Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pertolongan Xavier


__ADS_3

Bunyi pecahan kaca beriringan dengan letusan senjata api, dalam sebuah ruangan kedap suara. Bentuk pelampiasan amarah itu sedikit mengerikan.


"Dimana sebenarnya Yohan ?! Berani  sekali dia mengkhianatiku. Tugasnya gagal dan uangku sudah diterimanya." 


"Tuan, kami sudah memeriksa terminal, bandara dan stasiun kereta sejak tanggal Yohan menghilang. Tidak ada tanda dia melakukan perjalanan. Dan juga laporan melakukan transaksi keuangan dari kartu yang kita berikan." Laki-laki bermata sipit bernama Jesen itu menjawab.


"Bree yang saat ini sedikit berhati-hati. Lalu bagaimana pencarian kalian pada sepasang asisten mansion itu?" 


"Belum membuahkan hasil, tuan." Jesen menjawab sambil menundukkan kepala merasa gagal. Tiap ruas jarinya saling bertautan untuk menekan rasa gugup dan takut, bisa saja moncong senjata api itu berbalik padanya.


"Huh ! Semakin rumit saja. Sekarang gadis bernama Filia juga hadir di sisi Bree. Kalian bisa menjadikan dia sebagai tombak untuk merobek jantung putra mahkota itu. Dan terus awasi transaksi dari kartu Yohan, mencegah hal seperti ini lah aku memberikan kartu kosong padanya dan mentransfer pembayaran bila sudah berhasil." 


"Iya tuan." Jesen membawa tubuhnya untuk berdiri dan meninggalkan tempat, tulang belabarnya tak cukup mampu untuk menghalau dari debaran takut.


...----------------...


Di mansion, Bree tengah melakukan zoom meeting bersama beberapa staf kantor terkait produk baru yang tengah dikerjakan. Laki-laki itu selalu tampan dimanapun dan kapanpun. 


"Rei, aku akan berkunjung ke mansion lama bersama ratu Filia." Ujar Bree setelah penutupan meeting. 


"Tapi, anda dilarang keluar oleh tuan Eros." 


"Hanya sebentar, aku ingin menjenguk cacing alaska itu." Bree membawa laptopnya kembali ke dalam kamar miliknya. 


"Baiklah, saya akan kirim beberapa orang untuk mengawal anda dan kita bertemu disana. Saya juga akan menyusul." 


"Hm." 


Bree mematikan kamera dan laptop kemudian mengganti pakaiannya untuk bersiap. Namun, langkah itu terhenti kala angin membawa suara petikan merdu menembus pilar kamarnya dan menyusup masuk lewat balkon kamar laki-laki itu. 


Bree membawa langkah ke arah muara balkon kamar, petikan itu semakin jelas dengan perantara angin. Sudut bibirnya tertarik kemudian membatalkan niat untuk berganti baju. 


Sementara di rumah kaca, Filia memainkan kecapi dengan begitu serius, alunan nada hasil petikan jarinya terdengar merdu dan bermakna. Dejavu, namun gadis itu tidak bisa menerka dimana ia pernah melakukannya. 


"Petikanmu sangat merdu ratu Filia." 


"Bree." Jari gadis itu terhenti kemudian tersenyum. "Meeting Zoom nya sudah selesai?" Tanyanya berniat menutup kecapi.


"Jangan ditutup, aku merindukan saat kau memainkan kecapi. Aku sudah selesai Meeting zoom." Bree mendaratkan tubuh di depan Filia. 


"Bagaimana perasaanmu?" 


"Baik-baik saja." Bree meraih garpu lalu menancapkan ke potongan buah yang tersaji. 


"Apa sering bermimpi atau susah tidur?" Filia tidak pernah melupakan hadirnya di rumah itu sebagai dokter jiwa.

__ADS_1


"Tidurku nyenyak." Bree menyodorkan garpu ke bibir sang ratu. 


Filia mengunyah buah sambil kembali memetik kecapi, gadis itu memainkannya penuh penghayatan. Sementara Bree menatap lekat sang pemilik hati, kini ia merasakan suasana istana. Nada yang dihasilkan dari petikan kecapi membawa rumah kaca itu bagai dalam ruang salah satu istana. Ditambah lagi aroma feminim plumeria yang menguar dari tubuh Filia, tak ketinggalan pula sang bayu bertiup lembut menerbangkan dedaunan sekitar. Sedikit rasa rindu itu terobati. Kini Bree harus meyakinkan Filia untuk menikah kembali padanya. 


"Mari kita berangkat." 


Bree tersentak dari lamunannya, nada kecapi yang masuk ke dalam rungu mengantarkan laki-laki itu ke masa lalu. Sangat jelas di pelupuk mata, dimana ia dan ratu berlarian penuh canda tawa, makan dan berperilaku manis, serta menghabiskan waktu hingga hadirnya si calon penerus yang pergi tanpa diketahui. 


"Iya, tapi aku harus mengganti pakaian lebih dulu." Bree mengulurkan tangan bermaksud mengajak ratunya meninggalkan tempat itu. 


Dari sudut lingkungan itu, Bibi Mei dan juga Bibi Jonana memperhatikan kedua insan yang kini sangat bahagia.


...----------------...


Matahari merangkak naik menandakan jika siang bertambah, mobil milik Bree Tyaga Adrian sudah berbaur dengan pengguna jalan yang lain. Sebelum ke Mansion lama, Bree dan Filia mampir lebih dulu ke rumah dokter cantik itu, kemudian melanjutkan perjalanan setelah barang yang akan diambil sudah ditemukan. 


"Tuan, sepertinya mobil kita di ikuti sejak meninggalkan rumah dokter Filia." Sopir berkata sambil memperhatikan mobil di belakang. 


"Siapa lagi mereka." Geram Bree menoleh kebelakang. "Jangan takut." Ucapnya pada Filia.


"Apa mereka akan menyerang kita?" Gadis itu mulai gemetar dan ketakutan, bibirnya pucat dengan iris mata yang gelisah. 


"Ratu, ini seperti bukan dirimu saja. Kau tidak pernah takut menghadapi musuh." Bree menatap heran melihat gadis di sampingnya ketakutan hingga berkeringat dingin. 


"Berhenti bercanda, Bree ! Aku tidak seberani itu dan juga tidak memiliki keahlian apapun." Filia sedikit membentak karena takut bercampur kesal.


"Ta—tapi Bree, bagaimana dengan mu?" 


Si tuan muda menipiskan senyum sambil menatap penuh cinta. "Jangan cemaskan aku." Satu kecupan mendarat di kening gadis itu. "Pak, tidak perlu keluar langsung saja bawa Ratu Filia ke mansion lama." Sambung laki-laki itu.


Sudah tidak ada celah lagi, jalan mereka  ditutup oleh mobil yang menyalip dan lebih sialnya lagi, kendaraan lain berputar arah ketika satu mobil memblokir jalan. Benar saja andai sopir itu tidak menurunkan kecepatan bisa saja mobil mereka sudah mendarat di atas trotoar karena benturan. Hanya saja perhitungan lawan tidak tepat hingga benturan tidak terjadi. 


"Pak, mundurkan mobil ini kemudian putar setir ke kanan dan injak gas. Mereka tidak akan mau mati sia-sia tertabrak." Ujar Bree sesaat sebelum turun. 


"Baik Tuan." 


"Selamatkan ratuku apapun yang terjadi." Bree menggulirkan pandang ke arah Filia. Tangannya terangkat mengusap buliran bening yang mengalir hangat di pipi ratunya. "Jangan menangis." Ucapnya lembut. 


Satu dari para lawan bertopeng itu menarik paksa pintu sebelah Filia, hingga gadis itu menjerit takut. Bree menarik tubuh sang ratu ke dekapannya kemudian menekan kunci pintu dan mendorong kasar hingga orang yang berniat memukul kaca mobil terjungkal ke atas trotoar. 


"Pak bawa ratu Filia." Bree mengunci cepat pintu mobil sebelah ratunya dan keluar. Satu tendangan ia hadiahkan pada pria di sisi pintunya. 


"Serahkan gadis itu, kami hanya berurusan dengannya."


Amarah Bree naik ke ubun-ubun langsung  menghantam rahang pemilik suara itu. "Kau pikir aku bodoh menyerahkan ratuku!" Gumamnya pelan namun tegas." Tangannya menarik kerah baju orang itu dengan kasar dan kembali memukulnya. 

__ADS_1


Sementara sopir dan Filia mulai melakukan hal yang diperintahkan meskipun beberapa orang berniat membuka paksa pintu dan memecahkan kaca. Seperti yang diucapkan tidak ada yang ingin mati sia-sia.


Mobil membawa Filia melaju meninggalkan tempat dan menyisakan Bree seorang diri. Melihat target lolos, mereka berniat menyusul. Namun, pergerakan itu dapat terbaca oleh si tuan muda. Dengan sekali terjang, tubuh seseorang yang berniat membuka pintu mobil bagian depan tersungkur di aspal.


Melihat di antara mereka ada yang terjatuh, yang lainnya segera melakukan perlawanan. Perkelahian dengan tangan kosong itu pun terjadi. Bree tangkas menangkis serang dua orang yang menyerangnya secara bersamaan. 


Satu sikutan bisa menumbangkan lawan yang berniat mengunci pergerakan Bree dari belakang. Tersisa tiga orang melakukan serangan brutal, bahkan diantara mereka ada yang mengeluarkan pisau lipat. Masih gesit putra mahkota menghindari mata pisau. 


"Sial !" Maki seorang yang terpelanting di atas trotoar karena tendang Bree.


"Awas !" 


Balok yang hampir saja menghantam kepala bagian belakang Bree melayang ke wajah pria yang memaksa berdiri dari atas trotoar. 


"Xavier." Bree tersenyum tipis semakin memperlihatkan ketampanan karena penampilannya yang berantakan. 


"Anda terluka?" Sorot kekhawatiran itu sangat jelas tercetak di manik hitam Xavier. 


"Aku baik-baik saja, target mereka adalah ratu Filia." 


"Kurang ajar !" Sama hal nya dengan Bree, amarah Xavier menguasai tanpa banyak bicara laki-laki itu melayangkan pukulan. 


Melihat Xavier bertarung dengan beringas Bree merasakan mendapatkan partner yang cocok untuk  berperang. Laki-laki itu penuh semangat mengayunkan tendangan. 


Kurang dari dua puluh menit lawan mereka terkapar di atas aspal. Xavier dan Bree mengatur nafas yang naik turun, merasa lelah dua laki-laki itu mendaratkan tubuh di atas jalanan.


"Menyebalkan !" Umpat Bree, "Aku haus sekali." Sambungnya membuka kancing baju bagian atas sambil mengibaskan tangan. 


"Kalau begini kulitku akan hitam terkena sinar matahari." Xavier mengusap kedua lengannya. "Sangat terik, dimana Filia?" Tanyanya setelah memperhatikan sekitar. 


"Dia sudah pergi lebih dulu, mereka menargetkan ratu Filia. Aku rasa ini perbuatan paman Marcel." 


"Apa anda akan diam saja?" Xavier menoleh kemudian kembali melihat lawan mereka yang tidak bergerak sama sekali. 


"Tentu saja tidak, aku akan mengurusnya." 


"Perencanaan mereka sangat matang, lihat mobil itu memblokir jalan." Tunjuk Xavier ke arah mobilnya yang berhenti. 


"Ayo kita pergi." Bree bangkit dari tempatnya duduk. "Terimakasih pertolonganmu hari ini." Ucapnya tulus. 


"Tuan maaf kami terlambat." Seorang pengawal menundukan kepala dengan perasaan amat bersalah. Andai saja salah satu dari mereka tidak darurat ingin ke toilet pasti mereka tiba tepat waktu.


"Bereskan mereka." Bree melanjutkan langkah dan mendaratkan tubuh di sisi Xavier.


"Minumlah." Laki-laki itu menyodorkan satu botol minuman yang masih baru sambil menunggu mobil yang memblokir jalan disingkirkan oleh pengawal.

__ADS_1


"Aku heran, di istanaku pengawal selalu mengikuti raja dengan jarak yang tidak jauh. Bila terjadi sesuatu maka mereka akan pasang badan dan membuat pagar untukku. Tapi disini aku bertarung sendiri, sangat menyebalkan !" Gerutu Bree sambil menerima botol air.


Xavier hanya diam kemudian melajukan mobilnya untuk menyusul Filia ke Mansion lama. 


__ADS_2