Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Akan beristirahat


__ADS_3

Usai makan malam, Bree dan Reiki memasuki kamar masing-masing membawa afeksi yang tak dapat ditakar dan dibaca. Laki-laki pemilik manik mata hitam pekat itu bersandar di muara balkon kamar, hatinya sakit dan jiwa juga terasa kosong. Pasokan oksigen kian menipis dengan harapan yang sudah tidak terlihat lagi. 


"Selamat Yang Mulia, anda berhasil menyelesaikan misi ini. Jiwa itu pergi dengan tenang. Sekarang hanya tinggal jiwa anda sendiri." Sosok berjubah putih tiba-tiba datang dan berdiri berseberangan. Manik matanya lurus ke arah taman plumeria yang gelap. 


"Ya, aku berhasil tapi tidak dalam hal lain." Bree menunduk kepala sejenak lalu mengangkatnya kembali sambil menghela nafas panjang. "Apapun akhirnya aku siap menerima." Lanjut si tuan muda tanpa menoleh. 


"Maaf karena hanya sampai disini bantuanku." Pria tua berjubah putih menoleh ke samping dengan pandangan dalam. "Aku tidak memiliki kuasa lagi mengendalikan semuanya karena semua tergantung pada ingatan ratu." Lanjutnya terdengar pelan. "Maafkan aku Yang Mulia." 


Bree hanya terdiam sampai sosok itu menghilang dari sisinya. 


Aku menduga Ratu sudah mengingat semuanya tapi dia menolak untuk ingat. Mustahil dia pergi dari sisiku hanya masalah yang kemarin. 


Si tuan muda mengangkat tangan kanannya lalu meletakan jari jempol diatas remote control, detik berikutnya lampu rumah kaca mati hanya tersisa gelap. Seperti hati Bree yang gelap tanpa cahaya dan warna. Rasanya, laki-laki itu seolah kembali ke beberapa tahun silam ketika mendiang Ratu dan Raja meninggalkannya. Terkurung dalam sepi tanpa tahu celah cahaya untuk jalan keluar. Bree terperangkap di dalamnya seorang diri. 


...----------------...


Hari yang ditunggu sudah tiba, penentuan nasib seorang Bree Tyaga Adrian. Laki-laki itu sudah bersiap diri dengan raut wajah sedikit pucat. Energinya seolah terkuras akhir-akhir ini, aroma plumeria juga tak setajam biasanya. Sejak malam itu taman plumeria dan rumah kaca tidak pernah lagi terlihat terang. 


"Tuan, wajah anda pucat sebaiknya istirahat di rumah saja." Reiki begitu khawatir dengan kondisi sang atasan. Tubuhnya refleks berdiri ketika ayunan langkah si tuan muda mendekat. "Jangan memaksakan diri." Lanjutnya.


"Ayo kita berangkat aku baik-baik saja, nanti malam aku ingin pergi ke Mansion Cyrus bertemu ratu Filia untuk yang terakhir kalinya." 


"Tuan." Tenggorokan Reiki terasa tercekik, kehilangan seolah sudah di ambang mata. "Jangan katakan itu, anda tidak akan kemana-mana. Apa saya harus mendatangi Dokter Filia ?"


"Jangan, Rei. Kau masih belum memahami semuanya." Bree berucap tanpa menghentikan langkah. 


"Apa teman-teman anda perlu saya hubungi ?" Reiki mulai gelisah dan ketakutan. Manik matanya mulai menghitung mundur waktu di pergelangan tangan. 


"Tidak, cukup hanya kamu yang tahu." Bree mendaratkan tubuh di kursi meja makan. Selera makan laki-laki ini menurun karena itu tubuhnya sedikit kurus. 


"Baiklah, biarkan saya egois hari ini." Pita suara Reiki terdengar bergetar. Kakinya melangkah ke arah intercom yang tergantung di sudut dinding. "Kunci gerbang jangan biarkan ada yang bertamu, katakan tuan Bree sedang tidak menerima tamu. Seluruh sopir diliburkan dengan alasan apapun jangan sampai ada mengantar tuan Bree keluar tanpa izin dari saya." Asisten tampan itu berkata dengan tegas tanpa menoleh dan persetujuan. 


"Apa yang kamu lakukan, Rei ? Aku harus ke kantor." Bree meletakan gelas white tea yang telah kosong. Tidak ada amarah terkandung di dalam kalimat itu, ia mengerti perasaan sang asisten.


"Anda tidak akan ke kantor, kita libur. Saya sudah menghubungi Irene dan Luna. Saya sendiri yang mengantarkan anda ke Mansion Cyrus." Tanpa sarapan Reiki meninggalkan meja makan. 


Bree hanya diam tidak menjawab dengan santai laki-laki itu melanjutkan sarapan, meski tidak berselera tapi ia harus mengisi amunisi untuk malam ini. Menghabiskan waktu beberapa menit untuk sarapan, Bree membawa langkah ke arah kamarnya. Di sana laki-laki itu menanggalkan pakaian kerja dan mengganti dengan baju santai. Obsidian Bree tertuju pada lipatan jaket rajut berwarna putih di atas kasur. Senyum sedikit terukir melihat jaket hasil rajutannya sangat cantik. Ya, Bree membuatnya dengan penuh cinta. Karena sudah mendapatkan larangan dari Reiki untuk keluar dari Mansion. Bree memutuskan untuk membungkus jaket rajut itu dan memasukan ke dalam paper bag tak lupa ia bersiap membuat kue untuk Filia Aruna. 


"Bisakah anda pertimbangkan, Tuan Bree sangat mencintai anda." Reiki berbicara di telepon sambil memberikan handycam pada seorang asisten Mansion untuk mengambil momen saat Bree membuat kue. "Jangan pernah menyesal jika anda benar-benar kehilangan nanti." Lanjutnya menatap sendu pada punggung lebar sang atasan.


"Jangan memaksaku asisten Rei." 

__ADS_1


Reiki mengangguk meski lawan bicaranya tidak melihat. "Baiklah karena ini pilihan anda. Masih ada sedikit waktu untuk memikirkannya lagi." Laki-laki itu memutuskan telepon lalu mengayun langkah menghampiri seorang asisten yang fokus mengambil video. "Tuan, lihat kemari." Reiki mengarahkan handycam lebih dekat tak dipungkiri kabut mulai menutup retina saat senyum manis Bree mengembang. 


"Kau berlebihan, Rei." Tangan si tuan muda begitu lihai memainkan peralatan dan bergerak kesana kemari. 


"Setidaknya ada pengobat rindu yang bisa saya lihat kalau anda benar-benar pergi."  Setetes kristal bening jatuh dari sudut mata pria itu.


"Kamu menangis." Bree tersenyum tipis sambil menata beberapa bahan di atas kue. Buah cherry mempermanis tampilan kue itu. 


"Siapa yang menangis." Sanggah Reiki cepat sambil melempar pandang ke segala arah. 


...----------------...


Sarayu malam membawa gelombang tak biasa, belaian angin sedikit mencekam dari biasanya. Di ketinggian langit tidak ada bulan maupun bintang, semua seakan bersembunyi di balik selimut langit malam yang setengah menghitam. 


"Tuan, kita sampai." Reiki menghela nafas menatap tingginya pagar mansion Cyrus. Dada laki-laki itu berdebar hebat diiringi takut yang luar biasa. 


"Kenapa kita berhenti disini ?" Si tuan muda bertanya dengan tatapan bingung. "Kenapa tidak langsung masuk saja?" Lanjut tanya kembali terdengar. 


"Sebentar lagi." Reiki menginjak pelan pedal gas saat gerbang dibuka. Sekali lagi hembusan nafasnya terdengar berat. 


"Apa kamu sudah menghubungi Bibi Mei kalau kita kesini." 


"Iya, apapun terjadi tolong bertahan tuan." Kalimat permohonan itu terucap setelah keheningan sempat menyela. 


Reiki menatap sejenak gurat wajah sang atasan. Kepalan tangan membuktikan jika asisten tampan itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bree menjulurkan kaki untuk turun ke atas tanah, sejenak dengan rakus ia menghirup oksigen mengisi paru-paru. Ada perasaan gemuruh di dalam relung hati namun sebisa mungkin Bree menenggelamkannya, ia tahu ini akhir perjalanan cintanya dan hukuman nyata yang akan diterima karena kesalahan atas kebaikan ratu di masa lalu. 


"Mari tuan." Reiki mensejajarkan tubuh sambil membawa kotak berisi kue. 


Bree mengangguk lalu mengayunkan kaki untuk lanjut masuk. Di teras rumah Bibi Mei berdiri menyambut dengan iris mata terbingkai kaca-kaca. Kasih sayang tumbuh di hatinya selama tinggal di mansion medium milik Bree. 


"Selamat datang, Tuan." Getaran nyaris menenggelamkan suara wanita paruh baya itu. Meski begitu senyum penuh kehangatan masih tersuguh. 


"Terimakasih Bibi Mei, maaf merepotkan dan melibatkan bibi." Bree setengah merangkul tubuh wanita yang seusia bibi Joana itu. "Dimana dia ?" Tanyanya tak sabar. 


"Di ruang tengah bersama Nona Irene, Nona Luna dan juga Dokter Xavier." 


"Baiklah, aku boleh masuk." Bree menoleh sambil tersenyum tipis. 


"Tentu, silahkan. Anda begitu kurus dan pucat. Apa anda sakit ?" Fokus bibi Mei pecah setelah menatap lamat si tuan muda. 


"Aku sehat Bi, hanya saja beberapa minggu terakhir aku benar-benar menguras tenaga." Bree menjawab sambil mengimbangi langkah Bibi Mei. 

__ADS_1


Langkah laki-laki itu terhenti ketika pandang jatuh pada objek yang di rindu. Ingin rasanya berlari merengkuh sang gadis ke dalam pelukan, menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang. Semua hanya ada dalam bayangan saja karena itu tidak akan pernah menjadi nyata. 


"Selamat malam semuanya." Suara Bree menarik perhatian semua orang yang duduk sambil tertawa larut dalam cerita. 


"Siapa yang mengundangnya ?!" Suara ketus Filia membungkam tawa yang tadi mengudara. Bahkan bibi Mei tidak berani mengangkat wajahnya. Tatapan gadis itu tajam kentara dengan kebencian yang menggunung. 


"Aku datang sendiri tanpa ada yang mengundang." Bree melangkah lebih dekat. "Aku hanya ingin melihatmu sekali saja." 


"Pulanglah, kehadiranmu tidak dibutuhkan disini." Filia membuang wajahnya sambil bersedekap. Gadis itu terlihat berkali lipat cantik dalam balutan gaun selutut berwarna putih. 


"Aku akan pergi setelah bertemu denganmu dan memberikan hadiah ini." Bree mengulurkan tangan bermaksud memberikan hadiah.


"Bawa hadiah itu pergi, aku tidak menyukainya." Lagi, penolakan yang Filia berikan. Sementara itu Irene dan Luna meremas jari merasa kasihan pada atasan mereka. "Asisten Rei bawa atasanmu ini pergi dari sini." Lanjut gadis itu melempar tatapan ke arah pemilik nama.


"Dokter Filia bisakah anda memikirkannya lagi, percayalah kalau anda melewatkan malam ini maka hanya ada penyesalan yang anda rasakan." Reiki memberi tekanan dan itu sukses membungkam si dokter cantik. 


"Beri aku kesempatan malam ini saja." Bree masih berusaha dan melangkah lebih dekat.


"Pergi !" Nada dingin itu terdengar menusuk berkali lipat sakit dari bibir Filia. "Kamu tidak dibutuhkan disini." 


"Aku mohon sekali saja, aku merindukanmu, ratu." Manik mata Bree sudah memerah dengan kabut mulai menyelimut. "Sekali saja biarkan aku berada disisimu hanya beberapa jam." Permohonan itu menghancurkan benteng pertahan dua gadis di ruang tengah itu. "Aku mohon." Lanjut Bree meruntuhkan segala harga diri. 


Tanpa menjawab Filia Aruna meninggalkan tempat, setengah berlari ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Bree menjatuhkan pandang ke lantai disertai kepala tertunduk lemah. 


"Tuan kita pulang." Reiki sudah tidak bisa menahan perasaan sakit di hatinya melihat sang atasan terabaikan. 


"Sebentar, aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya." 


"Tuan." Irene dan Luna bersamaan bersuara. Isak keduanya mulai terdengar namun mereka sadar tak pantas untuk ikut campur. 


Di sudut lain, Xavier menundukkan kepala tanpa berkata. Entah apa membuat laki-laki itu terdiam duduk di sofa. Tak jauh dari sana, Reiki mengusap wajahnya kasar sambil menatap punggung Bree yang semakin menjauh menaiki anak tangga. Ya, atasannya gegas menyambar kotak kue dari tangannya dan menyusul Filia Aruna. 


Bree mengetuk pintu kamar hingga tiga kali tapi sayangnya tidak ada sahutan dari dalam sana. "Baiklah, mungkin kamu memang tidak ingin melihatku. Jadi biarkan aku egois sekali ini saja." Laki-laki itu mendaratkan tubuh di atas lantai, duduk dengan posisi menyandar di daun pintu. Kaki kanannya terjulur dan yang kiri ditekuk berdiri. "Kamu pasti muak mendengar suaraku, aku kesini bukan memaksamu untuk kembali ratu Filia. Karena kesempatan itu memang tidak ada dan kamu memiliki hak untuk menolak memberi kesempatan." Laki-laki itu memejamkan mata merasakan daya tahan tubuhnya sedikit menurun. "Awal bertemu di istana, aku sudah jatuh cinta padamu tapi aku terlalu gengsi mengakuinya karena masih menaruh curiga dengan kehadiranmu yang tiba-tiba. Ratu Filia, terimakasih sudah memberi warna dalam hidupku yang hitam. Terimakasih sudah mengajarkanku tersenyum, bahagia, berjuang dan bermimpi. Terimakasih karena sudah hadir di dalam hidupku yang sepi. Kamu adalah orang pertama mengeluarkanku dari penjara kesepian." Bree menatap kotak hadiah di sisinya sambil mengusap embun yang mencair di sudut mata. "Aku minta maaf karena tidak bisa membahagiakanmu karena itu aku menerima segala keputusanmu, ratu Filia. Aku berharap di kehidupan ini masih bisa bersamamu tapi nyatanya tidak. Ah, aku sudah banyak bicara." Si tuan muda terkekeh lalu membenarkan posisi duduknya dengan bersila. Sejenak ia meraup rakus oksigen yang terasa hampa di sekelilingnya. Bumi seolah perlahan terhenti dan menertawakannya. "Kita tiup lilin ya." Lanjutnya membuka kotak kue lalu menyalakan pemantik. Di anak tangga Reiki, Luna dan Irene serta bibi Mei tak kuasa menahan air mata. "Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun ratu Filia, selamat ulang tahun." Bree bertepuk tangan dan bernyanyi sendiri lalu meniup lilin." Selamat ulang tahun Ratu Filia. Semoga bahagia selalu menyertaimu. Ini ada hadiah dariku semoga kamu suka. Aku pamit dan maaf atas kesalahan ku selama ini." Lanjut Bree langsung bangkit dari tempatnya duduk. 


Di balik pintu Filia mengatup bibirnya sekuat tenaga, tubuh ramping itu tergeletak di atas lantai dengan air mata yang berderai. Tangisnya pecah ketika suara langkah kaki Bree terdengar menjauh dari daun pintu. 


"Rei, ayo kita ke kebun plumeria." Bree berkata sambil menyeret langkah. Dadanya terasa sesak disertai pandangan yang memburam. 


"Tuan, anda sakit ?" Reiki berusaha menghentikan lajunya air mata dengan langkah sedikit cepat. "Bagaimana kalau besok siang saja." Tawarnya sambil mengimbangi langkah.


"Aku akan beristirahat di rumah kayu." 

__ADS_1


 


__ADS_2