Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Memperingati hari Devarga


__ADS_3

Waktu memang cepat berlalu tak pernah mundur atau pun menoleh kebelakang hanya meninggalkan jejak dan kenangan yang telah dilewati. Tiga tahun berlalu belum juga mampu menanggalkan perasaan cinta seorang Eros pada Devarga. 


Laki-laki yang tengah memakai pakaian resmi serba hitam itu sangat tampan berdiri di samping gundukan tanah bertuliskan nama sang kekasih. Tidak ada lagi air mata ataupun raut  duka, jauh dalam lubuk hati laki-laki itu telah menerima takdir tergores untuknya dan Devarga. 


"Setidaknya aku lega pelaku penembakan Devarga sudah tertangkap meski butuh waktu lama." Eros menghela nafas dengan tangan terangkat membenarkan kacamata hitam yang menutup obsidiannya. 


"Anggap saja laporanku untuk jembatan mu." Bree menyahut tanpa menarik atensi dari gundukan tanah di depan mata. "Dulu saat aku kehilangan ratu, hanya guci abu yang bisa kupeluk dalam kesunyian." Sambung laki-laki itu mengeratkan genggaman pada jemari Filia. 


"Mulai lagi." Axel membuang pandang membawa senyum. "Aku sangat penasaran bagaimana dunia yang dia injak saat koma." Dokter tampan itu bergumam pelan. 


"Tapi kalau melihat wajahnya, semua yang diceritakan itu nyata. Lihat wajahnya sedih sekali." Leon menyorot wajah Bree dengan tatapan.


"Sepertinya diantara kita saya yang lebih duluan menyusul gila." Sahut Reiki menatap Leon dan juga Axel. "Baru saja tadi Tuan Bree meminta seorang pelukis untuk melukisnya dan dokter Filia." 


"Aku turut prihatin dengan kesulitanmu, Rei." Leon memasang wajah dramatis. 


"Kalian membicarakan aku?" Si tuan muda baru menyadari gumaman tiga laki-laki di seberangnya. 


"Tidak tuan, sudah sore sekali bagaimana kalau kita langsung saja ke rumah tuan Eros." Reiki tersenyum mengalihkan pembicaraan. 


"Baiklah ma—" 


 "Aku rindu, bisakah kau sampaikan pada orang tuaku. Besok adalah hari kematian mereka maka aku akan menitip pesan pada mereka untuk menyayangimu disana."


Ucapan Bree terpangkas saat Filia membawa tubuh untuk duduk. Tanpa melanjutkan kata laki-laki itu terdiam saat ratunya mengulurkan tangan di ukiran nama dan berkata begitu penuh perasaan.


Sarayu berhembus seiring kata terucap, hati pun ikut bergejolak menyaksikan lahirnya kalimat itu dari bibir seorang Filia. Dalam tawa ada rindu yang tersimpan, di balik ketegaran ada rapuh yang tersembunyi, di tengah keramaian ada sepi yang merajai. 


Bree menurunkan tubuh lalu merangkul lembut tubuh gadis itu, perasaan si tuan muda bergemuruh teringat masa di istana. Bagaimana sepinya di tengah banyak orang dan rindu yang tidak ada orang lain tahu. 

__ADS_1


"Devarga pasti menyampaikan salam rindumu. Sudah sore mari kita kembali, Irene dan Luna sudah menunggu di kediaman Eros." Bree membawa tubuh sang ratu untuk bangkit.


"Iya." Filia melemparkan senyum tipis kemudian bangkit dari posisinya. 


Sepasang insan dilanda asmara itu melangkah lebih dulu dengan tangan Bree melingkar penuh pada tubuh ramping Filia. Di belakang mereka diikuti para sahabat yang menggeleng kepala pada tingkah si tuan muda. 


...----------------...


Di ufuk barat tiada lagi cahaya yang tersisa. Kaki langit benar-benar gelap pertanda malam sudah menjemput. Sederet aktivitas terhenti seiring matahari kembali ke peraduan yang tersisa hanya kelelahan.


Satu jam yang lalu upacara peringatan kematian Devarga telah dilaksanakan, para kerabat dan juga teman seprofesi sudah meninggalkan kediaman Eros. Kini yang tersisa hanya para sahabat dekat. 


"Eros, terimakasih sudah mengungkap kasus penabrak kedua orang tuaku." Filia menatap hangat dengan guratan lega. 


"Sama-sama, sebenarnya aku sudah lama tahu pelaku penembakan Devarga dan juga penabrak tuan Cyrus tapi bukti belum cukup untuk membawa paman Marcel. Sesaat sebelum menutup matanya Devarga mengucapkan nama Paman Marcel." Eros membalas tatapan Filia dan melemparkan pandang pada teman-temannya. 


"Iya, karena Filia meminta aku menyelidiki kasus ini." Sahut Eros meraih gelas seloki dari atas meja. 


"Semua saling berkaitan, tapi kita jangan tenang dulu bisa saja buntut  kasus paman Marcel membuat masalah lain." Leon bersuara sambil menyandarkan tubuh di sofa 


"Leon  benar, target sesungguhnya adalah kamu, Bree." Axel menghela nafas sambil melonggarkan kancing lengan kemejanya.


"Saya akan berusaha memberikan keamanan pada tuan Bree. Untuk Regi baru saja saya dapat kabar jika kota nya sudah ditemukan, sebentar lagi orang-orang saya akan menjemputnya." Reiki memperlihatkan pesan yang dikirim oleh informannya. 


"Baiklah yang penting kita berhati-hati. Masih ada kasus lain yang belum terungkap." Bree melirik ke arah Axel.


Jarum jam semakin bergeser menandakan malam semakin datang. Namun obrolan di ruang tengah kediaman Eros belum juga berhenti, banyak hal yang mereka bicarakan, ada strategi gegas diatur. 


"Nak Eros ada tamu." Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri.

__ADS_1


"Siapa?" 


"Seorang wanita bernama Vindy." 


"Suruh masuk saja." Eros melepaskan jas yang melekat di tubuh dan meletaknya di ujung sofa. Laki-laki itu menghembus nafas untuk mengusir perasaan penasarannya.


Di penghujung ruang suara pantulan sepatu tak hanya milik satu orang, atensi teralihkan oleh suara yang mengisi ruang rungu. Di muara ruangan berdiri tiga orang dengan pakaian formal serba hitam.


"Sepertinya kami terlambat." 


"Bibi Lexa tidak apa-apa, silahkan duduk." Eros gegas membawa tubuh untuk bangkit dan mempersilahkan tamu yang masuk.


"Maaf kami terlambat." Widan bersuara kemudian maju ke arah dimana bingkai raksasa yang berisi foto Devarga di letakkan. Mengirim doa sejenak kemudian memutar tumit. "Ibu dan bibi Vindy berdoalah untuk detektif Devarga." Laki-laki itu menyapih memberi ruang. 


Kedua wanita paruh baya itu maju dan mengambil posisi yang sama persis dengan yang dilakukan Widan. Mereka mengirim doa dengan tulus untuk mendiang calon istri Eros. 


"Kau sangat cantik." Pujian itu datang dari  bibi Vindy. "Aku berdiri di sini dengan membawa perasaan bersalah dan permohonan maaf padamu, detektif Devarga." Setetes kristal bening bergulir dari sudut mata istri paman Marcel itu. "Aku meminta maaf padamu atas nama suamiku." Lanjut Bibi Vindy semakin terisak. 


"Bibi." Bree mendekat lalu merangkul pundak wanita rapuh itu. 


"Bibi baik-baik saja,Nak." Bibi Vindy menepuk lembut punggung tangan si tuan muda. "Eros." Sambungnya memutar tubuh menghadap pemilik nama. "Bibi minta maaf atas nama Marcel karena sudah menghilangkan nyawa calon istrimu. Mungkin permintaan maaf tak akan bisa menghidupkan lagi Devarga tapi setidaknya mengurangi beban di hati ini. Bibi juga minta maaf atas kesalahannya yang lain termasuk pada Filia. Marcel pengecut lari dari tanggung jawab dan membiarkan kedua orang tuamu begitu saja malam itu. Sebentar lagi dia akan menjalani hukumannya jadi kedatangan bibi kesini ingin meminta maaf pada kalian semua atas nama Marcel. Khususnya pada Bree, Eros dan Filia." Bibi Vindy menjatuhkan tubuh dengan bertumpu di kedua lutut. 


"Tak seharusnya Bibi melakukan ini, karena melakukan kejahatan itu adalah paman Marcel." Bree merangkul kembali pundak wanita paruh baya itu untuk menuntunnya bangkit dari posisi.


"Bibi tahu, tapi dengan meminta maaf pada kalian semua hati ini akan terasa tenang." 


"Bibi Vindy, kejadian ini sudah lama. Luka itu memang meninggalkan bekas di dalam hatiku tapi aku sudah merelakan Devarga. Untuk paman Marcel sudah saatnya dia bertanggung jawab." Eros menatap hangat. "Saya memaafkan tapi semuanya tetap berjalan sesuai prosedur." Lanjutnya dengan mimik wajah serius. 


"Bibi mengerti." 

__ADS_1


__ADS_2