Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Dingin


__ADS_3

Hima malam turun semakin deras di pertengahan malam, terlihat dari tetesan air di penghujung daun dan basahnya beberapa kursi di taman rumah sakit. Operasi kecil dilakukan karena terdapat luka di bagian dalam. Di luar ruangan semua orang berharap dengan cemas untuk kesembuhan Bree Tyaga Adrian. 


Axel mengusap wajahnya beberapa kali saat dokter mengatakan sahabatnya banyak kehilangan darah. Laki-laki berprofesi sebagai dokter itu tidak mengganti pakaian sama sekali sebelum kondisi Bree dinyatakan melewati masa kritis. 


"Bagaimana Filia?" Leon melontarkan tanya ketika melihat Reiki menghampiri. Laki-laki itu tak beranjak dari posisi hanya kepala yang berotasi. 


"Bagian pundak memar, sepertinya dia dipukul dengan balok. Rekaman Cctv sudah dikantongi tuan Eros kemungkinan Nona Lisa tidak akan bebas." Asisten itu melepaskan jas yang sejak tadi membalut tubuhnya lalu menyisakan kemeja. Sambil menjatuhkan tubuh di kursi tunggu, Reiki mengangkat tangan kiri melihat waktu. "Bagaimana Tuan Bree ?"


"Belum selesai." Leon menyahut sembari membawa tubuhnya bangkit dari kursi dan bersandar di dinding. Terlihat begitu frustasi dengan kondisi yang dihadapi. "Gadis itu benar-benar gila." Sambungnya dengan posisi kepala menunduk menatap lantai keramik yang dingin. 


"Aku tidak menyangka ini terjadi lagi pada Bree." Axel menghembus nafas panjang dengan kasar menyandarkan tubuhnya hingga menimbulkan bunyi decitan kursi. 


Lampu di atas ruang operasi padam, semua reflek berdiri dengan benar menyambut dokter yang sebentar lagi akan keluar. Axel berkacang pinggang menatap pintu ruangan yang kini tak lepas pantau dari netra. 


"Dokter." Reiki melangkah mendekat tanpa bertanya laki-laki itu ingin penjelasan panjang lebar. 


"Operasi berhasil." Dokter itu menatap satu persatu wajah pemuda yang kini tengah melihat ke arahnya. Lalu tanpa menunggu pertanyaan berikutnya, pria paruh baya itu menjelaskan dengan detail. "Tuan Bree akan segera dipindahkan." Ucap dokter itu meninggalkan tempat. Membawa perasaan lega karena berhasil melakukan operasi pada pimpinan Tyaga group itu. Sebagai dokter senior dan kepala rumah sakit keberhasilannya malam ini adalah penentuan karir selanjutnya. 


Axel dan Leon kembali duduk sambil bernafas sedikit lega. Pisau itu memang kecil namun mampu melukai organ dalam. Reiki meraih jas nya lalu pergi ke ruang di mana Filia juga di rawat. Rupanya kekasih tuannya itu tidak hanya mendapatkan luka lebam namun juga beberapa luka di kening dan bibir belum lagi anggota tubuh yang lainnya. Lisa memang menyiksa Filia sebelum ditemukan Bree dan kawan-kawan. Alhasil gadis itu tidak bisa berbaring telentang. 


Sebentar lagi matahari akan menampakan siluetnya, sedetik pun Reiki dan yang lainnya tidak tertidur sebab rasa kantuk telah menghilang karena musibah yang tak diduga. Kini Bree telah menempati ruang rawat. Laki-laki itu belum juga membuka mata meski masa kritis telah terlewati dengan baik. 


...----------------...


"Yang Mulia, ketahanan tubuhmu sempurna. Luka itu tidak akan membuatmu tumbang lama." Sosok tua berjubah putih melangkah pelan ke sisi brankar.


"Aku sangat takut kalau ratuku jatuh dari atas gedung itu. Aku tidak bisa kehilangannya lagi." 


"Yang mulia beberapa waktu aku tidak mengunjungimu, cepatlah sembuh dan siapkan hatimu sebaik mungkin. Ingat beberapa saat lagi penentuan kau tetap disini atau kembali." Si pria jubah putih melempar pandang ke samping. 

__ADS_1


"Aku belum menemukan dalang kecelakaan dan kematian yang terasa janggal." Bree mencoba mencari penawaran.


"Ya aku tahu. Sebentar lagi yang mulia." Tanpa pamit tubuh pria itu menghilang bersama cahaya dan menyisakan rasa penasaran besar di dalam hati Bree.


...----------------...


Kemilau pagi menyusup ke pilar bangunan megah rumah sakit, di dalam salah satu ruang seorang laki-laki mulai membuka kelopak mata setelah tertidur cukup lama. Iris mata memindai tempat dimana daksa tengah tergolek lemah. 


"Rei." Intonasi suara itu terdengar serak. "Dimana Ratuku?" Bree kembali bersuara sambil melemparkan pandak ke segala arah. 


"Anda sudah bangun?" Reiki gegas mengayun kaki dari muara pintu kamar mandi. "Maaf saya ke kamar mandi." Laki-laki itu nampak segar setelah membersihkan diri. Tangan kanannya masih bergerak cepat mengeringkan rambut yang setengah basah dengan handuk kecil.


"Rei, dimana ratu Filia?" Bree masih lemas tak mampu bergerak banyak. Sakit di perutnya masih terasa menyayat. 


"Dokter Filia dirawat tepat sebelah ruangan ini." Reiki tersenyum penuh syukur ketika sang atasan telah membuka mata. "Anda tidak perlu cemas dokter Xavier bersama Irene dan Luna masih mendampingi dokter Filia." Lanjutnya sambil melangkah.


"Tuan Leon dan juga Axel dalam perjalanan pulang, karena sebentar lagi mereka akan memberi pernyataan terkait kejadian tadi malam." Reiki mendaratkan tubuh di kursi sambil meraih ponsel miliknya di atas nakas. 


"Antarkan aku melihat ratu Filia." Bree memaksa tubuh untuk bangun, rintihan kecil terdengar tipis dari bibirnya. 


"Kondisi anda belum memungkinkan untuk bergerak, lebih baik istirahat saja. Nanti saya yang meminta dokter Filia kesini." Reiki gegas membantu dan mengatur posisi brankar agar nyaman untuk si tuan muda


"Bagaimana kondisinya?" Bree mengatur nafas guna menghalau rasa nyeri dari luka di perut samping. 


"Ada luka memar di bagian punggung dan juga di beberapa tempat kaki dan tangan. Nona Lisa melakukan kekerasan sebelum kita menemukan dokter Filia. Tua Eros sudah meminta visum dari luka memar di tubuh dokter Filia. Anda tenang saja bisa dipastikan gadis itu akan menyusul tuan Marcel." Reiki meraih gelas berisi air putih dan mengarahkan sedotannya ke bibir pucat si tuan muda. "Saya akan menyeka tubuh anda karena sebentar lagi dokter visit dan mengganti perban." Asisten tampan itu bergerak cepat mengambil beberapa perlengkapan. 


"Setelah ganti perban, aku ingin melihat ratuku. Dia membutuhkan aku saat ini." Bree tetap pada keinginan dan membiarkan asistennya melepaskan kancing baju yang dikenakan. 


"Iya kita tanyakan dokter dulu." Reiki memutuskan cepat ketimbang pusing dengan permintaan sang atasan. Laki-laki itu penuh kelembutan menyeka kulit putih bersih milik putra mahkota. 

__ADS_1


Di ruang sebelah, Filia sudah bangun dan hanya ditemani Xavier dan juga Bibi Mei yang baru tiba. Sementara Irene dan Luna gegas pulang untuk pergi kekantor. Dokter cantik itu duduk di atas brankar dengan pandangan kosong tanpa isi. Kejadian semalam sedikit mempengaruhi psikisnya. Rasa sakit di pundak dan tamparan berulang di wajah hingga menyebabkan sudut bibir membiru serta pecah masih melekat hangat dalam ingatan. 


Ketakutan merajai hingga ke tulang masih terasa, bayangan mengerikan jatuh dari ketinggian gedung Tyaga Fashion menari di pelupuk mata. Tamparan sarayu malam sangat terasa menggigit ke dalam sel tubuh, semua seperti mimpi buruk yang seharus tidak pernah ada. Setetes kristal bening hancur di sudut mata, semakin banyak dan tumpah ruah. Bahu bergetar dengan isakan kecil yang mulai pecah. 


"Fil." Xavier gegas melangkah lebar ketika tangis sang pujaan hati masuk ke ruang rungu. Cup kopi diletakan di atas meja dan segera meraih tubuh ramping si dokter cantik ke dalam dekapan. "Katakan yang mana sakit?" Iris mata pria tampan itu bergulir gelisah dengan menjauhkan jarak mencoba mencari jawab atas tangis yang mengiba menusuk ke dalam dada. 


"Sakit." Getaran yang mengantarkan suara Filia nyaris tak menembus gendang telinga.


"Yang mana ?" Tatapan khawatir semakin mendominan di manik mata Xavier. "Bibi Mei, jam berapa dokter visit?" Pertanyaan dilontarkan ketika wanita paruh baya pemilik nama keluar dari kamar mandi. 


"Nona, kenapa ?" Bibi Mei melangkah cepat dan mengurai rambut panjang si dokter cantik. "Sebentar lagi dokter visit, kalau memang darurat saya panggilkan perawat jaga." 


"Kita tunggu dokter saja." Xavier memberikan keputusan setelah gadis dalam dekapannya lebih tenang walau isak tangis masih tersisa. "Fil, minum dulu." Laki-laki itu meraih gelas dan menggerakan sedotan di bibir kering Filia. "Pelan-pelan." Ucap nya ketika gadis itu meringis menahan sakit pada sobekan bibir. 


"Nona, anda makan dulu ya, nanti dokter visit dan menyuntikan obat jadi tubuh anda sudah siap menerima pengobatan." Bujuk bibi Mei meraih mangkok bubur yang masih hangat. 


"Bibi Mei benar, sekarang kamu makan ya aku yang suap." Xavier melemparkan perhatian dan senyuman. Sedikit mengurai pelukan dan memberi jarak. 


Filia mengangguk dan mengusap jejak air mata kesedihan, sejak bangun gadis itu belum juga melihat kehadiran sang kekasih atau pun menanyakannya. Bibirnya terbuka tipis untuk menerima suapan dari Xavier. 


"Ratu." 


Sosok pemilik suara yang kini duduk di kursi roda dengan wajah pucat mengenakan pakaian pasien menarik atensi tiga makhluk di dalam ruangan. 


"Pergi." 


Satu kalimat membekukan tubuh Bree Tyaga Adrian, jantungnya berpacu sangat cepat dengan debaran dahsyat. Kilatan dingin terpancar dari retina Filia Aruna melumpuhkan ruang gerak si tuan muda. Hingga tendon-tendon dalam daksa putra mahkota Tyaga berhenti menyuplai darah yang membentuk oksigen di paru-paru. 


 

__ADS_1


__ADS_2