Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Terungkapnya Rahasia


__ADS_3

Keheningan kembali mendominasi sesaat setelah kalimat Reiki terucap. Asisten tampan itu tersenyum tipis merasa puas membaca gurat heran di wajah dua tersangka yang kini terdiam dalam pengawasan para pengawal. Bibi Lexa perlahan mengangkat wajah dengan jejak air mata yang masih memberi di sudut mata. Tak beda, Widan terdiam setelah sekuat tenaga memberontak namun tak jua terlepas. 


"Ini adalah rahasia besar dalam keluarga Tyaga." Lanjut si asisten tampan setelah mendapatkan instruksi dari atasannya. "Rahasia kematian Tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka, seperti yang telah kita ketahui dari saudara Jesen yang menjebak Tuan Bree dan juga dokter Axel di dalam perburuan. Menyebabkan mereka kehilangan arah dan tersesat berhari-hari. Beruntung saat itu mereka ditemukan beberapa pemburu lain yang sudah jauh dari hutan barat kota sebab itulah pencarian terhenti karena medan yang sulit disertai hujan petir mengakibatkan pencarian dipaksa berhenti karena mencapai batas enam hari. Di saat akan mengumumkan kematian Tuan Bree dan juga dokter Axel tanpa menemukan jenazah keduanya, Tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka ditemukan meninggal di dalam kamar mereka dan kematian itu disimpulkan karena bunuh diri. Sayangnya, kesimpulan itu salah. Karena beberapa bulan yang lalu saya menemukan selembar kertas di dalam sarung bantal dan terdapat sisa serbuk halus. Jadi kami mencurigai kematian itu bukan karena butuh diri namun dibunuh." 


Sontak pengakuan dan pernyataan Reiki menjadi tanda tanya dan juga keterkejutan semua orang. Wajah Bibi Lexa semakin keruh dan juga pucat. Tubuhnya lemah, jatuh di atas lantai dingin. Keangkuhan tidak lagi serta merta menggiring wajahnya, semua sirna terhempas tanpa sisa. 


"Mama." Suara Widan tercekat melihat sosok yang melahirkannya terkulai lemah di atas lantai. Laki-laki itu menatap iba, akankah semua berakhir hari ini setelah diperjuangkan bertahun-tahun. "Ma, bangun." Lanjutnya pelan ingin menggapai. 


Bibi Lexa hanya menangis tidak nyaring atau meraung, ia terisak tak mampu mengangkat wajah meski suara sang putra masuk ke ruang rungu.


"Bibi, dalam hati kecilku sungguh tidak ingin melakukan ini. Tapi kekejaman yang Bibi lakukan kepada orang tuaku dan juga pada diriku sendiri, menjadikan ku sedikit tidak memakai hati." Suara Bree menarik atensi di tengah keterdiaman semua orang. Laki-laki itu menghirup oksigen sebanyaknya mengusir sesak yang sedikit mencekik di leher. Bagaimanapun rasa sayang itu ada untuk Bibi Lexa dan juga Widan. "Maafkan aku." Lanjutnya kembali diam dengan obsidian yang terkurung kaca-kaca kesedihan. 


"Kau keterlaluan Bree !" Widan bersuara rendah penuh dendam dan juga dingin. "Kamu membuat kesalahan besar karena membuat pertunjukan ini. Siapa yang bisa membuktikan jika orang tuamu bunuh diri karena keterlibatan ibuku." Tanpa sadar laki-laki itu menantang.


"Apa aku mengatakan jika Bibi terlibat ?" 


Widan menelan salivanya ketika pandangan semua menghujani dirinya. Tangannya terkepal karena tanpa sadar membuka sedikit rahasia. 


"Lanjutkan, Rei." Bree menoleh ke samping memberikan titah. Sementara di meja lain para sahabatnya bersabar menunggu tugas masing-masing. 


Laki-laki itu mengangguk lalu berkata. "Baik Tuan." Reiki menjentikan jari dan menyala kembali layar proyektor. 


Semua iris mata bergulir pada layar lebar yang menampilkan dua pasang paruh baya. Disana mereka tidak sendiri melainkan didampingi seorang terapis yang tidak lain adalah Aslan. Sepasang paruh baya itu terlihat lebih baik dari sebelumnya. 


"Perkenalkan saya Chendia dan juga disamping saya Gio, suami saya. Kami adalah asisten Mansion tuan Adrian."


"Tidak mungkin !" Widan menolak percaya tubuhnya mundur sedikit dari posisinya tanpa melepaskan pandang pada sosok yang ada di layar. 


"Ke—kenapa kalian ada disana ?" Bibi Lexa yang semula tidak berani mengangkat wajah refleks melihat ke depan setelah suara familiar masuk ke dalam gendang telinga. "Ka—kalian masih hidup ? Ba—bagaimana bisa ?" 


"Apa Bibi mengharapkan mereka mati setelah penyekap itu ? Kenapa tidak bibi tanyakan pada putra kesayanganmu itu?" Axel bersuara setelah diam menyaksikan kekacauan disana. 


"Saya akan menceritakan kejadian dimana Tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka dinyatakan meninggal bunuh diri." Suara  Bibi Chen kembali terdengar. "Hari itu, sebelum pagi tepat sekitar pukul empat dini hari." 


Kilas Balik.


Lima hari telah berlalu Bree dan juga Axel belum ditemukan. Jejak mereka seolah menghilang ditambah hujan petir beberapa hari dan suasana di dalam hutan sedikit gelap karena cuaca buruk membuat pencarian terhambat. Berbagai alat digital sudah digunakan namun tetap saja tidak terdeteksi. Beberapa anjing pelacak pun juga ikut serta namun sayang hasilnya nihil. Dengan berat hati tim pencarian menghentikan pencarian itu, selain kondisi cuaca tidak bagus, perkiraan mereka Bree dan juga Axel tidak selamat karena medan yang sulit dan juga terdapat jurang dalam. 


Keluarga Tyaga menerima keputusan bahwa Bree dan Axel dinyatakan meninggal dunia, sementara pencarian akan dilanjutkan apabila cuaca telah membaik. Pagi itu harusnya ada konversi pers namun berita duka menyambangi. 


Pukul empat dini hari, Tuan Adrian batuk tiada henti. Selain kondisinya memang drop,  cuaca dingin pun jadi pemicu, dalam gulungan selimut putih miliknya Tuan Adrian tidak pernah tidur nyenyak selama kepergian Bree hal sama juga terjadi pada dokter Dion dan juga Emilsa. Hilangnya Axel menjadi pukulan terberat hingga kedua paruh baya itu memutuskan untuk cuti. 


"Batukmu parah, aku telpon Dion." Nyonya Ivanka bangkit dari posisi berbaringnya. Kemudian meraih ponsel yang terletak di atas nakas. "Adrian batuk parah tolong datang kemari bawa juga perawat." Ucapnya setelah telepon tersambung. 

__ADS_1


"Baiklah." 


Nyonya Ivanka mengembalikan ponsel di atas nakas lalu membawa langkah ke ruang ganti mencari syal untuk menutup leher sang suami, pikiran wanita paruh baya itu sudah bercabang kemana-kemana. Keputusan berat yang sebentar lagi akan diumumkan membuatnya hampir tidak tidur semalaman ditambah kondisi kesehatan tuan Adrian yang memburuk. Nyaris membuat tubuhnya ambruk di lantai. Mendapatkan apa yang dicari Nyonya Ivanka gegas kembali dan melilitkan syal itu ke leher tuan Adrian. "Kau mau minum?" 


"Hm." Tuan Adrian menjawab sambil membenarkan posisi duduknya. 


"Tunggu, aku minta bibi Chen mengambil air hangat saja." Nyonya Ivanka meraih gagak intercom. "Bibi Chen tolong antarkan air hangat kuku ke kamar. Suamiku batuk parah dan juga buatkan teh manis tubuhku lemas sekali. Antarkan Dokter Dion dan istrinya nanti ke kamar kalau sudah datang, mereka membawa perawat juga." Lanjutnya bicara. 


"Baik Nyonya." 


"Tunggu sebentar." Iris mata Nyonya Ivanka berkaca-kaca tampilan wajah bantal dan juga mata sembab karena menangis berhari-hari membuatnya seperti tidak terawat. 


"Bree masih hidup, 'kan?" Tuan Adrian meraih tangan sang istri dan meletakan ke dada dalam genggamannya. "Aku percaya putraku masih hidup." Lanjutnya sendu. Tangisnya itu tidak pecah hanya getar pita suara yang terdengar. Namun, siapa yang tahu luka menganga begitu dalam di dalam hati. 


"Aku yakin, Bree dan Axel masih hidup. Dion dan Emilsa tidak lebih baik dari kita. Mereka juga merasakan apa yang kita rasa." Tangis Nyonya Ivanka terdengar pilu. 


Di dapur Bibi Chen selesai membuat teh manis dan berniat untuk mengantarnya. Wanita paruh baya itu juga menaruh beberapa potong roti untuk mengganjal perut sang atasan. 


"Bibi Chen, untuk siapa itu ?" Bibi Lexa bagun lebih awal karena terlalu senang dengan hari ini.


"Untuk Tuan Adrian dan Nyonya Ivanka." 


"Mereka bangun sepagi ini ?" Bibi Lexa menatap isi di dalam nampan. 


"Iya, Tuan Adrian batuk parah." Bibi Chen melanjutkan langkah karena tidak ingin atasannya menunggu. 


Bibi Chen mengangguk lalu memutar tumit melanjutkan pekerjaan di dapur. Sementara bibi Lexa tiba di kamar utama. Tangan wanita paruh baya itu terangkat mengetuk daun pintu.


"Masuk." 


"Bagaimana kondisi kak Adrian ?" 


"Lexa." Nyonya Ivanka menoleh ke muara pintu. 


"Iya, aku mendengar dari Bibi Chen kalau Kak Adrian batuk parah. Sudah menghubungi dokter ?" Bibi Lexa meletakan nampan di atas nakas. 


"Sudah, mungkin Dion sudah dijalan." Nyonya Ivanka meraih gelas air putih hangat lalu meminumkannya. "Kau mau roti ?" Lanjut tanyanya pada sang suami. 


Tuan Adrian menggeleng, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang karena air hangat kuku yang diminum. 


"Nanti siang ke rumah sakit saja, biar diantar Widan." Usul Bibi Lexa memijat ringan ujung kaki tuan Adrian.


"Iya, selepas konversi pers nanti." Nyonya Ivanka kembali meminumkan sisa air putih. Tak lupa teh manis hangatnya juga diminum. 

__ADS_1


 Lima belas menit kemudian tuan Adrian dan Nyonya Ivanka merasakan pusing yang hebat, pandangan keduanya berkunang-kunang dengan keringat dingin dan mual yang begitu kuat. 


"Kenapa pusing sekali ?" Keluh Nyonya Ivanka merasa tidak nyaman. Tangannya terangkat mengusap keringat dingin di pelipis. 


"Aku juga, dadaku semakin sakit dan juga pusing. Penglihatan ku berkunang-kunang." Tuan Adrian kembali batuk. 


Bibi Lexa terkekeh. "Maafkan aku Kak Adrian. Pagi ini aku mengirim kalian lebih dulu ke surga, hari ini selain mengumumkan kematian putra kalian juga akan mengumumkan kematian kalian. Ah, akhirnya Tyaga Group jadi milikku. Dion dan Emilsa tidak akan sampai kesini karena aku baru saja mengirim beberapa orang untuk mencegahnya." Wanita paruh baya itu menggoyang ponsel di tangannya. 


"Kau jahat Lexa." Nyonya Ivanka tak mampu menahan bobot tubuhnya langsung tergeletak di atas kasur. "Jangan senang lebih dulu, aku yakin putraku akan kembali." Lanjutnya memejamkan mata merasakan sakit yang amat luar biasa di tenggorokannya. 


"Dia tidak akan kembali, karena Widan sudah membuat mereka tersesat di dalam hutan. Mungkin, putramu yang malang itu sudah mati dimakan binatang buas atau jatuh ke jurang tanpa ditemui oleh siapapun." Bibi Lexa menatap tajam dengan seringai jahat. 


"Jahanam ! Firasatku tidak salah jika Ayah membawa bibit pengkhianat di rumah ini." Tuan Adrian tersungkur di atas kasur. 


Tubuh Bibi Chen bergetar hebat disertai degupan jantung yang amat kuat. Tangan kanannya terangkat menutup mulut karena keterkejutannya. Semuanya, Bibi Chen dapat mendengar di depan pintu yang sempat ia buka sedikit untuk bertanya makanan yang akan dimasak untuk Tuan Adrian yang tengah sakit. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Bibi Chen gegas berlari mencari paman Gio untuk menemui dokter Dion sebelum terlambat menyelamatkan atasannya. Dan sialnya tidak ada seorang pengawal pun yang berada di tempatnya. Bibi Chen berlari dengan kepanikan yang luar biasa mencari keberadaan suaminya. Ia yakin ada kerja sama pelayan Mansion dan Bibi Lexa.  


Mendengar derap langkah di sela pintu yang terbuka atensi Bibi Lexa teralihkan, gegas kakinya melangkah untuk melihat siapa yang berada disana. Dengan gerak cepat wanita paruh baya itu mencari putranya. "Widan bangun, cepat kamu cari Chen dan juga Gio." 


"Untuk apa, Ma." Widan yang ditarik paksa dari dalam selimut terpaksa duduk. 


"Tangkap mereka cepat, jangan banyak bertanya." Dengan panik bibi Lexa meraih jaket dan memasangkan ke tubuh putranya. Setelah itu kakinya berputar kembali masuk ke dalam kamar Tuan Adrian, senyum wanita tua itu mengembang melihat busa yang keluar dari bibir sepasang suami istri yang tergeletak diatas kasur. "Semoga kalian bertemu di alam sana." Ucapnya terkekeh. "Kematian ini adalah bunuh diri." Tak lupa kaus tangan terpasang kembali untuk meletakan bungkus serbuk racun di tangan Tuan Adrian dan satu lembarnya lagi disisipkan ke dalam sarung bantal.


Kilas balik selesai.


...----------------...


Semua orang hening tidak ada yang bersuara, hanya tatapan tidak percaya pada Bibi Lexa yang kini semakin menunduk. Sementara Widan merasa ditipu karena selama ini ditugaskan untuk mencari bibi Chen dan juga paman Gio tanpa diberi alasan yang nyata. 


"Waktu itu saya baru saja keluar dari Mansion tiba-tiba disekap beberapa orang pengawal Tyaga yang ada di Mansion. Kami dituduh mencuri dan dikurung dalam ruangan lain." Lanjut paman Gio. "Saya berusaha mencari jalan keluar tapi tidak ada. Untuk kematian dokter Dion dan juga dokter Emilsa karena kecelakaan yang disebab oleh beberapa orang kiriman nyonya Lexa, semua itu diakuinya dihadapan tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka. Mereka juga merekayasa kematian kami di tempat kecelakaan mobil dokter Dion. Di dalam mobil itu bukan kami tapi perawat yang sengaja dibawa dokter Dion." 


"Selanjutnya apalagi ?" Eros melayangkan tanya dari tempatnya berdiri. 


"Kami disekap dan disiksa sampai akhirnya, kami dibuang oleh beberapa orang. Seluruh pengawal Tyaga dalam kendali Nyonya Lexa." 


"Bagaimana Bibi ?" Bree tersenyum tipis. "Mungkin waktu itu kalian beranggapan kami sudah mati, sayangnya tidak. Eros semuanya aku serahkan padamu. Tapi sebelumnya untuk lebih meyakinkan silahkan Leon umumkan penyebab kematian kedua orang tuaku." Lanjutnya membenarkan posisi duduk. 


"Reiki menemui kertas di dalam sarung bantal, usai pemakaman kamar utama tidak dimasuki oleh orang lain, Bree tidak membolehkan pelayan untuk merubah tatanan barang di dalam kamar itu. Setelah dilakukan penelitian di laboratorium milik kami, debu serbuk adalah racun. Jadi seperti foto yang diambil di TKP dan juga dari cerita Bibi Chen. Mereka bukan bunuh diri minum racun tapi sengaja di racun. Karena rekaman Cctv telah musnahkan jadi kita tidak bisa melihat keseluruhannya." Leon menunjuk beberapa foto yang di tampilkan di layar. 


"Kami menemukan beberapa fakta lain, di bagian selatan kota, Bibi Lexa membeli tanah berukuran 500 ratus hektar dan disanalah para korban yang terlibat rahasia besar ini lenyapkan. Beberapa pengawal dan juga orang-orang terlibat. Menurutku, Bibi Chen dan juga paman Gio bukan dibuang tapi harusnya dilenyapkan tapi pengawal itu berbaik hati menurunkan mereka di depan rumah sakit jiwa. Kami menemukan beberapa tengkorak manusia atas petunjuk dari Jesen, yang diduga itu jasad orang-orang yang menghilang." Sambung Eros menguatkan fakta. 


"Karena Bibi Chen dan juga Paman Gio ada di rumah sakit jiwa, itulah kenapa Tuan Bree ada disana. Jadi saya luruskan bahwa Tuan Bree Tyaga Adrian dalam keadaan sehat. Surat yang pernah dikeluarkan dokter Filia Aruna itu hanya semata-mata agar tuan Bree tidak mengganggunya. Karena Tuan muda memiliki ketertarikan padanya." Xavier mengambil tugas miliknya untuk mengembalikan kisah baik kesehatan Bree. 


Di tempatnya Widan dan juga Bibi Lexa tak lagi berkutik, semua telah selesai. Rahasia besar dalam keluarga Tyaga terungkap sudah dan sebentar lagi kejahatan lainnya yang berkaitan dengan kematian dan hilangnya beberapa orang bersangkutan akan diungkap oleh Eros di waktu penahanan. Dengan gerak isyarat laki-laki berkulit sawo matang itu memberi titah untuk menggiring Widan dan juga Bibi Lexa keluar dari aula. Semua mata menatap ke arah mereka tidak ada lagi gumaman yang menyudutkan. Semua selesai dengan bukti-bukti dan saksi yang didapatkan Eros. 

__ADS_1


Nama seorang Bree Tyaga Adrian kembali bersih kepercayaan juga telah didapatkan. Tak lupa Axel dan Xavier memberikan surat pernyataan kesehatan baik fisik maupun psikis. Meskipun cintanya tidak mendapatkan balasan manis setidaknya Bree berhasil menjalankan misi nya.


 


__ADS_2