
Rasa dingin terhalau dengan sempurna, setelah jaket rajut membungkus tubuh seorang Filia Aruna. Gadis itu tersenyum lebar ketika mobil mewah milik Bree tiba di halaman rumah sakit. Andai ini nyata maka dia adalah gadis paling bahagia selalu di nomor satukan oleh laki-laki itu. Namun sayang, semua hanya andai.
"Hati-hati."
"Kamu juga, sore nanti aku jemput kita ke mansion untuk melihat kondisi Bibi Chen dan juga paman Gio." Sahut Bree dari dalam mobil. Laki-laki itu selalu memberikan senyuman lembut dan tatapan hangat tak lupa pula didalam obsidiannya terkurung binar cinta yang selalu tertuju untuk ratu.
"Iya, kita juga sudah berjanji dengan Aslan." Filia membuka pintu mobil lalu menurunkan kaki ke tanah. "Selamat bekerja." Ucapnya kemudian memutar tubuh untuk masuk.
Bree menatap lekat tubuh sang ratu yang mulai menjauh dari ruang pandangnya. Laki-laki itu menghela nafas untuk mengusir rasa yang mengganjal di hati. Era ini membuatnya dan ratu sering terpisah ruang dan waktu, tidak seperti dulu satu lingkupan tempat sehingga mudah untuk bertemu tidak perlu kuda ataupun kereta.
"Rei, siapkan pengawal terbaik di Tyaga group untuk ratu. Jangan nampak jelas, alihkan saja mereka ke instansi lain agar tidak menjadi petunjuk."
"Baik, Tuan." Reiki memutar bundaran setir untuk masuk ke badan jalan. "Irene baru saja mengirim pesan, Nona Lisa kembali membuat ulah." Sambungnya setelah mobil sempurna membaur bersama yang lain.
"Gadis itu tidak mudah untuk berhenti, cukup awasi dia. Bagaimana tentang mekanik itu ? Apakah, sudah ada yang menyusul kesana ?" Bree melemparkan tatapan pada bangunan yang berdiri megah menghiasi sepanjang jalan.
"Sudah." Reiki membelokan setir masuk ke dalam basement kantor. Memarkirkan dengan sempurna dan melepas safety belt yang membelit tubuh. "Silahkan Tuan." Laki-laki itu membuka daun pintu mobil mempersilahkan si tuan muda untuk keluar.
Bree menurunkan kaki, daksa tegap itu sempurna berpijak di atas lantai basement. Keputusan telah diambil untuk menggarap proyek Tyaga Fashion. Laki-laki itu mengayun langkah penuh pesona menawan mata.
Hari ini karena sudah sedikit siang, Bree memutuskan untuk masuk melalui basement ketimbang berhenti di depan lobby kantor. Laki-laki itu mendaratkan tubuh di atas kursi kebanggaannya.
"Kak Bree."
"Iya, masuklah Widan. Ada apa?" Bree mempersilahkan sambil mengecek beberapa berkas kerja. Obsidian hitam pekatnya berbingkai kaca putih sebagai pelindung mata dari radiasi elektronik di hadapannya. Selama istirahat di mansion Reiki mengajarkan kembali cara mengoperasi komputer beruntung perangkat lunak si tuan mudah cepat memahami dan mengalahkan jiwa kuno nya.
"Ada masalah serius, petani plumeria tidak dapat menyuplai ke kita, karena tadi malam lahan tani mereka terbakar."
"Apa ?!" Bree bangkit dari tempat duduk sambil mengeluarkan benda pipih berwarna biru tua dari dalam saku long coat blazernya. Laki-laki itu mencoba menelpon nomor petani yang membuat janji kerja sama dengannya.
"Bagaimana Kak ?" Widan menatap harap pada kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Nomornya tidak diangkat." Bree meletakkan kembali benda pipih itu ke atas meja. "Aku harus kesana melihatnya sendiri." Putusnya dengan yakin.
"Tapi, lokasi itu lumayan jauh."
"Aku harus memastikan semuanya, botol parfum sudah di pesan. Pengerjaan merek juga sedang berlangsung. Aku tidak mau proyek ini gagal." Bree gegas meninggalkan ruangan. Perasaannya sedikit cemas atas kejadian tidak terduga itu.
"Tuan, anda sudah mendengarnya ? Saya baru saja memastikan semua kabar ini. Ternyata benar." Reiki mengusap wajah kasar.
"Iya Rei, mari kita kesana." Bree melangkah menuju lift tanpa mau mendengar kalimat lain yang akan keluar dari bibir asistennya.
"Tuan, lebih baik saya sendiri. Cukup berbahaya jika anda bepergian jauh tanpa pengawalan." Reiki menyusul masuk ke dalam lift.
"Rei, ini proyek penting. Aku tidak mau gagal, nama Tyaga grup akan dipertaruhkan. Bila kita melakukan kesalahan lagi, Tyaga grup tidak akan dipercaya oleh konsumen."
"Saya mengerti Tuan, tapi anda bisa menunggu di kantor saja."
"Tidak bisa, biar aku melihat langsung." Bree tetap dengan kemauan. Iris mata laki-laki itu terlihat gelisah dengan kondisi yang dihadapi saat ini. "Menurutmu, kenapa kebun itu bisa terbakar ?"
"Kak Bree !" Lisa memekik senang. Sosok yang ditunggu sejak pagi melewati kubikelnya. "Kakak mau kemana?" Selalu menebar pesona dan unjuk kedekatan dengan beberapa karyawan magang di sana.
"Rei, mobil sudah siap?" Bukan menjawab Bree malah bertanya pada asistennya.
"Sudah, security basement mengeluarkan mobil sekarang ada di depan."
"Kak, kenapa tidak menjawab ? Apa kakak menemui perempuan gatal itu lagi ?!" Cemburu menguar dalam hati Lisa karena tidak mendapat jawaban.
"Dimana sopan santunmu sebagai gadis bangsawan yang selalu kau banggakan itu ?! Inikah bahasa yang terdidik dari keluargamu ?!" Intonasi itu tidak tinggi tapi kalimatnya memukul telak. Bree menghentikan langkah setelah kalimat kasar itu terlontar dari bibir Lisa.
"Nona, harap belajarlah bahasa manusia yang baik. Sebelum anda diperlakukan tidak baik, apapun urusan tuan muda anda tidak perlu tahu, bukan?"
Nyali Lisa menciut, melihat sorot mata tidak bersahabat dari kedua laki-laki yang memasang aura bengis padanya. Dengan kepala menunduk ia membiarkan Bree dan Reiki melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Kita berangkat, Rei." Bree mendaratkan tubuh di kursi belakang. Perasaannya sedikit terganggu dengan apa yang terjadi. Laki-laki itu mulai memikirkan penyebab kebakaran kebun plumeria.
"Tuan, seandainya tidak ada yang tersisa dari kebun itu. Apa yang kita lakukan ?"
"Tetap mencari penyuplai sejauh apapun itu." Bree menggulirkan pandangan pada jam mewah yang melingkar di pergelangannya. "Dua jam baru sampaikan, Rei ?"
"Iya Tuan."
Jalanan yang senggang karena masih jam kerja membuat Reiki bisa melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat. Agar bisa kembali ke mansion sebelum gelap. Laki-laki itu menepis curiga yang mampir di benak, jika lahan itu sengaja dibakar.
Tidak ada percakapan lagi antara asisten dan atasan itu. Mereka mengawasi laju kendaraan yang berpapasan. Sesekali Bree mengusap tengkuk yang terasa berat. Benar kata orang, tidak ada jalanan mulus pasti ada kerikil meski sangat kecil. Namun, tidak dipungkiri juga bila ada kalimat yang menyatakan usaha tidak menghianati hasil. Proyek pertama pasca koma langsung mendapatkan kesulitan dan Bree harus berusaha keras untuk mengatasi.
"Kenapa, Rei ?" Bree melirik ke samping kiri dan kanan. Mereka telah masuk ke daerah sepi hanya ada beberapa pengendara bermotor yang melintas.
"Tuan, jangan lepaskan safety belt anda. Kita dalam kondisi kurang beruntung." Reiki menambah kecepatan mobil.
"Maksudmu ?"
"Mobil kita di ikuti dari simpang empat tadi." Reiki melirik ke samping lalu menarik laci yang ada di hadapannya. "Tuan, bila keadaan terjepit anda larilah selamatkan diri." Ucapnya mengecek kesiapan benda yang dipegang.
"Awas, Rei !" Pekik Bree saat merasakan benturan di badan mobil. Kini laki-laki itu paham apa yang akan terjadi.
"Tuan, apa yang anda lakukan ?" Reiki tersentak ketika Bree melepaskan safety beltnya. Lalu memutar setengah tubuh ke belakang.
"Kau hanya ingin berperang sendirian ? Sudah lama aku tidak terjun ke medan perang setelah pemberontakan perd@na m€nteri Ma waktu itu ?"
Reiki tersenyum namun tidak melepaskan konsentrasi. "Di bawah karpet tempat kaki anda ada satu buah katana." Laki-laki itu menurunkan kecepatan penuh tanpa menginjak rem karena merasakan pergerakan ban belakang tidak seimbang. "Sial ! Mereka menembak ban mobil kita." Ucapnya kesal.
"Awas, Rei !"
Mobil oleng ke kanan terseret beberapa meter. Bagian belakangnya sudah mengeluarkan asap putih kehitaman. Dari jarak yang tidak jauh, sebuah mobil jeep putih berhenti dan bersiap membidik sasaran dengan Des€rt Eagle. Beberapa menit berselang terdengar letusan nyaring seiring peluru dilepaskan dan menghancurkan badan mobil.
__ADS_1
"Target selesai."