Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Tertusuk


__ADS_3

Sosok berpakaian hitam yang kini berada tak jauh di sisi tembok pembatas tersenyum dan sangat terlihat karena sudut matanya yang tertarik. Sedikit saja bahunya bergeser maka dapat dipastikan tubuh Filia akan jatuh kebawah karena tali kecil untuk menahan kaki dokter cantik itu tidak bisa menjamin. 


"Siapa kamu?" Eros melangkah pelan untuk lebih dekat dan itu dilakukan dengan sangat hati-hati. Bayangan kematian Devarga kembali melintas dan laki-laki itu tidak ingin Bree mengalami nya. 


Slow motion, seseorang yang berbalut pakaian layak nya pria itu melepas topi yang dikenakan. Lalu tangannya terangkat menarik karet masker yang sejak tadi menutup wajah. 


"SURPRISE ." 


"LISA !" 


"Hei ada apa dengan wajah kalian ? Apa terlalu merindukanku ? Hai Kak Bree, apa kabar calon suamiku?" Lisa kembali setelah beberapa bulan menghilang karena cedera hidung. Gadis itu tersenyum lebar seolah situasi itu sangat menyenangkan. 


"Gadis gurita ! Turunkan Filia." Xavier mengepalkan tangan sekuat mungkin menahan diri agar tidak gegabah. Kakinya sedikit terangkat ingin melangkah.


"Melepaskan ?!" Tawa Lisa mengudara. "Aku sudah lama menunggu momen ini, tampan." Kepala gadis itu bergeleng tipis kekiri dan kekanan. "Dia yang menjadi penghalang untukku memiliki Bree." Lanjutnya menatap penuh dendam. "Jika dia mati maka aku yang akan menjadi Nyonya Bree Tyaga Adrian." 


"Kau gila !" Axel geram. "Kamu hanya terobsesi, Lisa !" Sambung dokter tampan itu dengan sedikit berteriak.


"Kak Bree menikahlah denganku." Lisa mengabaikan Axel yang sudah marah hingga ke ubun-ubun. Iris matanya menatap lembut penuh permohonan.


"Aku tidak pernah bertemu gadis rendahan sepanjang hidupku dan malam ini kau telah membuktikan bahwa kamu tidak layak berada di dalam keluarga Tyaga." Intonasi rendah dan dingin itu lahir dari lidah seorang Bree. Laki-laki itu masih pada posisi semula dan berusaha untuk tenang meski kenyataannya bertolak belakang.


Lisa mengepalkan tangan, sungguh kalimat yang baru saja diluncurkan pria yang menjadi objek obsesinya itu mengoyak daging lembut tanpa tulang dalam tubuhnya. "Kak Bree, sejak usia lima belas tahun aku menyukaimu dan mendambakanmu sebagai pasangan hidupku. Apa itu tidak sedikit saja menjadi pertimbangan?" Intonasi rendah dan bergetar dari suara Lisa karena menahan tangis yang bersiap pecah. Selaput kabut mulai menutup tipis iris mata dan gadis itu tidak tahu cara menghapusnya. Menengadahkan ke atas pun percuma karena telaga air itu akhirnya tumpah. 


Sudut bibir si tuan muda terangkat. "Apa wanita rendahan sepertimu bisa berdiri di atas altar bersamaku?" Meski berkata namun obsidian laki-laki itu tak menatap lawan bicara. Kakinya mengayun kecil setapak lebih maju. Sorot mata hanya tertuju pada sang ratu yang kini dengan kondisi melemah. 

__ADS_1


"Aku bukan rendahan !" Bentak Lisa tak terima. Selama ini dia merasa tinggi dan terhormat. Kepalan tangan membuktikan gadis itu berusaha menahan diri dan memenangkan permainan.


"Tidak ada wanita terhormat yang menyerahkan tubuhnya hanya untuk mendapatkan pria yang tidak melihatnya sama sekali. Apa duniamu sesempit itu ?" Sarkasme Bree tanpa perasaan. "Dan kau membuktikan itu sendiri dengan naik ke atas ranjangku. Apa kau berharga di mataku setelah kamu memurahkan dirimu sendiri." 


Semua mata terbelalak melihat tampilan seorang Bree malam ini. Laki-laki itu tidak pernah bicara beracun pada makhluk bernama wanita tapi malam ini, kalimat-kalimat kasar itu terlontar dengan lancar seperti bukan Bree saja. Alunan nada bicara memang terdengar datar dan tidak memekik tinggi tapi bagai belati tajam mengoyak daging. 


"Jalan satu-satunya adalah membunuh kekasihmu ini." Lisa menggulirkan pandang pada tawanan yang semakin terlihat lemah. "Hei kelinciku bertahanlah sedikit lagi, setelah ini sampaikan salamku pada calon mertua di surga untuk mengirim restu." Gadis itu menarik sudut bibirnya tersenyum. Kesakitan yang sempat diterima dalam hati meluap begitu saja saat melihat aliran tipis air mata di wajah rivalnya.


"Turunkan kekasihku." Bree memberi titah dengan langkah tipis menghampiri. Dalam hatinya begitu takut ratunya jatuh, akan jadi apa dunianya? Remang penerangan itu tak cukup untuk melihat gurat panik di wajah si tuan muda. Karena itu orang-orang menyangka jika dia dalam keadaan tenang. 


"Menikah denganku atau kekasihmu mati." Lisa mengeluarkan satu pisau kecil begitu tajam yang akan digunakan untuk memotong tali kecil yang kini mengikat kaki Filia. Kalimat pilihan itu dengan yakin dilontarkan dan berharap jawabannya adalah 'iya'


"Seseorang pernah berkata, kita sudah tercebur dan tidak bisa menepi. Karena perang dijatuhkan maka mati adalah pilihan. Itu kalimat terakhir yang aku dengar dari orang itu maka kalimat itu pula yang jadi pilihanku." 


"BREE." 


Lisa terpental kemudian gegas berdiri, gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Bree dan Filia sama-sama jatuh di atas lantai rooftop. Lisa mengarahkan pisau pada Filia yang tidak sadarkan diri. Melihat hal itu Bree memutar tubuhnya untuk melindungi.


"Sialan !" Eros dengan kasar menarik baju bagian belakang Lisa yang membabi buta untuk menikam. Sekali lempar tubuh gadis itu jatuh mengenai tembok. 


Merasa tak ada lagi membatasi ruang gerak, Xavier melangkah lalu menarik rambut Lisa yang masih berusaha berdiri. Tanpa perasaan laki-laki itu menendang perut Lisa layaknya bola. 


"Ke rumah sakit, Bree tertusuk !" Seruan Axel menghentikan pergerakan Eros dan Xavier. 


"Tertusuk ?" Eros sekali lagi melayangkan tamparan pada wajah Lisa yang telah membiru karena beberapa kali terbentur. 

__ADS_1


Mendengar Bree tertusuk, Lisa hilang kewaspadaan. Gadis itu kembali mendapatkan tendangan dari Xavier. Mereka akui gadis seperti Lisa memiliki pertahanan tubuh yang kuat. 


"Tuan Bree, Filia." Irene dan Luna berlari setelah lama bersembunyi takut membuat kekacauan dan memperparah keadaan. Kedua gadis itu menyusul ke rooftop setelah memastikan ruang aula beres.


"Ayo ke rumah sakit. Luka tusuknya lumayan dalam." Axel berusaha menahan darah dengan peralatan seadanya. 


Sementara di bawah Reiki dan Leon bernafas lega ketika Filia tidak jatuh kebawah. Namun, tak seberapa lama jantung mereka dibuat berhenti setelah Eros meminta beberapa tenaga medis untuk naik membawa tandu. Karena Bree tertusuk dan Filia tidak sadarkan diri. 


Semua ketegangan yang disangka telah selesai nyata tidak. Di atas rooftop beberapa anak manusia masih bertahan dengan tamparan sarayu malam. Tak hanya itu, kabut mulai turun mengurung sebagian bumi hingga efek dingin itu menggigit tulang. 


Eros menyeret Lisa dengan beberapa rekannya tak lupa memungut barang bukti yang terlempar tak jauh dari sisi Bree. Sementara Xavier memberikan kehangatan pada Filia sambil menunggu petugas medis tiba ke atas. Laki-laki itu takut bercampur cemas sejak tadi menggosok telapak tangan Filia. 


Axel fokus pada Bree yang semakin turun tingkat kesadarannya. Luka itu menyobek perut samping dan masih mengeluarkan darah. Malam ini pertama kalinya dokter tampan itu panik dan gugup selama menangani pasien. Kendala peralatan terbatas keberadaan mereka juga sangat mempengaruhi. 


"Bree jangan tutup matamu." Axel sudah kehabisan kasa untuk menutup luka. "Syukurlah kalian cepat datang." Laki-laki itu merasa angin kehidupan menerpanya ketika melihat rekan kerjanya tiba membawa dua tandu. "Usaha menghentikan darahnya." 


"Sepertinya ada luka yang menyebabkan darah ini tidak berhenti." 


"Tepatnya luka di dalam, Ayo !" 


"Tuan Bree saya mohon, jangan tutup mata anda. Berjanjilah jangan tidur." Reiki bersuara setelah beberapa menit bungkam melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mata. 


Tak membuang waktu lagi, sepasang kekasih itu diangkat di atas tandu lalu di bawa turun. Semua diluar kendali dan rencana. Pengamanan yang ketat masih bisa membuat lengah. 


Hima malam mulai mencair, waktu juga semakin maju hingga tak terasa pukul satu malam, sirine ambulance menusuk ke ruang rungu dan menggetarkan dinding hati. Hingga begitu melumpuhkan tulang-tulang. 

__ADS_1


Axel melakukan pertolongan pada Bree di dalam mobil bersama petugas ambulance. Laki-laki itu menahan diri untuk tidak meraung melihat kondisi sang sahabat. Kecelakaan waktu itu, Axel tidak berada di tempat hingga tak melihat dengan mata kepalanya sendiri. 


Axel menggenggam telapak tangan Bree yang terasa dingin. Laki-laki itu menundukan kepala menyembunyikan embun yang mulai memenjarakan penglihatan.


__ADS_2