Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Akhir cerita sang Raja


__ADS_3

Suara alam semakin menggulirkan suasana tak biasa, erangan binatang riuh randah  beriringan dengan sarayu malam yang bergelombang menempuh rumah kayu. Di dalam bilik rumah itu di bawah temaramnya lampu tembok. Bree menutup mata dengan nafas tersisa di dada, tidak ada lagi dingin yang memeluknya. Kini laki-laki itu berkeringat dingin merasa tubuhnya dirasuki hawa panas yang amat luar biasa. 


"Tuan, apa anda harus mandi ?" Reiki tak hentinya mengipas dengan kipas mini yang hampir kehabisan daya. 


"Tidak Rei, ini efek hukuman yang akan aku jalani. Sekarang sudah hampir subuh kau pulanglah." Bree menyandarkan tubuhnya di kepala dipan. Tubuh bagian atas laki-laki itu sudah tidak mengenakan baju. 


"Sebenarnya hawa saat ini adalah dingin tapi anda merasa kepanasan." Reiki tak menggubris permintaan sang atasan yang memintanya untuk pulang. 


Bree terkekeh. "Aku tidak menyangka kalau pangeran Nev akan ada ditempat ini dan dia dalam misi membawa ratuku kembali tapi apa yang terjadi, dia ingin memilikinya. Apa itu salah, Rei?" Intonasi itu terdengar rendah dan mengandung kekecewaan yang amat besar. "Kami dekat dan aku tidak mengenalnya." 


"Tuan, saya tidak tahu harus berkata apa. Mungkin kesalahan anda di masa lalu memang fatal tapi apakah kesempatan itu benar-benar tidak ada?" 


Bree menghela nafas sambil mencari posisi nyaman. "Sebelum hari eksekusi, ratu diadili oleh ku karena dia mengakui kejahatannya maka aku menjatuhkan hukuman mati karena menjadikan aku target selanjutnya. Namun, pangeran Nev berhasil menemukan kebenaran di malam harinya dan membuktikan jika ratu tidak bersalah.  Kebenaran itu didapatkan dari dayang pribadi ibu suri. Tuduhan pada ratu tidak benar karena racun itu milik Selir Ve, ibu pangeran Nev. Setelah mengetahui kebenaran itu aku membatalkan perang dan berniat membebaskan ratu dari penjara dengan tanganku sendiri tapi aku terlambat ratu sudah di racun oleh seseorang saat makan malamnya. Dan orang itu aku yakini perdana menteri Ma. Saat itu juga aku mengetahui jika ratu hamil anak kami. Mendapatkan kenyataan tak terduga aku tidak bisa memaafkan diriku, sepertinya semesta menghukum ku, pemberontakan terjadi di malam itu juga. Pukulan terberat saat bangun pagi hari, aku harus mengkremasi ratuku sendiri dan rasanya benar-benar sakit. Sumpah ratu terngiang di kepalaku setiap hari jika kami dipertemukan kembali dia akan membenciku. Sekarang sumpah itu terbukti ratu Filia membenciku dan tidak akan pernah memaafkanku." 


"Tuan !" Pekik Reiki terkejut melihat gumpalan darah biru kehitaman keluar seiring batuk terhembus dari si tuan muda. "A—anda batuk darah." Sambung laki-laki itu panik dan terbata. "Kenapa dokter Xavier lama sekali. Sebentar lagi matahari terbit."


Bree terdiam merasakan panas di sekujur tubuhnya. Rongga dada laki-laki itu terasa semakin memberat. Ya, satu jam lalu Xavier bergegas pergi menjemput Filia Aruna dan berharap adanya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


"Rei, pulanglah." Suara Bree nyaris tak terdengar. "Waktuku akan habis, bawa Tyaga Group bersamamu. Temui Kaili dan kamu akan mengerti." 


"Jangan katakan itu." Tangis Reiki pecah ketika bertemu pandangan pada iris mata sang atasan yang mulai sayu. "Bertahanlah, sebentar lagi ratu Filia akan datang. Anda akan baik-baik saja." Lanjutnya semakin tak bisa mengendalikan tangisnya. "Saya mohon jangan biarkan saya sendiri." 


"Kamu akan bahagia, banyak orang menunggumu." 


"Jangan katakan itu !" Nada suara Reiki meninggi sambil memeluk tubuh atasannya yang tidak lagi bergerak. "Ayo kita ke rumah sakit." Pasokan oksigen di paru-paru semakin menipis saat gelobang nafas Bree sudah terlihat jarang. 


"Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi, Rei. Di rumah sakit tidak akan merubah keadaanku." Bree terkulai lemas dan pasrah saat asistennya mengenakan bajunya. 


"Saya akan berusaha membawa anda untuk berobat. Ini penyakit ! bukan hukuman yang anda maksud. Lihat darah ini biru kehitaman pasti efek dari kecelakaan anda waktu itu." Reiki kembali berpikir nyata dan mengangkat telapak tangannya yang di lumuri darah muntahan kedua si tuan muda. 


Bree terdiam sejenak lalu berkata. "Pergilah." 


"Tidak, saya tidak akan kemana-mana. Bertahanlah, tuan. Saya mohon…" Reiki memecahkan tangis di bahu Bree. Rasanya bumi ikut terhenti. Kenapa harus dirinya menjadi saksi kesakitan atasannya. Kenapa harus menyakitkan seperti ini. 


"Yang Mulia." Xavier tiba-tiba masuk di ikuti Filia dan yang lainnya. "Apa yang terjadi, Rei ?"


"Tuan batuk darah." Reiki memberikan ruang pada Xavier. "Dia lemah sekali, ayo kita kerumah sakit." 


"Apa yang terjadi ?!" Axel datang dengan wajah panik bercampur cemas. Saat larut dalam mimpi laki-laki itu mendapatkan telpon dari Xavier. "Bree, kenapa seperti ini ?" Jantung Dokter tampan itu berpacu lebih cepat melihat kondisi Bree tidak baik-baik saja. 


"Bree !" Leon sedikit berteriak disela tangisnya yang pecah. "Kenapa kalian hanya diam ?! Bawa dia ke rumah sakit." Sambungnya menatap wajah semua orang. 

__ADS_1


Eros tidak mampu bersuara, entahlah bayangan Devarga memuntahkan darah setelah tertembak begitu terbayang diruang mata. Isak tangis saling bersahutan dari Irene dan Luna yang terpaku di sudut dinding. 


"Yang Mulia, anda mendengar saya ?" Xavier semakin tertekan dan menggenggam kedua tangan kakak laki-lakinya itu. "Saya datang membawa ratu anda." 


"Lelucon apa ini, Xavier ?!" Bentak Leon berlelehan air mata. "Xel periksa Bree atau kita kerumah sakit sekarang." 


Axel membisu dalam tangisnya, di mata seorang dokter sepertinya dapat melihat jika Bree sudah lemah. Namun, pria berparas tampan itu berkeyakinan mujizat Tuhan itu ada. Entah Bree berasal dari mana ia yakin jika kesempatan itu ada. Tanpa bersuara Axel menggerakan tangan memeriksa sang sahabat. Ah, perasaannya sangat hancur mendapat nafas itu hanya tersisa di dada dengan jarak pendek. Bahu laki-laki itu terguncang hebat usai menyelesaikan pemeriksaannya. 


"Ba—bagaimana ?" Leon menunggu kabar baik sambil menatap harap. 


Axel menggeleng lalu memundurkan langkah. Tidak menjawab atau pun menatap Leon, kepala dokter tampan itu tertunduk menatap lantai. 


"Yang mulia ratu." Xavier bersimpuh di hadapan Filia. Gadis itu masih berdiri menyaksikan pemandangan tak terduga di depan matanya. "Maafkan saya." Xavier menempatkan diri sebagai pangeran Nev. "Malam ini saya membuat pengakuan. Jika saya adalah Pangeran Nev yang datang ketempat ini untuk mencari dan membawa anda pulang ke istana sebagai bentuk penebus kesalahan ibu saya. Selir Ve." Semua mata terbelalak kecuali Reiki yang sudah tahu lebih dulu. "Di pertengahan jalan setelah menemukan anda, saya menjadi licik dan melupakan kejahatan Selir Ve. Saya mencintai anda dan membatalkan niat untuk membawa anda kembali ke istana. Saya berpikir jika raja tidak akan menyusul kesini dan tidak percaya kalau hukuman itu ada karena tidak menepati janji. Raja saat ini menjalani hukuman karena tidak berhasil membawa anda kembali dan mendapatkan maaf." 


Filia menggulirkan pandang, mata gadis itu sudah sembab sejak pertengahan malam. Bibirnya terkatup lalu menjatuhkan diri di sisi dipan. Hukuman ? Sungguh ia tidak tahu menahu tentang itu. 


"Yang Mulia." Tangis Filia pecah. "Saya datang dan sudah memaafkan kesalahan anda di masa lalu. Maafkan saya yang mengabaikan semua nya hingga anda menjadi seperti ini." Gadis itu meraih telapak tangan Bree lalu menempelkan ke dadanya. "Disini rasa itu masih ada dan saya mengakui dimalam kejadian di atas rooftop saya mengingat semuanya tentang anda dan istana tapi." Suara Filia nyaris tak terdengar karena berlomba dengan tangisnya. "Saya bersikap seolah tidak mengingatnya. Saya datang ke tempat ini sama seperti anda, melintas waktu untuk melupakan sejenak kesedihan karena kehilangan calon buah hati kita tapi tak disangka tempat ini membuat saya terlena." Lanjutnya menyeka jejak darah di dagu Bree.


"Hari itu siapa sebenarnya yang aku kremasi." Suara Bree seperti berbisik karena tenaganya sudah terkuras habis. 


"Dia Dayang Shi, pria berjubah putih mengirim saya sesaat sebelum dibawa keluar dari penjara. Dia menghapus seluruh ingatan tentang masa lalu dan membawa saya ke tempat ini. Saya berjanji padanya jika kita bertemu kembali akan memaafkan anda tapi jiwa manusiawi saya begitu egois hanya bertumpu pada satu kesalahan dan melupakan ribuan kebaikan anda." Bahu Filia berguncang hebat dalam penyesalan. Andai dirinya tidak bersikap buta dan tuli mungkin kondisi Bree tidak akan seburuk itu. "Tentang hukuman, saya benar-benar tidak tahu. Maafkan saya yang mulia. Maafkan saya." 


Bree tersenyum. "Terimakasih sudah memaafkanku, aku senang melihatmu ada disini, tinggalah di tempat ini dengan damai. Sungguh, disini sangat menyenangkan. Maaf karena menyakitimu hingga kau memilih tempat ini untuk menenangkan diri dari rasa sakit. Aku percaya suatu hari nanti kamu akan hidup bahagia."


Pandangan Bree redup seiring kesadaran yang mulai menurun. Suara binatang alam semakin mendominasi di tengah kesepian tempat itu. Alam semesta seolah menangis dengan caranya. 


"Bree." Leon yang sejak tadi berdiri di seberang dipan menyadari jika sahabatnya tidak bergerak lagi. 


"Yang Mulia." Filia menegakkan tubuhnya terkejut mendengar suara Leon.  


Semua orang mendekat.  Bree membuka kelopak matanya sedikit lalu tersenyum tipis. "Aku bahagia memiliki kalian." Pandangnya bergulir pada tiga wajah sahabatnya. 


"BREE !" Leon dan Axel bersamaan bersuara ketika tangan Bree terjatuh lemas dari genggaman Filia.


"Yang Mulia." Filia menatap takut. "Yang Mulia. Dok—dokter Axel, a—apa yang terjadi ?" Gadis itu bak kesetanan meraba wajah Bree. 


Tangis Axel menggema nyaring dengan posisi duduk. Tubuhnya lemah dengan posisi kaki tertekuk. 


"Axel apa yang kau lakukan ?! Cepat tolong Bree. Lakukan sesuatu !" Leon melompat menyeberangi Dipan dan menarik kerah baju sahabatnya. 


Axel meletakkan kedua tangannya saling bertindihan di atas dada Bree kemudian bergerak untuk memompa. Ia tahu tidak ada gelobang nafas di dada itu. Hal ini sudah dapat di tebaknya mengingat kondidi Bree memang memburuk, sebagai dokter dia tahu ada luka disana dan hal itu mungkin baru terasa setelah Bree bangun dari koma. Mungkin semua nampak normal dimata semua orang tapi tidak untuk tubuh Bree yang mengalami kecelakaan hebat sebelumnya. Dokter juga manusia yang memiliki keterbatasan terlebih Bree jarang memeriksakan kondisinya pasca koma. Axel menarik tangannya lalu mundur perlahan sambil menggeleng. Tangisnya tiada henti sejak tadi. 

__ADS_1


"Bagaimana, Xel ?" Suara Eros terdengar bergetar setelah diam sejak tadi. 


Melihat Axel bungkam semua orang mulai histeris. Terlebih Leon yang di sisi dipan langsung memutar kepalanya ke arah sosok yang kini terlihat damai. 


"Bree." Tangis Leon semakin nyaring mengguncang tubuh sahabatnya itu. Tidak ada kata lanjutan yang terucap hanya tangis semakin berlomba. 


Filia menggelengkan kepalanya tidak yakin, kaki gadis itu mundur sedikit demi sedikit tak percaya pada hal di depan matanya. Filia memutar tubuh keluar dari rumah itu dan tak memperdulikan Reiki yang kini menangis seorang diri di luar rumah. 


Kaki Filia terus berlari menuju ke arah tengah kebun plumeria. Sejenak ia terhenti bertumpu pada kedua lututnya mengabaikan semak belukar yang mencekal langkah. Nafas terhengal tak memperdulikan keadaan yang masih gelap meski sudah menunjuk pukul empat pagi. Filia kembali melangkah berlari secepatnya lalu berhenti di pertengahan tepatnya di bawah pohon rindang. 


"KELUAR ! Aku tahu kau disini, cepat keluar ! Jelaskan padaku, kenapa dia seperti ini ?!" Filia berteriak dengan tubuh lelah. "Kenapa berakhir seperti ini ?!" Tangis gadis itu tak terbendung. 


Segumpal cahaya keluar dari pohon perlahan berwujud pria berjubah putih. "Yang Mulia ratu, apakah anda ingat sebelum ke tempat ini. Kita melakukan perjanjian, setelah kau tenang maka kau kembali saat raja menjemputmu atau utusannya tapi faktanya kamu mengabaikan nya saat dia benar tulus menebus kesalahan dan meminta kesempatan kedua. Perasaan manusiawi mu menjadikan dia seperti itu. Harusnya ketika hatimu tergerak untuk memaafkannya kau harus melakukannya tapi yang kamu lakukan adalah mengabaikannya. Meski ingatanmu telah pulih." Pria berjubah putih melirik sosok yang baru tiba. "Dan anda pangeran Nev telah melanggar perjanjian. Karena perasaan terlarang itu menyebabkan kekacauan sehingga raja harus menyusul kesini. Dan untuk yang mulia raja, dia menyanggupi hukuman karena merasa gagal di masa lalu."  


"Jadi kau pangeran Nev ?" Filia bicara bercampur tangis. 


Xavier mengangguk. "Ya, maafkan saya yang mulia ratu." 


Tidak ingin membahasnya dan cukup mengerti Filia gegas meninggalkan tempat itu. Matahari semakin menampakan siluetnya di ufuk timur berusaha merobek sisa gelap malam. Filia kembali ke rumah kayu di sana sudah sunyi tidak ada lagi tangis yang bersahutan. Irene dan Luna menatap sendu pada tubuh yang terbaring sempurna di atas dipan. Keduanya terkulai lemah di atas lantai. Lalu tiga laki-laki lainnya menatap kosong bersandar di dinding. 


"Yang Mulia, kembalilah saya mohon." Tangis Filia mengisi sunyi itu. Kedua tangan memeluk erat tubuh Bree. "Maafkan saya karena mengabaikan anda, maaf jika kebencian itu menjadikan saya jahat. Bangun yang Mulia." 


Xavier berdiri di ambang pintu, tangannya terangkat ketika melihat sosok raja terangkat dari raga yang kini di peluk Filia. "Yang Mulia." 


Filia menarik tubuh lalu mendongak wajah ke atas, disana tubuh raja melayang dan perlahan menjadi bara api. "Tidak, yang mulia !" Gadis itu berusaha menggapainya tapi hawa panas terasa membakar ujung jari. " YANG MULIA !" teriaknya ketika sosok raja habis karena cabikan bara api lalu pecah terhambur di udara. 


Xavier terpaku di ambang pintu tak lama angin berhembus kencang menarik tubuhnya keluar. Laki-laki itu berteriak merasakan sakit yang amat luar biasa. "Jaga diri anda, Yang Mulia ratu." Ucapnya dengan sekuat tenaga. 


"PANGERAN NEV !" Filia berteriak di tempatnya berdiri lalu jatuh di atas lantai. Dengan matanya sendiri. Ia menyaksikan Pangeran Nev di bawa angin.


"Xavier." Luna yang menyadari jika sahabat mereka itu tergelak di atas tanah ditimpa dahan berukuran besar langsung bersuara. "Bantu Xavier." Ucapnya panik ketika melihat darah mengalir di bagian belakang kepala laki-laki itu.


"Panggil ambulance." Axel gegas memberikan pertolongan pertama. 


Filia terdiam, terpaku di tempatnya. Gadis itu menatap kosong. Raja lebur bersama bara api dan pangeran Nev celaka di depan matanya. Kini ia sendiri di tempat ini. Ratu, gelar itu tidak pantas ia sandang. Faktanya dua kakak beradik terlibat konflik hati karena dirinya. Disini ia menyadari jika banyak perubahan yang terjadi. Seorang Filia Aruna tidak lagi sama dengan Ratu. Jika dulu seorang ratu berwibawa dan tegas terkenal dengan sikap cerdasnya. Maka disini seorang Filia memiliki ego yang tinggi. Semua sudah terlambat, andai sebelum ulang tahunnya ia menuruti kata hati, mungkin Bree saat ini tersenyum bersamanya menatap matahari pagi. 


"Kita pulang dan bawa Bree." Eros mengumpulkan sisa kesadarannya untuk proses akhir seorang Bree Tyaga Adrian. 


Reiki hanya mengangguk tidak memiliki kekuatan lagi untuk bicara. Menjadi orang yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang atasan sampai akhir. Ini adalah pukulan terhebat setelah kehilangan orang tuanya. 


...----------------...

__ADS_1


...Epilog ...


Bree kembali pada penciptanya dengan sakit yang baru terdeteksi pasca koma karena keterlambatan dalam memeriksakan diri. Itu yang terbaca saat Axel memeriksanya kembali. Benturan akibat kecelakaan hebat itu menimbulkan penyakit baru untuk Bree. 


__ADS_2