Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pupusnya harapan


__ADS_3

Awang-awang berkerudung putih tanda hari telah berganti. Jika kemarin si tuan muda dengan daksa tergolek lemah tanpa daya. Maka hari ini semangat begitu membara di dalam dada. Tabuan cinta begitu keras menghantam jantung sebagai sumber kehidupan. 


Usai membersihkan diri si tuan muda lebih tampak segar, rumput hitam yang tumbuh liar di permukaan kulit telah di babat habis. Pahatan paripurna tersembunyi di balik kemelut hati yang membungkus raga kini terlihat terang. Iris mata gelap tanpa warna kembali berkilau bak mata serigala di dalam kegelapan.  


Kilau cinta, genggaman rindu, harapan asa. Membaur dalam wajah tampan Bree Tyaga Adrian. Hari ini laki-laki itu memutuskan untuk menyambangi sang ratu di kediamannya. Mengenakan baju informal daksa laki-laki itu menawan mata dan menarik rasa untuk memilikinya. 


"Lukanya sudah mengering, boleh bergerak jangan terlalu kasar. Baru satu minggu." Axel sudah menahan rindu untuk tidur di dalam kamar miliknya yang bernuansa abu-abu. Demi sahabat, dokter tampan itu rela menginap di Mansion. "Diluar sana jangan makan sembarangan." Tegasnya sembari memungut beberapa peralatan untuk memeriksa luka si tuan muda. 


"Aku hanya mengunjungi ratu Filia saja." Bree penuh semangat menarik selendang dan juga hiasan rambut milik sang pujaan hati. 


"Ingat jangan terlalu memaksanya." Axel memberikan ultimatum. Selesai tugas laki-laki itu memutar tumit meninggalkan kamar pemilik Mansion itu. 


"Tuan, sebelum kita berangkat anda cek dulu beberapa berkas yang saya letakkan di meja." Reiki bersuara sembari membawa langkah keluar. 


Bree membawa tubuhnya duduk dengan tangan kanan terulur menarik dokumen dari atas meja. Sejenak laki-laki itu menarik nafas panjang. Tak banyak berbeda kegiatannya di masa ini dan di istana. Hanya saja saat ini segala aktivitas di tunjang peralatan canggih dan mempermudah segala pekerjaan. 


Tatapan tegas dari obsidian Bree memperlihatkan jika dirinya tengah serius memeriksa detail dokumen itu. Memastikan semuanya benar, si tuan muda menarik pena dari tempatnya lalu membubuhkan tanda tangan. Sangat alami kepandaiannya dalam menandatangani karena bimbingan jiwa lainnya. 


"Sudah selesai ?" Reiki bertanya sambil membawa langkah menghampiri. Laki-laki itu selalu siap dengan pakaian formal membalut tubuh atletisnya. Ketampanan yang dimiliki asisten ini tak kalah dengan Bree dan kawan-kawan. 


"Hm." Si tuan muda hanya berdehem lalu bangkit melangkah ke arah kaca untuk memastikan kembali tampilan. "REI, BENDA APA YANG MENEMPEL DI WAJAHKU ?!" 


Reiki terkejut refleks meletakan dokumen yang masih terbuka ke atas meja. Manik matanya menangkap raut shock sang atasan. "Ada apa, Tuan ?" Laki-laki itu tergopoh menghampiri.


"Rei, kau lihat benda apa ini ? Rasanya sedikit sakit dan bentuknya merah. Tadi saat aku membersihkan wajah belum terlihat. Apa ini guna-guna ? Biar wajahku buruk dan ratu tidak menyukaiku lagi ?!" Bree histeris mengeluarkan opini yang melintas di benaknya. "Cepat, panggil dukun untuk mematahkan sihir ini dan cari tabib biar membuatkan ramuan untukku. Sebelum benda ini menyebar ke seluruh tubuhku." Si tuan muda melemparkan titah tanpa perduli atau melihat mimik lawan bicaranya yang terlihat kesal. 


"Tidak perlu dukun dan juga tabib tuan." Reiki bersedekap tangan di dada dengan posisi bersandar di sisi cermin dan kaki bersilang. Tak luput pula tatapan jengah ia layangkan untuk sang atasan.


"Kau meremehkan penyakit baruku ?!" Bree melirik tajam. "Ah, sakit." Jari telunjuk nya lancang menyentuh benda yang di maksud. 


"Anda tahu kenapa itu bisa ada di pipi anda?" Reiki tersenyum sinis dan mendapatkan gelengan dari si tuan muda. "Itu karena satu minggu mengabaikan kebersihan wajah anda. Jadi benda itu muncul di sana." 


"Jadi maksudmu wajahku kotor ?!" Ketus Bree tak terima. Laki-laki itu masih mencerna dan mencari tahu kenapa bisa kulitnya merah.


"Benar !" Reiki memetik jari senang. "Dan itu namanya jerawat." Lanjut laki-laki itu melangkah ke arah sofa melanjutkan melihat dokumen yang dilemparkan begitu saja di atas meja. 


"Jadi ini bukan sihir ?" Bree masih belum percaya karena selama ini baru pertama kali jerawat muncul di wajahnya yang semulus pantat bayi. Lemparan pandangnya ke arah sang asisten untuk memastikan. 

__ADS_1


"Iya tuan, saya juga bisa seperti itu kalau tidak memperhatikan kebersihan wajah saya. Rasanya sedikit sakit tapi nanti bisa hilang dan kempis."


"Lalu bagaimana kau menyembuhkannya." Merasa pembicaraan serius Bree menarik tubuh dari hadapan cermin lalu duduk di atas sofa berhadapan dengan Reiki.


"Ada tuan, saya ambilkan." 


Bree menghela nafas lega. Selama ini dia belum melihat jerawat tumbuh di wajah Reiki apa karena obatnya jadi jerawat itu tak sempat beranak pinak. Atau memang dirinya tidak memperhatikan wajah sang asisten. 


Reiki membawa satu botol obat jerawat dan meletakan ke atas meja. "Ini Tuan, mumpung masih baru tumbuh teteskan obatnya." 


"Hm." Bree bangkit dari sofa lalu berdiri di depan cermin kembali, tangannya terampil menurut titah dari Reiki di sofa. 


Usai drama jerawat yang hampir membuat tubuh Reiki menjadi Jelly. Kini kedua adam dengan ketampanan yang tak main-main itu sudah berada di dalam mobil untuk menemui Filia Aruna di rumahnya. Ruang pandang Bree terisi dengan bangunan yang berdiri mencakar langit serta ketinggian dan kemegahanya. Laki-laki itu bersandar nyaman di balik seat belt dengan posisi bertopang dagu. Gorden mobil di geser sedikit agar tidak menghalangi penglihatan. 


"Tuan, jangan memaksa nona Filia." Reiki mengubah sedikit panggilannya untuk si dokter cantik. "Berusahalah untuk menerima keputusannya." Lanjut laki-laki itu melirik sekilas di kaca untuk melihat ekspresi sang atasan.


"Tidak semudah itu, Rei. Datangnya aku kesini hanya untuk ratu terlepas dari misi yang lain. Hal paling penting adalah menemukan ratuku." Intonasi itu terdengar rendah namun mendalam. Bree berkata tak mengalihkan atensi dari jalanan. 


"Saya tahu anda memang mencintai nona Filia bukan karena penyakit yang kini anda rasakan. Tapi lebih baik anda mengenal dunia nyata ini ketimbang halusinasi anda yang akan menyakitkan. Tak selamanya nona Filia akan menjadi ratu dalam khayalan anda. Ada kalanya dia ingin dicintai secara nyata bukan dalam khayalan."


Bree tersenyum tipis. "Sebenarnya aku tidak sakit, Rei. Kalau kau ingin tahu dan memahami nanti malam aku akan mengatakan semuanya." Laki-laki itu memilih meyakinkan sang asisten sekali lagi. 


Mobil yang dikendarai Reiki berhenti di halaman rumah milik Filia Aruna. Gerbang tak serta merta terbuka dan suasananya juga nampak sepi dari sebelumnya. Asisten tampan itu memilih keluar dari mobil untuk menghampiri pos penjaga yang terlihat di ujung gerbang. 


"Ada yang bisa saya bantu ?" Seorang security bertanya dari kaca yang terbuka sedikit. 


"Apa dokter Filia ada di rumah ? Katakan tuan Bree ingin berkunjung." Reiki menjawab dengan raut datar, firasatnya bermain ada yang tidak beres terlihat.


"Dokter Filia sudah tidak tinggal disini sejak pulang dari rumah sakit." 


Tebakan Reiki benar. "Sekarang dimana dia tinggal ?" Tanyanya berusaha mengorek informasi.


"Nona Filia kembali pulang ke Mansion keluarga Cyrus." 


"Baiklah terimakasih." Reiki meninggalkan tempat sambil merapikan ujung jas dalam langkahnya. 


Bree menegakkan posisi duduknya setelah sang asisten mendaratkan tubuh ke dalam mobil. "Apa Ratuku ada di dalam?" 

__ADS_1


Reiki tersenyum tipis mengatur kata-kata agar sang atasan tidak kecewa. "Tuan, setelah keluar dari rumah sakit nona Filia tinggal di Mansion keluarga Cyrus." 


"Apa ?! Kenapa dia tidak memberitahuku ? Telepon dan pesan ku juga tidak pernah berhasil. Apa alat teleportasi itu sudah tidak berfungsi ?!" Bree tak dapat menutup kecewa dan kesal. Netranya bergulir kasar ke segala arah untuk menghalau rasa sakit yang mulai menjalar di relung hati.  


"Sekarang bagaimana rencana anda?" Reiki memundurkan mobil meninggalkan gerbang rumah Filia. 


"Ke rumah sakit." Bree harus bertemu dengan gadis pujaannya untuk membuang rasa amarah dan juga rindu.


Sepanjang jalan si tuan muda hanya diam dengan segala perasaan yang membalut. Belum lagi pikiran yang berkelana mencari jawab kenapa sang ratu tiba-tiba menjauhinya. Ataukah ia lupa sesuatu ?  Menempuh perjalanan beberapa menit, kini mobil mewah milik putra mahkota Tyaga itu berhenti di pelataran rumah sakit jiwa tempat Filia Aruna bekerja. 


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Filia menampakan diri di pintu lobby rumah sakit. Bree menegak tubuhnya lalu membuka pintu dan menginjak kaki ke atas paving. Senyum bahagia terukir nyata di wajahnya namun tak bertahan lama senyum menawan itu lenyap tanpa jejak ketika pandangannya menangkap sosok lain di belakang sang ratu. Xavier selalu ada dimana Filia berada.  Meski kecewa mulai menggenggam sanubari tapi tak mengurungkan niat Bree menghampiri sang pujaan hati. 


"Ratu Filia." Si tuan muda setengah berlari dan menabrak tubuh dokter cantik itu. Belitan tangan begitu kokoh menandakan rindu telah membungbung tinggi. 


"Apa yang anda lakukan ?!" Filia sekuat diri melepaskan tubuhnya. "Anda lancang !" Gadis itu nampak kesal 


"Ratu, aku merindukanmu. Kenapa tidak mengabariku kalau kau kembali tinggal di mansion keluargamu ? Telepon dan juga pesanku tak pernah masuk. Kenapa?" Bree bertanya dengan lembut dan panjang lebar. Laki-laki itu menatap lekat dengan selaput kabut mulai membingkai obsidian nya. 


"Bukan urusan anda !" 


"Apa karena dia ?" Bree melirik Xavier dengan tidak suka. Sementara objek yang tertuduh bersikap serba salah. 


"Tuan, saya sudah menegaskan bawah kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi dengan siapa pun saya tidak ada urusannya dengan anda." Tegas Filia disertai sorot mata penuh kebencian. 


"Tidak." Bree menggeleng lemah. "Kau hanya milikku ratu. Hanya untukku, tidak untuk orang lain ataupun dia !" Tunjung Bree kasar pada Xavier. "Dan kamu sudah tahu kalau ratu Filia milikku, kenapa kau ingin merebutnya ?!" Si tuan muda kembali menatap Filia lembut. "Jangan pergi lagi ratu, aku mohon kembalilah. Jika di tempat ini kita di haruskan menikah kembali. Ayo kita menikah, aku akan mengikuti pengaturan yang ada. Kita ak—"


"STOP !" Filia memangkas ucapan Bree dengan intonasi tinggi. "Sudah saya katakan kita tidak memiliki hubungan lagi. Dan saya tidak siap mati untuk anda." 


"Aku akan lebih menjagamu." 


"TUAN BREE." Reiki berteriak dan berlari cepat menopang tubuh atasannya yang hampir jatuh karena dorongan Filia saat Bree berniat memeluknya. "Apa yang anda lakukan Nona Filia, tidak bisakah anda bersikap lembut ?! Tuan belum sembuh total !" Asisten tampan itu menatap tajam Filia. 


"ITU KARENA DIA TIDAK MEMILIKI RASA MALU ! Sudah aku tegaskan aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun lagi. Hanya ada hubungan pasien dan dokter. Aku telah mengatakan dia sudah sembuh, aku tidak ingin memiliki pasangan yang gila !" 


Tubuh Bree membeku dengan tatapan kosong. Laki-laki itu terpaku pada posisinya, sakit yang dirasakannya hari ini tidak ada takarnya. Sangat sakit, bahkan ia tak bisa menjabarkan rasa sakit itu seperti apa. 


Filia mengeluarkan amplop berwarna coklat lalu meletakkannya ke tangan Reiki dengan kasar. Setelahnya gadis itu menyeret tangan Xavier yang mematung di belakangnya dengan pandangan tanpa isi.

__ADS_1


Reiki memindahkan atensi pada sang atasan lalu menuntunnya pelan untuk masuk ke dalam mobil. Hati laki-laki itu sakit melihat Bree bak raga tanpa nyawa mengikuti tangan dan langkah yang menuntunnya. 


__ADS_2