
Setetes embun jatuh dari ujung dedaunan, hembusan udara pagi menggoyang lembut pepohonan hingga menciptakan gesekan di atas atap bangunan istana permaisuri. Bulu lentik nan panjang penyangga debu untuk manik mata indahnya perlahan terangkat seiring kelopak mata yang terbuka. Cahaya mentari dengan sedikit lancang menembus pilar bangunan istana hingga menyusup di sela jendela.
Permaisuri membawa tubuhnya untuk duduk, mengumpul seluruh nyawa yang mengembara saat ia terlelap. Pandangan mata tertuju pada kepala Dayang Shi yang setia berdiri di sudut tempat tidurnya. Ya, dia adalah dayang pribadi yang sengaja permaisuri bawa dari kerajaannya.
"Permaisuri, waktunya anda membersihkan diri."
Permaisuri mengangguk lalu bangkit dari duduk, aroma plumeria menguar dari tubuhnya tak berkurang sedikitpun meski ia tertidur, langkahnya anggun menuju tempat ruang mandi. Di sana beberapa dayang sudah menunggu dengan hormat menyambut kedatangan nya, di tangan mereka masing - masing memangku perlengkapan pengantin putra mahkota.
"Silahkan Permaisuri."
Kepala Dayang Shi selesai mengecek suhu air di dalam bak, ribuan kelopak bunga plumeria juga sudah ditabur di dalamnya, racikan aromaterapi dari bunga yang sama sudah di tuangkan.
Dua orang Dayang membantu permaisuri untuk duduk di dalam bak, mereka mulai memandikan permaisuri dengan hati-hati. Sekali lagi permaisuri tanpa bicara menikmati gosokkan lembut di tubuhnya.
Menghabiskan waktu cukup lama, kini permaisuri telah siap untuk ke istana putra mahkota, menjalankan perannya sebagai permaisuri.
"Permaisuri tiba di istana."
Dua orang pengawal membuka pintu mempersilahkan permaisuri masuk, pandangannya bergulir mencari keberadaan suaminya. Seolah paham, pengawal pribadi putra mahkota menghampiri permaisuri.
"Permaisuri, silahkan masuk. Putra mahkota belum bangun."
Sudut bibir permaisuri terangkat, tatapan matanya begitu tegas dan nyaris tanpa ekspresi, tidak mengurangi kehormatan sebagai permaisuri sebuah titah terucap di lidahnya. "Bangunkan putra mahkota." Iris matanya beralih pada Kasim yang berdiri di sudut ruangan.
Tanpa bantahan dan juga jawaban, kasim langsung melangkah masuk dan membangunkan putra mahkota, cukup lama akhirnya laki - laki itu bangun dengan wajah bantalnya. Kesadaran perlahan kembali ketika hidungnya mencium aroma khas yang sejak kemarin selalu beredar di sekitarnya. Sesaat kemudian netra nya membidik tajam pada sosok cantik yang menatap sinis padanya.
"Lancang ! Siapa yang mengizinkan permaisuri masuk ke istanaku ?!"
__ADS_1
Seluruh pengawal menunduk termasuk dayang permaisuri. Pengawal Ta melangkah menghampiri tempat tidur putra mahkota.
"Pangeran, permaisuri memiliki hak untuk masuk ke dalam istana dan mengurus segala kebutuhan anda." Pengawal Ta menjelaskan.
"Aku tidak sudi disentuh olehnya ! Entah petaka apa yang dibawa permaisuri !" Sarkasme Putra mahkota disertai senyuman sinis.
"Kasim, bantu putra mahkota membersihkan diri. Dayang Shi, Perintahkan koki istana mengantarkan makanan karena hari ini kami akan makan bersama." Titah kembali keluar dari bibir Permaisuri.
"Aku tidak sudi makan bersama mu!" Cegah putra mahkota menghentikan langkah Dayang Shin
"Pangeran, sesuai aturan anda akan makan bersama di balai seni." Pengawal Ta berseru.
"Aku tidak mau ! Permaisuri, silahkan kembali ke istana mu !"
Tanpa bantahan, Permaisuri memberi hormat kemudian memutar tubuhnya, namun sebelum melangkah ia berkata. "Pangeran, hari ini anda ke perpustakaan untuk membaca buku. Saya akan menunggu anda di sana." Permaisuri melanjutkan langkah dengan tangan terkepal, andai di medan perang dan bukan putra mahkota suaminya. Dapat dipastikan sekali tebas pedang miliknya, maka kepala angkuh itu akan terpisah dari tubuh gagah yang tidak berguna.
Matahari semakin merajai bumi, teriknya unjuk pesona pada para penduduk, sengatannya memang tak setajam bisa lebah namun mampu membakar kulit.
Di dalam ruang perpustakaan, permaisuri duduk anggun membaca buku di atas meja, kecintaan dengan belajar tidak membuatnya bosan berada di dalam ruangan itu. Meski terasa gerah karena hawa terik, Dayang pribadinya setia memberikan kesejukan untuk permaisuri.
"Permaisuri, hari menjelang sore tapi putra mahkota belum juga datang."
"Kita tunggu saja, laki - laki pemalas sepertinya harus sedikit keras, tidak berhasil hari ini maka akan ada hari esok."
Dayang Shi mendesah pelan, gurat kecemasan itu mengisi garis - garis wajahnya. "Saya mengkhawatirkan anda, permaisuri." Ujarnya pelan.
Permaisuri mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Aku baik - baik saja dan akan menyelesaikan misi ini. Dengan begitu Raja Re tidak akan terancam menghadapi perang."
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan nyawa anda? Melihat sikap putra mahkota yang sangat menolak."
Senyum permaisuri redup, jantungnya bertalu indah bukan karena jatuh cinta melainkan takut gagal dalam misi, mati di medan perang akan lebih baik ketimbang mati karena gagal mendampingi putra mahkota. Dalam perjalanan sebagai permaisuri kerajaan ini, banyak misi tersembunyi selain mendampingi putra mahkota menuju singgasana. Banyak nyawa yang bergantung kepadanya, termasuk raja Re — ayahnya sendiri.
"Aku akan berhasil, percayalah !" Senyum kembali terukir di bibir permaisuri. Menghias wajahnya yang cantik.
"Lebih baik kita kembali ke istana, anda juga belum makan apa - apa sejak pagi." Usul Dayang Shi menyentuh lengan permaisuri.
"Baiklah, masih ada hari esok." Permaisuri menutup buku dan menyimpannya kembali di atas meja. Tubuh rampingnya keluar dari kursi lalu melangkah ke arah pintu.
Dayang Shi segera membuka payung untuk menaungi permaisuri. Rombongan meninggalkan perpustakaan, dari sisi barat bangunan itu ada seseorang keluar dari persembunyiannya. Manik matanya tanpa ekspresi melihat punggung permaisuri yang telah menjauh.
"Permaisuri, anda dari perpustakaan?"
"Pangeran Nev, iya saya baru saja dari perpustakaan." Permaisuri menjawab disertai ulasan senyum.
"Bersama putra mahkota?"
"Tidak, saya sudah menunggunya di sana tapi putra mahkota tidak datang mungkin ada kesibukan lain."
"Kapan-kapan kita akan membaca bersama, apa boleh permaisuri?" Pangeran Nev tersenyum sambil bertanya. Ia tahu jika putra mahkota pasti menolak untuk datang.
"Tentu saja, hampir petang bolehkah saya kembali ke istana?"
"Ah, silahkan maaf mengganggu perjalanan anda." Pangeran Nev menyisih diri memberikan jalan.
Permaisuri tersenyum sekali lagi kemudian melanjutkan langkah. "Apa putra mahkota tertukar pada pangeran kedua ?Lihatlah pangeran Nev memiliki tata krama." Gumamnya pelan.
__ADS_1