Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Antagonis sesungguhnya


__ADS_3

Suara binatang malam riuh randah tak biasa, angin sedikit brutal menyapu tubuh Bree Tyaga. Dalam balutan pakaian tradisional laki-laki yang terpahat tampan sejak lahir itu begitu murung. Dalam sorot matanya kesedihan semakin dalam. Daksa tegap itu diam menatap hima malam yang mulai menguasai bumi.


“Apa kabar anda, yang mulia ?”


Manik mata Bree bergulir ke samping dimana objek suara terdengar, laki-laki itu menghela nafas panjang lalu menarik kedua tangan untuk dipangku. “ Aku tidak menyangka kalau ratu memilih untuk menjauh dariku.” Senyum getir terpatri tipis di bibir. “Aku tidak tahu hingga detik ini yang menjadi pemantik kebenciannya semakin besar padaku. Apakah ratu sudah mengingat semuanya atau masih bertumpu pada insiden waktu itu.” Kepala laki -laki itu tertunduk tipis dengan perasaan luka.


“Sebelum saya mengantarkan ratu ke tempat ini, saya berjanji tidak akan mencampuri urusannya apabila ingatan itu kembali.” Sosok yang telah jarang menemui Bree ini ikut menatap jauh di kegelapan malam.


“Aku sudah memutuskan akan mundur setelah misi ini selesai, aku tidak mau cintaku melukainya dan aku siap menerima segala bentuk hukuman. Termasuk kembali ke istana.” Helaan nafas putus asa sangat kentara terdengar dari bibir namun kerelaan juga turut mendampingi. Sunyi semakin menggerogoti malam semakin terasa pula kesepian di hati Bree. 


“Anda yakin ?”


“Iya aku yakin, aku tidak mau karena keegoisanku menyakitinya. Cukup kesakitan yang diterimanya di istana.” Bree menoleh sekilas dengan senyum tipis. kedua tangannya tidak lagi bersedekap tapi menumpu tubuhnya di kedua kusen jendela. 


“Baiklah, karena ini menjadi pilihan dan keputusan anda, saya anggap anda gagal dan hukumannya akan kembali ke istana, tapi bila misi anda gagal mengupas rahasia kematian jiwa lain dalam tubuh anda maka hukumannya tidak kembali ke istana tapi juga tidak ditempat ini.” Pria tua itu tersenyum dengan perlahan cahaya putih menelan tubuh hingga tidak meninggalkan jejak. 


Bree menunduk kembali dengan perasaan pedih, laki-laki itu yakin akan menerima kekalahannya dan merelakan cintanya yang akan berakhir disini. Bree sangat sadar, kesalahan dimasa lalu memang tak patut diberikan kesempatan kedua. Setidaknya ia bersyukur apabila ratu nya tidak mengingat masa menyakitkan itu. 


...----------------...


Di Balik pilar Mansion, cahaya matahari sedikit berani menembus tirai balkon yang tidak ditutup saat malam hari. Kelopak mata penutup obsidian Bree Tyaga Adrian perlahan terbuka. 


“Anda sudah bangun ?” 


“Hm, jam berapa ini ?” Bree tidak terkejut lagi mendengar suara Reiki di dalam kamarnya. Laki-laki itu menguap sambil meregangkan otot tubuh. 


“Jam enam.” Reiki menyodorkan segelas air putih. “Anda bersiaplah, hari ini penyambutan Tuan Widan sebagai pemimpin baru." Laki-laki itu kembali ke sofa dan merapikan beberapa berkas yang berserak.


"Hadiahnya sudah siap?" Bree bertanya sambil menyeret tubuhnya ke sisi kasur. 


"Iya."

__ADS_1


"Semoga saja dia bertambah semangat bekerja." Si tuan muda menyahut sambil mengayun langkah ke arah kamar mandi. 


Hampir jam satu malam Si tuan muda dan asistennya membuat hadiah untuk Widan, mereka sangat mengapresiasi kinerja laki-laki itu selama ini. 


"Pakaian anda sudah saya siapkan." Reiki menunjuk dengan sorot mata ke arah pakaian di atas kasur. 


"Bagaimana dengan Eros, apa dia punya waktu ?" Bree berkata sambil meraih satu persatu pakaiannya untuk kenakan. 


"Iya, tuan Eros siap begitu juga Tuan Leon dan dokter Axel. Mereka ikut menghadiri bagaimanapun mereka adalah bagian dari Tyaga Group." 


"Bagus, aku tidak sabar melihat wajah bahagia Bibi Lexa, pasti dia bangga melihat putranya yang sudah bekerja keras." Bree meraih pemanis tangan yang merupakan mesin waktu. 


"Sekarang kita sarapan." Reiki meraih tas kerja yang isinya lumayan tebal.


Tanpa menjawab Bree menyambar benda pipih miliknya di atas nakas lalu menyelipkan di dalam saku coat. Laki-laki itu lebih suka mengenakan long coat blazer karena cuaca akhir-akhir ini agak dingin. 


...----------------...


"Selamat pagi Tuan, Nyonya." Irene yang baru tiba langsung menyapa dengan sopan. 


"Apa seperti ini tingkah sekretaris utama Tyaga ?! Datang terlambat sesudah atasannya." Bibi Lexa menegur dengan intonasi sinis merendahkan. 


"Nyonya, saya tidak terlambat dan ini baru pukul setengah tujuh. Sementara pengoperasian kantor jam delapan." Irene membantah dengan tegas karena merasa tidak terlambat. 


"Aturan itu yang membuat pekerja Tyaga bermalasan-malasan." 


"Ma, sudahlah." Widah menatap sang ibu dengan sorot mata memohon. "Jangan diperpanjang lagi." Lanjutnya melirik ke arah Irene yang terlihat kesal. "Setelah aku mengambil alih semuanya kita rombak aturan lama." 


"Baik Tuan." Gadis itu menyahut dengan geram. Belum resmi jadi pemimpin masih beberapa jam Widah sudah berani berniat merubah aturan. 


Meninggalkan Irene yang menahan kekesalan Widan memasuki ruangan yang bertuliskan Presiden direktur. Laki-laki itu menghirup udara dalam-dalam. Kedua tangan direntangkan sambil berputar-putar dengan gurat bahagia tiada tara. Seringai lebar penuh kelicikan begitu sangat jelas tergambar di wajah laki-laki berambut ikal itu. 

__ADS_1


"Lihat Ma, akhirnya aku mendapatkan ruangan ini, kursi ini, meja ini." Widan terkekeh senang. Tangannya terulur mengusap meja yang terbuat dari kaca tebal itu dengan tatapan ambisius. "Tidak sia-sia aku menjadi domba selama ini, menjadi anjing pesuruh selama bertahun-tahun." Lanjutnya menggaris dengan jari nama Bree yang tertulis tinta emas. "Sekarang nama ini bisa aku singkirkan, dua jam lagi aku resmi memilikinya." 


"Iya, mama juga tidak sabar melihatmu duduk di sana. Bertahun-tahun mama menjadi teratai cantik mengikuti arus yang menyeret. Akhirnya teratai ini menemukan kolam nya sendiri tidak perlu lagi larut bersama arus." Bibi Lexa melangkah kecil lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran Bree. "Sangat empuk." Celetuknya tersenyum lebar. 


"Banyak waktu yang aku korbankan. Banyak uang yang dikeluarkan, pria lemah seperti Bree tidak cocok ada di sini." Widan memindai isi ruangan itu dengan lamat. 


"Kamu benar, anak manis sepertinya harus di mansion sambil menonton tv." 


"Huh, sebentar lagi. Ayo Ma kita keluar." Widah menghembus nafas panjang sambil berkacak pinggang. 


"Padahal mama sangat betah duduk disini." Bibi Lexa membawa tubuhnya malas untuk bangun. 


"Tunggu sedikit lagi Ma, sekarang kita keluar Bree pasti sudah tiba." 


"Mama sudah bosan berpura-pura manis dengannya." Bibi Lexa mengayun langkah keluar. 


Di Luar, manik mata wanita paruh baya itu langsung tertuju pada Irene, tatapan Bibi Lexa tak bersahabat jauh berbeda dengan selama ini wanita itu tampilkan. 


"Widan, mama tidak mau sekretaris tidak becus sepertinya masih ada disini. Pecat dia nanti." Sinis Bibi Lexa tersenyum sinis. "Dia juga !" Tunjuknya pada Luna yang diam memperhatikan. 


"Anda tidak ada hak memecat kami, tanpa persetujuan tuan Bree !" Tegas Luna sambil melangkah menghampiri. 


"Sayangnya atasanmu yang lemah itu sudah tidak memiliki kuasa disini." Kekeh Bibi Lexa menatap tajam. 


"Dasar nenek sihir !" Umpat Luna nyaring. 


"Jaga ucapanmu Luna !" Bentak Widan tidak terima. Sorot matanya begitu tajam dengan garis-garis merah. 


"Aku percaya dengan sebutan serigala berbulu domba." Irene tersenyum tipis. "Kecurigaanku tidak pernah salah, domba yang dipelihara kini berubah menjadi serigala." Gadis itu menatap satu persatu lawan bicaranya. "Bagaimana jika serigala tetap kalah dari singa si raja hutan ?" Alisnya terangkat satu menantang. 


"Kamu lancang, Ren ! Tunggu saja setelah peresmian ini. Kamu orang pertama aku pecat, mama benar aku tidak perlu memelihara ular kecil sepertimu karena bisa saja berbalik mematuk ku." Seringai jahat yang tidak pernah di perlihat Widan selama ini tertarik di sudut bibir laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2