
Matahari merangkak naik meninggalkan pagi yang nyaman. Di dalam ruang kerjanya, Bree melihat laporan perusahaan beserta dua cabangnya. Selama enam bulan ditinggalkan total, perusahaan cukup berjalan normal dengan baik. Semua itu tak lepas dari campur tangan Reiki dan juga tim sekretaris andalannya. Bersyukur keanehan si tuan muda tidak kambuh disaat seperti ini.
"Kak Bree, kau ke kantor. Bagaimana kondisimu ?"
Bree mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pemilik suara. "Widan ! Ya, mulai hari aku kembali aktif ke kantor. Kondisiku sudah membaik." Jawabnya yakin.
"Syukurlah, maaf selama istirahat di rumah aku tidak pernah berkunjung. Banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan." Widan mendaratkan tubuhnya di sofa tamu.
"Terimakasih atas kerja kerasmu selama aku tinggalkan." Ucap Bree tulus dan membawa langkah ke arah lemari pendingin.
"Aku juga tidak tahu kehadiranmu hari ini."
"Tidak masalah, bagaimana kabar Bibi?" Bree meraih kaleng minuman dingin lalu membukanya dan mendaratkan tubuh di sofa.
"Mama sehat, tadi pagi Lisa menelpon dan mengatakan jika saat ini dia bekerja dibagian pemasaran. Mungkin, mama sebentar lagi ke kantor." Widan menyesap minumannya sambil terkekeh pelan.
"Dia mengadu, aku sengaja menurunkannya. Sebagai asisten Irene dia tidak berfungsi semua tugasnya dilimpahkan pada Luna dan Irene. Setiap pekerjaannya tidak ada yang selesai."
"Kakak tahu dari mana?" Alis Widan terangkat menatap tanya penuh curiga.
"Kau lupa ? Reiki adalah asistenku." Dusta Bree. Sebelum koma pria itu sangat tahu hasil pekerjaan sepupu jauhnya itu.
"Ah, benar. Biarkan saja dia di sana. Mungkin, gadis itu berpikir karena masih kerabat kita jadi seenak mempermainkan pekerjaan." Widan menenggak kembali minuman kalengnya. "Silahkan lanjut saja pekerjaan Kakak, aku hanya berkunjung." Pria ikut bangkit dari tempatnya duduk.
Bree tanpa menyahut hanya menatap punggung sepupu tak sedarah dengannya itu. Belum lama Widan meninggalkan ruangan, kini tamu selanjutnya masuk ke dalam.
"Bree bagaimana kabarmu, Nak?"
"Bibi Lexa, aku sangat baik dan sehat." Bree menyambut saudara tiri mendiang Ayahnya itu dengan pelukan hangat.
"Maafkan Bibi yang tidak menjenguk selama di Mansion, Bibi sangat sibuk."
"Tidak masalah, Bi." Bree tersenyum tipis.
"Nak, kalau kondisimu masih belum memungkinkan untuk ke kantor jangan dipaksakan. Masih ada Reiki, Widan dan juga Lisa. Mereka bisa kamu andalkan."
"Aku lebih dari pada mampu saat ini, kondisiku sudah membaik." Yakin Bree dengan raut wajah tak terbaca.
"Syukurlah, Bibi sangat mencemaskanmu. Ah, Bree tadi Lisa menelpon. Apa benar dia diturunkan menjadi karyawan biasa ?"
"Benar Nyonya." Sahut Reiki cepat. Pria itu sejak tadi tidak fokus pada pekerjaannya karena menyimak tiap obrolan atasannya bersama kerabatnya.
Manik mata Bibi Lexa bergulir pada asisten keponakannya itu, tatapan meminta sebuah jawaban.
"Itu benar Bibi, Lisa tidak mampu menjadi asisten Irene. Dia juga sangat merepotkan Luna. Para sekretarisku harus handal dan juga cerdas."
"Lisa harus banyak belajar tapi bila sudah menjadi keputusanmu. Baiklah, Bibi akan menjelaskan kepada kedua orang tuanya. Kamu tahu sendiri kalau paman Marcel tidak akan membahas masalah ini di kantor." Bibi Lexa menghela nafas panjang. Wajah tuanya kentara dengan kekecewaan. Namun, tetap kuasa ada di tangan Bree.
"Aku harap Bibi bisa mengerti, Tyaga grup harus dijalankan orang-orang yang mampu. Dengan segala pemikiran hebat dan maju. Ribuan karyawan bernaung disini, jadi aku tidak mau ada kesalahan yang menyebabkan kebocoran di tempat mereka bernaung ini." Tegas Bree dan disertai penjelasan yang bisa diterima. Alasan tepat memang dengan dalih pekerjaan ia bisa menjatuhkan Lisa agar tidak menempel padanya.
__ADS_1
"Iya Nak, kamu benar. Tak hanya para karyawan yang bernaung disini. Bibi pun juga bernaung di dalam Tyaga grup." Bibi Lexa tersenyum mengerti. "Tidak salah, Kakakku menjadikanmu pewaris. Kau adalah putra mahkota Tyaga sesungguhnya."
Cukup lama perbincangan itu, hingga waktu telah mengantarkan pada jam makan siang. Bree memutuskan mengikuti usulan asistennya untuk makan siang di salah satu resto favorit mereka. Reiki ingin mengulang masa itu bersama atasannya.
"Ren, kamu ikut makan siang?" Tawar Reiki pada gadis manis sekretaris utama Tyaga grup.
"Baiklah, tapi aku akan mengajak Luna." Irene menyetujui. "Aku juga berterimakasih karena kamu sudah menurunkan Lisa ke bagian pemasaran, aku lelah dengan sikap kuasanya. Padahal dia hanya kerabat jauh tuan Bree." Keluh Irene sekaligus berterima kasih.
"Itu bukan ideku tapi Tuan Bree sendiri yang memintanya. Mungkin dia sudah muak dengan tingkah Lisa yang agresif. Apalagi pasca koma Tuan lebih sensitif."
"Aku akan bersiap, kasian Tuan Bree menunggu lama." Irene berkemas dengan cepat tak lupa memberitahu Luna.
Reiki membawa mobil mewah milik Bree melaju ke resto yang dimaksud, didalamnya tidak ada percakapan santai hanya ada tanya jawab antara Bree, Irene dan juga Luna.
"Persiapan produk baru Tyaga food sampai dimana, Lun?"
"Tinggal mencetak plastik kemasan, tuan."
"Pastikan tempatnya steril dan higienis, kamu tahu makanan beku akan diminati oleh anak-anak." Bree melemparkan arah pandang ke jalananan.
"Untuk Tyaga otomotif, mereka sudah memulai evaluasi." Sambung Reiki sambil fokus mengemudi.
"Sementara Tyaga otomotif evaluasi, kita akan mencoba meluncurkan produk baru. Tapi aku akan mempelajarinya lebih dulu. Dan aku butuh laboratorium khusus untuk memulainya." Bree melirik ke samping.
"Saya meminta Tuan Leon untuk menyiapkan tempat." Reiki membelok mobil ke halaman parkir restoran. "Mari kita turun." Sambungnya setelah mobil terparkir sempurna.
"Private room ?"
Bree membuka pintu mobil, namun kakinya terhenti setelah merasakan dada kirinya ngilu. Tangan terangkat meraba sakit yang terasa, hembusan nafas pelan mewakilkan betapa sakit itu sangat mengganggu.
"Tuan, anda sakit ?" Luna peka terhadap keadaan gegas menghampiri.
"Dadaku tiba-tiba nyeri." Bree mengatur nafasnya yang terasa sesak. Keringat tipis membasahi pelipis pertanda sakit itu begitu hebat.
"Wajah anda pucat, bagaimana kalau kita ke rumah sakit ?" Irene meraih tissue di dalam tasnya dan memberikan pada Reiki.
"Sepertinya kita ke rumah sakit saja." Reiki mengusap keringat dingin di pelipis Bree.
"Aku butuh air mineral, tunggu beberapa saat lagi. Irene dan Luna duluan saja pesan makanannya. Sebentar lagi aku akan menyusul." Suara Bree terdengar lemah bahkan tubuhnya ikut bergetar menahan sakit.
"Tapi anda kesakitan, Tuan." Tolak Irene.
"Tidak apa-apa, ini hanya sebentar." Bree meyakinkan sambil menenggak air mineral dari botol.
"Biar saya bantu." Reiki semakin cemas karena botol air di tangan atasannya hampir saja terlepas.
Tak ingin membantah lagi, Irene dan Luna masuk terlebih dulu. Mereka juga memesan makanan khusus untuk Bree. Meski keduanya cemas tapi mereka lebih mempercayakan Bree pada Reiki.
Sementara itu di mobil, Sesak yang seakan mencekik leher Bree Tyaga Adrian berkurang, sakit di dada kirinya juga mulai mereda.
__ADS_1
"Kita perlu ke dokter memeriksakan sakit anda, apa sudah lama sakit seperti ini terasa?" Reiki menatap cemas.
"Baru hari ini, bila sakitnya berulang atur janji temu dengan Axel."
"Iya, kalau sudah terasa berkurang mari kita masuk, anda harus makan siang." Reiki menutup pintu mobil sisi kemudi.
Bree melangkahkan kaki untuk masuk, rasa sakit masih tersisa. Namun langkah itu terhenti ketika aroma yang tak asing dan juga selalu melekat di indra pencium menguar menempuh dirinya.
"Aroma plumeria."
"Anda merasakan sakit lagi ?" Reiki semakin cemas. Dan kali ini ia tak akan mengambil resiko lagi.
"Rei, kamu mencium aroma plumeria ?" Manik mata Bree menatap para pengunjung restoran dengan seksama.
"Saya tidak menciumnya." Reiki ikut memindai isi dalam restoran itu.
"Ini aroma ratuku, dia ada di sini." Binar harap mengembang di manik mata Bree.
"Tuan, sebaiknya kita langsung masuk. Makanan mungkin telah di pesan." Reiki mengalihkan pembicaraan yang menjurus kebingungan.
"Iya." Bree melangkah sambil menatap wajah- wajah yang tertangkap matanya.
Dimana kamu ratu, ayo tunjukan keberadaan mu. Aku mohon.
Mereka memasuki private room, di sana makanan sudah tersaji namun Irene dan Luna belum menyentuhnya sama sekali.
"Kenapa kalian tidak makan ?" Reiki menjatuhkan tubuhnya di samping Irene.
"Kami menunggu kamu dan tuan Bree, bagaimana keadaan anda?" Jawab Irene sekaligus bertanya
"Sedikit lebih baik, mari makan." Bree meraih sumpit dan mulai menikmati makan siangnya. Lagi-lagi lidah itu aneh merasakan makanan. "Apa di sini ada restoran khusus makanan tradisional?"
"Ada Tuan, teman saya suka kesana. Lidahnya terasa aneh memakan makanan seperti ini." Sahut Irene.
"Dia tidak suka makanan seperti ini." Sambung Luna.
"Itu yang aku maksud, semenjak bangun dari koma lidahku tidak cocok memakan makanan seperti ini."
"Saya akan meminta Bibi Jo memasak makanan tradisional untuk anda." Sahut Reiki. Dalam hatinya menyesal karena tidak tahu jika lidah atasannya bermasalah.
"Iya Rei, sebelum masuk ke sini apa kalian mencium aroma plumeria ?" Bree menanggapi perkataan asistennya sambil melemparkan pertanyaan.
"Tidak Tuan." Luna menjawab sambil menyudahi makan siangnya.
"Ini aroma ratuku, dia menggunakan plumeria sebagai ramuan saat mandi. Tubuhnya beraroma feminim plumeria."
Pernyataan Bree sangat mengejutkan Irene dan Luna. Tatapan mereka bergulir pada Reiki yang menghela nafas panjang. Dan disini kedua wanita itu tahu ada yang tidak beres. Dari sorot matanya, Reiki berkata 'Nanti aku jelaskan.'
__ADS_1