Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Permohonan Bibi Vindy


__ADS_3

Berita penangkapan paman Marcel sudah tembus ke media sosial. Di internet ramai memberitakan kejahatannya yang menjadi pemburu liar, komentar pedas pun tak luput mengisi laman komentar akun resmi  miliknya. 


Beberapa karyawan yang bernaung di pabrik kecil milik paman Marcel mulai gelisah tentang masa depan pekerjaan. Mereka tak menyangka jika kulit dan daging yang selama ini mereka kerjakan sebagai tas dan juga makanan beku adalah binatang hasil berburu liar. 


Sebaris awan mengumpul diri di bawa sarayu malam. Panas siang hari mengantarkan uap terbang ke cakrawala, sebentar lagi awan itu akan berganti warna dan meledakan air. Cemeti dewa juga mulai terdengar tipis di kejauhan penjuru langit. Sungguh cuaca sangat menggambarkan perasaan seorang wanita paruh baya kini tengah menangis pilu memikirkan sang pemilik cinta yang tengah kedinginan di ruang berbeda. 


"Bree pikirkan sekali lagi, Nak." 


Ruang tengah mansion medium milik Bree Tyaga Adrian menjadi suram karena terisi suara tangis yang belum juga reda. Beberapa jam lalu kediaman laki-laki itu di sambangi Bibi Lexa, bibi Vindy dan juga Widan.


Obsidian putra mahkota Tyaga bergulir pada pemilik suara yang menatap penuh permohonan padanya. Laki-laki itu bersandar nyaman di dinding sofa, kedua tangannya terlipat di dada dengan posisi kaki kanan melapisi kaki kiri. 


"Bibi Lexa, kalau hanya masalah laporanku mungkin aku bisa mencabutnya asalkan paman Marcel tidak bertindak gegabah lagi. Tapi hal yang memberatkannya adalah kasus perburuan liar dan penembakan detektif Devarga tiga tahun lalu. Bukti semua ke arahnya." Penjelasan santai di bingkai mimik serius dari si tuan muda. 


"Tapi kakak bisa minta tim pengacara Tyaga untuk membantu paman Marcel. Pikirkan Lisa juga pasti saat ini dia sedang panik. Lupakan kebencianmu padanya." Widan memohon dari sorot matanya yang coklat tua. 


"Widan pengacara paman Marcel saja tidak menjanjikan menang di sidang nanti, dan kamu meminta tim pengacara Tyaga untuk mengambil alih ? Sebelum mengatakan itu apa kau sudah memikirkannya,  Jawaban apa yang mereka berikan ?" Bree menggulir pandang pada adik sepupunya itu, seringai tipis samar terlihat. "Maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa." Lanjutnya memasang raut sedih. 


"Andai aku tahu penyelidikan tempo hari untuk menyeret Marcel ke penjara. Maka tidak akan aku izinkan Eros untuk melihat rekaman Cctv pos rumah kami." Bibi Vindy menyeka jejak air mata yang belum juga berhenti mengalir. "Pasti dia kedinginan saat ini." Tangisnya pecah kembali dengan kepala menunduk. 


"Bree lakukan sesuatu." Bibi Lexa kembali bersuara memohon. "Biarkan Bibi bicara pada tim pengacara Tyaga asal kau memberi izin saja." Sambungnya dengan intonasi lembut seperti biasa. Kedua tangannya merangkul pundak sang adik yang terpukul. 


Bree merotasikan pandang ke samping. "Bibi Jo." Panggilnya sedikit nyaring saat kepala asisten Mansion itu melintas membawa troli pakaian yang sudah disetrika dan dilipat. "Panggil Reiki." Titahnya lembut.


"Baik tuan." Wanita itu berlalu dari sana untuk melanjutkan tugas. 


Bree menghela nafas tipis dan pendek. "Kalau misalkan tim pengacara ini menolak maka aku tidak tahu caranya lagi." Laki-laki itu berucap sambil menatap satu persatu wajah yang ada di sana.


"Anda memanggil saya, tuan." 


"Hubungi tim pengacara Tyaga, minta mereka datang ke sini sekarang. Ada hal yang ingin dibahas sama mereka."

__ADS_1


"Baiklah." Reiki gegas kembali ke dalam kamarnya mengambil ponsel. Meski benak bertanya namun tak mengurungkan langkahnya. 


"Kita tunggu dulu." Bree meraih cangkir white tea dari atas meja lalu menyeruputnya perlahan.


"Vindy, sebaiknya kamu minum teh dulu biar tenang. Percayalah Marcel tidak sendiri disana." Bibi Lexa membawa cangkir teh ke bibir adiknya itu. 


"Aku sangat memikirkannya, Marcel memiliki alergi dingin. Dia akan gatal-gatal apabila tidak memakai pakaian tebal." Wanita paruh baya itu menyeka air mata yang mulai mengalir tipis. 


"Besok kita kunjungi Marcel." Bibi Lexa memberikan penenangan. Satu telapak tangannya mengusap pundak sang adik menyalurkan kehangatan dan kekuatan. 


"Tuan." Reiki kembali keruangan tengah. "Saya sudah menelpon tunggu saja mereka akan datang." Laki-laki itu menipiskan senyum dan mendaratkan tubuh di atas sofa. 


Rasa iba pasti menyentuh afeksi si tuan muda. Namun, kejahatan tidak bersaudara. Laki-laki itu hanya menatap sayu ikut merasakan kesedihan bibi Vindy. Sambil menunggu kedatangan tim pengacaranya, Bree membawa tubuhnya bangkit dari sofa. 


"Rei, kamu tetap di sini aku mau ke atas dulu." 


"Iya Tuan." Reiki meletakan ponsel yang di pegangnya ke atas meja. Laki-laki itu melemparkan tatapan ke arah bibi Vindy. "Nyonya, apa anda tahu kalau Tuan Marcel melakukan perburuan liar?" Tanyanya seperti seorang detektif.


"Syukurlah, karena bisa saja anda terseret dalam kasus ini." 


"Rei !" Intonasi Widan naik satu oktaf. Iris matanya menatap tajam dengan gurat ketidak sukaan. "Apa maksudmu?!" Nada suaranya terdengar belum bersahabat. 


"Yang dikatakan Reiki benar, Nak." Sahut Bibi Lexa. Helaan nafasnya sangat berat pertanda situasi yang dihadapi begitu darurat. "Bersyukur bibimu tidak tahu, bisa saja dia terbawa masalah ini." 


Widan menghembus nafas kasar dan menegakan posisi duduknya. "Maaf, Rei. Aku terbawa pikiran dan suasana hatiku kurang baik. Aku sedang memikirkan keadaan Lisa disana." Laki-laki itu mengusap wajahnya frustasi. 


"Nona Lisa pasti kuat. Tuan Bree benar jika ini hanya menyangkut permasalah penyerangan kemarin mungkin dia sudah mencabut tuntutannya. Tapi ada kasus lain yang bukan dari tuan Bree pelapornya. Namun, tuan Eros sendiri." Asisten tampan itu menatap serius. 


"Selamat malam." 


"Selamat malam silahkan duduk." Reiki menyambut kedatangan tim pengacara Tyaga kemudian meraih ponselnya menelpon sang atasan. 

__ADS_1


"Terimakasih, maaf kami baru sampai di luar sedang hujan." Ucap Salah satu dari tim pengacara meletakan tas di sisinya duduk. 


"Tidak masalah, tuan Bree ingin membahas masalah kasus tuan Marcel pada anda semua." Reiki mendaratkan tubuh di sofa berseberangan. 


"Baiklah, apa yang akan dikonsultasikan?" Ketua tim bernama Kaili bertanya dan melemparkan pandang pada Bibi Vindy. "Selamat malam Tuan Bree." Laki-laki itu gegas bangkit membawa tubuh untuk berdiri saat melihat si tuan muda menyeret langkah ke arah mereka. 


"Selamat malam, maaf membuat kalian datang dalam keadaan hujan seperti ini." Bree menyalami para pengacara Tyaga itu.


"Tidak masalah, Tuan." Senyum tulus tersuguh di bibir Kaili. Laki-laki yang lebih tua dari Bree itu merasa senang bisa bertemu kembali pada pemilik Tyaga Group.


"Bibi Lexa bicaralah." Bree memberikan izin agar wanita paruh baya itu memulai pembicaraan. 


"Begini, Kai. Tanpa saya sebutkan permasalahannya padamu. Kalau saat ini Marcel adik ipar saya telah ditangkap atas tuduhan perburuan liar dan penembakan detektif Devarga tiga tahun lalu. Bisakah kamu mengambil kasus ini setidaknya untuk mengurangi masa hukuman jika memang Marcel bersalah."


Kaili tersenyum tipis kemudian membuka suara. "Nyonya, sebelum anda membicarakan ini. Tadi siang pengacara tuan Marcel  menyampaikan pesan jika dia tidak mau memakai jasa kami." Laki-laki itu berkata dengan raut santai. "Selain itu, perlu anda tahu kami tim pengacara Tyaga menuntut tuan Marcel atas korupsi dana yang disalurkan untuk bantuan panti jompo."


"Apa ?!" Bibi Vindy tidak bisa menahan lajunya air mata mendengar pernyataan Kaili. "Marcel korupsi ?" Pertanyaan itu mewakilkan ketidak percayaan. 


"Iya Bibi, buktinya sudah ada." Bree bersuara tanpa merubah posisinya. Dalam balutan jaket rajut berwarna coklat tua nampak laki-laki itu begitu tampan. 


"Marcel." Lirih Bibi Vindy tersedu kembali. Pria yang di sayang tega mencurangi.


Pembahasan cukup lama, Bibi Vindy dan Bibi Lexa masih bersikukuh memohon pada tim pengacara Tyaga untuk membela paman Marcel. Sementara Kaili tetap bertahan dengan tuntutannya. Akhirnya tim dibagi menjadi dua untuk membantu pengacara paman Marcel. Kaili dan beberapa orang bawahannya sebagai penuntut atas kasus korupsi. Dan tim kedua sebagai pembela untuk kasus lain.  


"Tuan, ada tamu." Bibi Joana membawa dua orang laki-laki bertubuh tinggi masuk ke ruangan tengah. 


"Siapa?" Reiki berdiri mendahului si tuan muda. Laki-laki itu melayangkan tatapan waspada bahkan tubuhnya telah berdiri melindungi si tuan muda.


"Maaf mengganggu malam-malam seperti ini kami pengacara dari keluarga Nona Filia." 


"Pengacara Filia ?" 

__ADS_1


__ADS_2