Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Kesepian


__ADS_3

Satu minggu berlalu dilalui begitu terasa oleh seorang Filia Aruna. Ratu yang melakukan perjalanan waktu ke zaman modern untuk menenangkan sejenak jiwa terguncang karena tuduhan keji yang dilayangkan untuknya. Namun di tempat ini ia dipertemukan dengan seorang laki-laki bernama Xavier yang tak lain pangeran Nev dari istana. Perjalanan laki-laki itu untuk membawa ratu kembali setelah mendapat petunjuk dari pria berjubah putih. Namun, niat itu ia tanggalkan ketika sekelumit hati memilih untuk serakah dan ingin memiliki ratu. 


"Sudah tiga jam anda di sini dokter Filia." Reiki tiba-tiba bersuara di samping gadis itu dengan arah pandang ke taman plumeria yang sudah merekah. "Sudah malam lebih baik anda kembali." Lanjutnya dingin tanpa menoleh. 


Filia menghela nafas panjang semakin mengeratkan dekapan tangan di dada. "Maaf." Gadis itu tertunduk sejenak mengatur gelombang rasa yang ingin mendorong kristal bening dari sudut mata untuk mencair. "Maafkan aku, andai saja aku tidak mengabaikannya mungkin raja masih tetap bersama kita. Aku salah, harusnya aku menuruti kata hatiku yang masih mencintainya." Getaran pita suara Filia sangat kentara betapa ia menahan untuk tidak menangis. 


"Saya sudah meminta pada anda berulang kali untuk berpikir tapi anda menolaknya dengan cepat." 


Filia mengangguk. "Rasa sakit yang kuterima di istana tidak ada gambarannya, Rei. Aku juga tidak menyangka jika akhirnya kami berkumpul di tempat ini." 


Reiki menghela nafas panjang sambil mengeluarkan tangan dari dalam saku celananya. "Semua sudah terlambat, tuan Bree sudah damai tidak lagi merasa sakit. Meski disini sakit kehilangannya tidak akan sembuh." Asisten tampan itu menepuk dadanya pelan. "Bagi saya dia adalah segalanya." 


Filia tersenyum masam dalam gurat sedih. "Waktu itu…" 


Kilas Balik.


Tiga hari dirawat karena racun dari goresan anak panah. Ratu mulai sembuh dan selama itu pula ia menyadari jika ada yang berbeda dari tubuhnya hingga meminta seorang tabib wanita untuk memeriksanya. 


"Selamat Yang mulia ratu, anda sedang mengandung." 


"Terimakasih." Ratu tersenyum mengusap perut ratanya penuh kasih sayang. 


Baru saja berniat untuk memberitahu raja namun utusan dari istana ibu suri datang. Ratu mengurungkan niatnya untuk menemui raja. Dengan langkah tertatih Ratu gegas menemui ibu Suri di istananya. Hal tidak terduga pun terjadi Ratu mendapat tuduhan yang tidak ia lakukan. Selama di dalam penjara Ratu merasakan putus asa hingga pangeran Nev datang membawa sedikit harapan. 


"Yang mulia ratu" 

__ADS_1


"Pangeran Nev !" 


Pangeran kedua tersenyum, hatinya iba melihat kondisi ratu yang menyedihkan. Baru saja pulih dari sakit kini harus di kurung. 


"Yang mulia ratu, saya akan mencari tahu siapa yang menuang racun di dalam teko air ibu suri. Hati saya tidak meyakini jika anda melakukan ini." 


"Terimakasih pangeran Nev, aku percaya pada mu. Tidak ada orang yang bisa membantuku saat ini, sekalipun itu raja." Ratu menaruh harap begitu besar pada laki-laki di hadapannya ini.


"Sebentar lagi, ibu suri akan di kremasi. Mungkin saya tidak akan datang nanti malam. Jaga diri anda baik-baik." Pangeran Nev meninggalkan tempat itu. 


Ratu menatap punggung pangeran kedua yang menghilang di balik tembok. Hatinya berkecamuk, berusaha berontak dan menjelaskan pada penjaga. Namun sayang, status ratu nya tidak berguna dalam keadaan seperti itu. Malam semakin larut Ratu memilih diam begitu pun dengan para abdi setianya. 


Beberapa pelayan istana datang membawa makan malam untuk ratu. Karena lapar dan memikirkan kondisi janin di perutnya, Ratu memakan makanan itu tanpa menaruh curiga. Beberapa menit kemudian ia merasa pusing dengan penglihatan yang mulai buram. 


"Yang mulia Ratu."


"Yang Mulia cepat muntahkan makanan anda." Dayang Shi panik dengan rasa tubuh yang mulai tak seimbang. 


"Tidak bisa, ahh sakit sekali." Ratu memejamkan mata menahan sakit yang mulai hebat di perut bawah dan menjalar ke pinggulnya. "Dayang Shi ke—kenapa rasanya panas sekali ?" 


"Yang Mulia, i—ini darah." Tangan Dayang Shi gemetar saat memperlihatkan telapak tangan yang merah. 


"Tidak, dia tidak boleh pergi sebelum raja mengetahuinya." Ratu panik berusaha berdiri meminta bantuan pengawal yang berjaga. Sakit itu semakin mengikat hebat dirinya hingga daksa itu tak bisa bergerak. 


"Yang Mulia ratu, biar saya saja." Dayang Shi menyeret tubuhnya ke sisi pintu. "Tolong yang mulia ratu pendarahan, sampaikan kepada raja dan panggil tabib wanita kesini." 

__ADS_1


Pengawal hanya menoleh tanpa menggubris meski kondisi Dayang Shi sudah tidak baik-baik saja. Bagi mereka pengkhianat adalah musuh meskipun ratu. Para pengawal hanya diam tanpa bersuara. 


"To—tolong." Nafas Ratu tersengal dengan kondisi melemah hingga kesadarannya mulai berkurang. "Dayang Shi ! Dayang Shi !" Panggilan itu terdengar lemah. 


"Yang Mulia ratu." Dayang Shi sudah kehabisan tenaga busa di bibirnya mulai keluar tak lama tangan wanita itu terjatuh saat ingin membalas gapaian tangan sang ratu. 


Ratu menangis dalam kondisi lemah hingga dadanya semakin sesak. Pasrah akan kematian sudah dilakukannya. Perlahan mata itu terpejam karena kesadaran semakin menipis. 


"Yang Mulia Ratu, anda sudah kehilangannya." 


Remang wajah seseorang masuk ke dalam tangkapan retina sang ratu namun bibirnya sudah tertutup rapat tidak ada daya lagi untuk membukanya. 


"Ini adalah pukulan terberat untuk anda kehilangan janin dan juga menerima tuduhan serta eksekusi yang telah ditetapkan raja. Kalau anda tidak mau mati konyol disini, saya bisa membantu anda untuk pergi. Lepaskan semua kesedihan anda disana tapi berjanjilah untuk kembali, dengan ini anda bisa melihat penyesalan Raja, dia cerdas tapi tidak difungsikan." 


Ratu hanya menggerakan jarinya tanda menyetujui. 


Kilas Balik selesai 


...----------------...


Reiki menoleh setelah mendengar cerita Filia. Suasana hening menyela kedua nya dengan waktu semakin maju ke pertengahan malam. 


"Pasti aneh, bukan ?" Filia tersenyum tipis. "Karena itulah aku mengeraskan hati pada raja tapi melihatnya bersungguh-sungguh hatiku tergerak tapi mengingat luka itu rasa benci saja tidak cukup. Sekarang aku menyesal.  Aku mengingat raja dan istana setelah insiden di rooftop." Tangis dokter cantik itu pecah. 


Menghabiskan waktu satu jam di dalam rumah kaca, Filia Aruna memilih meninggalkan tempat itu dan pulang ke mansion cyrus. Sementara Reiki berdiri lama di ruang tengah dengan tangan dimasukan ke dalam saku celana. Kepala asisten tampan itu mendongak ke dinding menatap dalam pigura besar di hadapannya. 

__ADS_1


"Kembalilah, saya mohon. Meski sebagai bunga sekalipun. Saya akan kembali tetap merawat dan menjaga anda, Yang Mulia." 


__ADS_2