Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pertemuan setelah perpisahan


__ADS_3

Lukisan langit malam disertai hembusan nafas sang alam, semakin mengantarkan seorang laki-laki yang tengah bersandar di muara balkon kamar pada kerinduan yang dalam. Bree Tyaga Adrian, merasakan jantung berdebar tiada henti tanpa tahu penyebabnya. Sejak senja, degupan sumber nyawa itu sedikit mengganggu. Tak ayal hembusan nafas panjang sering dilakukan. 


"Ada apa denganku?" 


Sebaris kalimat tanya terbang di udara tanpa ada jawaban, Bree mengamati bulan sabit yang bergantung di dinding langit. Menanti kabar dibawakan kelelawar malam tentang pengantinnya yang dikatakan ada satu bumi dengannya. 


Lelah menyendiri dan membiarkan angin malam menampar tubuh, Bree memutar tumit mengayun langkah ke arah pembaringannya. Sejenak langkah itu terhenti kala pandangan jatuh pada seonggok kain sutra di atas kasur. Ya, kain itu baru tiba di kediamannya. Selembar kain sutra termahal di sulam khusus bunga plumeria. Dijahit rapi dengan warna putih dibuat sebagai selendang yang berfungsi untuk penutup kepala dan wajah saat dalam masa penyamaran. 


Bree ingin mengulang masa saat berbelanja di pasar tradisional bersama sang ratu. Dilukis tangan berbakat di atas kanvas dan menyematkan hiasan rambut yang menyerupai bunga plumeria di rambut ratu. Sungguh kenangan itu hidup dalam hati dan setiap hembusan nafas putra mahkota Tyaga. 


"Tuan, anda belum tidur ?" Reiki merusak dunia yang tengah membungkus perangkat lunak di tempurung kepala atasannya. 


"Ah, iya ! Aku belum mengantuk." Bree melanjutkan langkah lalu meraih kain sutra.


"Kain ini sangat indah sulaman bunga plumeria nya sangat cantik." Reiki mengangkat tangan untuk menyentuh.


"Jauhkan tanganmu !" Bree refleks mengangkat tinggi tangan kanannya ke atas. 


"Kenapa ? Saya hanya ingin merasakan kainnya." 


"Ini selendang ratu, tidak boleh disentuh sembarangan." Bree menatap tajam dan menurunkan tangannya. "Ini begitu berharga, selendang kesayangan ratuku." Lanjutnya melipat sutra itu dan menaruh ke dalam kotak.


"Saya minta maaf, besok jangan lupa pertemuan kita pada terapis itu. Kemudian berkunjung ke pabrik Tyaga food." 


"Baiklah, kau boleh istirahat." Bree menaikan kaki ke atas kasur. "Bagaimana kecapi nya ?" 


"Sedang dalam pesanan tuan. Mereka tidak menjual kecapi yang dimaksud jadi kita harus pesan." Reiki urung membuka pintu.


"Setelah menemui terapis itu, kita pergi ke toko aksesoris, aku ingin memesan perhiasan rambut. Nanti ketika bertemu ratu segala barang kesayangannya sudah siap." 


"Iya." 


Reiki mengangguk lemah tanpa panjang lebar menjawab. Semakin miris pikirnya kondisi mental sang atasan, sangat disayangkan bila pria setampan dan hebat seperti Bree mengalami gangguan jiwa. 


...----------------...


Pagi bersambut sedikit berbeda, ada angin yang berhembus kencang hingga ranting pepohonan bergesek satu sama lainnya. Dedaunan yang gugur melayang di udara bersama aroma beberapa bunga yang menguar dari kelopak. Awan di cakrawala nampak bergerak laju seolah mencari tempat menyatu, burung - burung ikut serta mengepak sayap seolah mencari sosok pasangan. 


"Tuan, apa anda merasakan jika pagi ini sedikit berbeda ?" Reiki meletakan sendok di piring menyudahi sarapan.


"Setiap pagi memang seperti ini ?" 


"Saya sangat merasakan perbedaan pagi ini dari hari kemarin, lihat bulu di tangan  saya berdiri. Angin sedikit kencang, saya juga mencium aroma wangi. Tapi tidak tahu berasal dari mana ?" Reiki mengatakan jujur.

__ADS_1


Bree menoleh sebentar lalu melanjutkan menuang white tea dari dalam teko. Pria itu menyesapnya sedikit demi sedikit hingga tandas. 


"Bibi Jo, tolong masukkan white tea yang sudah diseduh ke dalam termos mini. Aku akan membawanya. Benar kata Reiki cuaca hari ini sedikit dingin."


"Baik Tuan." 


"Kita akan bertemu di salah satu rumah makan tradisional. Saya sudah reservasi tempat. Tidak hanya kita, tapi ada orang lain juga akan bertemu." Reiki meletakan ponselnya ke atas meja.


"Kenapa harus ada orang lain ?" Bree bertanya dengan nada tidak suka.


"Karena terapis itu hanya memiliki hari ini waktu luang, beberapa hari kedepan dia akan bepergian mungkin sekitar satu minggu baru kembali. Jadi orang ingin bertemu dengannya selain kita minta bergabung. Dia seorang perempuan bekerja sebagai dokter jiwa." 


"Aahhh." Bree merasakan kembali sakit di dadanya. "Hufh."


"Anda merasakan sakit lagi?" Reiki panik gegas bangkit dari tempatnya duduk dan menghampiri Bree.


"Dadaku sakit, jantungku juga berdebar." 


"Apa kita batalkan saja janji pada terapis itu?" 


"Tidak, kamu telpon Axel. Lalu dipindahkan pertemuan di mansion saja. Katakan kondisiku pada mereka, aku akan ke kamar kondisiku tidak memungkinkan untuk pergi." Bree menekan dadanya untuk menetralisir rasa sakit. 


"Tuan, coba minum white tea kembali." Bibi Joana datang menuang isi termos yang diminta sebelumnya ke dalam gelas. "Silahkah Tuan." Sambungnya lagi. 


"Sekarang, mari ke kamar lebih baik anda beristirahat." 


"Jangan lupa hubungi Axel dan yang lainnya." Bree semakin meringis merasakan sakit di dada.


Setiba di dalam kamar, Reiki menutup tirai balkon dan mengecilkan AC. Laki-laki itu tak selangkah pun meninggalkan Bree yang tengah kesakitan. 


"Ya Tuhan, apa yang terjadi ? Kenapa alam sedikit aneh hari ini." 


...----------------...


Matahari terus merangkak naik, perubahan alam semakin terasa. Angin berhembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Pepohonan bergerak seiring irama angin yang bertiup, dedaunan kering bertebaran dari segala penjuru. Para binatang alam riuh randah bersuara, burung - burung keluar dari sangkar mengepak sayap ke alam bebas. 


"Fil, kamu yakin ini benar alamatnya ?" 


"Iya, Eros mengirim alamatnya sebab pemilik mansion ini  juga akan bertemu terapis itu." Filia berulang kali memastikan alamat tersebut. 


"Ini kediaman Tuan Bree Tyaga Adrian. Mimpi apa aku semalam akan berkunjung kesini." Xavier mengamati bangunan megah di hadapannya. 


"Mari masuk, gerbang sudah dibuka." Filia menunjuk seorang security yang terlihat ketika pagar terbuka. 

__ADS_1


Xavier menghentikan mobil di depan pos. "Terimakasih, Pak." Ucapnya tersenyum ramah. 


"Silahkan masuk, Tuan Muda sudah menunggu." 


Sementara di ruang tengan bangunan mewah itu, tiga orang pemuda tengah menatap penuh kecemasan pada sosok yang duduk bersandar di dinding sofa. 


"Bree, hasil pemeriksaan mu kemarin semua normal dan sehat. Tidak ada cedera yang belum sembuh pasca kecelakaan, semua sudah membaik." Axel memberikan pijatan ringan pada dada kiri Bree.


"Tapi sakit sekali, Xel. Nafasku sesak dan jantungku berdebar." 


"Tuan, coba anda berbaring." Reiki meletakan bantal di atas sofa.


"Reiki benar, coba berbaring dulu longgarkan juga kancing kemeja mu." Eros juga khawatir berdiri di belakang sofa. 


"Tuan muda, apa anda mengalami mimpi buruk akhir-akhir ini ?" Suara terapis terdengar. 


Aslan, seorang terapis muda yang berpengalaman. Banyak pasien telah sembuh saat konseling padanya. 


"Tidak, aku hanya merasakan debaran di jantungku kemudian sakit yang begitu kuat." Bree menjelaskan dengan nada rendah kesakitan. 


"Menurut diagnosa dokter Axel, anda sehat dan juga tidak mengalami gejala apapun saat ini." Aslan memulai sesi tanya jawab. 


"Benar, hasil pemeriksaan itu akurat." Sahut Axel membaca kembali hasil laporan kesehatan sahabatnya


"Aroma plumeria." Bree tiba-tiba bangkit dari posisi berbaring.


"Ya, aroma plumeria." Timpal Eros. "Mungkin, Filia sudah datang." Lanjutnya lagi.


"Filia ?" Sorot mata Bree meminta jawaban.


"Filia Aruna, dia adalah dokter jiwa yang akan datang di mansion mu. Mungkin dia tidak sendiri pasti ada Xavier bersamanya." Eros sedikit menjelaskan. 


Suara hentakan sepatu menggema menuju ruang tengah, dimana Bree dan yang lainnya berada saat ini. Aroma plumeria semakin menguar tajam hingga menggetarkan jantung dan tulang Bree Tyaga Adrian. 


Pria itu berdiri setengah membungkuk karena lemas pada tubuhnya, selain itu jantungnya menggila di dalam bilik. Rona merah menguasai wajah hingga ke daun telinga. Rindu, rasa itu bersarang hebat di didalam dada hingga nafas laki-laki ini naik turun meminta di luapkan. 


"Selamat siang semuanya."


Telinga Bree berkedut mendengar suara yang sekian purnama dirindukannya. Bibir terbuka dengan pandangan tak percaya, ketika sebuah tanda di bawah telinga pemilik nama itu muncul tiba-tiba dan bersinar. 


"RATU." 


Seketika petir menggema di ketinggian langit, kristal bening pecah membasahi bumi. Bree merasakan pendengarannya tuli dan pandangannya menggelap.  

__ADS_1


"BREE"


__ADS_2