Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Ratuku


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu setelah bertemu?" 


"Sangat bahagia tapi bisakah, jangan disertai rasa sakit yang begitu hebat ?!" Bree kesal pada sosok tua di sisinya. 


"Dengan begitu kau akan merasakan sakitnya sebagai ratu saat dihukum." 


"Ya, itu adalah penyesalanku yang tak pernah terlupakan dan terobati, tapi aku akan menggantikannya dengan menjaga ratu di masa ini." Harap Bree menatap selendang di tangannya. 


"Ingat, bila kau gagal mendapatkan ratu kembali. Maka magnet waktu menarikmu untuk pergi. Dalam artian kesempatan itu habis." 


"Jangan menakuti aku." Bree memicingkan mata.


"Aku tidak menakuti mu, Yang mulia." 


...----------------...


Kelopak mata penutup obsidian milik putra mahkota Tyaga perlahan membuka. Bree jatuh tidak sadarkan diri setelah bertemu pada Filia Aruna. 


"Ratu, dimana ratuku?" Bree refleks bangkit dari ranjang king sizenya, mencari sosok yang disebut ratu. 


"Kau mencari Filia?" Eros bernafas lega setelah satu jam Bree menutup mata.


"Hei lancang sekali mulutmu ! Dia Ratu di istanaku. Dia adalah ratuku. Kau mengerti ?!" Bree tersulut emosi karena sahabatnya lancang menyebut nama Ratu.


Eros menahan tawa, apalagi Reiki sudah menceritakan segala keanehan atasannya saat bangut dari koma. Kini mereka sudah menduga melihat reaksi Bree yang sampai tidak sadarkan diri, jika Filia adalah Ratu di dalam dunia khayalan pria itu. 


"Dia masih saja berkhayal." Cibir Axel pelan disertai tatapan sinis. 


"Ini bukan penyakit khayalan, Tuan. Bisa saja di dalam koma tuan Bree memang bermimpi dan dia masih merasakan semua itu nyata." Sahut Aslan setelah mendengar cerita sebelumnya.


"Anda mencari saya ?" Filia masuk bersama Reiki dan juga Xavier. 


"Ratu." Bree menangis haru dan berdiri memeluk tubuh Filia dengan erat. Raga tegap itu terguncang karena tangisnya yang hebat. Lingkaran tangan membelit erat tubuh ramping sosok di pelukan. 


"Tuan, jaga batasan anda !" Filia berusaha mendorong tubuh gagah dan besar yang mendekapnya. 


"Jangan menolakku lagi, aku mencintaimu Ratu, jangan pergi lagi. Aku mohon." Bree menjatuhkan tubuh ke lantai bersimpuh dengan menyatukan kedua telapak tangannya. "Ratu, mohon maafkan aku yang telah menghukum dan tidak mempercayai mu waktu itu. Aku sudah membunuh perdana menteri dan para sekutunya. Selir Ve adalah salah satu dari mereka, pangeran Nev sudah menghukum ibunya itu." 


Kaki Filia selangkah mundur, tatapannya mencoba menelaah apa yang terjadi pada pimpinan Tyaga grup itu. Entah kenapa, perasaannya kesal mendengar semua kalimat yang lahir dari bibir Bree. Bahkan, ia tidak menyukai perlakuan pria itu padanya. 


"Dokter Filia, anda sudah mendengar cerita dari asisten Reiki. Jadi menurut anda apa yang telah dialami tuan Bree?"


"Bisakah, kita bicarakan di luar kamar?" Seru Xavier yang sejak tadi menahan cemburu karena Filia tiba-tiba dipeluk. 


"Iya, lebih baik begitu." Sahut Eros. 


Filia dan Xavier memutar tubuh berniat keluar dari tempat itu. Kemudian diikuti oleh Eros dan Aslan.


"Ratu, aku tahu seperti sumpahmu sebelum meninggalkanku. Jika kau akan membenciku apabila kita ditakdirkan bertemu di kehidupan mendatang. Aku menerima bencimu tapi jangan abaikan aku." Bree mengusap air mata yang belum berhenti menetes karena rasa haru dan bahagianya.


"Tuan, pertama saya memiliki nama. Kedua, saya tidak mengerti dengan apa yang anda sebutkan." Perangkat lunak di tempurung kepala Filia tiba-tiba tidak berproses.


"Dokter Filia, boleh saya minta bantuan anda ? Sebagai pasien pada dokternya. Tolong bantu tuan Bree untuk sembuh." Reiki menatap penuh permohonan.


Filia melebarkan matanya, baru menyadari jika pria tampan di hadapannya itu sedikit mengalami gangguan. Jiwa dokter gadis itu terpanggil dan melangkah menghampiri Bree.


"Mari kita turun." Filia berkata lembut sambil mengapit lengan si tuan muda. 


"Baiklah." Senyum menawan penuh bahagia tercetak sempurna di wajah Bree. "Apa dia pengawalmu ?" Tanyanya mengarah pada pria yang datang bersama Filia 


"Dia Xavier, teman satu profesi denganku." Filia menjelaskan dengan tersenyum. Senyum tulus meski hatinya mengutuk pria itu. 


Pembicaraan dilakukan di ruang tengah, Bree menempel pada Filia tanpa ingin terpisah jengkal. Meski risih, tapi gadis itu menguatkan diri jika di sisinya saat ini adalah pasien. Meskipun, penyakit jiwa tidak terlihat pada pria itu. 


"Dokter Filia, karena kita sudah berkumpul disini bagaimana pendapat anda tentang kondisi tuan Bree?" Aslan melemparkan pertanyaan dengan serius.

__ADS_1


"Jiwanya masih sehat, saya tidak melihat gejala apapun di rekam medisnya. Dia masih mengenali orang-orang terdekat dan bisa bekerja dengan baik." 


"Menurut dokter Axel juga begitu, rekam medisnya tidak menunjukan ada cedera yang belum sembuh." Aslan kembali menatap lembaran di atas meja. 


"Tentang halusinasinya di zaman kuno, apa itu termasuk gejala penyakit jiwa ?" Eros penasaran menatap Filia meminta jawaban.


"Sebenarnya iya, Tapi sangat tipis untuk saat ini karena tuan Bree masih bisa beraktivitas normal. Hanya saja ia seperti beranggapan kalau dirinya ada di zaman kuno. Untuk itu tuan Bree menyesuaikan kehidupan di zaman saat ini dengan zaman kuno. Karena itu dia meminta hal-hal yang menyangkut zaman itu." 


"Tuan Bree, apa semenjak anda koma merasakan seperti  bermimpi?" Aslan memulai kembali tanya jawab.


"Aku tidak tahu dan tidak mengingat apapun." 


Semua orang menghela nafas mendengar jawaban Bree. Sementara laki-laki itu tersenyum menatap gadis cantik disisinya. 


"Aku rasa tuan Bree tidak mengalami gangguan jiwa karena masih bisa beraktivitas normal. Tapi apabila dibiarkan lama kemungkinan untuk mengarah kesana ada. Saking fokusnya pada dunia yang saat ini dirasakannya, dia akan lupa di zaman apa sebenar dirinya tinggal." Seru Xavier setelah lama diam.


"Dokter Xavier benar, solusinya adalah mengeluarkan tuan Bree dari dunia yang tengah ia rasakan saat ini. Saya akan mencoba mengajak tuan untuk sharing tentang perasaannya."


"Saya setuju, sebenarnya saya melihat ada tekanan batin yang dirasakan tuan Bree saat ini. Benar begitu, Tuan ?" Filia menoleh ke samping.


"Aku sudah menceritakannya jika aku bersalah padamu, di istana terjadi sebuah konspirasi. Kemudian, ibu suri meninggal karena diracun. Bukti menunjuk ke arah ratu karena itu aku memerintahkan untuk di hukum. Sebelum dieksekusi karena pengakuanmu sendiri, tiba-tiba pangeran Nev menemukan pelaku sesungguhnya. Saat aku ingin membebaskanmu, seseorang telah meracunimu dan akhirnya kamu meninggal bersama para abdi setia. Aku terpukul dan juga sedih, yang paling aku rasakan adalah menyesal." 


"Depresi." 


Semua mata mengarah pada Filia dan Xavier, karena mengucapkan kalimat yang sama. 


"Begini, entah darimana anda dapat cerita itu dan seolah benar mengalaminya. Dari kesimpulan saya, orang diakui sebagai anda dalam cerita itu. Mengalami depresi." Jelas Filia.


"Jadi, intinya orang yang diakui sebagai anda. Mengalami depresi karena menyesal telah menjatuhkan hukuman pada ratu yang tidak bersalah." Sambung Aslan memahami permasalahan. 


Bree tersenyum tipis, biarlah orang-orang cerdas itu berpikir keras. Cerita yang baru saja ia sampaikan nyata adanya. Hanya saja tidak ada yang akan mengerti di zaman saat ini.


"Jadi permasalahannya sudah ditemukan?" Eros tersenyum senang dengan begitu maka sahabatnya akan sembuh dan tidak lagi berhalusinasi tentang zaman kuno. 


"Iya, sepertinya saya akan butuh bantuan anda, dokter Filia." 


"Pengawal, bisakah wajahmu biasa saja ? Di istanaku para pengawal tidak ada yang berteman dengan ratu. Entah datang dari mana kau ini ?" 


Eros dan Reiki tidak bisa menahan tawa, belum beberapa menit kini Bree menunjukkan keanehannya. Sementara Xavier memasang wajah masam dan juga kesal, andai bukan pasien bisa saja gulungan kertas di atas meja melayang mengenai tengkorak kepala pimpinan Tyaga grup itu. 


"Tuan, anda ikutlah dengan saya lebih dulu. Ada yang ingin saya sampaikan pada anda di ruang kerja." Reiki bermaksud mengalihkan perhatian sang atasan.


"Tentang apa ? Aku tidak mau nanti ratu pergi lagi." Tolak Bree menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Tentang taman plumeria." 


"Hei jangan di bahas di sini, ayo kita ke ruang kerja." Bree melirik sekilas pada ratunya lalu bangkit meninggalkan tempat. 


"Kalian lanjutkan pembicaraan." Reiki menyeret langkah mengikuti si tuan muda. 


Semua pasang mata menatap punggung Bree Tyaga yang menghilang di balik daun pintu. Helaan nafas terdengar panjang dari bibir masing-masing. 


"Anda ingin bantuan apa dari saya, Tuan Aslan ?" 


"Objek depresi tuan muda adalah ratu, dia menyesal karena kehilangan dan menuduh ratunya sendiri. Maka dari itu rasa penyesalan itu masih ada saat ini hingga hari-harinya hanya tentang ratu. Meskipun dia bisa beraktivitas normal, seperti kata dokter Xavier tidak menutup kemungkinan jika dia akan mengarah pada gangguan jiwa. Karena gambaran ratu adalah anda, maka saya meminta anda jadilah ratu yang ada di dalam cerita tuan muda. Reiki mengatakan tuan Bree tidak mau berdekatan dengan wanita manapun selain beberapa sekretarisnya." 


"Kenapa tidak sekretarisnya saja ?" Sahut Xavier bertanya kesal 


"Karena dokter Filia masuk dalam kriteria ratu yang ada di dalam cerita tuan Bree."


"Saya ingin imbal balik." Filia menatap serius pada Aslan. 


"Apa itu ?" 


"Dirumah sakit, ada pasien sepasang suami istri. Selama empat tahun ini mereka dirawat di sana, baru dua tahun ini  mereka menjadi pasien saya karena dokter sebelumnya telah tutup usia. Dari perilaku,  mereka lebih banyak diam dan murung tidak aktif seperti pasien lain. Sepertinya mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Bila diajak bicara mereka hanya diam dengan tatapan kosong. Sesekali mereka seperti memberontak tapi anehnya tidak ada suara seperti orang bisu. Ada semacam kesedihan yang tak terpecah dari wajah mereka." Jelas Filia panjang lebar. 

__ADS_1


"Kamu sudah memeriksanya ?" Eros tertarik dengan pasien yang diceritakan.


"Gangguan pita suara." Filia menggulirkan pandangan ke arah Eros. "Aku hanya meresepkan obat tidur dan vitamin, karena mereka sangat susah tidur. Untuk pita suara,  aku sudah memeriksanya seperti ada luka yang telah lama di dalam sana. Dan untuk itu aku ingin meminta dokter Axel memeriksanya lebih lanjut." 


"Kenapa tidak dokter lain saja, aku dokter pribadi keluarga Tyaga." 


"Kau ingin membantah perintah ratuku ?!" Suara dengan intonasi sedikit tinggi itu datang dari arah ruang kerja. Si tuan muda tak bisa berlama-lama terkurung di dalam ruangan itu dan membuang kesempatan untuk bersama ratunya.


"Tuan, bisakah anda memanggil pakai nama saja ? Rasanya aneh di panggil ratu." Filia tersenyum kaku.


"Baiklah." Bree menyetujui untuk menyenangkan hati ratunya. Laki-laki itu mendaratkan tubuh di sisi Filia. 


"Anda bisa melihat dokter Filia. Tuan muda memang membutuhkan anda untuk keluar dari rasa depresinya. Berperanlah sebagai ratu dalam cerita, agar tuan bisa menebus rasa bersalahnya. Dengan begitu dia akan sembuh." Aslan kembali bersuara meminta persetujuan.


"Saya akan menjawab apabila dokter Axel menyetujui permintaan saya."


"Baiklah, karena Bree sudah berkata maka aku akan menyetujui permintaan yang mulia ratu." Axel mengulurkan tangan pada Filia. 


"Saya juga akan setuju membantu pengobatan tuan Bree." 


"Saya harap pembicaraan kita hari ini jangan sampai keluar, kalian pasti tahu jika kabar tuan Bree seperti hidangan lezat untuk dimakan." Reiki bersuara setelah sejak tadi diam. " Saya juga mengundang kalian untuk uji coba di Tyaga Food sebelum peluncuran resmi." Sambungnya menipiskan senyum.


"Aku akan mengosongkan jadwal lebih dulu, sebelum mengunjungi pasien mu." Axel meletakan piring cemilan yang telah kosong ke atas meja. 


"Saya tunggu kedatangan anda." Filia tersenyum.


"Jangan tersenyum. Mereka akan lancang pada mu nanti." Teguran meluncur bebas dari bibir Bree.


"Maaf." Filia tersenyum dongkol. Ingin rasanya membiarkan pria di sisinya ini gila.


"Aku membuat taman plumeria untukmu, di sana juga ada rumah kaca untuk tempat membaca." Bree menarik tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya. 


Tidak ingin ketinggalan Xavier juga bangkit dan menyusul. Rasa penasaran juga mencubit pinggiran hati Aslan, Eros dan Axel. 


"Indah, 'kan?" Bree tersenyum hangat.


"Ini taman plumeria." Filia tersenyum lebar penuh bahagia. "Sangat wangi." ucapnya memejamkan mata menghirup aroma yang belum sempurna datang dari para tanaman itu. 


"Itu buka aroma dari taman ini, karena mereka belum berbunga. Aroma plumeria menguar dari tubuhmu." Bree menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah kaca. 


Filia menekuk wajahnya dengan perasaan jengkel, baru saja ia senang melihat taman plumeria. Tapi Bree mengatakan wangi itu bukan dari taman melainkan dari tubuhnya. Setidaknya pria itu berpura - pura menyetujui perkataannya jika aroma plumeria datang dari taman. 


"Tempat membaca." 


"Iya, di istana kamu suka membaca bersama pangeran kedua. Jadi aku menyiapkan semua buku yang sering kamu baca." Bree menarik satu buku tentang ilmu pemerintahan sebuah kerajaan kuno.


Filia tersenyum tipis. "Tempat apa ini ?" Tunjuknya pada meja berukuran besar.


"Itu tempat meletakan kecapi, karena kamu suka memainkannya tapi saat ini kecapi masih dipesan." 


"Dan ini tempat apa ?" Eros menunjuk salah satu kursi tak jauh dari meja kecapi. 


"Aku akan menyewa seorang pelukis berbakat untuk melukis aku dan Ratu Filia. Seperti di kerajaan waktu itu." 


Nafas kasar terhembus dari bibir Eros dan kawan-kawan. Benar,  Bree seolah berada di dalam dunianya sendiri hingga rela membangun taman dan juga rumah kaca. Seakan Bree membuat kehidupannya sama seperti di istana. 


"Fil, sudah sore mari pulang." Xavier mengamati tungku pemanas air.


"Baiklah. Terima kasih atas waktu kalian hari ini." Filia berpamitan sambil tersenyum tipis.


"Kamu akan pulang, ini istanamu kemana kamu pergi ?" Bree tidak rela berpisah. Laki-laki itu langsung memasang wajah waspada.


"Tentu saja pulang ke rumahku." Filia mengatakan dengan raut wajah datar.


"Apa kamu tidak suka tinggal disini ?" Bree menatap sendu. "Aku tahu kamu lupa padaku, istana dan kehidupan kita. Tapi aku selalu membuatmu nyaman seperti di istana dulu." 

__ADS_1


"Bukan seperti itu, ini zaman modern ratu dan raja tidak boleh tinggal satu atap tanpa ada pernikah sah." Filia tersenyum kaku 


"Ayo menikah." 


__ADS_2