Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Permohonan Reiki


__ADS_3

Di kaki langit barat, matahari begitu anggun mempesona dengan belaian angin sore, Bree Tyaga menikmati sendiri dengan balutan rindu yang menggunung tinggi. Laki-laki bermata hitam pekat itu menghela nafas usai menyelesaikan misi mengupas rahasia di dalam keluarga Tyaga dan rasanya begitu lega. Setidaknya, ia akan meninggalkan kondisi keluarga Tyaga dalam keadaan baik-baik saja. Meski hati terluka karena gagal untuk mendapatkan maaf dan cinta ratunya. 


Obsidian laki-laki itu bergulir pada tanaman plumeria yang kini setinggi lutut. Mulai berbunga dan berwarna cantik, aroma feminimnya menguar menusuk rongga hidung. Sesaat Bree menghirup udara menjelang senja kemudian tatapan itu terpaku pada tangan kanan yang diletakkan diatas meja. Senyum pahit terukir tipis kala padang jatuh pada perhiasan rambut milik Filia Aruna yang sengaja ditinggalkan gadis itu. 


Semua berakhir, cinta yang gagal dan maaf tak didapatkan. Bree menyiapkan diri untuk menerima hukuman dalam bentuk apapun. Genggaman semakin erat hingga membekas merah, satu hari lagi terasa tipis sehelai rambut. Nafas Bree memberat, haruskan perpisahan yang didapatnya ? 


Rindu itu kian menyebar, terlebih beberapa hari belakangan ia tak lagi menjadi penguntit di seberang jalan hanya untuk melihat ratunya dari jauh. Bree mengangkat pandang lalu melemparkan ke segala arah menenggelamkan kembali kristal bening yang hampir berbentuk kaca di sudut mata. 


"Kau benar ratu, kesempatan itu tidak selamanya bisa didapatkan." Kekeh putus asa terdengar mengambang di udara. 


"Tuan, hampir senja mari masuk." Suara Reiki menyusup di keheningan rumah kaca. 


"Aku masih nyaman disini." Tanpa mengalihkan pandang Bree menyahut. Tubuhnya masih dengan posisi yang sama. 


"Ada yang mengganggu pikiran anda ?" Reiki membawa daksanya duduk di sebelah Bree. Netra laki-laki itu terarah pada tanaman plumeria. 


"Rei, satu hari kedepan tepatnya disaat ulang tahun Ratu Filia. Aku mungkin akan meninggalkan tempat ini."


"Apa maksud anda ?" Laki-laki itu refleks menoleh. Tangannya tanpa sadar terkepal di atas meja. Firasatnya tiba-tiba tidak nyaman. 

__ADS_1


Bree terkekeh saat tatapannya jatuh pada kepalan tangan sang asisten. Si tuan muda tahu ada amarah dalam kepalan itu. "Rei, apa yang aku katakan selama ini adalah kenyataan. Aku seorang raja yang datang ke tempat ini mencari ratu dan mendapatkan maafnya, dalam perjalanan ini aku memiliki misi dan misi itu aku dapatkan karena satu jiwa dalam tubuh ini. Aku harus membantunya untuk menyelesaikan rahasia kematian di keluarga ini dengan anugerah ingatan yang sama. Setelah itu jiwa lain dalam tubuhku akan menghilang dan hanya tersisa jiwaku. Dalam perjalanan ini, aku gagal mendapatkan maaf ratuku yaitu ratu Filia. Sebagai balasan atasan kegagalan itu aku akan menerima hukuman tepat di saat ulang tahun ratu Filia. Hukuman itu aku akan menghilang, tidak akan tinggal disini dan juga tidak kembali ke istana. Jadi jika aku menghilang esok hari jaga keluarga ini, pegang Tyaga Group. Aku sudah menyiapkan dokumen resmi pada Kaili."


"Tuan." Reiki mencoba mengangkat kepalanya yang tertunduk menahan gejolak rasa setelah mendengar cerita. "Siapapun anda, entah itu raja atau memang putra mahkota Tyaga. Bagi saya anda adalah tetap atasan saya, keluarga saya. Anda segalanya untuk saya yang sebatang kara ini. Wujud anda yang ada di depan mata itu yang saya percaya." Sial, kristal bening itu pecah di sudut mata Reiki. Sekuat tenaga laki-laki itu menahan isak sambil menggigit bibir, kepalanya tertunduk berusaha menekan tangis yang hampir meledak. "Bisakah, anda jangan kemana-mana ? Anda adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki. Sejak hari itu, saya menganggap anda keluarga. Saya akan menggantikan anda menjalani hukuman itu agar anda tetap disini. Tyaga group membutuhkan anda." Getaran pita suara Reiki hampir menyamarkan kalimat yang terucap. "Saya mohon jangan kemana-kemana." Lanjutnya menelungkupkan kepala di atas meja. 


Bree melemparkan pandang jauh ke dinding langit, matahari benar sempurna menghilang di balik awan. Sayangnya matahari akan tenggelam namun tetap muncul esok hari. Sementara dirinya akan tetap hilang. Bahkan gambaran hukuman itu belum bisa diterawang. Sakitnya seperti apa dan bagaimana. Bree benar-benar tidak tahu. Semakin hari raganya terasa tidak bugar lagi. Maka dari itu saat mengungkap rahasia Widan dan Bibi Lexa. Bree sengaja membatasi gerak untuk menghemat energinya hingga pada hari ulang tahun Filia Aruna. 


"Sayangnya, itu semua tidak bisa Rei. Aku memang harus pergi." Bree tersenyum tipis. "Tanah yang kita beli, tempat kebun plumeria dan rumah kayu. Di sana jalan ku pergi. Semua itu sudah diatur untukku." 


Reiki mengangkat kepala setengah duduk, lalu membuang wajah ke samping, tangan kanan terangkat mengusap air mata. "Apa ada sesuatu yang lain untuk membatalkan kepergian anda ?" 


"Hanya maaf ratu Filia, tapi semuanya tidak sesuai ekspektasi. Ratu masih belum mengingat kejadian di istana maka dari itu dia belum bisa memberikan maaf." Bree mengangkat tangan kanannya lalu menatap lekat perhiasan rambut di dalam genggaman. "Maaf yang diucapkannya selama ini bukan maaf sesungguhnya." 


"Iya, dia adalah ratuku dan kedatangannya ke tempat ini aku belum tahu pasti. Bagaimana caranya dia bangkit dari kematian sewaktu di istana. Aku belum tahu semua itu sampai ratu Filia kembali mengingat. Aku dan dia datang ke tempat ini dengan ingatan yang berbeda." 


Reiki mengangguk, hening menyela tidak ada lagi percakapan. Semakin waktu menjejal maka alam pun kian menggelap. Di atas lengkungan langit hanya ada bulan sabit dan bintang yang tampak kecil. Menyendiri tidak ada bintang yang lain. Netra Bree menatap dalam kesana kemudian senyum penuh luka kembali tersemat. Apakah dia seperti bintang kecil itu, jauh dan seorang diri. 


...----------------...


"Rasanya aku benar-benar lega, Tuan Widan dan Nyonya Lexa sudah menjalan proses pemeriksaan lanjut." Irene meletakan gelas yang baru saja disesap isinya. 

__ADS_1


"Kamu benar, sewaktu Reiki mengajak kita untuk membongkar rahasia itu. Tubuhku gemetar hebat." Sambung Luna meletakan sendok ke dalam piring. 


"Tapi aku melihat kondisi fisik Tuan Bree akhir-akhir ini menurun dan juga banyak termenung." Irene melayangkan tatapan pada tiga orang duduk bersamanya. 


Saat ini dua sekretaris utama Tyaga sedang makan siang bersama Filia dan juga Xavier. Setelah berhari-hari sibuk kini mereka memiliki waktu untuk bertemu. 


"Mungkin tuan Bree lelah." Luna meraih tissue menyudahi makan siangnya. "Yang pasti kurang istirahat." Sambungnya menyeka mulut. 


"Fil, kamu tidak berniat menemuinya ?" Xavier menoleh kesamping tepat dimana pemilik nama duduk.


"Untuk apa ?" Gadis itu bertanya acuh. 


"Filia, masalah kemarin adalah luar kendali tuan Bree. Siapa yang  ingin kekasihnya terkena masalah, tidak ada. Dan tuan Bree juga pasti tidak akan mau hal itu terjadi. Jadi turunkan egomu temui dia, tuan Bree cukup lelah akhir-akhir ini." Seru Irene serius. Gadis itu gemas melihat sikap keras kepalanya Filia. 


"Ren, semuanya sudah selesai. Masalah surat yang dikeluarkan juga sudah diluruskan Xavier." Filia kekeh dengan kemauan. 


"Sudahlah, bagaimana ulang tahunmu ?" Xavier mengatasi kondisi yang hampir memanas. 


"Tidak ada pesta hanya makan-makan biasa. Kalian datang lah." Filia menghabiskan sisa es di gelas. Gadis yang berciri khas aroma plumeria itu semakin cantik dalam balutan pakaian formalnya. 

__ADS_1


__ADS_2