
Sang surya merangkak naik dengan posisi di tengah lengkungan cakrawala. Terik yang tidak biasa membuat dahaga terasa begitu menyiksa. Filia Aruna, memutuskan untuk makan siang di luar bersama teman-temannya. Gadis beraroma khas plumeria itu mengayun kaki ke arah mobil yang telah disiapkan Bree Tyaga Adrian. Sebab, laki-laki itu tak yakin sempat untuk menjemput sang pujaan.
"Fil, aku ikut." Xavier menghampiri setengah berlari.
"Tadi tidak mau." Cibir gadis itu kesal. "Ayo, kamu yang menyetir." Sambungnya menyerahkan kunci mobil.
"Baik juga si tuan muda." Xavier berdecak kagum melihat mobil mewah yang di naikinya.
"Inilah menggangguku akhir-akhir ini. Bree selalu memberikan hal yang tidak terduga, aku khawatir metode yang dijalani sekarang akan membuatnya semakin merasa berada di zaman kuno." Filia menghela nafas panjang mengusir fakta jika hatinya diam-diam menaruh rasa.
"Setelah dia puas meminta maaf, aku yakin dia akan kembali seperti semula. Bree bukan gila atau semacamnya." Seulas senyum dengan tatapan lurus terlihat di wajah Xavier.
"Dan aku tidak ingin terjebak rasa yang seharusnya tidak ada, Bree akan sembuh. Apa perlakuannya tetap sama? Aku tidak ingin sakit hati tapi perlakuannya lambat laun akan membuatku luluh dan berharap."
"Maka jangan libatkan perasaan dalam masalah ini, jika kamu tidak ingin sakit karena itu. Resiko yang kita tanggung apabila berani mencintai adalah bisa menerima konsekuensinya." Sungguh kalimat itu sebenarnya penguat untuk Xavier sendiri.
Mobil dikendarai laki-laki itu berhenti disalah satu rumah makan tradisional. Xavier sudah hafal apa yang disukai Filia. Kaki keduanya terayun untuk masuk ke dalam. Manik mata bergulir ke segala arah mencari sosok yang tengah menunggu.
"Filia, Xavier !" Irene melambaikan tangan dengan raut sumringah. "Ternyata kesibukan sangat menyita waktu. Apalagi Filia yang standby di samping tuan Bree." Lanjutnya tak luput menggoda.
"Hei Xavier jangan memasang wajah masam itu ! Giliran, selama ini kamu yang selalu menempel pada Filia." Sambung Luna tersenyum mengejek.
"Gara-gara si tuan gila itu, Filia jarang berkumpul." Gerutu Xavier.
"Bree tidak gila." Ralat Filia menatap tidak suka.
"Wah Ratu Filia marah. Kau tahu tuan Bree selalu menceritakan tentangmu dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sepanjang hari yang disebut hanya ratu Filia." Irene terkekeh mengingat atasannya yang tiada henti mengoceh sang ratu.
Wajah Filia memerah, tak dipungkiri cerita itu membuatnya malu dan juga senang. Sesibuk apapun laki-laki itu selalu mengingatnya. Namun fakta kembali bicara Bree tengah sakit, rona merah di pipinya hilang tanpa bekas berganti gurat sendu.
"Hei kenapa dengan wajahmu, tadi merona sekarang sendu?" Luna terbahak lucu, tangannya terangkat menyentuh kening Filia. "Kamu baik-baik saja."
"Hatiku yang tidak baik-baik saja."
"Ha?"
Tawa Luna dan Irene terhenti seketika melihat mimik serius di wajah Filia, manik mata mereka meminta penjelasan lebih lanjut dan lupa ada raut sedih di antara mereka.
__ADS_1
"Bree laki-laki baik dan hangat, dia selalu memperlakukanku dengan istimewa. Menomor satukan aku dalam hal apapun kecuali keadaan yang tidak mendukungnya. Jika dia pulang bekerja, Bree akan berkata lelah lalu memeluk atau menggenggam tanganku. Dan perlakuan itu mengetuk hatiku. Jujur aku terbawa perasaan, tapi kembali lagi pada kenyataan jika dia sakit dan berkhayal aku adalah ratunya. Di saat dirinya sembuh apakah perasaannya tetap sama?"
Retak, Xavier menghembuskan nafas mendengar pengakuan gadis di sisinya. Retak itu tidak mengeluarkan darah namun ternganga dan cukup perih meski tidak patah.
Irene dan Luna terdiam menatap iba pada Filia, kisah yang dijalani sahabat mereka itu bukan hal biasa. Terlebih afeksi terlibat dalam masalah ini. Benar, apabila si tuan muda sembuh lalu apakah hatinya akan sama? Apa Filia akan tetap jadi ratunya ?
"Kamu akan tetap jadi ratunya."
Atensi teralihkan pada sosok yang tersenyum tipis menutup retak hati yang tanpa suara hingga orang lain tidak tahu dan mendengar.
"Maksudmu?" Irene melemparkan tanya.
"Meskipun Bree sembuh kemungkinan besar Filia akan tetap jadi ratu dan prioritasnya. Tapi bila ragu maka jangan libatkan hati dengan begitu tidak ada hati yang terluka." Xavier menyandarkan tubuh di kursi.
"Huh, aku bingung. Semakin aku kendalikan maka hatiku semakin terpengaruh." Filia kembali menghela nafas lelah dengan situasi.
"Menurutku, jika memang hati tidak sejalan dengan pikiranmu. Maka untuk sementara nikmati kebersamaan kalian. Bila sudah waktunya pergi makan kamu lepaskan dengan baik." Saran Luna serius.
"Itu sama saja menggali jurang patah hati." Ketus Xavier tak terima. Bagaimanapun hatinya hanya retak bukan patah dalam artian bisa disembuhkan.
"Oh jadi ini kumpulan gadis gat@l yang selalu mencari perhatian calon suamiku !"
"Nona Lisa, perhatikan bicara anda." Luna menatap tajam pada sosok yang tiba-tiba datang menghampiri dengan angkuh.
"Hei, kamu gadis waktu itu di pabrik, 'kan? Aku peringatkan menjauhlah dari Bree ! Jangan jadi gadis perebut calon suami orang !" Lisa menunjuk kasar ke arah Filia.
"Dia makhluk dari mana?" Xavier memindai tampilan gadis yang mengklaim Bree sebagai calon suami.
"Jaga bicara mu !" Bentak gadis itu. "Kau tidak mengenalku ?! Memang orang kasta rendah tidak akan pernah tahu bangsawan sepertiku." Hina Lisa pada Xavier.
"Bangsawan? Bukankah, anda tidak sedarah dengan tuan Bree." Sarkasme Irene tersenyum sinis. " Anda bertanya siapa dia, bukan?" Tunjuknya pada Filia dengan sorot mata. "Perkenalkan, Filia Aruna. Calon Nyonya Bree Tyaga Adrian."
Lisa menatap tajam. "Aku yakin kau sudah menggoda calon suamiku ! Apa kamu sudah naik ke atas ranjangnya?" Sinis gadis itu tersenyum meremehkan.
"Sayangnya benar, saat ini saya tengah hamil penerus putra mahkota Tyaga dan ngidam ingin makan disini. Bisakah, anda menyingkir dari pandangan saya ? Bayi Bree ini tidak ingin melihat wajah anda, Nona Lisa !" Filia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Saya pernah keguguran, jadi Bree sangat menyesal dan ingin cepat memiliki anak lagi." Senyum jahat terukir sempurna di bibir gadis itu.
Lisa mengepalkan tangan dengan bibir sedikit terbuka saking terkejut mendengar pengakuan Filia. Kepalanya hampir saja meledak karena amarah.
__ADS_1
"Dengar, aku akan melenyapkan bayi itu." Ucapnya tegas meninggalkan tempat.
Filia terkekeh geli di ikuti Irene dan juga Luna. Rasanya begitu puas membuat gadis angkuh tadi pergi dengan keadaan marah.
"Fil, kamu baru saja membuat masalah." Seru Xavier yang tanpa ikut tertawa.
"Benar apa yang dikatakan Xavier. Gadis itu berperangai buruk dan juga temperamental, hati-hati setelah ini dia akan selalu mengganggumu." Sahut Irene menghentikan tawa.
"Iya, Fil. Aku berharap kamu hati-hati." sambung Luna.
"Aku tahu, beberapa waktu tinggal dan dekat dengan Bree. Aku jadi mengerti, hidupnya tidak sedamai kita. Banyak hal yang terjadi dalam cangkangnya yang kokoh dan tersembunyi rapi. Sebelum mengibarkan bendera perang pada gadis itu, aku sudah memikirkannya tadi. Bree tidak seharusnya ditinggalkan namun di dampingi. Benar kata Xavier bila berani mencintai, maka jangan takut dengan sakitnya."
Xavier membuang pandang ke segala arah, menghalau rasa dan juga selaput kabut yang menutupi retina. Ya, laki-laki itu berani mencintai tapi tidak berani merobohkan dinding pertemanan. Namun, Xavier tidak akan mengaku mundur begitu saja, ia akan tetap memperlihatkan perasaannya.
...----------------...
Di atas rooftop sebuah gedung, ada seorang laki-laki yang menatap gusar ke layar ponselnya. Sesekali berdecak kesal karena nomor yang dituju tidak meninggalkan jejak. Jari-jari besar itu tampak gelisah berselancar di atas layar benda tipis yang kini tengah di pegang. Umpatan kasar mengambang di udara karena tujuan sambung suara tidak terjawab.
Satu tangan kiri terselip di saku celana dengan posisi tubuh bersandar di tembok pembatas. Kepala yang memiliki rambut lurus berbelah tengah itu menunduk memindai nomor yang akan dituju. Satu sentuhan nomor tersambung dan tangan terangkat menempelkan benda pintar itu ke telinga. Pergerakan bola mata terlihat gelisah bercampur amarah.
"Apa kau sudah melacak keberadaan, Yohan?"
"Maaf Tuan, Yohan dan anak buahnya hilang tanpa jejak."
"Bukankah, dia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, Lalu kemana mereka ? Ponselnya masih aktif saat mengatakan targetnya selesai." Laki-laki itu menghembus nafas gelisah.
"Saya akan berusaha mencarinya. Tapi benar Yohan sudah melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan saya sempat memotret mobil itu saat terbakar."
"Tapi hingga detik ini belum ada berita kematian Bree ! Apa kamu yakin dia selamat ?!" Bentak laki-laki itu.
"Saya akan mencari tahu."
"Secepatnya ! Dan pindahkan Regi ke desa lain keberadaannya terlacak. Anak buah asisten sialan itu sudah bergerak." Titahnya dengan wajah kemarahan. Tiupan angin di atas rooftop merusak sedikit tatanan rambut laki-laki itu hingga kebengisan di wajahnya terlihat mengerikan.
"Baik tuan dan ada kabar terbaru jika putra mahkota itu selamat."
"Apa ?! Pantas saja tidak ada upacara kematian. Dimanapun posisinya saat ini bila ada kesempatan habisi dia. Kau tahu Bree sangat mudah untuk di lenyapkan." Ucapnya memutuskan telepon dengan seringai puas menggiring.
__ADS_1