
Ruang pandang terpaku pada pinggiran jalan yang dipenuhi bangunan, Filia terlihat menikmati pemandangan itu. Cinta, rindu yang tertanam dalam hati untuk si tuan muda menguap hilang saat dirinya jatuh bersama Bree diatas lantai rooftop. Berkendara cukup jauh, mobil yang menjemput Filia memasuki pelataran mansion medium Bree Tyaga Adrian.
"Selamat datang, Nona." Bibi Joana tersenyum hangat menyambut.
Filia tersenyum tipis. "Bibi Jo, hari ini aku pulang ke rumahku. Aku hanya mampir sebentar untuk berkemas." Gadis itu bicara sambil melangkah ke arah anak tangga.
Bibi Joana menggulir pandang pada sosok yang kini berdiri tak jauh darinya. "Apa maksud nona Filia, Mei ?"
Bibi Mei menunduk sejenak mengatur kalimat yang pas, lalu menghela nafas sambil mengangkat wajah. "Nona Filia akan pulang ke rumah, dia sudah memutuskan hubungannya dengan tuan Bree. Tak hanya itu dia juga mengatakan Tuan muda sudah sembuh besok surat pernyataan akan dikirim."
Bibi Joana berusaha keras mencerna apa yang baru saja di dengar. Wanita paruh baya itu merasa aneh kenapa tiba-tiba seperti ini. Filia tega meninggalkan Bree dalam keadaan sakit. Dan sakit itu didapat untuk menyelamatkannya.
Bibi Joana mengerti kehadiran Filia di Mansion adalah bentuk bantuan untuk mengobati Bree yang dikira mengalami depresi dalam mimpi setelah koma selama enam bulan. Bibi Joana tahu Filia pandai mengimbangi sebagai ratu, tapi tidak terbesitkah rasa iba sedikit saja dengan kondisi si tuan muda sebelum meninggalkannya ? Tidak berdesirkah perasaan dokter cantik itu atas perlakukan si putra mahkota ? Mungkin orang lain menganggap cinta yang diucapkan Bree adalah bentuk penyakit. Tapi adakah orang lain melihat cinta itu benar adanya, nyata dan sempurna. Apakah pria tampan itu mencintai sendiri ? Apakah perasaan Filia selama ini hanya rekayasa?
"Bibi Jo."
Suara Filia memecahkan kaca lamunan wanita paruh baya itu. Di anak tangga si dokter cantik berdiri dengan koper di tangan.
"Nona anda yakin pulang ke rumah sebelum tuan Bree pulang dari rumah sakit?"
Filia menatap datar. "Iya, terimakasih karena sudah menerima dan melayaniku dengan baik selama disini. Aku minta maaf jika ada kesalahan yang menyakiti Bibi Jo."
Bibi Joana mengangguk pelan. Sungguh ia tak merasa ada hak menahan Filia di sana. "Baiklah, hati-hati jalan. Maaf jika saya tidak membuat anda nyaman tinggal disini. Apapun yang anda lakukan untuk tuan Bree, saya ucapkan terimakasih."
__ADS_1
"Ratu Filia."
Atensi semua orang teralihkan pada sosok yang kini duduk di kursi roda. Bree datang bersama Reiki dan Axel, langkah mereka terhenti di ambang pintu. Jantung Bree berdebar melihat koper berdiri di sisi Filia. Tubuhnya gemetar hebat karena diserang rasa takut yang amat luar biasa.
"Tuan, anda pulang." Bibi Joana menyeret langkah ke arah Bree dengan seulas senyum dan selaput kabut membingkai iris mata.
"Bibi Jo, apa yang terjadi?"
"Tuan." Kepala Asisten mansion itu membawa tubuh untuk menjongkok sejajar dengan posisi si tuan muda. "Nona Filia akan pulang ke rumahnya."
"Apa ?" Bree merasakan himpitan keras di rongga dada. Luka tusuk di perutnya terasa ngilu dengan tubuh serasa melayang. "Ratu Filia, ini rumahmu." Laki-laki itu membawa tubuh bangkit dengan pita suara bergetar lemah. "Aku mohon jangan pergi, maafkan kesalahanku yang tidak bisa melindungimu." Bree berdiri berhadapan dengan sang ratu. Kedua tangan terangkat menyentuh bahu gadis itu.
"Tuan Bree, saya sudah mengatakan jika apa yang saya lakukan adalah bentuk pertolongan dalam penyembuhan. Saya menyatakan anda sembuh. Jadi biarkan saya pulang dan maaf secara tidak langsung membuat anda berharap pada hubungan kita. Agar tidak jadi sebuah harap yang berkepanjangan saya memutuskan hubungan ini." Filia menatap dingin obsidian laki-laki yang kini berhadapan dengannya.
"Tidak, jangan lakukan ini ratu Filia. Aku tidak mau ditinggalkan lagi, aku tidak mau sendiri. Jangan pergi ratu." Bree menggeleng pelan sambil menangkup kedua pipi Filia dengan telapak tangannya. Oksigen di sekeliling laki-laki itu terasa menipis tiba-tiba. "Aku mohon tetaplah disisiku aku mencintaimu ratu Filia." Sambung Bree memohon.
Bree terpaku dengan sakit yang begitu dahsyat di hati, manik mata laki-laki itu di kurung kaca kesakitan. Tatapannya jatuh pada benda mati yang tak bergerak di kaki. "Tinggal sekali lagi disisiku ratu Filia." Mohonnya seiring kaca kristal pecah di sudut mata. "Aku datang ke sini untukmu jadi jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon." Sambungnya tanpa mengangkat kepala tapi jarinya mencengkram kuat pergelangan Filia yang telah melangkah membelakangi.
Di sudut ruang Bibi Joana dan Bibi Mei tak kuasa menahan air mata. Melihat Bree yang memohon berulang kali, pemuda itu hancur berkeping dalam kesakitan fisik yang mendampingi. Tak jauh berbeda Reiki dan juga Axel terpaku di ambang pintu masih tak menyangka cinta Bree begitu dalam.
"Apa anda buta dan tuli ?! Saya sudah menjelaskan pada anda bahwa saya tidak bisa bersama anda lagi. Karena saya tidak siap mati untuk anda !" Intonasi Filia meninggi. Kebencian itu kentara dalam retinanya.
"Benci aku sesukamu tapi jangan pergi dari sisiku." Bree menjatuhkan tubuh di lantai dengan posisi duduk di atas lipatan kaki. Kepala tertunduk kebawah tanpa melepaskan jari dari pergelangan Filia.
__ADS_1
"LEPASKAN !"
"BREE." Reiki dan Axel bersamaan berteriak keras.
Sekali hentakan tangan Bree terlepas dari pergelangan Filia. Laki-laki itu hampir saja tersungkur di lantai, tanpa merintih sakit laki-laki itu mengangkat wajah berusaha menggapai lengan sang ratu kembali.
"Ratu." Bree tak mampu bergerak karena sakit luka tusuk di perut semakin menggerogoti tenaga. "Jangan pergi." Suara tercekat di tenggorokan. Tangan pria berwajah pucat itu hanya menggapai angin.
"Tuan, jangan diteruskan." Reiki memeluk tubuh atasannya dengan perasaan campur aduk. Asisten itu tak menghalangi Filia pergi.
"Rei, tolong cegah ratuku pergi." Bibir Bree memucat dengan pandangan penuh harap dan permohonan pada asistennya. Nada suara bergetar menandakan tangis akan siap meledak.
"Bree biarkan Filia menenangkan diri dulu." Axel membantu Reiki memapah tubuh Bree ke ruang tengah.
"Xel, aku tidak mau kehilangan ratuku lagi. Bawa dia kembali." Bree menggenggam erat pergelangan sang sahabat yang berniat menyingkap bajunya.
"Tuan, luka anda berdarah lagi. Jangan bergerak." Reiki berusaha menenangkan si tuan muda yang mencoba untuk menahan sang ratu namun sudah kehabisan tenaga.
"Maaf Bree." Axel menyuntikan penenang dengan bantuan bibi Joana yang menahan tubuh putra mahkota itu.
"Apa kau lakukan, Xel ? Cepat susul ratu Filia." Bree masih meronta di tempatnya duduk.
"Tuan, anda tenang. Saya yang akan menyusul nona Filia." Bibi Joana membawa tubuh duduk di sisi Bree lalu memeluknya penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Bibi Jo, aku mencintai ratu Filia. Bawa dia kembali padaku. Aku tidak mau kehilangan lagi bawa dia pulang." Bree merengek bak anak kecil dengan mata terpejam sementara tubuhnya sudah tak bergerak.
Perlahan tapi pasti Bree mulai tenang dengan tubuh masih dalam dekapan bibi Joana. Daksa tegap laki-laki itu sudah tak bergerak hanya bibir masih bergumam.