman." Tegas Axel membawa tubuhnya bangkit.
"Aku akan mengawasimu !" Eros berkacak pinggang seolah ucapannya adalah ancaman.
"Rei, besok pindahkan pekerjaan Bree ke rumah." Leon berkata dengan intonasi biasa dan menepuk lembut pundak laki-laki itu.
"Saya akan atur semuanya." Reiki tersenyum tipis kemudian mengantarkan tiga laki-laki itu keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
Bree menatap punggung para sahabatnya dengan hati yang menghangat. Kerinduan dengan kehidupan istana semakin terasa, hingga kilas ingatan di kebun plumeria mampir di benak. Wajah si tuan muda berubah mendung dengan perasaan resah. Ada ketakutan yang begitu terasa di dalam hati, banyak tanya yang bersarang di perangkat lunak tempurung kepala saat ini.