
Empat laki-laki di ruang tengah mansion medium milik Bree ternganga mendengarkan penuturan si tuan muda. Benarkah itu Bree Tyaga Adrian ? Dari mana laki-laki itu mendapatkan pemikirannya. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya mereka percaya bahwa dia memang raja angkuh yang hadir di tengah mereka. Namun mengingat hal itu yang tak mungkin, kembali membuat mereka menerka-menerka, apakah koma enam bulan memberikan keajaiban pada putra mahkota Tyaga itu ?
"Aku takjub pada pikiranmu." Leon menatap kagum dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa harus takjub bukankah itu cara kerja Eros untuk menjatuhkan paman Marcel ?" Bree tersenyum. "Mengumpulkan bukti sementara lawan di atas angin, bukan begitu Er ?"
Semua orang menjatuhkan tubuh dengan lemas di atas sofa, baru saja kagum yang dirasa pada Bree terhempas berganti dengan kekesalan.
"Apa kamu juga tahu kalau Filia membuat surat itu hanya agar kau menjauh ?" Selidik Leon menatap sengit.
"Hm, Eros baru saja menjelaskannya." Lagi-lagi jawaban menyebalkan itu lahir di bibir seorang Bree Tyaga. "Besok temui Bibi Chen dan Paman Gio, setelahnya korek informasi dari dua tawananku jangan lupa amankan neneknya Jesen, untuk adik Yohan cari lebih luas lagi." Titah terucap namun kepala tertunduk dengan tangan lincah merajut.
Eros menatap satu persatu wajah cengo para sahabatnya. Sebagai detektif ia merasa malu karena rencananya belum tersusun malah Bree notabenenya pria lemah sudah mengatur siasat.
"Kau mendahuluiku, Bree." Si detektif tidak terima.
Bree terkekeh. "Apa kalian lupa itu adalah awal rencana kita. Kalian sibuk memikirkan masalah ratu Filia yang membuat surat hingga lengah dengan target sesungguhnya. Ratu Filia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini bahkan dia yang terkena efek dari masalah kita. Wajar dia ingin menjauh dariku karena bertahan disisiku harus tangguh dan berani. Mungkin dia tidak memiliki itu jadi biarkan ratu Filia membebaskan diri, berhenti menyalahkannya."
Ah, semua orang terharu. Hingga detik ini Bree masih membela cintanya, ratunya. Penyemangat hidupnya. Meski penyemangat itu meredupkan jiwa.
...----------------...
Tiga hari kemudian…
Seorang pria bermandi keringat masih memacu keperkas@an diatas tubuh wanita yang bak patung menerima dengan pasrah pada tubuh bagian bawah yang sudah beberapa kali dihujam penuh na-fsu oleh laki-laki kini menge-rang kenikmatan. Tak ada lagi air mata yang mewakili afeksi sakit ketika tubuhnya dijamah, tidak ada lagi rintihan histeris penolakan pada laki-laki yang memaksa melayaninya. Kini tatapan itu kosong, hampa dan hancur. Tidak ada lagi tersisa dari hidupnya yang bertahun-tahun menjadi budak na-fsu laki-laki kejam yang saat ini masih meracau di atas tubuhnya. Harapan untuk bebas sudah melambaikan tangan pada gadis itu, meninggalkannya seorang diri.
"Ah." Laki-laki itu mendes-ah hebat seiring pinggul yang semakin menusuk kedalam lia-ng sempit menjempit keperkasa-an yang memuntahkan lahar panasnya. "Bertahun-tahun aku memakaimu, tapi kenapa masih nik-mat dan sempit." Lanjutnya dengan nafas terhengal sambil menatap sinis pada gadis yang kini di kungkung. "Tidak sia-sia, aku menampung mu setelah Yohan menitipkanmu sukarela padaku." Laki-laki itu belum berniat melepaskan tautan tubuh bagian bawahnya. Bahkan sesekali ia mendorong pelan pinggulnya. "Kau tahu kemenangan sudah ku genggam." Sambungnya kembali memacu pinggul. Menikma-ti kembali tubuh polos gadis yang hanya diam itu.
Masih menga-sah na-fsu, laki-laki bermandikan keringat itu mengerang kesal karena terganggu dengan ketukan pintu. Menghiraukan suara di daun pintu, ia memacu tubuhnya lebih cepat hingga mendapatkan pelepasannya dengan sempurna. Tanpa bicara lagi, laki-laki itu menarik tubuh dan melangkah masuk ke kamar mandi. Mengabaikan gadis yang kini menarik selimut untuk menutup tubuh.
Menghabiskan waktu dua puluh menit laki-laki itu keluar dengan balutan kimono di tubuh. Tangannya meraih botol wine lalu menuangkan ke dalam gelas dan mengayun langkah keluar dari kamar.
"Tuan, semua sudah siap. Saya pastikan anda mendapatkan semuanya."
"Bagus, bagaimana pergerakan Bree ? Apa terlihat mencurigakan ?" Laki-laki itu menenggak wine dari dalam gelas.
"Sejauh ini belum tuan, sepertinya aman. Putus dari Dokter Filia sangat berpengaruh pada tuan Bree. Buktinya dia tidak terlalu fokus pada kantor. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini."
"Apa kamu tidak meninggalkan jejak saat menyelinap ke rumah sakit ?" Laki-laki itu meletakan gelas wine yang telah kosong.
"Tidak tuan, penyamaran saya sempurna."
"Bagus, aku akan bersiap. Jangan lupa suntik gadis itu. Aku tidak mau dia mengandung be-nihku. Hari ini jadwal suntiknya, 'kan?"
"Baik Tuan."
...----------------...
Matahari semakin merangkak, semua petinggi telah hadir di kantor induk Tyaga. Tak sedikit orang merasa kehilangan sosok pemimpin seperti Bree Tyaga namun fakta dirinya sakit membuat mereka turut prihatin dan mendoakan dirinya agar cepat sehat dan kembali memimpin.
"Anda siap." Reiki berdiri di ambang pintu kamar sang atasan. Satu tas hitam ditenteng tangan kiri.
"Tentu." Senyum tipis terukir di bibir Bree. Dalam balutan jas berwarna hitam dilapisi long coat blazer semakin menyempurnakan tampilannya.
__ADS_1
Dua adam yang bukan main kharisma nya ini mengayun langkah menuruni anak tangga. Suara sepatu menggema di hunian sepi itu, di muara pintu ruang makan Bibi Joana tersenyum lebar menyambut si tuan muda.
"Selamat pagi Bi."
"Selamat pagi Tuan, saya sudah menyiapkan sarapan yang anda minta." Wanita paruh baya itu berkata lembut sambil mendekat ke posisi Bree.
"Aku ingin dimalam ulang tahun ratu Filia. Bibi membuat kue untuknya. Aku sendiri yang mengantar ke mansion Cyrus."
"Baik tuan."
Bree melanjutkan sarapan setelah mengutarakan keinginannya. Sementara Reiki sudah menikmati lebih dulu. Laki-laki itu merasa sedih mendengar permintaan atasannya. Akhir-akhir ini, Bree tidak lagi murung ataupun menyendiri. Bahkan meninggalkan kegiatan yang meneropong pemilik hatinya dari jauh.
Sarapan selesai Bree menyeka mulut dengan tissue lalu beranjak dari kursi. "Sudah siap semuanya?" Laki-laki itu tersenyum tipis. Iris obsidian nya tak terbaca tapi ada garis dendam yang tercipta.
"Iya." Reiki mengangguk dengan seringai miring di sudut bibir.
"Masa kepemimpinan ku akhirnya selesai." Bree menghembus nafas panjang. "Aku harap siapa yang tertunjuk bisa membawa Tyaga group lebih baik lagi." Lanjutnya seraya mendaratkan tubuh di kursi.
"Saya harap juga begitu tuan, hari ini hanya penunjukan, belum peresmian pemimpin baru, 'kan?"
"Iya, aku ingin menyiapkan hadiah untuk pemimpin baru ini. Biar dia lebih semangat." Manik mata Bree menatap jauh pada gedung-gedung tinggi.
Reiki memilih diam dengan afeksi yang bergejolak. Tidak menyangka Bree Tyaga Adrian mengalami hal serumit ini.
...----------------...
Jauh mata memandang tepian langit yang tak berujung. Di depan dinding kaca seorang gadis berambut panjang tengah berdiri dengan tangan di dekap ke dada. Berbalut pakaian khas kedokteran, tampilannya begitu anggun dan elegan. Kedua rambut di sisi telinga terikat satu ke belakang.
Gadis itu memutar tubuh mencari arah suara yang memenuhi ruang rungunya. Saking hanyut dalam lamunan, ia tak menyadari suara kaki melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Kapan kau masuk ?"
"Filia, apa yang mengganggu pikiranmu ? Suara sepatuku tidak menarik perhatianmu."
"Tidak ada, aku merindukan mama dan papa. Sepertinya sebelum ulang tahun, aku ingin berkunjung ke sana." Gadis itu menyeret langkah dimana sofa terletak.
"Aku akan menemanimu, aku punya kabar untukmu." Xavier menegakkan posisi duduknya.
"Apa ?" Filia meletakan dua minuman kaleng dingin ke atas meja lalu mendaratkan tubuh di atas sofa.
"Hari ini penunjukan pimpinan baru Tyaga Group dan aku yakin ini akan sangat memberikan efek pada Bree. Apa kamu mau menemuinya sekedar untuk menghibur?"
"Apa kau sadar dengan ucapanmu Vier, aku tidak akan pernah mau menemuinya. Kondisi saat ini sangat berbahaya dari sebelumnya. Dan aku tidak mau mati konyol hanya karena rasa peduli." Filia menatap sengit ke lawan bicaranya. Tangan gadis itu terangkat menenggak kaleng minuman yang telah dibuka.
"Jangan terlalu egois, Fil. Kamu tahu, Bree bahkan membelamu saat teman-temannya memojokan mu tentang surat itu."
"Aku tidak butuh pembelaannya."
Xavier memilih diam menghindari perdebatan. Cinta, ya dia mencintai Filia. Tapi Xavier juga paham tidak semua perasaan bersambut dengan baik, tidak semua cinta berakhir dengan indah. Sejauh ini Xavier merasa tersesat dan tanpa sengaja ikut menyumbangkan kekacauan.
...----------------...
Di dalam kantor induk Tyaga, suasana agak memanas. Adu pendapat dan saling usung kandidat pada para pemegang saham sudah terjadi sebelum kedatangan Bree hingga matahari mulai merangkak naik belum juga selesai. Padahal kesepakatan itu seharusnya dilaksanakan jauh-jauh hari.
__ADS_1
"Tuan, mereka seperti semut berebut gula." Reiki mendekatkan wajah dan berbisik.
"Lihat wajah-wajah ambisius itu, sangat tidak layak duduk di kursiku." Bree menipiskan bibir.
Tidak hanya di istana, disini pun kursi tahta diperebutkan. Karena kursi itu mereka rela melenyapkan nyawa orang lain. Termasuk Ayah dan Ibu, juga Mama dan Papa.
"Bree, kamu kenapa Nak?"
Suara Bibi Vindy menarik atensi Bree. Laki-laki itu tersenyum dengan lembut. "Aku baik-baik saja Bi."
"Katakan kalau kamu merasa tidak nyaman."
"Hm." Bree kembali melihat pada orang-orang yang kini masih melakukan perdebatan panas.
"Tuan Bree, maaf membuat keributan." Salah satu k0misaris bersuara.
"Lanjutkan saja, sampai mendapatkan kandidat penggantiku." Seulas senyum tertarik di bibir Bree.
"Kami sudah menemukannya, selain anda yang memiliki saham utama di Tyaga Group. Maka ada tuan Widan dan Nyonya Lexa yang memiliki saham sebesar dua puluh persen. Selebihnya tidak ada."
"Maksud anda, tuan Widan telah membeli sepuluh persen saham milik yang lainnya?" Reiki melayangkan tanya.
"Iya, karena saham milik tuan Widan sepuluh persen maka dia akan membeli saham milik yang lainnya agar menjadi dua puluh persen."
"Jadi itu yang membuat kalian ribut sejak tadi ?" Reiki tersenyum mengejek. Tangannya terkepal erat menahan emosi.
"Maaf, jadi sebagai pemilik saham tetap anda masih di posisi tertinggi hanya saja selama proses pengobatan anda dinonaktifkan sementara. Dan pemimpin sementara akan diambil alih oleh Tuan Widan."
Bree mengangguk. "Baiklah." Laki-laki itu mengayun langkah meninggalkan ruangan itu.
Penentuan pimpinan selanjutnya telah disepakati. Setelah perdebatan berakhir. Bree dan Reiki tak habis pikir, jual beli saham dilakukan di hadapannya.
Widan mengetuk pelan ruangan Bree, dengan mengumpulkan segenap keberanian laki-laki itu mendorong pelan daun pintu.
"Masuk saja."
"Maaf kak, aku mengambil tindakan membeli sepuluh persen milik yang lainnya. Karena untuk duduk sebagai pemimpin aku harus memiliki saham yang banyak. Aku tidak mau perusahaan yang susah payah kakek bangun ini dipimpin orang lain." Tidak menunggu basa basi Widan langsung mengutarakan tujuan kedatangannya.
"Aku mengerti, jadi berapa hari lagi peresmiannya ?"
"Tiga hari lagi, aku juga merasa bersalah membeli saham milik bibi Vindy yang lima persen itu " Widan menatap penuh rasa bersalah.
"Dia akan mengerti."
"Cepatlah sembuh, agar kakak bisa kembali lagi. Aku memiliki kenalan dokter. Kalau kakak mau aku bisa merekomendasikannya." Widan meraih ponsel dari saku jasnya.
"Tidak perlu, untuk sementara aku sudah memiliki dokter. Lain kali saja, sudah siang aku mau kembali ke mansion." Bree menarik tubuh untuk berdiri. "Apa kau membutuhkan Reiki, aku bisa memintanya untuk mendampingimu nanti." Sambung si tuan muda meraih coat nya.
"Tidak biar Reiki fokus mendampingi kakak saja. Aku sudah memiliki asisten." Tolak Widan penuh perhatian.
"Ya sudah, kalau perlu sesuatu denganku jangan sungkan." Bree mengayunkan langkah dan menghampiri Reiki yang tengah berada di ruangan sekretarisnya.
__ADS_1