Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pindah ke Mansion


__ADS_3

Acara uji coba produk baru Tyaga food menjadi perbincangan hangat, selain rasanya yang lezat, makanan itu juga higienis dan sehat. Leon telah melakukan analisis selama berhari-hari untuk memastikan kandungan di dalam makanan itu. Sehingga laboratorium miliknya mengeluarkan sertifikat layak konsumsi. 


"Tuan Bree boleh kami meminta waktu anda sebentar?" 


Bree meletakan gelas di atas meja ketika ada cameraman reporter menghampiri. "Tentu saja." Sahutnya tersenyum ramah. 


"Bagaimana perasaan anda setelah uji coba makanan tadi?"


"Sangat senang dan puas karena hasilnya lezat dan lembut. Saya sangat berterima kasih pada para pekerja pabrik Tyaga food." Bree melemparkan pandang ke arah kamera. 


"Kami dengar kalau Tyaga otomotif tidak mengeluarkan produk baru setelah uji coba gagal tujuh bulan lalu. Apa itu benar?"


"Ya, itu benar. Untuk sementara Tyaga Otomotif tidak mengeluarkan produk baru. Kami akan melakukan evaluasi yang mendalam karena hasil pemeriksaan saat mobil saya lepas kendali terjadi pada rem yang tidak berfungsi padahal sebelumnya bagian mekanik memastikan jika rem berfungsi tapi setelah melakukan perjalanan beberapa kilometer semuanya tidak sesuai harapan beberapa perangkat navigasi tidak bekerja walau hanya mengirim sinyal bahaya. Untuk itu kami akan adakan evaluasi lebih jauh." Bree merubah mimik wajah serius dan menyampaikan hasil pemeriksaan pada mobil yang dikendarainya.


"Jika Tyaga otomotif sementara melakukan evaluasi. Apa gebrakan baru anda untuk Tyaga grup ? Sementara Tyaga Otomotif tidak lagi mengeluarkan produk."


"Saya akan mengadakan brainstorming."


"Pertanyaan terakhir, selama ini kami mengetahui jika kehidupan pribadi anda jarang tercium media. Jadi boleh kami tahu, siapa gadis cantik yang menemani anda saat mencicipi uji coba tadi?" 


"Dia adalah orang yang spesial. Dia adalah ratu masa depanku." Bree tersenyum manis ke arah Filia. Tak luput pula tanganya menggenggam mesra tangan gadis itu.


"Terimakasih tuan, sudah memberikan waktu berharga anda untuk kami." Ucap reporter itu lalu berpaling menghadap kamera. "Itulah beberapa percakapan kami pada Putra mahkota Tyaga, kalian juga bisa melihat jika kondisi beliau sudah sehat dan pulih total. Mari kita tunggu gebrakan apa yang dilakukan Tuan Bree Tyaga Adrian untuk melebarkan sayap bisnisnya." Sambung reporter itu sambil bergeser menjauhi meja.


...----------------...


Binar bahagia tak redup di wajah Bree, rasanya tidak ingin hari ini berakhir begitu saja. Apalagi rona merah mempercantik wajah Filia Aruna setelah mendengarkan pernyataannya beberapa menit lalu. 


"Tuan, kenapa kau mengatakan aku ratumu ? Nanti publik akan beranggapan buruk." 


"Ratu Filia Aruna bisakah jangan memanggilku, Tuan?" Bree berkata lembut dengan sorot mata penuh harap. Bahkan jantungnya ikut bertabuh merdu di dalam bilik menyuarakan cinta yang teramat dalam.


"Maaf, aku akan melatih lidahku untuk menyebut namamu." 


"Karena memang kamu ratuku." Bree menjawab pertanyaan Filia yang sempat terjeda.

__ADS_1


"Kak Bree." Lisa tiba-tiba menghampiri. "Siapa dia ?" Tanyanya dengan tatapan sengit kearah Filia. 


"Irene, Luna. Bagaimana kalian mengenal Filia ?" Bree mengabaikan pertanyaan Lisa dan melemparkan tanya pada dua sekretarisnya. 


"Filia dan Xavier adalah teman kami, Tuan." Irene tersenyum melirik dua orang yang dimaksud.


"Ratu, maksudku Filia. Apa mereka baik padamu?" Bree menepis kasar jari Lisa yang ingin menyusup ke lengannya. "Sudah aku katakan ! Jangan menyentuh kulitku walau satu senti, hanya Filia yang boleh menyentuh tubuhku." Ucapnya tegas dan menghunus.


Lisa merasa malu gegas bangkit dan pergi. Sumpah serapah diucapkan di dalam hati karena tak terima, niat menjadi Nyonya Bree semakin menggebu dalam tubuh ramping berbalut gaun berwarna kuning itu. 


"Tentu saja mereka baik padaku." Filia menjawab setelah Lisa menjauh.


"Syukurlah, ayo kita kembali. Jangan lupa katakan pada bibi Mei agar berkemas barang pribadimu untuk pindah ke Mansion." 


"Pindah ke mansion ?!" Mata Xavier terbelalak." Apa itu benar, Fil?" Sambungnya bertanya.


"Iya, aku harus menyelesaikan pengobatannya. Kalau aku tidak ikut ke mansion, dia akan setiap hari mendatangiku. Jadi setelah aku bicara pada Bibi Mei kami akan tinggal di Mansion beberapa waktu." 


"Baiklah." Xavier menghela nafas panjang. "Aku akan mengunjungimu di sana." 


"Baik Ratu." Bree tersenyum bahagia. Rupanya gadis cantik itu memikirkan perkataannya semalam.


...----------------...


Di sepanjang perjalanan, Bree merasakan kantuk datang mendera. Tanpa terasa kelopak mata menutup obsidiannya, Filia merasakan jika pria di sampingnya itu menunduk dan lemah. Segaris senyum tertarik di bibirnya saat melihat Bree tertidur. 


"Dokter Filia, anda bisa menurunkan setelan kursi tuan Bree agar lehernya tidak sakit." Reiki mengawasi dari kaca depan. 


"Baiklah." 


Reiki kembali fokus mengemudi sesekali manik matanya melirik ke belakang. Pria itu tersenyum melihat sang atasan menjadi lebih baik. 


Filia dengan perlahan menyentuh setelan kursi milik Bree. Namun tanpa diduga laki-laki itu menjatuhkan kepala di bahunya, sesaat Filia terpaku dan terkejut. Haruskah memindahkan kepala si tuan muda ? Atau membiarkannya bersandar nyaman. 


Setelah menimbang dengan sedikit berpikir, Filia membiarkan saja kepala Bree jatuh di bahunya. Kemudian gadis itu membenarkan posisi duduknya. 

__ADS_1


Aroma plumeria menguar dari tubuh Filia semakin mengantarkan Bree ke alam mimpi, tangan kanan laki-laki itu terangkat dan melingkar ke tubuh sang ratu. Tersentak, dokter cantik itu namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sekelumit hatinya tersentuh dengan penyakit yang dialami si tuan muda.


Perjalanan menuju kediaman Filia Aruna sangat dinikmati Bree. Kapan lagi menempel pada ratu seperti cicak, hati laki-laki itu berharap tidak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. 


"Tuan, kita sampai." Reiki menoleh kebelakang lalu melepaskan safety belt di tubuhnya. Sekali lagi senyum tipis tercetak melihat sikap kepura-puraan atasannya. Ya, ia tahu jika Bree telah bangun beberapa menit yang lalu.


"Ratu, mari kita turun." Dengan bersuara serak laki-laki itu membenarkan jas membungkus tubuhnya. 


"Kita hanya sebentar." Filia sudah belajar menerima sebutan ratu padanya. 


Bibi Mei menyambut di depan pintu disertai ulasan senyum, setelah Filia menceritakan tentang Bree. Wanita paruh baya itu menatap prihatin.


"Tuan, Nona. Silahkan duduk dulu saya akan membuatkan minuman. Untuk barang yang dibawa semua sudah saya kemas." 


"Terimakasih Bibi Mei." Filia melemparkan senyuman. Kemudian mengalihkan atensi pada salah satu di antara dua laki-laki duduk bersamanya. "Asisten Rei, bisakah anda membuat janji pada dokter Axel malam ini ? Aku ingin membicarakan perihal pasienku di rumah sakit." 


"Saya akan membicarakannya lebih dulu dokter Filia." 


"Kau ingin membantah titah ratuku ?! Buat janji pada Axel, kalau dia menolak seret saja, kirim beberapa pengawal kerumahnya." 


"Baik Tuan." Reiki gelagapan karena lupa jika perintah Filia adalah mutlak tak bisa di bantah. 


"Bagaimana pencarian mekanik yang menghilang itu?" Bree bertanya sembari memilin ujung rambut Filia.


"Masih belum menemukan apa-apa, persembunyiannya rapi tidak meninggalkan jejak." Reiki menghela nafas panjang. "Tuan Eros juga sudah berusaha sangat keras." Sambungnya dengan tatapan serius. 


"Besok, atur innovation meeting." Bree merogoh isi di dalam tas Filia dan menemukan botol parfum kecil lalu menyemprotkan ke ceruk lehernya. "Plumeria, selalu jadi ciri khas mu ratu." Sambungnya tersenyum. 


Filia hanya meringis kesal, kelancangan jari-jari putra mahkota Tyaga  merogoh isi di dalam tasnya. Namun sayang, kesal itu hanya bisa ditelan gadis itu mengingat niat yang telah ditanamkan dalam hati. Berperan menjadi ratu seperti di dalam cerita si tuan muda. 


"Semua sudah siap, habiskan minum kalian setelahnya mari kita berangkat." Filia menyambut koper besar miliknya dari tangan Bibi Mei. 


"Bibi Mei, kau ingin membuat tangan ratuku kasar. Menarik koper bukan tugasnya berikan pada Rei." Bree melirik tidak senang. 


"Maaf tuan." Bibi Mei meraih gagang koper lalu menyodorkan pada Reiki. 

__ADS_1


"Mari berangkat sebelum senja tiba." Bree menarik telapak tangan Filia.


__ADS_2