
Malam bersambut dengan cukup cantik, Bree melemparkan tatapan pada langit tak bertepi. Kerinduan kembali menjalar ke relung hati yang terdalam, sudah satu bulan belum ada tanda-tanda ratunya akan ditemukan. Hembusan nafas terdengar kasar dan berat sebelum memutar tubuh untuk kembali ke atas kasur king size nya.
"Tuan, saya akan masuk." Reiki mendorong pintu kamar.
"Rei, sepertinya besok aku akan datang ke kantor, cukup lama aku beristirahat."
"Tapi peluncuran produk baru Tyaga food dua minggu lagi, anda yakin akan turun besok?" Reiki menghentikan tangannya saat menarik lembaran kertas dari atas kasur Bree.
"Tentu."
"Baiklah, saya akan mengaturnya. Sekarang minumlah susu ini dulu. Setelahnya anda beristirahat." Reiki meraih gelas dan memberikannya pada Bree.
Pria berparas tampan itu membawa tubuhnya ke sisi kasur dan membiarkan asistennya menyetel alarm esok pagi. Usai memastikan Bree nyaman. Reiki keluar dari kamar berpamitan untuk istirahat.
...----------------...
Bree Tyaga Adrian tersenyum lembut menatap sekelilingnya masih sama seperti sebelum ia meninggalkannya. Sebuah pohon besar dan rindang, serta dipenuhi berbagai macam jenis bunga. Sungguh, pemandangan yang selalu mengantarkannya pada sebuah kerinduan dan kenangan.
Bree menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon lalu melemparkan arah pandangannya ke tiap sudut tempat itu. Sekelebat bayangan sang ratu hadir menemani, hingga senyum terbingkai indah di parasnya yang rupawan.
"Kau begitu menikmati tempat ini ?"
"Selalu saja mengejutkanku !" Bree tersentak dengan hadirnya sosok tua berjubah putih.
"Jangan lupa, tempat ini yang akan membawamu kembali. Jika kau gagal mendapatkan ratumu."
"Kapan aku bertemu ratu ? Dimana dia saat ini ? Seperti apa rupanya?" Cerca Bree tidak sabar.
Senyum penuh ejekan tersungging di bibir pria tua berjubah putih itu. "Sebentar lagi, tunggu saja dengan sabar, jika di masa lalu kau mudah mendapatkannya maka untuk masa mendatang begitu sulit untuk memilikinya. Jika pertemuan kalian sudah dekat maka tubuh dan jiwamu akan bereaksi, kau akan merasakan sakit yang amat dahsyat sebagai ganti rasa sakit yang pernah ratu alami. Itu bentuk hukumanmu."
"Apa sesakit itu ?" Bree merasakan panas dingin dan juga keringat tipis yang merembes di keningnya.
"Nanti kamu akan merasakan sendiri, tapi rasa sakit itu yang mengantarkanmu untuk bertemu dengannya."
...----------------...
Alarm tepat berdering di saat Bree akan membuka mata, perjalanan ke alam mimpi membuatnya cepat bangun. Pria itu gegas duduk lalu meraih gelas berisi air putih di atas nakas. Usai meminumnya hingga tandas, Bree bangkit dan membawa tubuhnya ke muara balkon kamar.
Pria itu menggeser kaca dan melangkah ke sisi pagar pembatas, pandangannya jatuh pada taman plumeria yang tengah disemai bibit. Sekilas percakapan pada sosok berjubah putih berseliweran di benak Bree Tyaga Adrian. Sesakit apapun nanti yang dirasakan, tetap pria itu akan berjuang mendapatkan pengantinnya.
"Ratu, aku akan menahan sakit yang dahsyat itu demi untuk bersamamu lagi. Lahirkan kembali penerusku yang telah terenggut tragis waktu itu. Maaf ketidaktahuan ku." Setetes kristal bening pecah di sudut mata Bree.
__ADS_1
"Tuan, pakaian anda telah siap."
Suara Reiki menarik Bree dari dunianya. Pria itu memutar tumit dan melangkah ke kamar mandi. Di dalam sana Bree melepaskan pakaiannya satu persatu, pandangannya jatuh pada dada kiri. Jantung itu yang dulu berdegup kencang tanpa malu ketika melihat pengantinnya dan Bree ingin merasakannya kembali, pemindaian mata naik ke wajah. Ya, wajah terpahat rupawan itu selalu mempermalukannya dengan rona merah ketika jari-jari ratu menyusup di sela tubuhnya untuk memasang pakaian tradisional.
Tangan Bree terangkat meraba bibir merahnya yang bak buah cherry, kenangan bercumbu mesra pada pengantinnya ingin pria itu ulang kembali. Ah, rasanya sudah tidak sabar menunggu hari itu datang. Ritual mandi putra mahkota Tyaga Adrian selesai. Dengan handuk melilit setengah tubuhnya, pria itu keluar dari kamar mandi.
"Rei, apa ada yang tahu jika hari ini aku kembali masuk ke kantor?"
"Tidak ada tuan, saya sengaja mengaturnya demikian." Reiki menjawab sambil meraih hair dryer.
"Bagus, ini kejutan. Aku ingin melihat siapa lawan dan siapa kawan. Mulai saat ini lebih berhati-hati, kecelakan tujuh bulan lalu pasti menyisakan dendam pada pelakunya. Karena aku masih bernafas saat ini."
"Tentu Tuan, saya sudah mengatur keamanan untuk anda." Reiki meletakkan kembali hair dryer. "Sekarang mari kita sarapan." Lanjutnya menyambar tas kerja Bree.
Dua pria bertubuh tegap itu gegas meninggalkan kamar setelah memastikan Bree sudah siap. Di lantai bawah tepatnya di ruang makan, Bibi Joana menyambut dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi, Tuan."
"Pagi Bibi Jo, mari sarapan." Bree membiarkan wanita paruh baya itu mengisi piringnya.
"Silahkan, apa perlu saya buatkan anda bekal ?" Tawar Bibi Joana.
Sarapan cukup memakan waktu sedikit lama karena Bree masih belajar menerima makanan yang berbeda dari istana. Lidahnya sedikit sensitif setelah bangun dari koma.
"Anda selesai ?" Reiki menyeka bibirnya menggunakan tissue.
"Iya."
...----------------...
Di halaman gedung berlogo Tyaga, mobil mewah milik Bree berhenti. Beberapa orang yang melihat mobil pimpinannya, gegas mengatur diri untuk berbaris di depan pintu utama. Mereka kalang kabut disebabkan tidak tahu jika putra mahkota Tyaga akan datang ke kantor.
"Selamat datang, Tuan." Mereka menyambut dengan wajah ceria.
"Terimakasih, kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing." Bree menjawab dengan sedikit senyuman.
Kehadiran Bree Tyaga Adrian menggemparkan para petinggi kantor. Karena tak sempat menyambut di pintu lobby. Mereka memilih berbaris di depan lift utama.
"Selamat datang, Tuan Bree."
"Terimakasih, seharusnya kalian tidak perlu berbaris seperti ini."
__ADS_1
"Kami tidak sempat menyambut anda di bawah tadi." Seorang manajer bersuara.
"Tidak masalah." Bree melemparkan senyum tipis sambil melangkah.
"Tuan saya belum menyiapkan jadwal anda, karena kedatangan anda yang tanpa kabar." Seorang wanita tergopoh mengikuti langkah Bree dan Reiki.
"Tidak masalah Irene, saya sengaja tidak memberi tahu." Bree tersenyum hangat melihat sekretaris utamanya panik.
"Maafkan saya, Tuan."
"Tidak apa-apa, kamu bisa mulai menyusunnya hari ini tidak perlu panik." Bree menghentikan langkah.
"Terimakasih, Tuan."
Irene, gadis manis dan tinggi berprofesi sebagai sekretaris utama di Tyaga group. Pencapaiannya sangat luar biasa hingga bisa mendapatkan posisi itu. Gadis manis itu gegas meninggalkan tempat setelah mengungkapkan rasa sesalnya pada Bree.
"Kak Bree." Lengkingan suara seorang gadis menarik atensi.
"Turunkan gadis itu jadi karyawan biasa."
"Tapi Nona Lisa keponakan Nyonya Lexa, Tuan." Reiki menatap heran pada atasannya.
"Aku tidak mau tahu."
"Kak Bree, aku merindukan mu." Lisa Anella berniat memeluk.
"Menjauh dariku !"
"Kenapa kamu selalu dingin pada ku?" Wajah Lisa berubah sedih dengan tatapan sendu.
"Karena aku tidak suka disentuh gadis sembarangan. Tubuhku hanya boleh disentuh pengantinku." Bree memutar tubuhnya tanpa mau tahu reaksi gadis itu.
"Kak aku menyukaimu sejak lama. Sedikit saja lihat aku." Intonasi Lisa sedikit nyaring.
"Nona, tolong jaga sikap anda ! Mulai hari ini anda akan turun menjadi karyawan biasa di bagian pemasaran." Sela Reiki dengan tatapan datar.
"KAU !!!" Telunjuk Lisa mengarah ke wajah Reiki. "Ketika nanti aku sudah menikah dengan Kak Bree. Kamu adalah orang pertama yang aku pecat tanpa hormat."
"Saya tunggu waktu itu tiba, untuk saat ini silahkan kemas barang anda dan mulai bekerja. Tyaga Group bukan menggaji karyawan pemalas." Reiki meninggalkan gadis itu dengan perasaan senang.
Lisa menatap tajam pintu ruangan Bree. Gadis itu bersumpah akan mendapat pimpinan Tyaga Group. Dengan perasaan kesal yang memuncak Lisa kembali ke ruangannya.
__ADS_1