Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Tyaga Food


__ADS_3

Sarayu meniup lembut kumpulan awan yang telah berubah warna, pesona langit malam menawan mata Bree Tyaga Adrian. Lengkungan senyum tidak pudar dari bibir sejak bertemu kembali pada sang ratu hati. Daksa tegap nan tinggi itu bersandar di sebatang pohon besar, berbalut pakaian tradisional semakin memancarkan pesona.


"Bagaimana rasanya ketika tubuh sehat tiba-tiba merasakan sakit yang amat dahsyat ?" 


Bree tersentak dari dunia lamunan." Kau ! Selalu saja datang tiba-tiba." Kesal membingkai hati kala lamunan penuh bunga bahagia berterbangan tak tentu arah. 


"Bagaimana rasanya ?" Pertanyaan itu berulang. Tanpa bertatapan sosok berjubah putih itu tahu jika pria di sampingnya sangat kesal. 


"Tentu saja sakit ! Aku bahkan ingin memilih segera mati ketimbang merasakan sakit itu lebih lama." Ketus Bree melemparkan pandang ke lengkungan langit. Kesadaran tiba-tiba datang, pria itu menoleh dengan lirikan sengit. "Apa rasa sakit itu juga ulahmu ?! Apa itu yang kau sebut sebagai balasan rasa sakit yang telah aku berikan pada ratu?"


"Ya." Helaan nafas beriringan dengan kalimat pendek itu. "Seperti itulah rasa yang telah diterima ratu." Sambung pria berjubah putih. 


"Sakit, sangat sakit. Ratu saja kuat menahannya maka aku akan demikian. Memikirkan rasanya aku pasti tidak sanggup tapi demi ratu. Aku harus bisa menahannya. Terbukti setelah pertemuan kami rasa itu lenyap tanpa menyisakan bekas." Bree tersenyum bangga. 


"Ketahuilah yang mulia. Pertemuan ini bisa saja jadi awal kebahagiaanmu tapi bisa juga sebaliknya, jadi pergunakan dengan baik. Dan jangan lupa perjanjian kita, magnet waktu akan menarikmu kembali jika gagal. Pertemuan mu dan ratu akan menyingkap tabir besar yang tidak kau duga sama sekali. Selamat berjuang memecahkan teka-teki ini." Di penghujung kalimat segumpal cahaya putih menelan sosok berjubah itu hingga tak terlihat. 


...----------------...


Hima malam menipiskan diri, mencair perlahan seiring hangat sang mentari. Di pembaringan king size, Bree membuka kelopak mata hingga memperlihatkan obsidiannya yang pekat. Pria itu gegas bangkit usai meminum habis air putih di gelas. 


Senandung kecil terlantun merdu di sela bibir, Bree membiarkan air shower mengguyur seluruh tubuh, kenangan mandi berendam di bak mandi istana, bertabur bunga plumeria dan aroma terapi yang sejenis terlintas di benak. Ingin mengulang kembali, ketika tubuh di manja oleh jari halus sang ratu. Mengingat itu semua, Bree mempercepat ritual mandi agar bisa bertemu sang pujaan hati. 


"Tuan, pakaian anda sudah disiapkan. Kita akan langsung menuju pabrik Tyaga Food." Reiki meletakan seperangkat keperluan atasannya di atas kasur. 


"Apa Ratu Filia juga datang, sebagai dokter pasti dia sibuk sekali." 


"Dokter Filia sudah mengatur jadwal, dia akan datang bersama dokter Xavier." Reiki mengulurkan jam tangan mewah untuk mempermanis lengan kekar Bree. 


"Pengawal itu ?!" 


"Dia rekan kerja dokter Filia, bukan pengawal." Ralat Reiki tersenyum tipis.


"Dimataku dia seorang pengawal, apa Bibi Lexa juga akan hadir?" 


"Tentu saja, Nyonya Lexa akan datang bersama kedua orang tua Nona Lisa." 


"Huhh." Bree menghembus nafas kasar. "Gadis itu pasti membuat drama. Kau pastikan dia jauh dariku. Aku tidak yakin dia selamat dari ratu Filia. Kamu tahu, ratuku bukan hanya cantik luar biasa tapi dia juga ahli di medan perang. Saat kami di serang dalam perjalanan, ratu Filia tidak ragu memenggal kepala musuh." 


Reiki menelan saliva perlahan, seganas itukah ratu di dalam cerita Bree ? Ingin rasanya ia terlibat menyaksikan langsung dunia kerajaan yang sering dibicarakan oleh atasannya. 


Setelah bersiap, Bree memutar tubuh untuk keluar dari kamar. Di belakangnya Reiki mengikuti dan memastikan jika semua sudah dikenakan oleh atasannya. 


"Bree." 


"Bibi Lexa, sepagi ini sudah ada di mansion. Ada apa ?" Bree menghentikan langkah. 


"Kita akan berangkat bersama ke pabrik Tyaga Food." 


"Baiklah, mari kita sarapan." Bree melemparkan senyum hangat." Selamat pagi paman Marcel, Bibi Vindy." Sapanya pada sepasang suami istri yang menatapnya berbinar. 


"Bree lama tidak bertemu, maafkan kami tidak menjenguk setelah kau sembuh. Kesibukan benar-benar menyita waktu." Paman Marcel menunjukan sesal.


"Tidak masalah." 


"Kak Bree, aku berangkat bersama mu ya ?" Lisa memanfaatkan waktu ketika di depan orang tuanya.


"Aku ada janji dengan seseorang." Bree menjawab dingin kemudian mengayunkan langkah. 

__ADS_1


"Bree, tidak salahnya Lisa pergi bersamamu." Bujuk Bibi Lexa lembut. 


Bree tersenyum tipis lalu mendaratkan tubuh di kursi. "Bibi Jo, siapkan white tea di termos mini." Ucapnya tanpa menanggapi perkataan Bibi Lexa.


"Bree, sejak kapan kamu minum white tea? Selama ini kamu menyukai teh biasa." Bibi Vindy menghentikan pergerakan tangannya.


"White tea cocok untuk kesehatan. Jadi apa salahnya aku mulai mengonsumsi."


Reiki bernafas lega mendengar jawaban Bree, yang ia cemaskan tidak terjadi. Bree menjawab tanpa mengaitkan asal mula meminum teh itu. Yang artinya rahasia keanehan atasannya belum bocor.


Teh putih atau white tea adalah teh yang berasal dari tanaman yang sama seperti teh hijau, yaitu Camellia sinesis. Meski berasal dari tanaman yang sama, teh putih diambil dari kuncup dan daun teh muda dengan metode pengolahan yang berbeda sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang unik. 


...----------------...


Bujuk rayu dimainkan Lisa Anella tidak membuat Bree Tyaga Adrian merubah pikirannya. Di sinilah, mobil mewah milik pimpinan Tyaga grup itu berhenti tepat di pelataran pabrik Tyaga food. 


Seluruh petinggi pabrik menyambut kedatangan Bree di pintu lobby. Setelah tujuh bulan lamanya, hari ini mereka begitu bahagia dan bersyukur melihat sang pemimpin hadir dengan keadaan yang sehat. 


"Selamat datang Tuan Bree, terimakasih sudah kembali bangun dan sehat. Kami benar-benar merasa kehilangan selama enam bulan itu." Seorang pria paruh baya menghampir dengan tatapan penuh kaca-kaca haru. 


"Terima Kasih, Pak Felix." 


"Mari kita langsung saja ke aula. Acara akan dimulai." Pak Felix menggiring rombongan untuk masuk. 


Derap langkah para petinggi itu menggema di atas lantai, arah pandang Bree langsung tertuju pada para pekerjanya yang menyambut dengan antusias.


"Tuan Bree selamat datang. Silahkan duduk." Sekretaris pak Felix mengarahkan ke kursi depan. 


"Karena tuan Bree sudah hadir mari kita langsungkan acara. Hari ini, adalah uji coba produk baru kita yang terbuat dari ikan dan mengandung omega tiga. Makanan ini bisa ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan dan toko. Sebelum meluncurkan produk ini secara resmi maka kami akan mengadakan uji coba secara langsung seperti sebelum-sebelumnya. Meskipun, kami telah mendapatkan sertifikat layak konsumsi dari departemen kesehatan. Tapi untuk uji coba tidak ada salahnya menyakinkan para konsumen." Pak Felix langsung menyampaikan inti acara. Karena beberapa menit lalu telah dibuka. 


"Disini sudah ada berbagai macam olahan dari produk kami. Dan disiapkan sesuai banyaknya tamu undangan. Silahkan siapa yang akan memulai lebih dulu, jangan sungkan pada tuan Bree." Kelakar Sekretaris pak Felix mengambil alih. 


"Tuan, biar saya yang memulai lebih dulu." Tak dipungkiri rasa cemas itu hadir di saat seperti ini. Bayangan masa lalu terlintas dibenak Reiki.


"Saya saja, Tuan." Irene menawarkan diri. Ia pun memasang tubuh untuk sang atasan yang telah baik padanya. 


"Saya juga bisa." Sahut Luna. 


Pergerakan Bree dan bawahannya menjadi perhatian para tamu. Mereka berdecak kagum melihat kesetiaan dan kebaikan para karyawan itu. Ya, mereka bisa memahami posisi seorang Bree Tyaga Adrian. 


"Hei, kalian tidak perlu cemas. Makanan itu sudah aku teliti dengan baik di laboratorium dan hasilnya layak dikonsumsi." Seru Leon di ujung meja. 


"Leon benar jangan cemaskan Bree." Tambah Eros meyakinkan. 


"Kak Bree, aku juga bisa menggantikanmu untuk memulai mencicipi makanan itu." Lisa melemparkan senyum manis penuh peduli. 


"Kalian kenapa ? Makanan itu sudah memiliki sertifikat. Jadi biarkan Kak Bree memulainya." Widan angkat suara karena jengah atas sikap bawahan kakak sepupunya. 


"Asisten Rei, aku yang mendampingi tuan Bree untuk mencicipi makanan itu." 


"Filia !" 


Pekik Irene dan Luna tertahan. Mereka girang melihat sosok sahabat hadir di sana. 


"Kamu yakin. Fil?" Xavier menatap cemas, bukan hal rahasia lagi penyebab Bree kecelakaan tujuh bulan lalu adanya kejahatan tangan seseorang. 


"Tentu." 

__ADS_1


Bree masih mematung melihat ratunya berdiri dengan gaun cantik membungkus tubuh. Tulang kecantikan nya di permanis uluran kalung berwarna putih serta rambut di curly menjuntai di kedua bahu. 


"Bree, Filia akan menemani mu." Eros menyentuh lengan laki-laki itu. 


"Mari." Bree mengulurkan tangan


Filia tersenyum lalu mengapit lengan si tuan muda. "Aku akan mendampingimu." Ucapnya lembut. 


Dua insan itu melangkah anggun khas bangsawan. Dari jauh pesona mereka menelan seluruh atensi tamu yang berjumlah dua ratus orang. Decakan kagum samar terdengar melontarkan puji pada pasangan bak raja dan ratu. Walau sebenarnya mereka memanglah raja dan ratu. Namun, siapa yang tahu akan hal itu? 


"Siapa gadis itu ?" Bisik Lisa kesal pada Widan.


"Entahlah, aku baru melihatnya." 


"Ini tidak boleh dibiarkan, cukup dua gadis gatal itu mendekati Kak Bree." Lisa semakin marah dan panas menyaksikan adegan di depan mata. 


"Jaga bicaramu, Lisa. Sikapmu yang kemarin saja membuat Kak Bree marah apalagi menyentuh gadis itu. Aku yakin kau tinggal nama, sudahlah jangan berharap lebih." Widah kesal mendengar kalimat kasar dari bibir adik sepupunya.


"Rei, sejak kapan Filia dan tuan Bree kenal?" Irene tersenyum melihat pasangan yang di maksud saling suap mencicipi menu uji coba.


"Sejak beberapa hari yang lalu, dokter Filia akan membantu Tuan. Kalian paham, 'kan?"


"Tentu." Luna tersenyum rasanya lega jika atasannya cepat diatasi dari penyakit gila. 


Lisa melirik tajam pada Irene dan Luna, kenapa kedua gadis itu bereaksi biasa saja saat Bree menggandeng gadis lain. Padahal mereka begitu terlihat berlomba mencari perhatian atasannya. 


Seluruh tamu undangan ikut merasakan olahan produk yang akan diluncurkan dua minggu lagi. Setelah melihat keadaan Bree dan Filia baik-baik saja, mereka memberanikan diri untuk ikut mencicipi. 


...----------------...


"Bagaimana ?" Leon menghampiri.


"Semua aman, sudah dua jam tidak ada gejala alergi ataupun keracunan." Bree tersenyum melirik gadis di sampingnya. 


"Bagaimana dengan anda dokter Filia?" Leon tersenyum disertai kedipan mata.


"Jaga tatapan dan bibirmu ! Ratu Filia wanita terhormat, dia bisa memberi titah untuk memenggal kepalamu jika tidak berlaku sopan padanya." Pelan namun tajam itulah kalimat terlontar dari bibir Bree.


Leon menahan tawa setelah mendapatkan lirikan mematikan dari Reiki. "Baik yang mulia, ampuni saya." 


"Minta maaflah pada ratu Filia !" 


"Filia, aku minta maaf." 


"Tidak masalah tuan Leon, pria ini saja berlebihan." 


"Ratu Filia, aku tidak berlebihan. Kamu adalah ratu." Bree menatap lembut.


"Iya aku ratu."


Bree tersenyum lalu meraih termos mini yang disediakan oleh Bibi Joana. "Ini white tea, minumlah." 


Filia meraih gelas lalu bersiap menenggaknya. "Xavier !" Gadis itu kesal karena sahabatnya menyambar teh di tangan.


"Aku haus." Xavier mengusap jejak teh di bibir. Laki-laki itu menahan cemburu sejak tadi. 


"Hei pengawal, jaga batasanmu. Aku bisa saja menyeretmu ke balai pengadilan." Bree berdiri dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Xavier tersenyum lalu melangkah dan menabrakan diri ke tubuh Bree. "Aku akan merebut Filia darimu." Ucapnya setengah berbisik lalu melangkah mundur.


__ADS_2