
Jika di istana sang raja sedang berduka dan patah hati. Maka lain hal pada pangeran kedua, laki-laki itu menggunakan otak cerdasnya untuk menggali akar permasalahan. Kini pangeran Nev telah berhasil mengikuti dayang pribadi ibu suri yang diam-diam meninggalkan istana.
"Pa—pangeran Nev !"
Tubuh wanita paruh baya itu gemetar, gugup seketika melumpuhkan ruang geraknya, Dayang itu hanya mampu terdiam di tempatnya berdiri.
"Dayang, kenapa kau ada di sini ? Ah tepatnya. Kenapa kamu diam-diam meninggalkan istana. Kamu tahu hari ini ratu diadili berkat kesaksian mu."
Butiran air mata menetes dari sudut mata dayang itu. Tangannya meremas sisi baju yang digunakannya. "Pangeran, semua itu benar. Ratu hanya seorang diri di dalam ruangan itu." Pita suaranya bergetar di sela tangis dan kegugupannya.
"Ya, ratu memang berada di sana seorang diri. Yang aku pertanyakan, kenapa ada racun di dalam teko air milik ibu suri. Selama ini yang mengurusnya adalah kau."
"Ampun pangeran." Dayang itu bersimpuh. "Sa—saya hanya mengikuti perintah." Tangisnya pecah tak terbendung.
"Buatlah pengakuan." Wajah pangeran Nev begitu merah berusaha menahan diri agar tidak melenyapkan wanita di hadapannya ini.
"Baik pangeran."
"Mari kita ke istana raja, esok sebelum matahari terbit ratu akan dieksekusi. Setelahnya perang akan dijatuhkan, kejujuran mu nanti akan mengendalikan semuanya."
"Sebelum saya mengakui semuanya, tolong jangan sentuh keluarga saya." Manik mata Dayang penuh harap melihat ke arah wanita muda yang telah dijadikan sandera oleh pengawal pangeran kedua.
"Setelah semuanya selesai, dia akan aku kembalikan." Pangeran Nev meminta dua orang pengawalnya untuk membawa dayang itu kembali ke istana.
...----------------...
Hujan sudah reda namun masih menyisakan gerimis, kerudung hitam di lengkungan langit menipis berganti putih. Meski begitu, hawa dingin masih saja memeluk erat dan membelenggu tubuh.
Raja mengabaikan begitu saja makanan yang tersaji di hadapannya. Selera makan itu lenyap dan hambar, matanya sendu menatap pilar bangunan istananya. Sudah beberapa kali Kasim mengganti makanan itu karena sudah dingin hingga senja datang menyambut, hati raja semakin gundah tinggal beberapa waktu lagi. Eksekusi ratu akan dilaksanakan itu tandanya, raja tak akan pernah melihat ratu untuk selamanya. Sungguh tragis, cinta tulusnya dibalas penghianatan.
"Yang Mulia, pangeran Nev ingin bertemu anda."
"Bawa dia masuk "
Pengawal Ta menggeser pintu mempersilahkan pangeran Nev masuk. Tak sendiri, pria berparas manis itu bersama pengawalnya dan juga dayang pribadi mendiang ibu suri.
"Yang Mulia."
"Pangeran, kenapa kau membawa dayang ibu suri ?"
"Yang mulia, dayang ini melarikan diri diam-diam. Apakah anda tidak curiga? Pertanyaan di balas pertanyaan dari pangeran Nev.
"Yang Mulia, penghianat sebenarnya adalah dia." Pengawal pribadi pangeran kedua mendorong kasar tubuh dayang untuk bersimpuh di hadapan raja.
Kening raja berkerut, perangkat lunak di tempurung kepalanya tiba-tiba lambat berproses, hingga tidak langsung mencerna kejadian di depan matanya.
"Ampun yang mulia." Dengan sisa keberanian dayang itu bersimpuh memohon. "Kematian ibu suri memang karena racun dan racun itu bukan milik ratu."
Tubuh raja jatuh seketika, seluruh tenaganya habis tak bersisa, pengakuan Dayang ibu suri mengejutkan hingga ke tulang-tulang.
__ADS_1
"Milik siapa racun itu?" Pertanyaan itu diwakilkan oleh pangeran Nev karena raja tak bersuara.
"Pa—pangeran, ra—racun itu milik Se—selir Ve."
"KAU MEMFITNAH IBUKU !!" Teriak pangeran Nev menarik pedang dari sarungnya. Matanya tajam dengan amarah begitu besar. Pedang itu ia letakkan di leher Dayang. "Katakan yang sebenarnya atau detik ini juga kau terakhir bernafas."
"Benar yang mulia, racun itu milik selir Ve dan yang memberikan kepada ibu suri adalah perdana menteri Ma"
Pedang pangeran Nev langsung terlepas begitu saja. Laki-laki itu melangkah mundur hingga pundaknya terbentur pilar bangunan istana. Ia merosot di atas lantai dengan perasaan yang tak tergambarkan.
Sementara raja merasakan dadanya semakin sesak, laki-laki itu tidak berdaya seluruh kekuatan tubuhnya terenggut. Bayangan air mata, luka yang membekas di tubuh ratu, serta darah yang meresap di bajunya merampas setengah kesadaran raja.
"Yang Mulia."
Suara seorang pengawal memecahkan suasana tegang di dalam istana raja. Pengawal pribadi raja gegas mengambil alih melihat raja dan pangeran Nev membisu dengan posisi masing-masing.
"Ada apa?"
"Pengawal Ta, yang mulia ratu dan para dayangnya muntah darah. Sekarang tabib sedang memeriksanya."
Bak kilat menyambar, tubuh raja dan pangeran Nev gegas bangkit menerobos keluar. Mereka mengayun langkah lebar berlari dengan cepat yang mereka bisa, kabar mengejutkan itu mencambuk hati raja berulang kali. Ratunya muntah darah.
"Yang Mulia tiba."
Mendengar teriakan salah satu pengawal, tabib memposisikan tubuhnya berdiri di samping ratu berbaring. Tabib itu baru saja menyelesaikan pemeriksaannya.
"Yang mulia Ratu." Pangeran Nev tak kuasa menahan air mata melihat sosok yang tergolek lemah itu.
"Yang mulia maafkan saya yang terlambat, kita berduka kembali."
"KENDALIKAN LIDAHMU ATAU HARI INI TERAKHIR KALI KAU MENGGUNAKANNYA." Ancaman raja tidak main-main, kristal rapuh mulai pecah membanjiri wajahnya.
"Yang mulia, saya siap menerima hukuman. Ratu telah tiada, racun di tubuhnya menyebar dan seperti nya racun itu memang kuat dan mematikan dalam waktu yang tidak lama. Baru beberapa saat lalu ratu menyelesaikan makan tak lama langsung muntah darah. Tak hanya itu, seperti nya ratu mengandung."
Manik mata raja bergulir ke tubuh bagian bawah ratu, pandangannya seketika buram melihat bercak merah segar yang merembes di pakaian ratu. Nafasnya sesak dan pendengarannya semakin tipis. Hingga raja tersungkur begitu saja.
"Yang mulia !" Pekik pangeran Nev berhambur memeluk tubuh kakak laki-laki nya itu. "Bawa ratu ke istana raja dan urus para dayangnya dengan layak." Usai mengeluarkan titah, pangeran Nev membawa tubuh raja untuk kembali ke istana.
...----------------...
Malam semakin larut, tubuh ratu sudah di bersihkan dan di baringkan di sisi raja yang belum sadarkan diri. Pangeran Nev tak beranjak sedikitpun dari posisinya masih siaga di sisi raja. Ingin rasanya gegas bertemu selir Ve. Namun, pangeran Nev mengurungkan niatnya tak ingin meledakan amarah pada sang ibu.
Di suasana hening penuh duka, seorang panglima perang memasuki istana kediaman raja, langkahnya terkesan buru-buru.
"Pemberontakan."
Satu kalimat itu mampu menghancurkan ketenangan semua penghuni istana raja. Termasuk raja yang mulai sadarkan diri.
"Siapa?" Pangeran Nev gegas berdiri menghampiri pengawal raja dan panglima perang.
__ADS_1
"Perdana menteri Ma"
"Amankan kerabat kerajaan." Usai memberikan titah pangeran Nev langsung melesat pergi tanpa mengganti pakaian untuk berperang.
Sementara raja mulai mengumpulkan kesadaran penuh, manik matanya melirik ke sisi kanannya. Seulas senyum terlihat di bibirnya.
"Ratu, tunggu aku ! Tidurlah disini dengan nyaman." Fakta yang baru saja terjadi seolah terlupa ketika mendengar kabar pemberontakan. Raja menyiapkan diri untuk berperang.
Dengan pedang miliknya tubuh gagah raja sudah meninggalkan istana kediamannya. Laki-laki itu melompat di antara prajuritnya dan para pemberontak. Mata tajamnya memindai satu persatu-persatu wajah lawan. Ya, raja ingin memenggal kepala perdana menteri Ma dengan tangannya sendiri.
Raja menebaskan pedang tanpa ampun, menariknya dengan ganas tanpa perasaan meski darah segar terciprat di wajahnya. Saling melindungi, raja dan pangeran Nev berdampingan. Begitu juga para pengawal pribadi mereka yang siap mati untuk tuannya.
"Yang Mulia, berikan titah menambahkan pasukan." Usul pengawal Ta yang mulai kewalahan.
Tak disangka pasukan yang dipimpin oleh, perdana menteri Ma hampir setengahnya pasukan perang kerajaan. Mereka melakukan konspirasi bersama mantan menteri militer An dan menteri perdagangan Shu di pengasingan.
Bahkan dua orang paruh baya itu kini berada di sini, dengan seringai licik penuh kebanggan mereka mengayunkan pedang ke arah lawan.
"Oh, jadi ini wajah kalian sesungguhnya?" Raja tersenyum sinis menatap dua mantan menterinya itu.
"Ini hadiah untuk anda, yang mulia." Mantan menteri militer An menyerang tiba-tiba.
Berkat ketangkasan raja, ia bisa menangkis serang itu. Bahkan kini raja melayang di udara membalas serangan mantan menteri militer An dengan bringas. Sekali tarik lengan atas pria paruh baya itu tergores.
"Keahlian anda semakin membaik, yang mulia." Mantan menteri militer An kembali mengayunkan pedang menarget leher sang raja.
Tanpa diduga, satu pedang sudah menembus jantungnya. Dengan tanpa perasaan pedang itu dicabut kasar dari tubuh tua mantan menteri militer An. Seketika darah tersembur dari mulutnya hingga terciptrat di wajah raja.
"Yang mulia, jangan memberi peluang musuh." Pangeran Nev membalik tubuhnya mengejar menteri perdagangan Shu yang berniat melarikan diri.
Pencarian raja membuahkan hasil, kini ia bertatapan dengan perdana menteri Ma. "Serahkan dirimu." Ujarnya dengan aura membunuh.
"Tidak semudah itu, yang mulia. Aku sudah berhasil menyingkirkan ibu suri dan ratu sekarang saatnya membinasakan mu." Perdana menteri Ma tersenyum sinis. "Tahta itu tidak pantas kau duduki." Sambungnya mengayunkan pedang.
Ucapan perdana menteri Ma, seolah kobaran api yang membakar tubuh raja. Kilatan wajah ratu di kursi pengadilan menyusup di pelupuk matanya. Kesalahan yang tidak seharus ditanggung ratunya membuat darahnya mendidih, selain mengutuk kebodohannya tak luput pula dilimpahkan pada perdana menteri Ma yang menjebak ratu.
Dengan membabi buta raja menyerang perdana menteri Ma. Ambisi untuk menebas leher laki-laki paruh baya itu memicu kekuatan raja. Dengan gerak lincah ia menangkis tiap serang perdana menteri Ma, hingga posisi terbalik sang perdana menteri lumpuh di atas tanah. Sekali tarikan pedang milik raja maka, leher dan tubuh perdana menteri Ma akan terpisah.
"BERHENTI."
Pergerakan terhenti, semua orang menarik pedang masing-masing. Mereka melihat ke asal suara, seketika mata mereka terbelalak melihat perdana menteri Ma sudah tertunduk di hadapan raja. Para prajurit pemberontak menjatuhkan diri ketika pemimpin mereka sudah menjadi sandra.
"Yang mulia." Pangeran Nev menyeret tubuh mantan menteri perdagangan Shu yang telah lemah akibat pertarungan.
"Pemberontakan ini tidak termaafkan, perhitungan kalian tidak tepat !" Nafas raja tersengal, selain fisiknya yang juga terluka karena peperangan. Jiwanya juga terguncang karena kepergian ibu suri dan ratu, hanya saja ia belum menyadari semua itu. "Pangeran, hukum para pemberontak ini." Raja menarik pedangnya hingga tak diduga kepala perdana menteri Ma terpisah dari tubuhnya. Kepala itu berguling dan darah membasahi tangga aula istana.
Pangeran Nev terbelalak, tak ingin membiarkan bibit musuh berkembang. Ia pun melakukan hal yang sama pada tawanannya. Sementara para prajurit yang memberontak berteriak memohon ampun.
Menjelang dini hari, peperangan itu telah terkendali. Panglima perang memberikan penghormatan terakhir pada prajurit setia yang gugur. Sementara raja merasa tubuhnya kembali lemah, hingga ia kembali tersungkur di anak tangga.
__ADS_1