Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Beberapa Bulan lalu


__ADS_3

Bahagia membalut jiwa dan raga Bree Tyaga Adrian, memboyong ratu hatinya ke Mansion adalah langkah utama agar selalu bersama. Cinta dalam hati pria itu semakin bermekaran bak plumeria yang mulai menampakan bunga, menguar wangi khas memikat jiwa. 


Angkasa senja menyimpan banyak kenangan masa lalu, sekelebat rindu membelenggu ingin mengulang masa dulu. Namun, bersamaan itu sesal mendebur rindu hingga memaku pada sakit tak kunjung sembuh. Bree menekan dada yang tiba-tiba sesak, obsidiannya siap mengeluarkan krital rapuh tapi tenggelam kembali ketika gerbang kokoh mansion sudah terlihat.


"Ada yang sakit." Lembutnya suara Filia menerbangkan sakit yang singgah sesaat di dada Bree. 


"Hanya sedikit sesak."


"Apa kita perlu ke rumah sakit ?" Reiki tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Pria itu menurunkan laju mobil saat masuk ke pelataran Mansion.


"Tidak perlu, sakitnya sudah berkurang. Terimakasih Ratu Filia." Bree tersenyum karena sesak itu terangkat ringan dari dada. "Suaramu mengobati sesak tadi." Ucapnya lembut. 


Afeksi manusia memang cepat bereaksi hanya dengan kalimat manis sudah mampu menumbuhkan bunga bahagia, dengan tak tahu malu, getaran aneh menelusup ke bilik sumber kehidupan Filia Aruna. 


"Kita sampai." Suara Reiki menarik atensi. Pria bertubuh tinggi itu melepaskan safety belt yang membelit tubuh kemudian menurunkan kaki berpijak ke tanah. "Selamat datang di mansion dokter Filia." Ucapnya sembari memberikan pengamanan pada kepala si tuan muda dengan telapak tangannya. Dan membiarkan Bree berlari kecil ke seberang badan mobil membuka pintu untuk sang ratu. 


"Mari." 


"Padahal aku bisa membuka pintunya sendiri." Filia menepis gugup saat Aroma plumeria bercampur maskulin menguar dari tubuh Bree. 


"Selamat datang di istanamu, ratu Filia." Bree mempersilahkan gadis itu melangkah lebih dulu. Sekali lagi ucapannya itu mengirim getaran ke dalam bilik rasa. 


Ibu suri, aku telah menemukan ratu. Menemukan pengantin yang kau pilih untukku. Sekarang aku menebus semuanya, menebus kesalahanku yang amat besar. Kirim restumu dari surga agar ratu tidak pergi meninggalkanku lagi.


"Tuan, saya sudah meminta Bibi Jo mengatur kamar untuk dokter Filia di sebelah kamar anda. Untuk Bibi Mei di samping kamar Bibi Jo." 


"Panggil seluruh pekerja ke ruang tengah, sepuluh menit dari sekarang." Bree menjatuhkan tubuh di atas sofa. 


Filia merotasikan pandang ke tiap sudut ruangan, sekali menginjak kaki ke tempat itu tidak membuatnya memperhatikan sekitar. Sore ini semua nampak jelas, seluruh perabotan mirip pada zaman kuno yang pernah dilihatnya dalam drama. Kemudian manik mata gadis itu tertuju pada gorden yang terbuat dari sutra tak hanya itu beberapa asisten mansion mengenakan seragam yang didesain mirip pakaian tradisional. Bibi Mei pun tak kalah takjubnya, ini bukan penyakit sepele begitu kata hati wanita paruh baya itu 


"Semua sudah berkumpul." Reiki mempersilahkan atasannya untuk berbicara, laki-laki itu menempatkan diri di sisi Bree. 


"Perkenalkan ini ratu Filia Aruna dan Bibi Mei. Untuk ratu Filia, dia bukan orang lain melainkan ratu yang aku cari, kini aku sudah menemukannya jadi tolong layani dia seperti kalian melayaniku. Hormati dia sama seperti kalian menghormatiku, jangan sekalipun berkata kasar atau menyakiti hatinya. Sekali lagi aku tegaskan dia ratuku, ratu di mansion ini. Suatu hari nanti kalian akan memahami apa yang aku ucapkan hari ini." Bree melontarkan kalimat dengan mimik wajah serius.


"Baik Tuan, selamat datang di mansion Nona Filia." 


"Terimakasih, ini berlebihan." Filia tersenyum kaku. Jujur tak menyangka jika Bree memperkenalkannya sebagai ratu di sini. 


"Identitasmu sebagai ratu itu tidak berbohong." Sahut Bree menatap lembut. Ia bisa memahami jika ratunya tak memiliki sekelumit ingatan masa lalu. "Mari, aku antar ke kamar." Sambungnya menggenggam tangan dokter cantik itu.


Reiki memutar tubuh menghadap kepada para pekerja mansion yang setia menundukan pandang. "Rahasiakan apa yang kalian lihat dan dengar di mansion. Kalian juga tahu jika tuan Bree dalam masa pengobatan maka dari itu mengertilah dengan kondisi ini." 


"Baik Tuan, kami mengerti." 

__ADS_1


"Tuan, saya akan menyiapkan makan malam. Apakah Nona Filia memiliki selera sama seperti tuan muda ?" Bibi Joana melemparkan tanya setelah bawahannya kembali pada pekerjaan masing-masing. 


"Bibi tanyakan pada bibi Mei saja. Karena itulah dia juga dibawa kesini." Reiki tersenyum tipis. "Saya akan ke kamar, tolong buatkan teh manis. Rasanya hari ini benar lelah." 


"Baik Tuan, Rei. Silahkan beristirahat. Teh anda akan menyusul." Bibi Joana terkekeh pelan serta mengusap pundak laki-laki itu. 


"Nona Filia menyukai makanan tradisional, setiap hari saya memasak itu saja di rumah." Seru Bibi Mei mengikuti langkah Bibi Joana.


"Seleranya sama dengan tuan muda, baiklah kita akan memasak itu. Jangan sungkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan disini. Selagi tidak memasuki ranah pribadi tuan muda masih aman."


"Terimakasih." Bibi Mei tersenyum hangat. 


...----------------...


Senja berlalu sambil meninggalkan jejak jingga di kaki langit. Cerahnya mentari hari ini menyisakan efek hangat untuk penduduk bumi. Meski matahari tenggelam ke peraduan, namun jejak masih menyisakan warna tipis di ufuk barat pertanda jika memang benar-benar terik. 


Bree berdiri di muara balkon kamar menatap lamat ke rumah kaca tak jauh dari hadapannya. Senyum bahagia tercetak sempurna kala netra menangkap sosok penghuni hati.  


"Tuan, mari makan malam." 


Bree memutar tubuh menghadap pemilik suara. "Bibi Jo, hari ini aku bahagia." Ucapnya melangkah lebar dan memeluk erat wanita paruh baya itu. "Sangat bahagia." 


Bibi Joana terharu dan membalas pelukan si tuan muda tak kalah erat. "Bibi juga bahagia apabila tuan muda bahagia. Tuan dan nyonya besar pasti juga bahagia." Ucapnya mengusap lembut pundak Bree dengan penuh kasih sayang. "Sekarang mari makan malam, ratu anda sudah menunggu." Kelakar bibi Joana tertawa.


Di ruang makan, meja berukuran besar itu setengahnya sudah dipenuhi makanan kesukaan Bree dan juga Filia. Setelah mendapat instruksi dari Reiki, Bibi Joana memasak makanan tradisional untuk putra mahkota Tyaga. Hal itu membuatnya terharu mengingat Tuan Adrian juga pecinta makanan tradisional. 


Waktu semakin menjejal diri memangkas malam. Usai makan malam, Bree melanjutkan sedikit pekerjaan yang tertunda sebelum nanti bertemu Axel mendampingi Filia. 


"Dimana ratuku ?" Dejavu pertanyaan itu pernah diucapkan Bree dimasa lalu. Saat dirinya menyelesaikan tugas sebagai raja bersama pengawal Ta. 


"Dokter Filia sedang di rumah kaca." Reiki menghentikan sejenak pergerakan tangan diatas keyboard. 


"Mari kita selesaikan ini dengan cepat, aku ingin menemaninya." Bree kembali membubuhkan tanda tangan di atas dokumen yang telah diperiksa. 


Tanpa buru-buru pekerjaan itu selesai dengan cepat, bahkan dua laki-laki yang terpahat tampan itu tidak memulai obrolan saat bekerja. Bree meletakan pena bulu di tempatnya lalu menyambar jaket rajut untuk membungkus tubuh. Kaki laki-laki itu terayun meninggalkan ruang kerja. 


Bree tiba di belakang rumah kaca, atensinya teralihkan pada ketinggian langit. Disana bulan telah menunjukkan seluruh keanggunannya, cahaya kuning lembut itu menimpa seseorang yang tengah fokus membaca. Sarayu malam menerbangkan helaian rambutnya hingga pesona kecantikan itu berkali lipat menawan mata. 


"Kenapa tidak mengajakku?" 


Filia menoleh ke asal suara. "Aku tidak mau mengganggu waktumu bekerja." 


"Kehadiranmu tidak pernah menggangguku, jadi jangan pernah berpikiran seperti itu." Bree mendaratkan tubuh di kursi. "Kamu menyukai rumah kaca ini?" Tanyanya sambil menatap lekat.

__ADS_1


"Iya, aku suka di sini sangat nyaman." Filia melemparkan senyum. 


"Lanjut saja membacamu, aku ingin membersihkan pot bunga itu." Bree menunjuk pot di sudut lemari buku.


"Aku sudah selesai, aku juga ingin membersihkannya. Coba ambil bawa kesini." Filia menutup buku dan menaruhnya kembali.


Bree bangkit dari kursi kemudian mengambil pot bunga yang di maksud. "Lihatlah, plumeria meski sudah layu tapi tidak menghilangkan wanginya." 


"Itulah kenapa aku menyukai plumeria, selain makna bunga itu sendiri." Filia mendekatkan hidung ke pohon bunga dan menghirup aroma nya.


"Kamu tidak berubah, ratu Filia." Bree tersenyum dan mengumpulkan beberapa lebar bunga plumeria yang kering.


Filia duduk kembali di kursi lalu menatap dalam pada Bree. "Apakah ratu juga menyukai plumeria?"


"Tentu saja, kamu adalah ratu bukan dua orang yang berbeda. Ada teka-teki yang belum aku pahami, kematianmu di masa lalu apakah sebagai bentuk perjalanan waktu ke era ini atau memang kamu bereinkarnasi ?" 


"Apa buktinya jika aku memanglah ratu yang kamu maksud." Filia semakin menggali cerita.


"Ada tanda plumeria di bawah telinga kananmu yang hanya aku bisa melihatnya." Bree tersenyum melihat warnah merah menyala di bawah telinga Filia. 


Gadis itu menggosok kulitnya kaku dan tersenyum. Karena tiba-tiba merinding mendengar pernyataan Bree. 


"Tuan, dokter Axel sudah tiba." 


"Baiklah, mari kita masuk." Bree meletakan kembali pot bunga. Laki-laki itu tersenyum melihat bunga plumeria sudah rapi.


...----------------...


Axel mengeluarkan kertas putih dari dalam tas kerjanya. Laki-laki itu telah mempelajari beberapa hasil pemeriksaan Filia pada pasiennya. Sebelum menjelaskan, Axel menyesap white tea yang secara langsung di buat oleh Bree Tyaga Adrian. Ya, rasanya benar-benar enak dan menyegarkan. 


"Harusnya aku meminum ini sejak dulu." 


"Rakyat jelata sepertimu mana tahu rasanya teh mahal." Sahut Bree menuangkan teh untuk Reiki. 


"Oh ya Tuhan, kenapa keangkuhan mu tidak ikut koma." Axel mendelik kesal.


Bree tersenyum lalu memberikan cangkir teh untuk Filia. "Silahkan diminum." Ucapnya lembut.


"Terimakasih, jadi dokter Axel bisa kita mulai. Bagaimana pendapat anda tentang diagnosa saya ?"


"Diagnosa mu sepertinya tidak salah. Boleh, 'kan aku bicara non formal ?" Axel menyesap kembali tehnya. "Melihat dari ciri-ciri yang kamu tulis disini, mereka memang mengalami gangguan pita suara. Untuk lebih jelasnya, besok aku akan kesana." Lanjutnya lagi. 


"Iya, lebih cepat lebih baik." Filia tersenyum. "Mereka akan tidur apabila mengkonsumsi obat, selama ini aku meresepkan untuk mereka dosis rendah. Aku rasa mereka bisa sembuh karena tidak sepenuhnya sakit jiwa. Dari yang aku lihat mereka sepertinya pernah mengalami kekerasan fisik hal itulah membuat mereka trauma. Ada berkas beberapa tahun lalu yang melampirkan hasil visum. Semoga saja pita suara mereka bisa sembuh." Sambungnya panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2