Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Penangkapan Tersangka


__ADS_3

"Langkah awalmu sedikit lebih baik, yang mulia."


"Aku hanya ingin menyelesaikannya lebih cepat, tapi ada hal yang ingin kutanyakan." Bree menoleh ke samping tempat pria tua berjubah putih berdiri. 


"Tanyakan saja." 


"Kenapa ratu kehilangan seluruh kemampuannya?" Bree menghela nafas panjang gusar akan hal itu. "Bagaimana dia melindungi diri seperti dulu ? Sementara musuh lebih banyak di tempat ini." Lanjutnya menyandarkan tubuh ke sebatang pohon. 


"Karena kewajiban dan tanggung jawabmu  untuk menjaga ratu, selain itu agar kesungguhanmu terbukti, seperti hal ratu yang bersungguh mendampingimu di istana." Pria tua itu maju selangkah lalu menoleh ke samping. "Maaf yang sesungguhnya belum kau dapatkan." Segaris senyum mengejek melengkung tipis di bibir laki-laki itu.


...----------------...


Kerudung mendung begitu sempurna menutup langit, hawa dingin pun kian memeluk daksa, siluet pagi telah sempurna namun sayang tak mampu menembus awan. 


Di pembaringan king size, si tuan muda enggan membuka kelopak penutup obsidiannya. Efek mabuk semalam masih tersisa sedikit, minuman yang ditenggaknya memang nikmat hanya saja tubuh Bree tidak bisa menerima. 


Kehidupan di masa lalu kebal dengan alkohol kini di tempat ini alkohol seperti musuh untuknya, yang mampu menumbangkan tubuh tegap itu hingga beberapa jam. Semakin rintik hujan menipis maka dingin lebih menggulung, sebab itu si tuan muda masih betah berlama-lama memejamkan mata meski sadar sudah merasuk. 


"Tuan, anda belum bangun?" Reiki bersuara dari balik daun pintu. "Hari ini anda harus turun ke kantor, untuk melihat persiapan produksi parfum." Lanjutnya mendorong sedikit gagang pintu. 


"Dingin sekali, Rei." 


"Saya hidupkan penghangat ruangan." Laki-laki itu gegas meraih remote. "Hari ini, surat resmi penangkapan Tuan Marcel akan keluar. Kemungkinan, ruang kerjanya di kantor akan periksa." 


"Iya, apa ratu Filia sudah bersiap?" Si tuan muda bangkit dari kasur kemudian melangkah ke kamar mandi.


"Sudah, dokter Filia akan ke rumah sakit hari ini dan anda hanya menghadiri penjemputan Tuan Marcel selebihnya akan pulang ke Mansion. Keamanan anda masih belum dipastikan, beruntung kemarin ada dokter Xavier." Reiki menggeleng kepala rupanya sejak tadi hanya bicara pada angin. 


Hitamnya kerudung langit belum juga tersingkap, masih tebal dan menyisakan gerimis. Bree mengenakan pakaian sedikit tebal untuk menghalau rasa dingin menembus pori-pori kulitnya yang putih. 

__ADS_1


"Apa yang telah ditemukan Eros, sampai dia berani meminta surat penangkapan resmi?" Bree bertanya sambil mematut bayang diri ke kaca besar. "Kaca ini sangat berfungsi, dulu di istana tidak ada yang seperti ini. Kalau ingin melihat bayangan diri pergi saja ke danau." Gumamnya sambil mengamati tampilan. "Sempurna ! Aku selalu saja tampan." 


Reiki menahan senyum, jika disuruh memilih Bree saat ini dan sebelum koma. Maka asisten tampan itu akan memiliki atasannya yang saat ini, meskipun sedikit aneh namun harinya penuh warna.


"Tuan Eros pernah mengatakan jika akan melakukan penyelidikan sendiri, mungkin dia sudah mendapatkan hasilnya." Reiki meraih tas kerja milik Bree.


"Mungkin saja, ayo turun." Si tuan muda menarik gagang pintu dan mengayun langkah keluar. 


Di undakan tangga laki-laki itu memendarkan pandang mencari sosok pemilik cinta. Segaris lengkungan senyum menawan tertarik di bibir merah Bree Tyaga Adrian ketika objek yang dicari tengah duduk di ruang tengah, berbalut pakaian formal untuk bekerja dan menyembunyikan tulang kecantikan di balik kemeja. Filia sangat anggun dan manis, rambut lurusnya di kuncir seribu turun kebawah. 


"Selamat pagi." Gadis itu melemparkan senyum menawan menghiasi pagi yang masih mendung. 


"Selamat pagi ratu Filia. Hari ini kamu masuk bekerja berhati-hatilah saat jauh dariku." Bree menghentikan langkah tepat di hadapan ratunya, telapak tangan laki-laki itu terulur. "Ayo sarapan." 


Filia menyambut sukacita telapak tangan si tuan muda. Mereka melangkah bersama menuju ruang makan, masih seperti sebelumnya saat sepasang insan itu menikmati hidangan di meja sudah menjadi pemandangan indah di mata para penghuni mansion. 


...----------------...


"Syukurlah kakak sudah masuk ke kantor." Widan meletakan beberapa dokumen diatas meja pimpinan Tyaga Group itu. "Kemarin Lisa mengajukan cuti aku terpaksa menandatanganinya karena kakak tidak datang." Lanjut laki-laki itu lagi.


"Terserah padanya, mau berhenti pun aku tidak peduli." Jawaban terkesan dingin itu membuktikan jika Bree benar-benar marah. 


"Kekasihmu pandai berkelahi rupanya, tulang hidup Lisa cedera. Karena itu dia mengajukan cuti untuk melakukan pengobatan di luar Negeri." Widan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menunggu dokumen selesai diperiksa. 


"Semua sudah benar, sekarang lanjutkan produksi sesuai sample milikku." Bree mendorong berkas dari tangannya ke arah Widan. 


"Baiklah, aku dengar kemarin paman Marcel datang ke Mansion, apa dia membuat ulah?" 


"Hm, dia akan buta dan tuli menyangkut gadis itu." Si tuan muda menatap lurus ke dalam iris mata adik sepupunya. "Aku akan memberitahumu sesuatu, kemarin paman Marcel mengirim beberapa orang untuk menyerang kekasihku dan kebetulan aku bersamanya saat itu. Jadi jangan kaget apabila aku memperkarakan nya nanti."

__ADS_1


"Kakak serius ?" Widan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Tapi bagaimana dengan tante Vindy ? Selama ini paman Marcel juga bekerja dengan baik." Laki-laki itu mencoba mencari keseriusan sang kakak.


"Baik belum tentu baik, bukan?" Bree tersenyum tipis. 


Widan mengangguk dan bangkit dari kursi. "Baiklah, aku akan segera menghubungi bagian produksi." 


Di ufuk timur matahari sedikit memberi sinar, gerimis hujan telah berhenti sempurna, bahkan langit menyingkap kerudungnya. Dari arah pintu masuk lobi, kedatangan Eros dan tim nya mengundang tanya dan perhatian. Sangat jarang detektif berkulit sawo matang itu berkunjung ke kantor induk Tyaga Group. 


Langkah mereka tegas dan juga sedikit menakutkan, kartu tanda pengenal yang tergantung di leher menandakan mereka sedang dinas. Para karyawan mulai berbisik-bisik satu sama lainnya. 


"Tunjukan ruangan Tuan Marcel." Eros menunjukan kartu tergantung di lehernya pada seorang resepsionis. 


"Di lantai empat belas, ruangan direktur personalia sebelah kanan setelah lift petinggi."


Eros berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata. Detektif muda itu memang pembawaannya dingin, Eros memilih menaiki lift petinggi karena tidak hafal seluk beluk kantor itu. Selain besar banyak juga ruangan sesuai pangkat dan jabatan para karyawan. Belum lagi kubikel untuk karyawan magang. Jadi laki-laki itu memilih jalan yang dikatakan resepsionis. 


Eros menunjukan kartunya pada sekretaris paman marcel, kemudian memutar tubuh mengetuk daun pintu ruangan. 


"Silahkan masuk." 


"Selamat siang tuan Marcel." Eros menunjukan surat penangkapan dengan bahasa yang formal saat bertugas. 


Paman Marcel tersenyum sinis. "Apa ini ulah anak itu ?! Karena kekasih nya, Bree tega melaporkan aku." Pria paruh baya itu menghempas kasar surat yang sempat di bacanya. 


"Anda mengakui sesuatu ? Padahal saya belum mengatakan apa-apa." Eros tersenyum jahat


"A—apa maksudmu?" Paman Marcel terlihat panik dan juga pucat. "Lalu kau kesini datang untuk menangkapku karena apa?" 


"Tuan Marcel, anda kami tangkap atas penyerangan kepada Tuan Bree Tyaga Adrian dan membakar kebun plumeria milik tuan Alfon serta melakukan perburuan liar dan menargetkan hewan lindung tanpa izin." 

__ADS_1


"BRENGSEK." Tubuh pria paruh baya itu luruh di atas lantai tak menyangka Eros bisa menyebutkan kejahatan tersembunyinya. Tangannya terkepal kemudian mengangkat wajah pada pemilik suara sepatu yang melangkah ke arahnya. "BREE SIALAN !" 


__ADS_2