
Memasuki fase bucin ya 🥰...
🌷Selamat membaca 🌷
...----------------...
Matahari seolah tersenyum, hingga memberikan sinarnya tidak terlalu terik, ranting pepohonan berayun cantik seirama angin berhembus. Tidak kencang tidak juga lamban, bagai bersorak riang menyambut hentakan kaki putra mahkota ketika pertama kali menginjakan tanah arena latihan.Â
Tubuh tegap itu segaris dengan wajahnya yang rupawan, bibir merah menunjang tatapan elangnya yang begitu tajam. Kharisma putra mahkota tak diragukan lagi, namun sayang terpatahkan dengan tabiatnya.Â
Hari ini, seluruh alam semesta tersenyum riang menyambut hadirnya pria itu di tanah yang tak pernah ia kunjungi selama ini. Para pengawal merasakan debaran dahsyat atas perubahan putra mahkota.Â
Tangan kekar pria itu terulur di atas pucuk kepala kuda putih yang gagah dan sehat, kuda putih miliknya sebagai teman berlatih. Kuda kesayangan yang mengisi hitamnya warna hari - hari putra mahkota.
"Anda siap, pangeran?" Pengawal Ta menaiki kuda miliknya dan bersiap mencontohkan cara menunggang kuda sambil memanah.
"Ayo mulai."Â
Seluruh penjaga bersiap kalau sesuatu yang buruk terjadi saat putra mahkota akan berlatih, seperti jatuh dari kuda atau pun yang lainnya. Putra mahkota memacu tali kuda mengikuti cara yang ditunjukan oleh pengawal pribadinya itu.
Manik mata putra mahkota berkonsentrasi membidik papan sasaran, hati laki - laki itu berdecak kagum melihat lesatan panah milik pengawal Ta tepat pada titik yang diharapkan.Â
Jari putra mahkota menarik tali panahnya, dengan pusat pikir tertuju pada satu titik, dengan keyakinan tinggi laki - laki ini melepaskan tali panahnya. Sayang, tancapan panah bukan di satu titik yang menjadi fokusnya. Panah melayang ke sisi papan bahkan jauh dari lingkaran semestinya.
Putra mahkota kesal bercampur kecewa, sesuatu yang dianggapnya remeh ini ternyata belum berhasil ia lakukan. Laki - laki itu kembali memacu kudanya, bersiap menarik busur panah dan membidik lagi. Tiba - tiba, angin berhembus kencang kearahnya, seluruh dedaunan mati melayang terbang menghujani bersamaan dengan debu yang mengaburkan pandang.
Obsidian putra mahkota menatap tajam pada objek yang menarik atensi, sosok wanita berpakaian hitam memacu kuda ke arahnya, hingga para mengawal bersiap melindungi putra mahkota. Namun, luar dugaan wanita itu menarik anak panah di belakangnya dengan gerak cepat melepaskan tali.Â
Semua mata terbelalak, tancapan anak panah itu tepat ke titik tengah sasaran tidak meleset sedikit pun. Putra mahkota limbung menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, permaisuri melesatkan anak panah sambil menunggangi kuda. Tubuh gagah itu bersangga pada pengawal pribadinya, matanya membulat sempurna dengan bibir terbuka penuh kekaguman.
Permaisuri menatap datar reaksi putra mahkota, kaki nya berayun menghampiri suaminya itu, aroma plumeria menguar kembali saat tubuhnya hampir tak menyisakan jarak pada putra mahkota.Â
"Pe—permaisuri."Â
"Turun dari kuda, pangeran." Permaisuri meminta dengan sopan tak melupakan statusnya.
"Ba—baiklah." Lidah putra mahkota begitu lancang mempermalukannya, bicara dengan terbata seperti bukan dirinya saja. Nafasnya naik turun tak beraturan, jantungnya kembali berdebar dahsyat hingga membuatnya gugup.
__ADS_1
"Latihan dasar dulu, berdiri dengan tegap buka kaki anda selebar bahu, pasang ekor panah dan masukkan ke tempat anak panahnya. Pastikan panah bersandar lurus di busur." Permaisuri langsung mengarahkan tangan putra mahkota bagaimana cara berlatih memanah dengan benar. Tanpa canggung memberikan edukasi meskipun obsidian pangeran tak lepas menatapnya. Dengan pergerakan lembut permaisuri mundur selangkah setelah memastikan putra mahkota dengan posisi yang benar. "Lepaskan." Ucapnya lagi.
Putra mahkota menatap ke arah depan, tiga ruas jarinya melepaskan tali panah, sesaat kemudian bola matanya membulat bangga, senyum lebar tertarik panjang ketika anak panah tidak melenceng jauh seperti tadi. Kini laki - laki itu penuh semangat untuk berlatih, sementara permaisuri tersenyum tipis.Â
Wanita itu masih berdiri di sana mendampingi putra mahkota untuk berlatih, setelah mahir tak luput pula permaisuri dan pengawal pribadi putra mahkota mengajaknya berlatih memanah dengan variasi lain.Â
...----------------...
Rembulan tersenyum cantik di dinding langit, seindah cahayanya yang kekuningan. Di bawah pohon, permaisuri menatap ke atas mengagumi keindahan langit malam, berbisik pada sang bayu untuk mengirim rindunya pada sang ayah.
Tahap demi tahap, keberhasilannya mulai digenggam. Putra mahkota tak lagi kaku dan dingin, laki - laki itu perlahan mencair dan lunak. Segala bentuk pembelajaran diikuti dengan sungguh - sungguh. Kabar baik itu sudah sampai ke telinga ibu Suri.Â
"Permaisuri."
Tubuh ramping permaisuri segera berdiri tegak ketika rombongan ibu suri menghampiri. Tubuhnya refleks membungkuk dengan hormat.
"Yang Mulia, maaf tidak menyadari kedatangan anda."Â
Sudut bibir ibu suri terangkat, wanita paruh baya itu membawa tubuh berdiri sejajar dengan permaisuri cucunya.Â
"Langit malam ini begitu cantik, udara juga nyaman untuk dinikmati sayang jika dilewatkan."Â
"Ya, seperti sinar yang mulai terlihat pada putra mahkota. Jika dulu hanya kegelapan yang terlihat, maka sekarang lebih berwarna, terima kasih."
"Hitam bisa diganti dengan warna yang lain, tergantung hati yang menginginkannya." Permaisuri tak berpaling pada pesona langit malam.
"Permaisuri benar, sekarang putra mahkota dalam kendalimu. Sebentar lagi, simpul beban di pundakku akan terurai. Ah, rasanya tubuh tua ku sudah lelah."Â
"Putra mahkota akan menjadi seperti harapan anda, sedikit lagi yang mulia akan beristirahat dengan nyaman di istana." Permaisuri menipiskan senyuman, ada keyakinan yang tak terbantah dalam netra nya.Â
"Semua berkat mu, sudah malam mari kembali ke istana. Beristirahatlah."Â
Rombongan ibu suri perlahan bergerak meninggalkan permaisuri, wanita itu menatap punggung para dayang sejenak lalu kembali melemparkan tatapan ke atas. Des@han nafas lelahnya terdengar tipis mengisi kesunyian.Â
"Kenapa permaisuri berada di sini seorang diri?"Â
"Pangeran Nev." Permaisuri kembali berdiri dari tempatnya duduk ketika adik dari putra mahkota menyapa.
__ADS_1
"Dimana putra mahkota ? Kenapa membiarkan permaisuri di luar seperti ini sendiri?" Pangeran Nev tersenyum hangat.
"Putra mahkota di istananya, malam ini ada pelajaran melukis."Â
"Permaisuri berperan banyak untuknya, sedikit demi sedikit cahaya mulai terlihat di kerajaan ini. Semua berkat anda, permaisuri." Manik mata pangeran Nev mengarah pada bulan purnama.
"Anda sangat berlebihan pangeran Nev, seluruh sudut kerajaan ini tahu perjanjian yang saya lakukan bersama ibu Suri." Nada getir terselip di pita suara permaisuri.
"Sebentar lagi semua akan baik - baik saja." Helaan nafas berat terhembus dari bibir pangeran Nev.
"Pangeran Nev, Permaisuri ! Kalian ada disini?Â
"Putra mahkota." Pangeran Nev menyapa dengan hormat, seulas senyum ia perlihatkan pada kakak laki - lakinya itu.
"Pangeran, anda sudah selesai belajar melukis?"
Manik mata putra mahkota tak terbaca, namun ada rasa panas menjalar di dalam rongga dadanya, ada rasa tidak senang tumbuh dalam hati ketika melihat permaisurinya berdua dengan pangeran kedua, meskipun para dayang dan pengawal berdiri tak jauh dari sana.
"Pangeran Nev, ada keperluan apa hingga menyambangi halaman istana permaisuri?" Putra mahkota mengabaikan pertanyaan permaisuri, ia harus tahu lebih dulu alasan adiknya tiba - tiba ada di halaman istana itu.
"Saya hanya lewat dan kebetulan permaisuri duduk disini. Tidak pantas rasanya jika tak menyapa calon ratu kita."Â
"Ratuku." Ralat putra mahkota tanpa sadar.Â
"Ya, ratu anda dan ratu kerajaan ini. Baiklah, saya harus kembali ke istana. Selamat malam permaisuri."Â
"Selamat malam pangeran Nev." Permaisuri membalas disertai senyum tulus.Â
Netra putra mahkota semakin tajam, saat segaris senyum penuh pesona tercetak cantik di bibir permaisuri. Rasanya ada yang terbakar karena panas, namun apakah itu ? Putra mahkota tidak mengerti.
"Permaisuri, mari kembali ke istanamu."
"Baik pangeran." Permaisuri membungkuk lalu memutar tubuhnya untuk mengayunkan langkah.
"Tunggu." Kesal rasanya ketika permaisuri langsung meninggalkan putra mahkota. "Kamu tidak mengajakku?"Â
"Apa anda akan ikut ke istana?" Permaisuri berpaling menatap tak percaya pada suaminya itu.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu adalah permaisuriku." Ketus putra mahkota segera meraih jemari permaisuri untuk ia genggam.
Andai bukan sebuah kesalahan untuk mentertawakan calon raja, maka ingin rasanya pengawal Ta mengajak para dayang untuk tertawa atas tingkah putra mahkota.Â