
Hanya hitungan menit kini Mansion Bree Tyaga Adrian telah di sambangi para sahabatnya. Mendengar keributan terjadi mereka gegas meninggalkan pekerjaan, seperti biasa bibi Joana akan mengabari dengan cerita lengkap versi dirinya.
"Axel yang dipanggil, kenapa kalian juga datang?" Pertanyaan itu terdengar menyebalkan lahir dari bibir si tuan muda.
"Tentu saja mengkhawatirkanmu !" Leon menjawab kesal sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di dinding sofa. "Bisa-bisanya kalian berkelahi." Sambungnya melemparkan tatapan kesal pada dua gadis yang tengah di obati Axel.
"Dia yang menyerang Filia lebih dulu, jelas saja aku membela nya." Sahut Irene tak mau kalah sambil sesekali meringis karena usapan kasa bercampur alkohol.
"Aku melihat Irene kewalahan dan Filia terjepit jadi aku membantu." Tambah Luna menggebu.
"Tapi tetap saja kalian dapat luka." Cibir Axel menatap jengkel tanpa menghentikan tangannya mengobati.
"Kukunya sangat panjang, pasti banyak bakteri menempel." Gerutu Irene masih merasa belum puas bertarung.
"Apa Filia juga terluka?" Eros melempar tanya karena gadis itu diam sejak tadi.
"Tidak, hanya telapak tangannya yang merah." Sahut Bree tanpa menoleh. "Ratu Filia sangat keren tadi, meskipun cara bertarungnya sedikit lucu. Di istana, dia akan melompat di udara dan mengayunkan pedang." Lanjutnya tersenyum.
"Dan kau bangga ?!" Leon mencibir dengan sinis.
"Tentu saja, ratu Filia bisa mengalahkannya. Dan air berubah jadi batu dingin ini sudah menetralkan rasa sakitnya."
"Itu Es batu, Bree. Es batu !" Axel membenarkan. Tak habis pikir putra mahkota yang bangun dari koma itu menjadi udik setengah mati.
Reiki hanya menekan pangkal keningnya ketika mode kuno si tuan muda aktif, dia terburu-buru meninggalkan kantor setelah dapat kabar jika dua sekretaris utama tidak akan kembali ke kantor karena terlibat perkelahian dengan Lisa.
"Aku sudah sejak lama ingin menghajarnya." Irene mengatakan keinginannya dengan penuh semangat. "Terima kasih, Fil. Kamu sudah mewakilkan tanganku tapi aku berharap suatu hari nanti akan memukulnya dengan tanganku sendiri."
"Kalian tidak tahu saja setelah ini paman Marcel akan menyerang Bree. Pasti gadis beracun itu telah menebar fitnah." Leon meraih gelas teh miliknya lalu meminumnya perlahan.
"Biar jadi urusanku." Sahut Bree meletakkan kain dingin untuk mengompres. "Aku sudah menyuruh sopir mengatakan yang sebenarnya dan juga menyampaikan jika dia sudah dapat balasannya yaitu memar di wajahnya."
"Kau gila !" Pekik Axel. "Ingat saat itu, kamu dihajar habis-habisan karena dituduh hampir saja melecehkannya." Laki-laki itu sangat ingat bagaimana Bree remaja dirawat di rumah sakit karena hantaman keras dari pukulan Paman Marcel.
"Saya akan berada di sisi Tuan muda dalam dua puluh empat jam." Sahut Reiki dengan mimik serius. Bahkan laki-laki itu menegakkan duduknya.
__ADS_1
"Jadi kau akan mengikutiku sepanjang waktu?"
"Tentu Tuan, demi keamanan anda."
"Meskipun ke kamar mandi ?" Dibalas anggukan dari Reiki. "Tidak kusangka kau ingin melecehkanku." Bree menatap sinis sambil menyandarkan tubuhnya.
"Bukan seperti itu, Tuan." Sanggah Reiki cepat, denyutan pusing terasa kembali ketika si tuan muda gagal paham.
"Kau seperti kasim ku saja." Bree memajukan tubuhnya meraih gelas white tea lalu menyodorkannya ke bibir sang ratu. "Ratu, minumlah." Ucapnya lembut.
"Tuan, anda belum menjawab pertanyaan saya tadi." Seru Luna masih penasaran kenapa Bree membenci Lisa.
"Pertanyaan apa?" Eros meraih garpu lalu menancapkannya pada potongan buah yang diinginkan.
"Kenapa tuan Bree membenci Nona Lisa, bukankah mereka kerabat?"
"Di waktu remaja." Axel mengambil alih untuk menjawab. "Lisa dan Bree tinggal di mansion yang sama yaitu di mansion lama. Pada saat malam ulang tahun bibi Ivanka, kami penasaran tentang rasa wine yang disukai kakek. Jadi kami mencicipinya diam-diam. Di antara kami Bree yang paling banyak dan akhirnya mabuk. Aku masih ingat waktu itu paman Gio yang memindahkan kami ke kamar. Setelah bangun pagi, tiba-tiba ada Lisa di dalam kamar Bree yang duduk menangis dengan selimut menutupi tubuhnya. Semua orang terkejut termasuk paman Adrian dan Bibi Ivanka. Tanpa mendengar penjelasan, paman Marcel langsung memukul Bree yang belum sepenuhnya bangun dari tidur. Dia dituduh melecehkan Lisa yang dibenarkan gadis itu."
"Apa kamu melakukannya?"
"Ratu Filia, aku tidak sehina itu untuk menyentuh wanita yang bukan hakku untuk menyentuh."
Filia menghela nafas panjang menetral gelenyar aneh yang menyusup di hatinya. "Maaf, aku masih terbawa emosi." Ucapnya menyesal.
"Selanjutnya seperti apa?" Seru Irene ingin mendengar kelanjutan cerita.
"Aku mengelak tuduhan itu karena memang tidak benar, seingatku setelah minum kami langsung tidur." Sahut Bree melanjutkan cerita. "Lisa diperiksa, karena Papa tidak terima aku di tuduh begitu saja. Tak hanya itu Cctv memperlihatkan jika Lisa yang menyelinap masuk ke dalam kamarku karena tidak di kunci paman Gio. Dia memanfaatkan keadaan." Lanjutnya menatap lembut iris mata Filia.
"Paman Adrian marah dan mengusir mereka dari Mansion." Eros menyambung bagian cerita. "Akibatnya kami dihukum oleh Bibi Ivakan membersihkan mansion tanpa bantuan asisten, kalian bayangkan bagaimana lelahnya."
"Ya ampun ! Aku tidak menyangka, tuan muda Bree ternyata lemah dalam hal minuman. Melihat garis wajahnya kalau tuan Bree adalah peminum handal."
Cibiran yang datang tiba-tiba itu mengalihkan perhatian. Di ujung ruangan seseorang berpangku tangan bersandar di dinding. Tak luput pula senyum tipis tertarik di sudut bibirnya.
"Xavier." Filia tersenyum. Binar matanya tak lagi menyoroti kekesalan ataupun cemburu. Suasana hati gadis itu langsung berubah setelah kehadiran sahabatnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu bersemangat melihat pengawal itu, ratu." Bree menatap tidak suka pada orang yang dimaksud.
"Jelas saja Filia bersemangat, karena aku datang untuknya." Xavier mendaratkan tubuhnya di sofa. "Apa kau terluka?" Tanyanya lembut.
"Tidak."
"Syukurlah, apa perlu aku membalasnya?" Xavier menatap serius dengan tangan terkepal. "Pasti gadis gurita itu yang lebih dulu mencari masalah." Sambungnya menghembus nafas kesal.
"Aku tidak apa-apa."
"Tapi dia menjambakku, Xavier." Irene mengadu dengan manja sambil menunjuk bagian rambutnya yang masih terasa sakit.
Leon dan Eros tak berkedip melihat sisi lain Irene yang selama ini mereka kenal tegas dan penuh wibawa. Rasanya mereka gemas ingin menoel pipi gadis cantik itu.
"Tuan Leon, tuan Eros. Kenapa pipi kalian merah?" Pertanyaan Reiki membuat semua orang menatap kearah pemilik nama.
"Iya benar, pipi kalian merah." Seru Axel setelah mengamati dengan benar. "Apa kalian demam?"
Eros dan Leon salah tingkah, melihat Irene bersikap manja membuatnya kedua gemas hingga merona.
"Kamu di jambaknya ?!" Xavier menanggapi ucapan Irene. "Aku akan membalas menarik rambut guritanya bila bertemu, tenang saja aku akan membalasnya untuk kalian bertiga." Ucapnya menggebu. "Berani sekali dia menyentuh kalian."
"Mulai hari ini Filia berhati-hatilah dimanapun kamu berada. Paman Marcel akan membalas untuk putrinya, dia bisa menerima jika bersinggungan dengannya tapi dia akan murka jika menyinggung putrinya." Seru Eros serius. Matanya menatap lurus ke arah gadis itu. "Dan kamu Bree, untuk hari ini kami akan menginap disini jangan sampai paman Marcel menyentuhmu."
"Iya, aku setuju." Sahut Leon cepat. Bagaimanapun mereka harus ada saat Bree dalam masalah. Mengingat laki-laki itu sangat lemah.
"Terserah pada kalian saja, yang penting tidak mengikutiku dalam waktu dua puluh empat jam." Sindiran seketika dilayangkan si tuan muda.
Reiki mendengus kesal lalu beralih pada Irene dan Luna. "Kalian juga hati-hati."
"Seberapa bahaya laki-laki itu?" Xavier bertanya seolah ingin tahu seberapa kuat lawan mereka.
"Dia banyak memiliki pengawal tangguh dan terlatih." Axel meletakkan tas kerjanya di lantai bawah.
"BREE TYAGA ADRIAN."
__ADS_1