
Sesuai janji yang telah terucap, kini Irene dan juga Luna sudah berada di depan Mansion minimalis milik Bree Tyaga Adrian, seorang security yang telah mengenal baik sekretaris utama Tyaga Group itu langsung membuka gerbang.
"Silahkan, Nona."
"Terimakasih." Irene melemparkan senyum ramah.
Di pintu utama, seorang asisten Mansion gegas membuka pintu utama ketika mendapat kabar dari pos ada tamu yang datang.
"Tuan muda menunggu anda berdua di ruang tengah."
"Iya, terimakasih. Dan ini tolong taruh di piring dan sajikan untuk Filia." Luna memberikan bungkusan yang dibawa.
Asisten mansion itu menerima dengan sopan disertai anggukan. Kemudian memberikan pada asisten bagian dapur. Sementara Luna dan Irene mengayunkan langkah menuju ruang di mana si tuan muda telah menunggu.
"Selamat siang, tuan."
"Selamat siang, silahkan duduk maaf membuat kalian harus datang kemari dengan jarak yang cukup jauh." Bree mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Tidak masalah tuan, berkas ini memang harus ditandatangani sekarang guna mempercepat proses pembuatan parfum." Irene menyodorkan lima dokumen ke atas meja.
"Iya, nanti sore plumeria kering akan tiba. Aku sudah minta bantuan Widan untuk menghandle sementara waktu." Bree mulai membubuhkan tanda tangannya. "Bibi Mei panggil ratu Filia." Sambungnya saat wanita paruh baya itu melintas di ruang tengah.
"Baik tuan."
"Apakah, tuan Widan sudah memberitahu anda ? Kalau pengerjaan merek hampir rampung." Irene menarik satu dokumen yang telah selesai.
"Sudah."
"Botol parfum juga sudah hampir selesai." Seru Luna yang duduk di karpet bertugas membuka lembaran kertas di hadapan nya agar siap di tanda tangani.
"Permisi, Tuan. Ini kue yang dibawa oleh Nona Irene dan Nona luna untuk Dokter Filia." Bibi Joana menghampiri sambil meletakan piring berwarna putih itu.
"Terimakasih Bibi Jo, sudah siang bibi istirahat saja dulu."
"Baiklah, tuan." Bibi Joana tersenyum lebar karena si tuan muda selalu mencurahkan perhatiannya.
"Kalian sudah lama?"
"Ratu." Bree mengulurkan tangan menyambut pemilik hatinya itu untuk duduk.
"Baru saja, ini aku bawakan kue kesukaanmu." Irene mengatakan penuh semangat.
"Terimakasih." Tak sabar Filia gegas mengambil makanan itu dan mencicipinya. "Ini sangat enak." Ucapnya mengarahkan ke bibir Bree.
Irene dan Luna terperangah atas aksi sahabat mereka itu. Bagaimana bisa, Filia selancang itu menyodorkan kue yang sudah digigitnya pada Bree Tyaga Adrian.
"Kamu benar, ini sangat enak." Tanpa protes atau menampilkan wajah jijik laki-laki itu mengunyah dan menelan kue yang dimakannya. "Ratu, aku akan menyelesaikan ini di ruang kerjaku. Silahkan kalian bersantai dulu." Bree meraih sisa dokumen yang belum selesai di tanda tangani.
"Tapi tuan, ini tugas kami." Luna tak enak hati karena atasannya itu bekerja tanpa didampingi.
"Tidak masalah, Lun. Ratu Filia kesepian selama berada disini. Jadi silahkan kalian sepuasnya berbincang."
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan." Irene tersenyum senang.
Bree memutar tubuhnya, tak lupa meninggalkan kecupan singkat di pucuk kepala Filia. Laki-laki ini meninggalkan desiran hebat di darah dokter cantik itu, hingga tercetak rona merah di kedua pipinya.
"Wow, apakah itu tuan Bree?" Irene tak menyangka jika laki-laki yang selalu menjaga diri dari makhluk bernama wanita itu bisa berlaku manis.
"Tentu saja." Filia terkekeh menyingkirkan rasa malunya atas kejadian beberapa detik lalu.
"Ternyata tuan Bree sangat manis. Bahkan aku selama bekerja dengannya belum pernah menyentuh kulit putihnya itu. Bagaimana rasanya, Fil?" Luna menatap penuh damba pada punggu Bree yang telah menghilang di ujung tangga.
"Hei jaga tatapanmu." Filia melemparkan tissue bekas tangannya.
"Aku lupa jika tuan Bree sudah memiliki pawang." Luna terkekeh. "Bagaimana rasanya di cium bibir tuan Bree?" Lanjut tanyanya dengan semangat.
"Rahasia." Filia tersenyum karena bisa membuat dua sahabatnya penasaran. Padahal selama ini, laki-laki itu hanya memeluk dan mengecup singkap pucuk kepalanya. "Tentang kulitnya, sangat lembut begitu juga telapak tangannya terasa hangat dan lebar." Lanjutnya sengaja membuat iri.
"Aku ingin menyentuhnya." Irene mulai greget seperti cacing.
"Sebelum kamu menyentuhnya, dia akan berkata. Hanya ratuku yang boleh menyentuh tubuhku." Filia meniru kalimat yang sering diucapkan Bree.
Luna tertawa. "Itu adalah kalimat sakti yang sering diucapkan apabila gadis menjengkelkan itu mendekat padanya."
"Aku sangat ingin mencakar wajahnya." Irene begitu geram menghentikan tawa.
"Fil, bagaimana dengan Xavier ?" Tatapan Luna tiba-tiba sendu mengingat perasaan laki-laki itu.
"Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku."
"Dia menyukaimu sejak lama, Fil. Jadi pertimbangkan juga dia. Bukan aku melarang perasaanmu pada Tuan Bree, tapi pikirkan sekali lagi dengan tenang. Hubungan yang kamu jalani bersama putra mahkota Tyaga ini adalah dokter dan pasien. Tidak seharusnya perasaan dilibatkan, karena endingnya belum tentu bahagia sebab kondisi tuan Bree saat ini adalah sakit." Saran Irene menatap serius.
"Kalau memang kamu sudah siap tidak masalah. Dan jangan lupa ada kami yang selalu bersamamu, apapun keputusanmu kami tetap mendukung. Kalau kamu memang mencintai tuan Bree perlakukan dia dengan baik dan tulus, sampai di mana saat dirinya akan meminta kamu pergi maka pergilah dengan baik." Irene menepuk lembut punggung tangan Filia.
"Terimakasih." Filia terharu atas kebaikan hati sahabatnya. "Aku akan memperlakukannya dengan baik, sampai tiba dia meminta ku pergi suatu hari nanti. Meskipun kami sama keturunan bangsawan belum tentu akan berjodoh." Lanjutnya menjatuhkan kepala di bahu Irene.
"Aku berharap tidak ada kata selesai untuk kalian berdua." Luna ikut bergabung memeluk tubuh kedua sahabatnya.
"Kalian kenapa?"
"Tuan Bree."
Irene dan Luna refleks bergeser karena mendengar suara baritone si tuan muda. Sementara Filia menahan tawa melihat kepanikan dua gadis itu.
"Sudah selesai." Bree meletakkan beberapa dokumen yang dibawa ke ruang kerja. "Kalian boleh kembali ke kantor atau mau tetap disini." Laki-laki itu menarik tangan sang ratu untuk di genggam.
"Kak Bree."
Atensi teralihkan pada pemilik suara, Irene menutup kembali bibirnya yang sempat terbuka untuk menjawab.
"Maaf tuan Bree Nona Lisa memaksa masuk dengan membuat keributan di depan gerbang."
"Lain kali, jangan terjadi lagi. Besok lapisi pagar gerbang dengan besi tebal. Saya tidak suka ada yang lancang masuk ke sini."
__ADS_1
"Baik Tuan." Security itu meninggalkan tempat.
"Kak Bree aku kerabatmu, kenapa tidak boleh kesini ? Sementara mereka orang asing bisa masuk dan duduk di sofa ini. Hei, kau yang waktu itu mengaku hamil anak Kak Bree." Tunjuk Lisa ke arah Filia.
"Turunkan jarimu !" Bentak Bree tanpa melirik. "Kau telah lancang mengacungkan jari telunjuk pada kekasihku." Sambungnya menanggalkan panggilan ratu. "Kamu tidak berhak mengatur tamu di mansionku."
"Tapi Kak Bree, aku yang selama ini bersama mu." Lisa masih tetap ingin memperlihatkan keberadaannya di sisi Bree. "Aku mencintaimu, hanya aku yang pantas mendampingimu bukan mereka !"
"Selama ini aku sendiri dan Reiki yang selalu bersamaku. Jadi jangan mengaku ! Tinggalkan tempat ini."
"Kak Bree ! Aku tidak akan pergi apabila ketiga jallang ini tidak pergi !" Bentak Lisa meledak.
"Pengawal seret orang ini dari kediamanku, karena bibirnya telah berbicara kotor maka hukum dia." Tegas Bree menahan amarah. Daksa itu menghadap Lisa yang ternganga tidak percaya.
"K—kak Bree. Jangan lakukan itu, baik aku akan pergi." Lisa terbata dengan penuh kebencian menatap Filia yang duduk di sofa. "AKU MEMBENCIMU ! BREE MILIKKU !" Tanpa diduga gadis itu melangkah cepat dan menyerang.
"NONA LISA." Irene memasang tubuh hingga rambutnya tertarik. "LEPASKAN !" Teriaknya berusaha melawan.
Tak ingin berdiam diri Luna juga membantu menarik Lisa. Namun sayang tenaga gadis itu besar karena dorongan volume amarahnya.
"Lepaskan." Desis Luna geram.
Melihat ada kesempatan Filia berdiri dan menendang salah satu Kaki Lisa hingga rambut Irene terlepas dari genggamannya. Sementara Bree langsung terbangun dari rasa keterkejutan. Obsidian nya semakin tajam dengan rahang mengeras, tangannya terangkat untuk mendarat di leher pelaku yang menyerang ratunya. Sebelum itu terjadi Filia sudah berada di atas tubuh Lisa yang terjatuh akibat dorongannya yang keras. Tanpa ampun dokter cantik itu memukul wajah Lisa dengan telapak tangannya. Rasa cemburu Filia lebih dominan karena gadis itu mengklaim Bree miliknya.
"Tuan apa yang terjadi ?" Pekik Bibi Mei ketika melihat nona nya mengamuk di atas tubuh Lisa yang berusaha melawan.
"Gadis itu menyerang ratu, biarkan ratu Filia memberinya pelajaran. Gadis tidak bertata krama sepertinya harus disekolahkan ulang."
"Tuan, dokter Filia bisa dapat masalah." Seru bibi Joana cemas menghampiri.
Bree berdecak kesal lalu mendekat pada Filia. "Ratu hentikan, kita bukan lagi tinggal di istana yang aku bisa menentukan hukuman."
"Dia sepantasnya mendapatkan ini." Filia bangkit dari tubuh Lisa yang meraung kesakitan.
"Sudahlah, telapak tanganmu merah." Bree meniup lembut telapak jari sang ratu. "Kamu masih saja tangguh, tapi gaya bertarungmu berubah." Laki-laki itu terkekeh.
Filia menatap tajam pada Bree dengan nafas tersengal lelah. "Aku tidak mau melihatnya berkeliaran di sisimu ataupun menginjakkan kaki di tempat ini !" Tegasnya lantang.
"Baik ratu." Bree bak pengawal pribadi mengangguk patuh atas perintah. "Bibi Jo panggil sopir antar gadis itu pulang dan katakan pada paman Marcel dan bibi Vindy. Putri kesayangan mereka membuat keributan di mansionku dengan sengaja menyerang kekasihku tapi dia mendapatkan balasan setimpal atas kelakuannya." Sambungnya memanggil bibi Joana.
"Baik Tuan."
"Bibi Mei, ambil air yang berubah menjadi batu dingin untuk mengompres tangan ratu Filia dan panggil Axel untuk mengobati luka di tangan Irene dan Luna." Titah si tuan muda tanpa beralih atensi dari Filia.
"Kami bisa mengobati ini, Tuan." Sahut Irene sambil merapikan tatanan rambutnya yang berantakan.
"Biarkan Axel yang mengobati kalian, siapa tahu di kukunya ada virus menular."
"Baiklah." Luna terkekeh. "Tuan boleh saya bertanya ?" Sambungnya dengan wajah serius.
"Tentu."
__ADS_1
"Kenapa anda begitu membenci Nona Lisa?"