Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Regi Di Temukan


__ADS_3

Dua  bulan telah berlalu meninggalkan kisah paman Marcel, sidang selesai dan vonis sudah di jatuhkan. Kini pria paruh baya itu menjalani masa hukuman sesuai keputusan. Sementara Bibi Vindy berusaha memperbaiki nama pabrik kecil tas milik paman Marcel, wanita yang telah pensiun dari dunia karir sejak sepuluh tahun lalu itu kini terjun kembali untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis sang suami. 


Banyak investasi yang terjual untuk menutupi kerugian dan mengganti rugi uang yang telah dikorupsi paman Marcel. Bibi Vindy sangat bekerja keras untuk memulih kembali pabrik yang hampir ditutup dan disegel. 


Tak ingin berhati jahat, Bree Tyaga Adrian mengulurkan tangan untuk membawa pabrik tas paman Marcel berada di bawah naungan Tyaga Group. Dua bulan hidup dalam ketenangan membuat semua orang merasa lega. Meski begitu kewaspadaan masih saja di jaga. 


"Tuan, Regi sudah ditemukan sekarang berada di mansion lama." Reiki meletakan gelas white tea keatas meja sang atasan. "Untuk pelukis yang anda minta dua bulan lalu, sudah datang." Lanjutnya membawa daksa duduk di atas sofa.


"Panggil beberapa orang untuk membantu ratu Filia berhias, apa perhiasan rambut dan pakaian tradisional yang aku minta sudah selesai?" Tanpa mengubah atensi laki-laki itu masih saja fokus bermain game di dalam ponsel. 


"Sudah, sore ini akan dikirim ke mansion." 


"Hm, bagaimana perkembangan Bibi Chen dan Paman Gio?" Si tuan muda bertanya sambil memanen hasil tanamannya di dalam game. 


"Sepertinya Dokter Filia, dokter Xavier dan juga dokter Axel berhasil. Sekarang hanya tersisa dari terapis Aslan, selanjutnya mereka bisa dibawa berkomunikasi tapi pelan-pelan." Reiki menjawab dan mengeluarkan ponsel kemudian menunjukan video perkembangan sepasang asisten mansion lama itu.


"Aku sudah tidak sabar menunggu mereka bisa bicara." Bree berucap sambil menonton. "Bagaimana dengan Regi ?" Tanyanya menyerahkan benda pipih itu kembali.


"Ini akan menjadi kendala, sepertinya selama ini Regi tidak sendiri dalam pelarian. Kemarin saya melihat ada bekas jarum suntik di beberapa bagian kulitnya." 


Bree mengangkat pandang mendengarkan penjelasan asistennya. "Sepulang dari kantor antarkan aku ke sana minta semua orang berkumpul di mansion lama." 


"Baik tuan." Tanpa menunggu perintah dua kali Reiki gegas mengirim pesan. 


Lengkungan langit semakin menyilaukan mata, karena matahari menunjukan pesona yang tak terkalahkan. Keringat tipis merembes di tiap kening para pencari rupiah. Amunisi tubuh juga telah menipis perlu asupan gizi untuk menopang tenaga agar berisi. 


"Tuan, ini makan siang anda." Irene mengetuk sebelum mengayun kaki ke dalam ruangan. 


"Letakan di meja tengah, untuk ratu Filia apa sudah kamu pesan juga?" Berjauhan tempat tak membatasi rasa perhatian si tuan muda. 


"Tentu, saya juga memesan untuk Xavier." Irene meletakan piring dan sendok. 


"Apa pengawal itu tidak bisa mencari makan sendiri?" 


Irene menahan tawa. "Tuan berbaik hatilah pada Xavier karena dia juga berperan penting untuk menjaga ratu anda di sana." Kelakarnya sembari tersenyum.


"Kau membelanya ?!" Intonasi Bree semakin ketus. "Tapi perkataanmu ada benarnya." 


"Selamat makan saya pamit keluar." Irene menyeret langkah meninggalkan ruang sang atasan. 


...----------------...


Megah dan tinggi bangunan menghias langit kota begitu menawan pandang putra mahkota Bree Tyaga Adrian, tubuh gagah itu bersandar nyaman di kursi mobil mewahnya dengan jari telunjuk menyangga dagu, banyak hal laki-laki itu pelajari di tempat ini dalam kurun waktu yang terbilang cepat. 


Hembusan nafas seiring jari yang turun kebawah dan menarik pandang dari luar kaca jendela. Bree menuntun iris mata kepada sang asistennya. 

__ADS_1


"Ada yang mengganggu anda, tuan?" Reiki bertanya sambil melirik sesaat kemudian melanjutkan fokus. 


"Buatkan untukku pasar tradisional." 


"Apa ?" Terasa sekali hantaman mengenai tempurung laki-laki bernetra coklat tua itu. "Anda ingin membangun pasar ?" Masih gagal paham dengan permintaan sang atasan. "Jelaskan detailnya." 


"Ck, buat pasar tradisional di halaman mansion besok sore. Minta semua orang berpakaian tradisional karena besok aku dan ratu Filia akan dilukis." 


Tubuh Reiki seketika lemas seolah tak bersambung pada cupunya. Permintaan aneh apalagi ini ? Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian berkata. "Baik tuan." 


"Setelah pulang dari Mansion lama kita atur rancangannya." Bree berucap begitu santai dengan mimik yang menyebalkan. "Apa semua orang sudah datang?" Ia bertanya karena melihat beberapa mobil terparkir di pelataran mansion. 


"Iya." Reiki menjulurkan kaki ke tanah membawa tubuhnya untuk membuka pintu mobil. "Silahkan tuan." 


Bree turun dari mobil yang bermerek perusahaan miliknya itu sambil mengancing jas bagian depannya. Bias matahari sore memandikan laki-laki tampan itu dengan kemilau emas yang menyajikan pemandangan indah. Seolah matahari itu berada di atas kepalanya lalu menyilaukan pandangan ketika menatap si tuan muda. 


Ayunan kaki Bree tidak lebar tidak juga pendek, satu tangan terangkat karena iris mata melihat pergerakan waktu pada jam yang melingkar. Sarayu turut andil meniup rambut yang tertata rapi dan sempurna milik si tuan muda. Seakan tak mau ketinggalan bunga-bunga ilalang tetiba berterbangan mengawal tubuh putra mahkota Tyaga. 


"Dimana mereka?" Langkah terhenti kala pandangan tak menangkap para objek yang dicari Bree. 


"Mereka di lantai atas, tuan." Reiki menuntun sang atasan menaiki anak tangga.


Suara sepatu menggema di mansion sepi itu hingga menghantarkan suara ke ruang rungu beberapa orang yang telah duduk menunggu. 


"Dokter Axel saya harus berhati-berhati membawa tuan Bree." Sahutan itu datang dari Reiki.


"Kau dengar keselamatanku yang utama." Senyum tipis penuh kemenangan tertarik dibibir Bree. 


"Sudahlah jangan bertengkar, sekarang kenapa kamu meminta kami datang ke sini." Masih seperti biasa Eros menengahi dengan kedewasaannya. 


"Mekanik itu sudah ditemukan dan informasi dari Rei, di tubuhnya ada beberapa bekas jarum suntik. Jadi aku ingin Axel memeriksanya dan juga meminta mu melihatnya." Penjelasan dari Bree membuat penasaran para sahabatnya. 


"Sepertinya pelarian Regi tidak sendiri ada orang bersamanya, hanya saja waktu menjemputnya kondisi rumah yang mereka sewa sepi dan dia sendiri." Lanjut Reiki memberi penjelasan. 


"Baiklah, mari kita lihat." Eros membawa tubuh bangkit dari sofa diikuti yang lainnya. 


"Rei, bagaimana cacing alaska itu?" Bree melontar tanya sambil mengimbangi langkah Eros. 


"Sudah gemuk, tuan." 


"Pasti lucu, aku tidak sabar memasangnya di mata pancing." Senyum lebar tertuang dibibir si tuan muda.


"Kau pikir dia memang cacing?" Leon yang sejak tadi diam bersuara.


"Leon, kamu tidak tahu saja ratu Filia memelihara cacing di dalam ponselnya. Mereka sangat gemuk dan sama seperti pria itu yang dipelihara tuannya untuk membunuhku, bagaimana kalau dia umpan yang aku siapkan untuk tuannya?" 

__ADS_1


"Ya terserah padamu." Leon mengakhiri pembicaraan. "Apa itu orangnya?" Manik mata laki-laki itu menatap tak percaya pada sosok yang kini duduk di atas kasur. 


Semua mata melihat ke arah yang dimaksud Leon. Ya, dia adalah laki-laki yang bekerja sebagai mekanik di Tyaga otomotif. Regi begitu kurus dan tidak terawat, laki-laki berparas baby face itu nampak lusuh dengan lingkaran hitam di bawa mata. 


"Dia kenapa seperti hantu?" Pertanyaan si tuan muda membuat semua orang melihat ke arahnya. 


Axel mendekat dan memperhatikan tawanan Bree itu dari ujung kepala hingga kaki. Tampak Regi sedikit terganggu dengan kedatangan nya, bola mata laki-laki itu bergerak gelisah dan merah. "Regi itu namamu?" Pemilik nama hanya tersenyum bodoh. "Kau mendengarku?" Lanjut tanya Axel. 


"Xel, sepertinya ada yang tidak beres dengannya." Leon mendekat kemudian menunjuk beberapa bekas injeksi di tangan Regi. 


"Leon benar, bagaimana ambil sampel di tubuhnya?" Eros juga menghampiri sambil membaca ekspresi wajah mantan mekanik itu. 


"Baiklah, tapi kalau dilihat sepertinya dia pecandu?" Axel menatap lamat sekali lagi. 


"Pecandu apa?" Bree begitu penasaran lalu membawa tubuhnya untuk berdiri di sisi Eros. 


"Narkoba." Sahut Leon. 


"Kemarin di rumahnya ditemukan lima bungkus injeksi baru." Timpal Reiki sambil bersandar di tembok. 


"Hei kamu mengenalku?" Bree menatap iris mata laki-laki kurus di hadapannya. Aura raja begitu kentara hingga para sahabatnya merasakan hawa berbeda. "Tapi aku berterima kasih, berkatmu aku sampai di tempat ini." Intonasi rendah setengah berbisik dari si tuan muda membuat merinding. "Tapi aku tidak mengampunimu karena telah membunuh jiwa lain yang saat ini bergantung nyawa padaku." Lanjutnya tersenyum tipis namun bermakna dendam. 


"Bree." Eros gegas menepuk pundak sahabatnya karena merasakan aura berbeda dari si tuan muda. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas. 


Bree berdehem menetralkan kondisi. "Aku baik-baik saja, dendam dalam tubuhku ini ingin sekali mengeksekusinya." 


"Sabar." Leon menghembus nafas perlahan setelah tersendat melihat aura gelap terpancar dari Bree Tyaga. "Kita pastikan dulu ada apa dengannya?" 


Bree mengangguk dan mundur beberapa langkah. "Apa itu Narkoba?" Mood udik kembali aktif." Makanan seperti apa itu, apa enak? Aku ingin mencobanya." 


"Rei !" Pekik Axel merasakan pusing. "Antar atasanmu itu pulang sebelum mengacau." Kalimat perintah itu seolah tidak terbantah. "Minta Xavier dan Filia memeriksa nya."


"Baik dokter Axel, tuan mari kita pulang sudah hampir gelap." 


"Kenapa mengajakku pulang ? Kalian mau makan narkoba sendirian ya, aku tidak dibagi." Tudingan itu meluncur begitu saja dari bibir Bree, tatapannya memicing penuh curiga. 


"Bree narkoba itu bukan makanan." Eros yang dewasa lebih memilih menjelaskan. "Narkoba obat terlarang dengan berbagai jenis yang tidak boleh dikonsumsi sembarangan dan membuat orang kecanduan. Efeknya sangat tidak bagus untuk kesehatan."


"Apalagi pada pasien gila sepertimu." Sahut Leon menggebu. "Pulang sana." Usirnya lagi. 


"Tuan mari kita pulang, nanti saya jelaskan sambil jalan." Reiki mengusap tengkuknya yang terasa panas ketika melihat wajah bingung atasannya. 


 


  

__ADS_1


__ADS_2