Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Tuan Muda Berulah


__ADS_3

Satu pelukan mewakili rasa dan mampu memaku sepasang kaki yang akan melangkah melewati muara pintu Mansion. Xavier menatap dalam sepasang insan yang tengah berpelukan di hadapannya, gemuruh sesak begitu hebat di dalam dada laki-laki itu. Namun sayang, tak ada kalimat yang bisa terucap sebagai bentuk protes selain menelan rasa yang membentuk sakit. 


"Kamu baik-baik saja." Filia menangkup wajah Bree dengan iris mata penuh kecemasan. 


"Aku baik-baik saja, ada Xavier yang menolongku." 


"Xavier." Filia tersadar jika ada orang lain juga di sana. Kaki gadis itu melangkah ke belakang memberi jarak pada si tuan muda. "Apa kamu terluka?" Tanyanya pada pria di samping Bree.  Filia salah tingkah karena tak menyadari kehadiran Xavier di sana. 


"Aku baik-baik saja." Pria itu menipiskan senyum.


Filia mengangguk. "Mari masuk." Ucapnya memutar tubuh. Gadis itu bukan buta dan tuli setelah mendengar perkataan Irene dan Luna kemarin. Namun ia juga tidak ingin memberikan harapan terlebih pada Xavier yang tidak berkata apa-apa. Mungkin laki-laki itu juga menjaga jalinan persahabatan sama seperti dirinya. 


"Bagaimana kondisi Bibi Chen dan juga paman Gio?" Bree bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa. 


"Lumayan membaik, mereka tidak lagi ketakutan melihat orang lain. Tidur juga sudah tidak ketergantungan obat, sugesti yang diberikan Aslan lumayan berpengaruh. Hanya menunggu pita suara setelah itu mereka bisa diajak berkomunikasi." Jelas Filia menatap Bree dan juga Xavier bergantian. 


"Kalau begitu aku akan melihat mereka dan melakukan pendekatan secara pelan seperti sebelumnya." Xavier membawa tubuhnya bangkit. 


"Menurutmu, siapa yang menyerang kita tadi?" 


Bree menegakkan tubuhnya kemudian menatap lekat wajah ratunya. " Aku curiga pada paman Marcel, karena kemarin kamu bersinggungan dengan putrinya yang mereka inginkan adalah kamu." 


Filia menghembus nafas berat. "Kenapa ada orang tua buta dan tuli dengan tingkah anaknya yang kurang baik." 


"Itulah paman Marcel selalu membenarkan setiap tindakan salah Lisa." Bree meraih kedua tangan Filia dan menggenggamnya lembut. "Jangan takut aku akan menjagamu." Ucapnya yakin.


"Tuan." Reiki datang dengan wajah panik hingga nafasnya naik turun. "Anda terluka ?" Tanpa aba-aba laki-laki itu menarik tubuh Bree untuk berdiri dan memeriksanya.


"Aku baik-baik saja, Rei. Meskipun pengawal kirimanmu terlambat." 


"Syukurlah, jantung saya hampir saja lepas saat mereka mengabari anda di serang." Reiki melepaskan dasi yang melilit leher. 


"Mari kita lihat cacing alaska itu." Bree bangkit dari tempatnya duduk. "Kamu lanjutkan saja pengobatan Bibi Chen dan juga Paman Gio." Sambungnya pada Filia. 

__ADS_1


"Baiklah." Gadis itu mengayunkan langkah lalu meninggalkan ruangan tengah.


Bree dan Reiki langsung ke tempat tujuan, kedua pria itu mengayun langkah penuh wibawa terlepas sikap konyol mereka. Di dalam satu ruangan dan di jaga beberapa orang terlatih secara bergantian. Ada tawananan yang dipelihara layaknya tamu terhormat. 


"Kita bertemu kembali cacing alaska." Sapa Bree tersenyum lebar. "Wah, kamu memperlakukannya sangat istimewa, Rei. Lihatlah kamar ini." Si tuan muda melangkah pelan mengamati sekitarnya. "Yohan itu namamu, 'kan?" Bree meraih salah satu botol wine mahal yang masih baru dan membuka tutupnya. Bagaimana rasa minuman ini?" Tanpa aba-aba ia menenggaknya sampai habis. 


"Tuan, bukan seperti itu cara meminumnya. Anda harus menikmatinya pelan-pelan." Reiki meringis melihat atasannya menenggak botol wine itu seperti minum air mineral.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi ? Rasanya manis." Bree meraba lehernya yang mulai merasa sensasi minuman itu naik ke tenggorokannya. 


"Anda tidak bertanya, sejak dulu memang anda bukan peminum." 


"Siapa bilang, aku memiliki guci arak di kamarku. Setiap hari itulah minumanku." Bree tidak terima karena diremehkan. 


"Lepaskan aku !" Yohan bersuara setelah muak menyaksikan tingkah konyol pemilik Tyaga group itu. 


"Boleh saja." Bree tersenyum tipis. "Tapi, sebagai gantinya kau bawa tuanmu kemari untuk menjadi peliharaanku." 


"Jangan mimpi ! " Yohan membentak marah. "Kembalikan ponselku." 


"BRENGSEK." Yohan memaki penuh amarah. "LEPASKAN AKU !" Laki-laki itu meronta sekuat tenaga dari rantai yang melilit kaki dan tangannya. 


"Kau kejam, Rei ! Rantai ini mengingatkan dosaku pada Ratu." Sorot mata si tuan muda berubah sendu. 


"Sampai kapan pun aku tidak akan membuka mulutku." 


"Maka bersiaplah untuk saling adu tembak." Bree meninggalkan ruangan dengan sorot mata dingin. 


Reiki mengikuti dari arah belakang, namun matanya terbelalak setelah melihat atasannya tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. 


...----------------...


Di lengkungan langit telah sempurna menggelap, tak ada lagi sisa cahaya dari matahari. Kejadian hari ini cukup menguras emosi, kewaspadaan dan waktu. Lagi, si tuan muda membuat gempar para sahabatnya. 

__ADS_1


Di dalam kamar utama mansion, Bree perlahan membuka matanya setelah tertutup beberapa jam, pusing begitu mendera hingga laki-laki itu cukup lama menyesuaikan obsidiannya dengan pencahayaan. 


"Aku dimana?" Rintihan kecil terdengar seiring kalimat terhenti. "Ada apa dengan suaraku?" Deheman untuk menjernihkan pita suara juga dilakukan. Dan sayang pertanyaan itu hanya melayang di udara. Sekali lagi iris mata merotasi sekeliling hingga menemukan jawabnya sendiri. 


"Bisakah sehari saja kau tidak bertingkah?" 


Pertanyaan mengandung nada kesal itu membuat si tuan muda tersentak dan refleks bangun,  rintihan pun kembali terdengar. Tapi mengabaikan tatapan intimidasi dari tiga-tiga laki yang ada di dalam kamarnya. 


"Aku tidak bertingkah." Kalimat perlawanan itu tidak terlalu jelas terdengar hingga pemiliknya kembali berdehem. "Rei, suaraku kenapa?" Pandangan bergulir pada sang asisten yang menundukkan kepala karena mengantuk. "Rei, kau mendengarkan aku ?" Intonasi terdengar sedikit meninggi mewakili kekesalan.


Laki-laki itu kelabakan karena terkejut. "Tanyakan pada wine yang anda minum, Tuan." Menjawab dengan nada kesal akibat kecerobohan si tuan muda yang menyebabkan dirinya jadi santapan omelan para laki-laki tengah duduk bersandar sambil menyilang tangan di dada. 


"Kau pikir benda itu bisa menjawab? Tinggal katakan saja kenapa suaraku seperti ini?" Bree mengusap-usap lehernya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan sampai akhirnya, obsidian hitam pekat itu tertuju pada sosok yang menatap tajam ke arahnya. "Axel, kau tahu kenapa suaraku hilang?" Wajah bingung dengan ucapan kalimat tanya itu sebenarnya sangat menggemaskan pada si tuan muda. 


"Tenggorokan kuno mu itu tidak bisa menerima minuman modern !" Jawaban Axel membangkitkan perasaan kesal.


"Kau meremehkan ku?! Di istana aku adalah peminum yang handal. Aku memiliki guci arak yang besar." 


"Dan kau sombong ?!" Sahut Leon. "Buktinya kau tumbang beberapa jam, tenggorokan berhargamu itu terlalu kuno." Cibir laki-laki itu. "Huh ! Minum arak, memiliki guci yang besar. Hanya dalam mimpimu saja ! Kalau kau bisa minum arak pasti juga bisa untuk minuman yang tadi." 


"Rasanya manis." Bree melemparkan tatapan ke segala arah. Setelah menyadari banyak perubahan di istana dan juga di tempat ini.


"Karena itu kau meminumnya seperti air mineral ?" Seru Eros menggeleng kepala tak percaya. "Bree, sejak dulu kamu tidak pernah minum alkohol, terakhir saat ulang tahun bibi Ivanka." Lanjutnya pelan dan dewasa. 


"Aku hanya penasaran." Bree masih membela diri dengan kesalahan fatal itu. "TIdak aku ulangi lagi." Lanjutnya cepat melihat air mukanya para sahabatnya berubah. 


"Itu sop untuk mengurangi rasa pusing anda." Reiki melangkah menuju termos kecil di atas nakas sisi pembaringan si tuan muda. 


Bree mengambilnya dan meminum sop itu perlahan. "Kejadian hari ini adalah targetnya ratu Filia, aku yakin itu ulah paman Marcel." 


"Apa tindak lanjutmu, bukti mengarah kesana. Orang bayaran itu sudah di interogasi. Jika kamu setuju aku akan meminta surat penangkapan resmi." Sahut Eros menatap serius.


"Lakukan saja." 

__ADS_1


"Baiklah, tapi setelah ini Lisa pasti menggila." Eros bersiap untuk pulang. "Besok dapat dipastikan paman Marcel tertangkap, bukti kuat sudah aku dapatkan." Laki-laki itu tersenyum tipis.


__ADS_2