Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Tidak Terduga


__ADS_3

Kilas Balik. 


Beberapa jam setelah acara resmi launching produk baru. Bree duduk bersama para teman-temannya usai menemani para rekan bisnis yang ingin mengobrol sejenak. Filia yang merasa kantung kemihnya penuh berniat untuk pergi ke toilet, gadis itu menolak tawaran Bree untuk menemani karena merasa letak toilet tidak terlalu jauh. 


Xavier mengamati punggung Filia yang menghilang di balik pintu lebar aula tempat pelaksanaan acara. Laki-laki itu berpikir memanfaatkan waktu yang ada saat ini untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Selain tampilan Filia yang memukau, Xavier ingin melepas rindu karena beberapa hari tidak bertemu sebab laki-laki itu memiliki urusan pribadi. 


"Biar aku antar." 


Filia tersentak dan menghentikan ayunan kaki. "Xavier ! Ah, kau membuatku kaget." Tangan gadis itu terangkat mengusap dadanya yang berdebar. "Tidak apa-apa, kamu masuk saja." 


"Aku ingin mengobrol denganmu, di dalam sana aku merasa bosan. Masuklah aku menunggu disini." Xavier tersenyum dan menyandarkan tubuhnya di tembok. 


"Baiklah." Filia melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Gadis itu masuk ke dalam toilet. 


Sementara Xavier masih setia menunggu dengan tubuh bersandar di dinding dan kedua tangan diselipkan ke dalam saku celana serta kepala menunduk menatap ujung sepatu. Laki-laki itu memusatkan tekad untuk bicara pada Filia Aruna. 


"Ayolah jangan gugup." Gumamnya seraya menghembus nafas pelan melalui bibir. 


"Selesai." Filia menoleh ke samping sambil melemparkan senyum seperti biasa. 


"Mari kita cari tempat yang nyaman sambil menikmati angin malam ini." Xavier mengeluarkan tangannya dari saku celana lalu menegakkan posisi tubuh. 


Filia mengangguk lalu membawa langkah ke tempat yang menurutnya cukup nyaman untuk menikmati sarayu malam. Di sinilah taman tempat para karyawan melepas penat saat jam istirahat. Banyak tempat duduk yang didesain indah dan santai. 


"Kamu bahagia?" Xavier melontarkan tanya dengan tatapan jauh ke lengkungan langit malam. Di sana keanggunan bulan dan bintang masih saja memandikan bumi. Laki-laki itu bersandar pada dinding kursi dengan kedua tangan terpangku ke depan dada. 


"Maksudmu?" Pertanyaan di balas tanya dari Filia. Gadis itu menoleh sejenak kemudian melemparkan pandang ke arah depan. Memejamkan mata merasakan nyamannya angin malam yang terasa berbeda. 

__ADS_1


"Apa kamu bahagia bersama tuan Bree?"


Filia tersenyum lembut kemudian menghela nafas panjang. "Aku bahagia, Bree memperlakukan aku dengan baik penuh kasih sayang." Gadis itu menjawab sambil menggulirkan pandang ke samping. "Kenapa menanyakan itu?" 


Xavier menunduk sesaat berusaha menekan gugup dan debaran yang datang secara bersamaan. Sungguh afeksi itu merampas sedikit keberanian. 


"Fil, bila kamu tidak bahagia datanglah padaku." Laki-laki itu berucap seraya memutar tubuh menghadap objek cantik di sampingnya.


"Maksudmu?" Iris mata Filia meminta penjabaran dari kalimat yang baru saja masuk ke ruang pendengaran. 


"Mungkin ini tidak pantas atau terlambat sudah. Tapi dari pada aku menyimpannya sendiri lebih baik aku ungkapkan. Benar, sebagian kata orang tidak ada pertemanan murni antara pria dan wanita. Hal itu sudah terjadi padaku, aku menyukaimu tapi tidak memiliki keberanian menerobos tembok pertemanan kita. Jadi bila kau tidak bahagia lihatlah ada aku di sudut lain." 


"Xavier." Intonasi rendah itu lahir dari tenggorokan Filia yang tercekat, ia menarik kedua tangannya dari genggaman laki-laki itu. Tenggorokannya tiba-tiba kering usai mendengarkan pengakuan Xavier.


"Hei, jangan di pikirkan tetaplah seperti sebelumnya. Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja tidak menuntutmu untuk membalasnya. Hanya saja satu pesanku, bila kau sudah tidak bahagia bersamanya maka lihat aku." Pria bernetra hitam pekat itu tersenyum tipis meneduhkan.


"Cukup lama kita disini sekarang masuklah, Bree pasti mencarimu." 


"Iya." Filia masih kaku dengan apa saja baru di dengar. Meskipun selama ini Irene dan Luna kerap kali membicarakan perasaan Xavier namun begitu terasa aneh dan berbeda saat mendengar dengan pemilik perasaan itu secara langsung. 


Tak hanya langit senja yang bisa menyimpan kenangan. Namun langit malam pun tak kalah besar menyimpan ribuan cerita. Dokter tampan yang bekerja di rumah sakit jiwa ini menengadahkan wajah ke langit. Menatap bintang yang paling jauh dan terlihat kecil kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. 


"Pada kenyataannya, aku akan disana sendiri dan jauh." Lirih laki-laki itu pelan dengan pandangan masih tertuju pada langit. 


Kilas Balik


...----------------...

__ADS_1


Keringat membasahi sekujur tubuh Bree Tyaga Adrian, nafasnya seolah terputus saat tak menemukan ratunya di dalam toilet wanita. Laki-laki itu melebarkan penglihatan berharap menemukan sosok yang ia cari disana. Namun sayang aromanya pun tak tercium. Penyesalan memang selalu datang belakangan andai dia bersikukuh menemai mungkin Filia masih bersamanya dan tidak meninggalkan kepanikan luar biasa. 


Jejak keringat membasahi kening laki-laki itu, bibirnya terbuka tipis untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Inikah firasat tadi? Sesak dan takut semakin menggelayut dan menumbuhkan sayap di dalam hatinya.


"Dia tidak ada?" Xavier bertanya sambil mengatur nafasnya. Tanpa dijawab pun laki-laki itu tahu kalau Filia tidak ada disana. 


Ketika semua orang mengatur nafas, benda pipih di kantong jas milik Bree bergetar. Tanpa melihat siapa pemanggil laki-laki itu menjawab.


"Tuan, Nona Filia dibawa seseorang ciri-cirinya berpakaian hitam. Ke arah rooftop." 


Suasana hening membuat Leon dan Xavier bisa mendengarkan percakapan itu. Tanpa berpikir lama lagi ke tiga laki-laki itu memutar tubuh dan berlari dengan cepat ke arah lift. Gedung Tyaga fashion terdiri lima belas lantai memang termasuk gedung small milik Tyaga Group. 


Kenangan buruk berseliweran di benak Bree, suasana ini pernah ia lalui bersama pangeran Nev ketika sang ratu dikabarkan muntah darah oleh salah satu petugas penjara istana.


Tanpa percakapan semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak sadar telah berkumpul dalam kotak besi yang membawa mereka naik ke rooftop. Semakin peti besi itu naik semakin berdebar pula dada Bree Tyaga. Laki-laki itu tak bisa menebak apa yang akan terjadi di depan matanya. Lift terhenti membuat para pria rata-rata memiliki tinggi tubuh yang sama dengan ketampanan yang khas menyeret langkah menuju pintu mengarah ke rooftop.


Tidak ! Bree tidak mau lagi kenangan pahit terulang. Raja tidak mau lagi kehilangan ratunya. Pintu rooftop sudah terlihat, oksigen si tuan muda juga semakin menipis. Dadanya seakan di hantam batu besar dengan perut yang terasa diikat dengan tambang. Tulang-tulang Bree terasa keropos dan tenaga yang mulai berkurang. Dengan penuh kesadaran si tuan muda melepaskan jas membungkus tubuh lalu menarik sekuat tenaga dasi yang terasa melilit leher. 


Pintu terbuka hingga angin malam dengan kasar menampar wajah Bree Tyaga Adrian. Pemandangan remang itu membuat fokus hanya pada satu titik yaitu sang ratu berdiri di atas tembok pembatas yang sedada. Kondisi gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Kedua tangan terikat di belakang serta lakban menutup bibir. Tak jauh dari sana seseorang berpakaian hitam dengan masker menutup wajahnya menyeringai melihat sosok yang kini berdiri di ambang pintu rooftop. 


Filia menatap sendu wajah kekasihnya yang bak mayat hidup, gadis itu tak memiliki tenaga untuk sekedar bergerak. Ia mematung berusaha menjaga kesimbangan tubuh yang lemah karena masih merasakan denyutan sakit di pundaknya.


"Bree aku akan menolong Filia, kendalikan dirimu. Dan kamu Leon siapkan kasur balon untuk antisipasi jatuh di bawah sana." Eros mengambil alih instruksi. 


Tanpa menunggu perintah kedua kali, Leon gegas memutar tubuh untuk turun. Tak ingin tinggal diam, Axel menghubungi rekannya untuk berjaga di bawah dan membawa ambulans sementara dirinya tetap mengawasi Bree. Sementara Reiki sudah mengatur pengawal Tyaga untuk melakukan apapun untuk menyelamatkan kekasih atasannya meski harus adu senjata. 


Xavier menatap tajam seseorang yang dapat dipastikan telah tersenyum di balik maskernya melihat raut panik mereka. Dengan ringan kaki laki-laki itu melangkah dan merangkul pundak Bree. "Tuan, kita selamatkan dia sama-sama. Kendalikan diri anda dan bangunlah dari situasi ini. Jangan takut !" Hanya satu tepukan di pundak Xavier mengembalikan Bree seperti semula. 

__ADS_1


Eros memikirkan langkah tak lupa sudah mengabarkan para rekan detektifnya di kantor untuk datang ke lokasi, di bawah sana beberapa pegawai tersisa mendongakkan kepala keatas melihat sang kekasih atasan berdiri di tepi pembatas. 


__ADS_2