Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Keputusan Filia


__ADS_3

Berita tentang penikaman Bree telah sampai pada publik, banyak dari mereka menyayangkan sikap tidak terpuji seorang Lisa Anella. Kabar itu telah sampai pula pada kerabat Bree Tyaga Adrian dan membuat mereka semua menjadi geram. Namun karena kesibukan yang meraja, malam ini lah ada kesempatan untuk mereka menjenguk putra mahkota itu. 


Sejak tadi bibi Vindy tak hentinya melontarkan kata maaf pada Bree, meskipun maaf telah diucapkan tapi Bibi Vindy tidak berniat untuk meminta sang keponakan maupun Filia untuk mencabut laporan. Ya, Bibi Vindy tahu putrinya bersalah. 


"Vindy, sudahlah. Bree pasti memaafkan Lisa tapi hukum tetap berjalan." Bibi Lexa akhirnya bersuara dengan posisi miring menenangkan sang adik.


"Aku hanya menyesal tidak bisa mendidiknya dengan benar." Suara tangis masih tersisa dan menimbulkan serak di suara bibi Vindy. Wanita paruh baya itu belum sanggup mengangkat kepala untuk menatap langsung pada Bree Tyaga. 


"Orang paling menyesal adalah aku, Bi. Malam itu selesai acara aku langsung pulang setelah berbicara pada Kak Bree. Aku menyesal tidak berada di tempat kejadian dan mencegah Lisa untuk mencelakai Nona Filia. Padahal aku adalah orang paling dekat dengannya tapi tidak bisa mencegah semua ini." Widan ikut menyuarakan isi hati dan penyesalan. Laki-laki itu menatap lekat wajah si tuan muda yang diam mendengarkan pembicaraan. 


"Bibi." Bree bersuara setelah bungkam beberapa saat. Ia berusaha mencari posisi nyaman untuk bersandar. "Aku juga bersalah dalam hal ini, karena perasaan Lisa yang tidak bisa aku balas. Sejak kami kecil dalam hatiku tetap menganggapnya adik. Walau aku tahu darah kita tidak terikat sama sekali, tapi perasaanku tidak bisa dipaksakan. Bagaimana bisa aku mencintai adikku sendiri ? Lisa hanya terobsesi ditambah lagi penolakanku padanya. Aku sadar aku juga memicunya melakukan ini." Sambungnya panjang lebar. 


"Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan diri. Terpenting Nona Lisa mendapatkan bimbingan setelah kasus ini selesai." Sahut Reiki yang tidak bergeser sedikit pun dari sisi brankar. 


"Lisa tidak bermaksud menikamku targetnya adalah kekasihku." Bree meringis merasakan nyeri di perutnya saat tak sengaja bergerak salah.


"Tuan." Reiki melirik cemas lalu mengatur kembali setelan ranjang agar Bree tidak terlalu duduk. 


"Cukup Rei, rasanya sedikit nyaman." Bree menghela nafas panjang sambil terpejam. 


"Nak, cepat sembuh kami pulang dulu, kamu istirahatlah." Bibi Lexa mengayun kaki ke arah brankar lalu membenamkan kecupan penuh sayang di kening si tuan muda. 


"Iya kalian hati-hati di jalan." Bree melemparkan senyum tipis dengan pandangan sayu. 


"Besok, kalau tidak sibuk aku akan kemari lagi." Widan ikut bangkit dari tempat duduknya. Sebagai wakil direktur laki-laki itu selalu sibuk. 


"Besok aku pulang ke Mansion." 

__ADS_1


"Tapi kondisimu masih belum sembuh." Bibi Vindy memberanikan diri mengangkat wajahnya. 


Bree tersenyum. "Tidak apa-apa, Bi. Aku merasa nyaman di Mansion. Axel juga akan menginap di sana." 


"Baiklah kalau begitu. Apa perlu Bibi juga menginap di mansion mu?" Tawar Bibi Lexa dengan mimik serius.


"Tidak perlu Bi, di sana sudah ada Bibi Jo yang akan merawatku selain Axel. Ada banyak asisten mansion yang membantu." Tolak Bree cepat. 


"Iya, kami pulang ya." Bibi Lexa melenggang keluar diikuti Widan dan Bibi Vindy. 


Bree menoleh pada Reiki yang fokus pada layar ponselnya. Dari garis wajahnya laki-laki itu terlihat serius. 


"Ada apa, Rei ?" 


Reiki mengalihkan pandang lalu tersenyum. "Produk baru kita diterima dengan baik di pasaran. Kalau produk ini sukses maka kita bisa membuat varian lain." 


"Saya panggil dokter Axel dulu." Asisten tampan itu gegas mengeluarkan benda pipih miliknya lalu mencari nama orang yang dimaksud. "Segera keruangan tuan Bree." Singkat dan padat kalimat terlontar dari bibir Reiki. 


...----------------...


Langkah Axel sangat lebar setelah menerima telpon dari Reiki. Meski singkat dokter itu tahu terjadi sesuatu dengan si tuan muda. Wajah Axel sedikit tegang sambil bercokol tanya di dalam benak. 


"Kenapa?" Tanya lahir dari bibir si dokter tampan seiring daun pintu ruang rawat Bree didorong. 


"Tuan Bree, merasa perih dan juga nyeri di bagian lukanya. Coba anda periksa dulu." Sahut Reiki sambil memberi ruang untuk Axel. 


"Kau banyak bergerak?" Laki-laki itu bertanya sambil membuka kancing baju bagian bawah Bree. 

__ADS_1


"Tadi salah bergerak." Si tuan muda menjawab tanpa membuka kelopak matanya. 


"Kenapa tidak hati-hati dari tadi pagi kau bergerak terus." Axel mengomel meluapkan kekesalan sambil meraih beberap peralatan. "Besok tidak usah pulang kalau lukamu memburuk." Lanjutnya mengoyak perban penutup luka. "Berdarah lagi." Axel melayangkan tatapan pada Reiki yang tengah mengawasi di seberang brankar. "Sudah aku katakan jangan banyak bergerak. Kalau sampai besok pagi masih berdarah, aku tidak berani mengizinkan mu pulang." Meski mulut bicara tapi tangan dokter itu bergerak membersihkan jejak darah. 


"Anda dengar, tuan ?" Reiki bersedekap tangan di dada melayangkan tatapan sinis. "Jangan bandel !" Sambungnya tegas. 


"Cepat pasang perbannya aku mengantuk." Bree memejamkan mata dan menutup pendengaran tidak ingin membiarkan omelan Axel dan Reiki masuk ke ruang rungunya. 


"Selesai, istirahatlah." Axel merapikan kembali peralatan lalu meraih injeksi untuk memasukan obat ke selang infus. 


"Hm." Bree menyahut dengan sebuah gumaman. 


Sementara Axel dan Reiki mendaratkan tubuh di atas sofa. Menatap lekat ke arah brankar. Andai mereka di posisi Bree pasti akan bersikap demikian. Bagaimana bisa tenang tiba-tiba kekasih hati menolak kehadiran dan memutuskan hubungan. 


...----------------...


Awan berganti warna kemilau pagi membawa energi positif sampai ke bumi. Hari ini sesuai keputusan dokter, Filia di perbolehkan pulang. Gadis itu memutuskan pulang pagi ke mansion milik Bree. Setelah memutuskan hubungan mereka Filia berniat meninggalkan Mansion itu, namun mampir lebih dulu untuk mengambil barang-barang pribadinya. 


"Bibi Mei, semua sudah siapkan?" Filia merapikan rambutnya sebelum keluar. 


"Iya Nona. Tapi apa anda yakin untuk meninggalkan mansion tuan Bree. Sementara dia masih dirawat disini." 


"Yakin, diantara kami sudah selesai. Dia juga sudah aku nyatakan sembuh. Kita mampir lebih dulu ke sana mengambil barang-barangku." Filia meraih tas dan menyampirkan ke bahu. "Mari Bi." 


Bibi Mei hanya mengangguk, dalam hatinya tidak tega meninggalkan rumah sakit tanpa menjenguk Bree Tyaga Adrian. Apalagi wanita paruh baya itu tahu luka tusuk di perut Bree kembali berdarah dan Nona nya sama sekali tidak berniat menjenguk. 


Langkah Filia sangat yakin meninggalkan ruang rawatnya. Hari ini Xavier tak menjemput karena menangani pasien baru. Laki-laki itu juga merasa tidak enak hati atas keputusan Filia. 

__ADS_1


Pagi yang cerah tertangkap di dalam obsidian Filia Aruna. Sejak kejadian di atas rooftop gadis itu tak sekalipun menjenguk Bree. Hati begitu membenci terlebih nyawanya hampir melayang karena berada di sisi Bree. Gadis itu tak menyesali keputusan saat ini. 


__ADS_2