Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Semakin teka teki


__ADS_3

Dalam sebuah ruangan, senyum senang penuh kebahagiaan membingkai wajah seorang pria. Tawa tak hentinya menggema bersamaan wine yang meluncur bebas masuk ke dalam tenggorokan. Kepuasan begitu terlihat di raut wajah manisnya. 


"Kau tahu, hari ini adalah hari yang aku tunggu." Laki-laki itu bicara pada bawahan setianya. Meski demikian tak merubah posisi tubuhnya yang menghadap kaca pembatas menyaksikan hilir mudik kendaraan di bawah sana. Satu tangan terselip di dalam saku celana dan satunya lagi menggoyang-goyangkan wine di dalam gelas. "Hari ini, putra mahkota yang agung itu sudah kehilangan muka. Dia gila dan tidak layak ada di atas singgasananya. Aku sangat puas meski kecelakaan itu tidak membunuhnya setidaknya berdampak pada mentalnya." Lanjut laki-laki itu menenggak habis sisa wine di gelas. 


"Selanjutnya apa lagi langkah kita ?" Bawahan setia itu melontar tanya sambil menegak posisi duduk. 


"Kita amati dulu, untuk Ketiga pengkhianat itu tetap dicari. Aku sangat tahu meski Bree memiliki antek-antek setia. Tapi dia mempunyai hati yang terlalu lemah di hadapan musuh. Jadi aku rasa menghilangnya Yohan, Jesen dan Regi. Bukan ulah Bree." Laki-laki itu meraih satu batang pecandu adam lalu memantik api dan menghisap kampas manisnya dengan dalam. 


"Anda yakin, bagaimana kalau asisten itu yang bergerak bersama para teman-teman tuan Bree ?"


"Tidak akan terjadi, mereka tidak akan melanggar apapun perintah Bree. Kau tahu putra mahkota Tyaga itu adalah pria lemah. Maka dari pada sibuk mengurus tiga pengkhianat ini. Reiki dan teman-teman Bree akan lebih memperhatikan keselamatan laki-laki lemah itu." Hembusan asap putih mengepul dari sela bibir kehitaman pria berwajah manis ini. 


"Saya percaya." 


"Pulang dan istirahatlah." Laki-laki itu mematikan batang candu itu lalu mengayun kaki meninggalkan tempat. 


...----------------...


Kejadian hari ini sangat menguras energi dan juga pikiran. Di bawah pancuran air shower Reiki mengguyur tubuhnya agar merasa segar. Laki-laki itu dirundung kalut yang tidak bisa dijabarkan dan tak luput pula menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi. 


Di bawah guyuran air, otak cerdasnya kembali berpikir keras. Kenapa informasi kondisi Bree bisa bocor ? Dan kenapa surat pernyataan sembuh dari Filia bisa sama ? Hanya saja isi pernyataannya yang berbeda. 


Tidak jauh berbeda dengan keadaan Reiki. Di ruang tengah mansion medium itu. Eros, Leon dan juga Axel tengah berpikir. Jika memang besok Kaili bisa membuktikan keaslian laporan yang beredar. Maka Bree akan digulingkan dari kursi kekuasaan. 


"Er, menurutmu apa di sini terjadi konspirasi ?" Leon melayangkan tanya sambil meletakan gelas di atas meja. 


"Siasat yang sempurna hanya saja pemilik rencana ini sangat pintar dan halus sehingga kita tidak memiliki kandidat yang mencurigakan." Eros menjawab sambil menatap dua sahabatnya bergantian. "Dan Filia tidak mau peduli tentang laporan itu, aku tidak menyangka jika dia sebenci ini pada Bree." Sambung laki-laki itu menghela nafas panjang. 

__ADS_1


"Dia hanya memikirkan perasaannya, tapi tidak memikirkan perasaan orang lain." Ketus Leon yang terlanjur kecewa. 


"Kalau laporan itu menyatakan Bree belum sembuh, maka tandanya dia akan diturunkan." Axel meletak ponsel setelah berkirim pesan. 


"Aku curiga ada orang lain menemukan dimana tempat file itu disimpan. Aku bisa menangkap maksudnya, kenapa gadis itu mendaftarkan Bree menjadi pasien rumah sakit jiwa agar Bree bisa mendapatkan surat resmi yang menyatakan dirinya sembuh." Sahut Eros masih menanam pikiran positif. 


"Tapi faktanya jiwa Bree belum sembuh ! Hanya fisik, ingat dia hanya sehat fisik !" Tekan Axel dengan tegas. 


"Ah, sangat rumit. Dua laporan sama dari rumah sakit yang sama hanya isinya yang berbeda. Kenapa Filia berani menyatakan Bree sembuh kalau nyatanya belum ?" Leon mengusap wajahnya kasar. 


"Karena dia sudah tidak mau peduli lagi pada tuan muda. Insiden beberapa waktu lalu membuat dokter Filia menjauhi tuan Bree dan tidak mau bertahan di sampingnya dengan alasan tidak mau terlibat lagi dengan tuan Bree." Sahut Reiki yang ikut bergabung. "Padahal kita memintanya secara pribadi untuk membantu mengobati tuan, bukan dengan mendaftar sebagai pasien. Saya setuju dengan tuan Eros, ada orang lain memanfaatkan situasi saat dokter Filia membuat surat itu. Kita semua tahu informasi sekecil apapun tentang Tyaga Family atau perusahaannya. Pasti berharga." Sambung laki-laki itu panjang lebar. 


"Bagaimana tanggapan Bree dengan masalah ini ?" Leon melemparkan tanya pada Reiki.


"Tuan hanya diam tidak mengatakan apapun. Pertama kalinya saya tidak bisa membaca pikiran tuan Bree selama mendampinginya." Reiki kembali merasa bersalah dan meragukan kemampuannya selama ini. 


"Mungkin Bree shock, jadi dia sendiri pun tidak mencerna apa yang terjadi. Kita semua tahu dia lemah dalam membentengi diri dan melawan musuh. Otaknya hanya cerdas dalam bekerja namun tidak bisa membaca strategi lawannya." Eros bersuara setelah diam beberapa menit. "Apalagi suasana hatinya memang buruk sejak awal dengan adanya masalah ini semakin memperburuk keadaan." 


Helaan nafas dari bibir Reiki menandakan laki-laki itu tak mampu lagi berpikir banyak. "Mari kita istirahat." Ajaknya membawa tubuhnya bangkit.


Bak anak ayam. Eros, Axel dan juga Leon melangkah menuju kamar masing-masing. Bersiap mengistirahatkan daksa. Namun sayang langkah mereka terhenti karena terdengar sayup-sayup suara kecapi dimainkan. Rasa penasaran mendorong kaki untuk mencari sumber suara. Ternyata tak hanya mereka ada juga Reiki yang lebih dulu berada di sana. 


"Aku tidak pernah melihat Bree seperti ini." Axel berpangku tangan bersandar di dinding melihat ke arah rumah kaca. 


"Dia sangat terpukul hanya saja tidak bisa mengungkapkan. Dulu selepas kematian Paman dan Bibi, dia juga mengalami hal ini." Leon menerawang pada peristiwa beberapa tahun silam.


"Bree tipe sulit di tebak. Rei ajak dia masuk sudah malam." Eros memutar tumit untuk masuk kembali. 

__ADS_1


Reiki menghembus nafas panjang lalu mengayun langkah. Laki-laki itu menyiapkan kata rayuan untuk mengajak si tuan muda untuk masuk. 


...----------------...


Tak jauh berbeda kebingungan juga melanda beberapa anak manusia tengah duduk di ruang tengah mansion Cyrus Daniyal yang tak lain kediaman Filia. 


Sore tadi Irene dan Luna memutuskan menemui Filia. Berusaha berdiskusi untuk mencari solusi agar sang atasan tidak diturunkan dari kursi kebesarannya. 


"Kamu ingat-ingat lagi, Fil." Irene sudah memberikan tatapan memohon. 


"Aku ingat, Ren. Setelah membuat surat itu filenya aku hapus." Filia bersikukuh dengan ingatannya. 


"Apa mungkin ada orang lain yang bisa memulihkannya ?" Luna melayangkan tatapan pada tiga sahabatnya. 


"Aku rasa juga seperti itu. Mungkin Filia merasa sudah menghapus filenya. Tapi siapa tahu lupa atau ada yang bisa memulihkannya." Xavier bersuara di tengah perasaan yang rumit. 


"Aku sangat ingat, laporan itu sengaja aku buat agar Bree tidak menemuiku lagi." Filia mengutarakan alasan pembuatan laporan. 


"Di depan ruangan itu ada cctv. Besok kita lihat." Ingatan Xavier sedikit membaik. Gurat wajahnya juga terlihat bersemangat. 


"Aku harap kalian bisa membantu tuan Bree. Dan untuk kamu Filia tanggalkan dulu kebencianmu padanya karena nasib ribuan orang ada dipundak tuan Bree." Tegas Irene sekali lagi.


"Sejujurnya aku tidak mendaftarkan Bree sebagai pasien rumah sakit jiwa." 


Pengakuan Filia mengejutkan semua orang. Tiga pasang mata menatapnya meminta sebuah penjelasan. 


"Jelaskan Filia." Desak Luna merasa ada titik terang. 

__ADS_1


"Aku tidak mendaftarkan Bree sebagai pasien sakit jiwa. Aku sengaja membuat laporan itu agar dia menjauh dariku dan juga menganggap aku mendaftarkannya. Tapi siapa sangka semua itu menjadi kenyataan dan aku benar-benar tidak tahu siapa yang mendaftarkan tuan Bree. Sekarang kalian lihat, berada disisinya akan hanya mendapatkan masalah besar. Dan aku sangat membencinya. Karena sejak bertemu dengan Bree kehidupanku kacau jauh dari kata ketenangan. Bahkan aku sudah melepaskannya tetap saja terseret dalam sebuah masalah !" 


__ADS_2