Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Dosa yang di akui


__ADS_3

Seperti matahari yang berputar sesuai porosnya begitulah kasus yang sedang menjerat seorang direktur personalia Tyaga Group berjalan sesuai dengan prosedur. Kini dewan direksi mulai gaduh mengadakan rapat penentuan pengganti. Sementara Bree hanya diam menyaksikan para tetua yang mulai bergumam seperti kumbang melubangi papan. 


"Tuan, hari ini dokter  Filia ke Kantor pengacaranya." Reiki memberitahukan informasi dari beberapa bawahan yang ditugaskan. 


"Hm." Si tuan muda nampak melamun. "Rei, hubungi Eros dimana dia saat ini?" Bree seolah paham jika perasaan sahabatnya saat ini tidak baik-baik saja. Bagaimana pun kehilangan orang yang dicintai adalah pukulan terberat untuk hati. Dan perasaan itu pernah ia alami. 


"Tuan Eros sedang mempersiapkan peringatan hari kematian detektif Devarga." 


"Hubungi bawahanmu untuk membawa ratu Filia cepat pulang, aku akan mengajaknya ke rumah Eros." Bree meletakkan pena di atas meja dan melepaskan jas melapisi kemeja. "Apa Regi sudah terlacak keberadaannya?" Laki-laki itu berpindah melangkah ke sisi kaca dan melemparkan pandang ke jalan raya yang jauh. 


"Saat ini Regi dipindahkan ke kota, orang-orang kita tengah menyusul kesana. Lalu tentang Yohan kita menunggu sampai kapan?" 


"Cacing alaska itu akan berguna untuk memancing tuannya. Tunggu saja sampai Regi ditemukan dan bibi Chen bisa bicara." Bree memutar tubuh menghadap sang asisten. "Rei, panggil tukang lukis yang bagus dan juga siapkan sepasang pakaian tradisional untukku dan ratu. Kami akan dilukis." Senyum penuh cinta tersemat di bibir laki-laki itu. 


"Baik tuan." Reiki hanya menelan sabar ketika permintaan aneh tertitah. "Hari ini Nyonya Vindy mengunjungi tuan Marcel, dan bagaimana tentang kursi direktur personalia yang kosong?" 


"Untuk sementara berikan wewenang pada wakilnya dan setelah sidang ditentukan baru kita putuskan. Biarlah para tetua berdengung mereka tidak bisa melakukan apa-apa juga." Bree menyelipkan satu tangan ke dalam saku celana sambil meraih cangkir white tea. 


"Baiklah." Reiki melanjutkan pekerjaan sebelum mood udik si tuan muda kambuh maka ia harus bekerja dengan begitu atasannya tidak bertingkah aneh. 


...----------------...


Sepasang kaki menapaki halaman kantor yang kini dihuni seorang tertuduh atas beberapa kejahatan. Dada bergemuruh hebat melihat pilar bangunan tempat itu, telaga bening yang tak dapat ditahan mengalir tipis di sudut mata, belum juga raga pemilik cinta terlihat namun perasaan sesak sudah mendera. Tanya semakin bergelayut di dalam kepala kala teringat dimana saat ini berada. Kedinginan 'kah dia ? Sudah makankah? Tidur nyenyak 'kah ? Rasanya sangat sakit saat terbayang laki-laki yang terpatri di hati meringkuk tidur di pojok dinding. 


"Tenangkan dirimu?" Bibi Lexa sangat mengerti perasaan adiknya yang tersiksa, apalagi selaput kabut mencair sudah. 


"Kak, apa Marcel tidur nyenyak ? Apa di—dia makan enak?" Isak pilu Bibi Vindy tak lagi dapat dibendung pecah seiring daksa pemilik cinta terlihat didepan mata. 


"Bicaralah, aku menunggumu di luar." Bibi Lexa memutar tubuh tanpa menyapa si adik ipar, kecewa begitu menggali dalam hingga ke dasar. 


"Maaf." Satu kalimat terucap mewakili rasa sesal paman Marcel pada sang istri. Pria paruh baya itu menundukkan wajah tanpa kuasa menatap wajah sendu berbingkai kelopak mata sembab. 


"Apa kau tidur nyenyak ?" Pertanyaan digiring pita suara yang bergetar dengan luruhan air mata dari bibi Vindy hanya bisa terjawab anggukan kecil dari paman Marcel. "Apa kamu sudah makan ?" Suara terputus-terputus itu sangat mencambuk hati laki-laki yang belum berani mengangkat wajah. "Apa di sini dingin?" Isak kecil tidak dapat lagi tersembunyi.

__ADS_1


"Jangan menangis." Intonasi suara paman Marcel begitu halus nyaris tak terdengar. Hingga setetes air mata jatuh di atas tangan mewakili perasaan luka tak kasat mata. "Maafkan aku." Sesak semakin menggulung di dada hingga tenggorokan semakin tercekik "Maafkan aku." Sekali lagi kalimat permohonan maaf itu terucap disertai kepala terangkat pelan. 


"Kenapa?" Pertanyaan Bibi Vindy bermakna ingin tahu jawaban seluruhnya. "Jelaskan semuanya, aku siap untuk mendengarkan." Tangis sudah mereda hanya tersisa jejak basah di bulu penyangga debu. 


"Aku bersalah." Kalimat pengakuan itu terdengar ringan disertai senyum tipis kesakitan tersemat. Manik mata paman Marcel berkaca menatap lekat wajah cantik yang telah melahirkan seorang putri untuknya. "Aku benar-benar melakukan kejahatan pada Bree. Korupsi dan penyerangan." 


"Aku anggap itu konflik keluarga. Sekarang jelaskan kenapa kau tertuduh sebagai pemburu liar dan menembak tunangan Eros serta penabrak lari atas kedua orang tua kekasih Bree."


"Aku memang melakukannya, maafkan aku." Paman Marcel menyeka sudut mata yang dialiri tipis air asin mewakili rasa bersalah ketidak jujuran pada sang istri. 


...----------------...


Kilas Balik


Malam sangat cerah bertabur bintang mempercantik tampilan permukaan langit, semakin waktu menjejal diri menuju malam maka sang hima juga ikut mengabur pandang. Meski hawa dingin terasa menyusup di kulit tak mengurungkan sebagian niat orang yang akan mengais rezeki. 


Lampu penerangan terlihat anggun menawan netra hingga memberikan kesan tenang di pertengahan malam yang sepi. Dengungan kendaraan mulai berkurang seiring rentetan aktivitas mulai terhenti. 


"Baik Tuan." Seorang laki-laki berperawakan kurus duduk di sebelah kemudi. 


Tanpa membuang waktu paman Marcel dan sopir kontainer itu melaju membelah jalanan, kondisi jalan yang sedikit lebih menyepi sangat mudah untuk menaikan kecepatan. 


Menempuh perjalanan satu jam setengah truk kontainer memasuki kawasan hutan barat kota. Tempat itu masih jarang terjamah manusia karena sedikit beresiko untuk masuk ke dalam hutan. 


"Turunkan aku, kamu masuklah ke jalan biasa." Paman Marcel mengamati sekitar dan turun dari dalam truk saat kondisi memang memungkinkan. 


Laki-laki tua yang mengenakan pakaian serba hitam dengan topi sebagai penutup kepala itu berjalan mengendap menuju pos. Paman Marcel melangkah pelan kemudian berdiri di belakang seorang penjaga lalu mengeluarkan satu injeksi dan menancapkan ke leher penjaga pos. Setelah dipastikan terkulai lemas, paman Marcel menarik tubuh penjaga itu ke sisi bangunan pos. Kemudian berlari masuk ke hutan setelah memastikan tidak ada yang melihat aksinya tanpa disadari ada Cctv aktif telah diperbaiki yang menangkap wajah. 


Paman Marcel mulai memasang bom rakitan untuk digunakan melumpuhkan buruan. Dari jarak yang tidak jauh, paman Marcel dan temannya menunggu sasaran menginjak perangkap hingga berselang beberapa menit ledakan terdengar. Mereka berlari memastikan jika tangkapan dapat. 


"Ambil truk." Paman Marcel memberikan perintah sambil mematikan asap yang tersisa dari ledakan menggunakan sepatu.


"Baik."

__ADS_1


Sepeninggalan laki-laki kurus itu, paman Marcel memasang tali ke tubuh hewan yang telah mati. Agar memudahkan saat mendereknya ke dalam truk. Hampir dua puluh menit menunggu, laki-laki bertubuh kurus itu belum juga datang. 


Paman Marcel menyusul setengah berlari. Samar-samar rungunya mendengar perkelahian. Perasaan pria itu sudah tak nyaman dan mengeluarkan senjata api dari balik jaket. Sambil melangkah dengan waspada ia bisa melihat jika temannya jatuh tersungkur di tanah. 


"Kau kenapa?"


"Di—dia." Laki-laki  kurus itu menahan sakit sambil menunjuk. 


"Tuan Marcel !" 


Tanpa bicara Paman Marcel langsung mengarahkan senjata karena panik, ia bisa mengenali jika itu Devarga— kekasih Eros. Jarinya melepaskan pelatuk dengan bidikan ke arah tubuh gadis itu namun siapa sangka peluru menembus dada kiri Devarga. 


"Ka—kamu pegang senjata ini. Jangan katakan apapun dulu sebelum aku menemuimu." Paman Marcel melesat pergi dan menaiki truk. Laki-laki paruh baya itu tak memperdulikan temannya yang shock dan juga Devarga yang tergeletak. 


Paman Marcel panik dengan perasaan yang terkejut. Tak menyangka aksinya sebagai pemburu liar tertangkap malam ini. Sepi semakin ditelan malam hingga Paman Marcel melajukan kendaraan di atas rata-rata. Di persimpangan empat laki-laki yang dilanda takut itu tak memperhatikan lampu berwarna kuning hingga truk itu menabrak mobil yang tengah melaju dan menyeretnya beberapa meter. 


Laki-laki itu semakin tak karuan dengan apa yang terjadi di depan matanya. Paman Marcel membuka pintu mobil dan melarikan diri dari tempat itu. Diiringi perasaan yang tidak dapat dirangkai dengan kata-kata. 


Kilas Balik Selesai.


...----------------...


Air mata tidak lagi memberi jejak, isak pun tiada terdengar. Hanya tatapan sendu dan ragam pemikiran di dalam kepala. Helaan nafas tipis mengisi kekosongan usai bercerita dan mendengar.


"Tim pengacara Tyaga terbagi dua, Kaili sebagai penuntut atas kasus korupsi dana bantuan ke panti jompo dan yang lainnya sebagai pembela kasus tentang perburuan liar dan juga tabrak lari untuk membantu pengacara kita." Bibi Vindy bersuara.


"Aku sudah mengatakan pada pengacara kita tidak akan menerima bantuan dari tim pengacara Tyaga. Apa Bree yang melakukannya?" 


"Aku yang memintanya jangan menyalahkan Bree." Bantah Bibi Vindy. 


"Andai dia mau menerima Lisa maka aku tidak akan melakukan korupsi untuk menunjang keuangan pabrik kita." 


"Hati tidak bisa dipaksakan, aku berharap mereka bisa melakukan apapun untuk mengurangi hukuman mu. Sudah siang aku harus pulang." Bibi Vindy membawa tubuh meninggalkan tempat itu. 

__ADS_1


__ADS_2