Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Dendam Bermula


__ADS_3

Tiga tahun lalu…


Seorang detektif junior tengah melakukan pengintaian bersama timnya di lapangan yaitu hutan sebelah barat kota. Maraknya perburuan liar tanpa izin cukup meresahkan terlebih jumlah hewan lindung semakin berkurang. Kurang lebih dua bulan pengintaian belum mendapatkan hasil karena minimnya penerangan sekitar dan juga jauh di pinggiran kota. 


Hingga salah satu dari tim itu mencari letak kamera pengawas, dia adalah seorang gadis yang baru saja bergabung satu tahun belakangan. Detektif wanita itu bernama Devarga selain berwajah cantik dia juga cerdas dan teliti. Atasannya mengagumi cara kerjanya yang tidak gegabah, banyak kasus kecil yang selesai di tangannya hingga kerap kali mendapatkan pujian dari para rekan kerja. 


Profesi sebagai detektif itu mempertemukannya dengan Eros yang tak lain adalah seniornya. Mereka bekerja secara profesional saling mendukung dan melindungi terlepas dari kisah asmara mereka. 


"Tolong perbaiki kamera pengawas ini, sepertinya tidak berfungsi." Devarga berdiri sambil mendongakkan kepala ke atas dengan posisi tangan di pinggang. "Aku penasaran siapa pemburu liar itu." Lanjutnya melirik ke samping. 


"Kamu benar, ini rusak baiklah aku minta yang lainnya untuk perbaiki. Tapi lebih baik kamera ini tetap terlihat seperti ini, bisa saja pemburu itu lebih cerdas dari yang kita duga." Laki-laki yang tak lain Eros itu menyahut. 


"Ayo kembali ke kantor." Devarga melangkah lebih dulu meninggalkan calon suaminya itu. 


"Setelah kasus ini selesai kita ajukan cuti pernikahan." Eros mengimbangi langkah gadis itu. "Bree sudah mengatur jadwalnya untuk menghadiri pernikahan kita." Lanjutnya tersenyum.


"Baiklah, si pekerja keras itu selalu sibuk." Devarga terkekeh sambil mendaratkan tubuhnya di dalam mobil. 


Beberapa hari setelah perbaikan kamera, pengintaian pun selalu dilakukan setiap malam. Pemburu itu beraksi pada malam hari karena bila pagi datang hanya menyisakan jejak. 


Devarga yang tengah mempelajari laporan dari rekannya terkejut ketika ponselnya bergetar di atas meja.  "Iya." Jawab gadis itu sambil menyimpan kembali kertas yang dibaca.


"Target datang." 


"Baiklah." Devarga mematikan ponsel dan menarik jaketnya. "Eros, target sudah masuk." Sambungnya sambil berlari.


"Mari berangkat." Laki-laki itu berseru sambil mengikuti langkah Devarga bersama temannya yang lain. 


"Hindari adu tembak dan jaga keselamatan diri." Ketua tim menyahut sambil mendaratkan tubuh ke dalam mobil. 

__ADS_1


Mobil yang dikendarai para detektif berhenti di salah satu pos untuk masuk daerah itu. Mereka sedikit heran karena penjaganya tidak ada di tempat. 


"Kalian sudah datang mari masuk ?" Dua orang detektif yang memantau setengah berlari menghampiri. 


"Kalian dari mana?" Ketua tim bersuara.


"Kami baru saja mengosongkan kantung kemih." 


"Dimana penjaga pos ini?" Eros bertanya karena penasaran.


"Kaki siapa itu." Suara seorang gadis terdengar nyaring. Dia adalah detektif wanita selain Devarga.


Eros menghampiri kemudian menghidupkan senternya. "Ini penjaga pos." 


"Dia di suntik." Seru Devarga menemukan satu injeksi yang telah kosong. 


"Bawa dia ke rumah sakit beri penjagaan ketat. Keterangan darinya berguna." Perintah ketua tim. "Apakah penjaga disini pakai shift ?" Tanya nya lagi. 


"Mari masuk, temukan pemburu itu dan minta bantuan." Eros yang mulai geram gegas mengayunkan kaki. 


Dua bulan mengintai tempat itu tidak memberikan jejak, bahkan mereka mengira penjaga itu memang tidur selama ini. Karena belum ada hasil, mereka pun semakin mendekat hingga terlihatlah kejadian malam ini. 


Semua anggota bergerak menyisir jalan di dalam hutan. Mereka berpasangan sambil waspada dan melindungi. Dalam kesunyian itu hanya suara jangkrik dan binatang kecil yang terdengar, belum lagi nyamuk ambil bagian meminta darah. 


Langit malam begitu cantik bertabur bintang yang banyak, bahkan angin bertiup lembut membawa aroma wangi bunga liar yang tumbuh di dalam hutan. 


Melangkah pelan dan hati-hati semua orang memusatkan pendengaran dan penglihatan hingga terdengar ledakan kecil di pinggir hutan. Tepat tak jauh dari posisi Devarga. Gadis itu setengah berlari sambil mencari arah suara. Matanya terbelalak melihat ada jalan lain di tempat itu, satu buah truk kontainer terparkir di sana. Kini gadis itu paham jika menawan bintang lebih besar dalam kehidupan maka sedikit menyusahkan. 


Maka dari itu pemburu lebih memilih untuk membunuhnya kemudian dimasukan kedalam kontainer dingin agar tidak busuk. Pantas saja pengintaian mereka tidak berhasil karena pemburu itu masuk lewat depan melumpuhkan penjaga pos dan sebagian orang-orangnya menunggu di pintu yang telah mereka buat. Cukup cerdik dan rapi sehingga tidak membuat orang curiga jika itu adalah jalan. 

__ADS_1


"Berhenti !" Devarga mengarahkan pistol saat satu orang berlari menuju truk. 


Mendengar suara seseorang, laki-laki berambut panjang terkuncir itu menghentikan langkahnya. Dengan keberanian yang dimiliki ia menyerang Devarga. Gadis yang berbekal kepandaian bela diri itu, mampu menangkis serangan. 


Devarga melayangkan pukulan tepat di ulu hati laki-laki itu. Meringis sedikit kemudian bangkit untuk membalas pukulan si gadis  detektif. Hanya saja perhitungan itu tidak tepat hingga laki-laki itu terpental kembali. Jarak yang cukup jauh membuat Devarga  bertarung sendirian, pasangannya tadi entah melangkah kearah mana hingga tak menyadari jika mereka telah terpisah.


"Kau kenapa?" Suara berat datang dari arah dalam hutan. "Aku menyuruhmu menyiapkan truk bukan duduk disini !" Bentak pemilik suara itu lagi. 


"Di—dia." Laki-laki kurus itu menahan sakit sambil menunjuk ke arah Devarga. 


"Tuan Marcel !" 


Suara letusan senjata begitu nyaring terdengar menggema di tengah kesunyian malam. Seluruh tim bergerak mencari arah suara termasuk pasangan Devarga. Ia tersesat sendiri karena tanpa sadar terpisah dari gadis itu. 


Eros merasakan debaran dahsyat yang tak tahu penyebabnya. Tiba-tiba hatinya tergelitik cemas saat mendengarkan letusan senjata. Laki-laki itu berlari secepat yang ia bisa tak peduli akar-akar kecil yang berusaha menjerat kaki. Benda yang melingkar di tangannya menunjukkan jam sebelas malam. 


"DEVARGA." Laki-laki itu terkejut luar biasa melihat calon istrinya tergeletak dengan luka tembak. Sementara salah satu rekan mereka melepaskan jaketnya berusaha menghentikan pendarahan. "A—apa yang terjadi." Tangis laki-laki itu pecah sambil memangku kepala Devarga. 


"Pa—paman Ma—marcel." 


"Jangan banyak bicara." Eros gegas menggendong tubuh gadis itu dan membawanya berlari. Entah dapat kekuatan dari mana laki-laki berkulit sawo matang itu bisa berlari dengan cepat. 


"Ambil rekaman Cctv yang kemarin di perbaiki di pinggir jalan, bawa juga dia !" Pinta ketua tim meninggalkan tempat. 


Seluruh anggota shock apalagi laki-laki yang kini dihadiahi gelang besi di tangan sambil menggenggam pistol sangat terlihat terguncang. Bantuan yang baru datang menyebar menyusuri lokasi kejadian hingga menemukan satu bangkai binatang, mereka juga menemukan bekas ban mobil yang tak jauh dari lokasi penembakan. 


...----------------...


Di hadapan gundukan tanah yang telah dibuat indah, sebaris nama tertulis dengan ukiran yang bagus di sebuah batu. Eros meletakan tangan dan mengusapnya penuh perasaan lalu mengecupnya pelan dengan senyum tipis di bibir. 

__ADS_1


"Istirahatlah Devarga, aku berhasil membawanya ke jeruji. Bukti rekaman suara paman Marcel yang di pegang laki-laki itu saat negosiasi sebelum sidang waktu itu sangat memberatkannya." Eros meletakan bunga kesukaan gadisnya di tengah pusara. "Aku merindukanmu, andai malam itu aku tidak jauh darimu mungkin saat ini kita sudah bermain bersama anak-anak kita. Jika saja kita tidak sepakat melanjutkan pengintaian hingga malam hari, kamu pasti tidak akan jadi korban penembakan. Kau tahu Devarga, malam itu aku sangat takut melebihi apapun. Ketakutan itu merenggut semua keberanianku, duniaku seketika sepi sesaat setelah proyektil peluru itu diangkat dari tubuhmu. Semua sudah berlalu, aku akan membawa paman Marcel sampai tua di sana." Eros membawa tubuhnya berdiri. "Aku juga sudah mengamankan keluarga Erhan agar tidak menjadi senjata paman Marcel mengancamnya seperti selama ini." 


__ADS_2