
Bunga ilalang berterbangan entah dari mana datangnya. Seolah sengaja memberi warna untuk pagi seorang Bree Tyaga Adrian. Dalam balutan selimut tebal putih miliknya, si tuan muda menggeliat merasakan kilau mentari menyusup di pintu balkon kamar yang sejak malam tidak tertutup tirai. Laki-laki itu membuka mata pembungkus obsidiannya, lagi manik hitam itu tak memiliki warna, kembali gelap seperti hatinya yang berkerudung hitam.
Seperti kata di ucapkan semalam, Bree gegas bangkit dari peraduan membawa tubuhnya untuk pergi kekamar mandi. Laki-laki itu mencuci wajahnya lebih dulu lalu menatap diri ke kaca cermin. Ketampanan paripurna itu nampak pucat dengan kantung mata yang sedikit menghitam.
Tak ingin berlama mematut diri, Bree gegas membasah tubuh di bawah guyuran air shower. Berharap luka yang ia rasa di hati larut bersama air mandi. Sayang, harapan itu tak bersambut dengan baik. Lukanya semakin menganga dengan taburan garam di atasnya. Perih, sangat perih hingga Bree menepuk dadanya berulang untuk mengurangi himpitan sesak yang kembali membatu di dada.
Menghabiskan waktu sedikit lama, ritual mandi si tuan muda selesai. Bree keluar dengan handuk kimono membungkus daksa atletisnya. Di kamar itu sudah ada Reiki yang meletakan beberapa perlengkapan untuk dikenakan sang atasan.
"Setelah perbapakain kita sarapan, tuan Leon dan dokter Axel sudah menunggu." Reiki menyodorkan jam tangan milik si tuan muda.
"Jangan lupa belikan benang dan jarum, aku akan belajar merajut pada Bibi Jo." Bree tak berniat memperhatikan tampilan lagi seperti sebelumnya. Usai berpakain dan bersisir laki-laki itu memutar tubuh dan menyambar tas kerjanya.
Reiki hanya mampu menatap nanar punggung sang atasan, hari ini Bree jauh dari kata hangat. Si tuan muda menjadi dingin dan irit bicara, tidak ada lagi rengekan dan manja pada sang asisten.
"Bree, kau lama sekali." Leon menggerutu sambil meletakan ponsel di atas meja.
"Mari sarapan ?" Si tuan muda tak menyuguhkan senyuman hanya raut datar tak bergairah.
"Bagaimana lukamu ? Apa kau meminum obatnya ?"
"Hm."
Axel ternganga jawaban itu benar-benar membuatnya kesal tapi setelah memperhatikan mimik sang sahabat, dokter tampan itu paham jika Bree masih bersedih.
"Eros akan menginap, nanti malam dia mengajak kita untuk barbeque." Tutur Leon sambil mengambil makanannya.
"Atur saja." Bree menyuap makanannya dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
Meja makan itu terasa tidak berpenghuni, hanya dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring. Tidak ada percakapan serta suasana kehangatan. Semua dingin dan sebeku hati si tuan muda. Di ujung ruang itu, Bibi Joana menatap sedih dengan iris mata berkaca. Kentara sekali perubahan atasannya.
"Aku selesai, sampai berjumpa sore nanti." Leon menyeka mulut menggunakan tissue lalu bangkit dari tempat duduk. Laki-laki itu memahami isyarat dari Reiki.
"Jangan lupa minum obatmu, aku pergi dulu. Jangan bersikap berlebihan untuk menyiksa diri, hidup harus berlanjut jangan hanya karena patah hati jadi bunuh diri. Aku memang tak mengalaminya tapi kendalikan diri." Axel menatap tegas obsidian sahabatnya yang tengah melihat padanya.
Sudut bibir Bree terangkat. "Jangan cemas."
Axel hanya diam lalu memutar tubuh meninggalkan meja makan. Tiada yang tahu jika hati Bree terharu dengan perhatian para sahabatnya dan itu mengingatkannya pada pangeran Nev dan juga pengawal Ta. Ah, laki-laki itu merindukan mereka. Bayang hukuman semakin melekat di pelupuk matanya.
"Anda selesai ?" Reiki memecahkan kaca lamunanan si tuan muda. Laki-laki itu menyeka bibirnya menandakan ia telah selesai sarapan.
"Hm."
"Tuan, ini white tea anda." Bibi Joana menghampiri lalu meletakan termos mini di atas meja.
__ADS_1
"Bibi Jo, nanti malam ajari aku untuk merajut." Bree menoleh pada kepala asisten mansionnya.
"Baik Tuan."
Bree bangkit lalu mengayun langkah ke pintu utama. Di belakangnya Reiki mengikuti dengan termos mini di tangan. Laki-laki itu melangkah lebar di belakang sang atasan.
...----------------...
Di sepanjang jalan kesunyian semakin merajai, dengung dan suara klakson kendaraan lain seolah tak terdengar oleh Bree Tyaga. Ruang pandang laki-laki itu kembali kosong penuh kehampaan. Kalimat Reiki semalam sangat berpengaruh untuknya.
Jauh dalam lubuk hati laki-laki itu ingin sang ratu bahagia, hidup bersamanya sampai menua. Tapi ratu nya sudah tak menginginkannya dan ratu nya tidak lagi bahagia dengannya. Haruskah ia egois ? Menggenggam ratu tapi tidak bahagia. Atau melepaskannya dan gadis pemilik hatinya hidup bahagia walau luka nanti akan menelannya.
"Rei, apa aku harus melepaskannya?"
Reiki melirik sekilas lalu fokus ke arah depan. Laki-laki itu menggerakan sedikit benda bundar di hadapannya untuk masuk ke halaman kantor Tyaga. "Keputusan ada pada anda, ingin mengejar nona Filia tapi ujung-ujungnya dia tidak bahagia atau melepaskannya tapi anda bisa melihatnya tertawa dan bahagia. Memang sakit melepaskan orang kita cintai tapi lebih sakit lagi memaksanya hidup bersama kita tanpa merasa bahagia."
Bree terdiam tanpa menjawab, perangkat lunak di dalam tempurung kepalanya semakin berpikir keras. Apakah hatinya siap kehilangan lagi ? Inikah karma karena dulu mengabaikan ratu berbulan-bulan di awal pertemuan mereka ? Sudut bibir laki-laki itu terangkat tipis. Ya, dia pria tidak tahu malu dengan serakah untuk memiliki ratu yang berkali-kali ia sakiti.
"Aku menemukan jawabannya." Bree menutup gorden mobil lalu membawa tubuhnya turun setelah seorang petugas membuka pintu untuknya.
Si tuan muda melangkah masuk ke dalam gedung kantor. Di sampingnya ada Reiki yang setia mengikuti. Dalam balutan jas berwarna biru muda itu tak memangkas sedikit pun pesona seorang Bree. Masih menjadi tumpuan pusat perhatian kaum hawa di kantornya.
Kotak besi raksasa di dalam gedung itu membawa si tuan muda menuju lantau dimana ruangannya terletak. Tanpa bicara atau senyuman, semua keceriaan, binar bahagia dan rona cinta lenyap tanpa jejak di raut wajah Bree Tyaga Adrian.
Luna dan Irene berdiri menyapa. Pandangan kedua sendu melihat dengan nyata pancaran luka pada mimik wajah atasan mereka. Atas isyarat Reiki mereka tidak bertanya kabar hati si tuan muda.
...----------------...
Waktu semakin maju meninggalkan pagi di dalam ruangannya Bree benar-benar menuangkan perhatiannya pada pekerjaan. Mencoba menghempas afeksi yang menguji keseriusannya. Laki-laki itu tak melirik ponsel atau waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Hampir jam makan siang tapi Bree masih saja berkutat pada tumpuk pekerjaan yang sempat ditinggalkan.
"Kak, mari makan siang." Widan berdiri di ambang pintu mengajak sang pimpinan untuk makan.
"Duluan saja." Bree menjawab tanpa mengalihkan atensi. Lapar ? Bahkan rasa itu tidak terasa sama sekali.
"Kakak baru saja sembuh jangan terlambat makan, aku akan memesan makanan karena Reiki masih ada urusan diluar bersama Luna. Nanti aku titipkan pada Irene."
"Hm."
Widah menghela nafas panjang, sejak pagi laki-laki itu mengajak Bree bicara tapi hanya jawaban pendek yang di dapat. Wakil direktur itu sedikit bingung, apa yang terjadi ?
Setelah berpamitan Widan meninggalkan ruangan untuk makan siang. Bagaimanapun juga ia butuh asupan untuk kembali bekerja. Sementara Bree menuang kembali white tea ke dalam gelas lalu membawa tubuhnya berdiri di belakang kursi menatap ke arah luar pada dinding kaca.
Dari sana laki-laki itu dapat melihat sekumpulan awan yang mulai menghitam pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Bree menenggak sedikit demi sedikit isi gelasnya. Ah, suasana pernah ia rasakan. Kenapa akhir-akhir ini dejavu.
__ADS_1
...----------------...
Matahari telah merangkak turun, meski tak nampak cahayanya namun semua bisa ditebak dengan penanda waktu. Pukul empat, langit berkerudung hitam sedikit berangin dan juga dingin. Bree menyelesaikan pekerjaannya lebih awal karena bersiap untuk pulang.
"Mari tuan." Reiki bangkit dari sofa dan melangkah ke arah pintu lalu menarik daun pintu mempersilahkan sang atasan keluar lebih dulu.
"Irene dan Luna sudah pulang?"
"Iya." Reiki mengimbangi langkah si tuan muda. "Kita langsung pulang ?" Laki-laki itu bertanya dengan tangan terulur menekan tombol buka pada lift.
"Aku merindukannya, Rei. Bolehkan aku melihatnya dari jauh?"
Sakit, perasa Reiki sakit mendengar permintaan si tuan muda. Sungguh, asisten tampan itu tidak tega menatap langsung wajah Bree. Reiki hanya mengangguk menyetujui dengan kepalan di tangan menahan rasa membalut hatinya. Dalam hal ini laki-laki itu merasa bersalah, tidak seharusnya ia meminta bantuan pada Filia. Cukup hanya Aslan saja sebagai terapis untuk Bree.
Kedua anak manusia itu melangkah menuju lobby, lalu mendaratkan tubuh ke dalam mobil. Hampir seluruh karyawan telah pulang dan suasana kantor juga mulai menyepi. Langit telah meledakan tangisnya. Namun, Reiki yakin bisa mengendarai mobil dalam kondisi itu.
"Apa kamu sudah menemukan alasan tiga tawanan itu bungkam hingga saat ini ?" Bree bertanya dengan pandangan jatuh pada butir-butir air hujan yang mengenai kaca mobilnya.
"Iya, untuk Jesen ada Neneknya yang menjadi tawanan seseorang. Kalau Yohan, dia adalah anak jalanan yang sengaja diambil dan di didik sebagai pembunuh bayaran."
"Temui Nenek Jesen dan berikan pengamanan ketat. Aku ingin menyiapkan bom untuk orang ini."
Reiki merasakan hawa berbeda dan merinding. Pancaran netra sang atasan penuh kilat dendam dan amarah. Guratan wajah itu nampak menggelap.
"Baik tuan, menurut informan Nenek Jesen ada di panti jompo hanya saja belum tahu panti jompo dimana. Orang itu sengaja menyembunyikan nenek Jesen agar bisa mengendalikannya."
"Yohan apa kelemahannya ?"
"Adik perempuannya."
Alis Bree terangkat. "Yohan memiliki adik ? Lalu dimana dia ?"
"Ini juga belum ditemukan, Tuan. Saya memberi waktu hingga bulan depan pada informan kita agar bisa menemukannya. Saya bisa melihat Jesen dan Yohan dalam kendali penuh orang itu. Hanya saja dia seperti belut susah untuk menangkapnya."
"Kau yakin jika aku bisa menangkapnya ?"
Reiki melirik sejenak di kaca mencari keyakinan Bree. "Apa anda mencurigai seseorang ?"
Si tuan muda hanya diam lalu melemparkan tatapannya ke arah rumah sakit. Mobil berhenti tepat di seberang jalan. Meski dalam kondisi hujan Bree bisa melihat dengan jelas siapa saja yang keluar dari sana. Menunggu selama sepuluh menit sosok yang dirindukan keluar, tatapan mata Bree sendu dengan perasaan sakit. Senyum itu harusnya tertuju untuknya, hanya miliknya. Tapi semua telah berubah. Filia tersenyum pada sosok lain yang kini melangkah bersama untuk keluar dalam naungan payung sama untuk menghalau hujan.
Iris mata Bree berselaput kabut dan ia tak berniat untuk menghapusnya. Dulu laki-laki itu juga satu payung bersama sang ratu baik di istana maupun di era ini. Ah, rindu itu semakin meraja namun apa daya. Rindu tinggal rindu, semua perasaan bagai tak bertuan.
"Jalan, Rei." Bree memberi titah ketika Filia dan Xavier sudah meninggalkan rumah sakit. "Aku yakin, Xavier bisa mengantarnya sampai di mansion Daniyal."
__ADS_1
Reiki tak menjawab dan menyentuh rem tangan mobil lalu melaju. Hatinya tidak baik-baik saja. Bree mengalami patah hati tapi asisten tampan itu juga merasakan efeknya.