Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Pesona Ratu


__ADS_3

Mendung semakin menggelap, jauh di ketinggian langit kilat menyambar dengan akar-akarnya menyusup di sela awan hitam. Keheningan menyela halaman balai kehakiman, keraguan pun menggelitik hati sang  raja. 


"Yang Mulia, sungguh kami tidak tahu kemana barang-barang itu." Suara menteri militer An  kembali terdengar. 


"Benarkah ?!" Kehadiran ratu mengalihkan atensi semua orang. Langkah anggunnya begitu memukau digiring oleh dayang-dayangnya. "Bukti mengatakan jika anda terlibat konspirasi bersama beberapa kelompok untuk kepentingan pribadi." Lanjutnya disertai tatapan menusuk tubuh dua menteri di hadapannya.


"Yang mulia ratu, jangan menyebar fitnah." Sanggah menteri perdagangan Shu. Mata tua nya tak terima atas tuduhan ratu. "Apa anda memiliki buktinya?" Tantang pria paruh baya itu menyeringai sinis. Meski tubuhnya terikat di kursi tapi lidahnya masih berfungsi.


"Hakim Ji berikan buku besar catatan bahan pokok dan juga pasokan senjata." 


Tubuh kedua menteri itu membeku, pelipisnya mulai terlihat mengkilat karena keringat dingin. Seorang hakim muda gegas meletakan dua buah buku besar catatan barang keluar dan masuk di hadapan raja. Sementara laki-laki itu masih takjub dengan pesona ratunya. 


"Silahkan yang mulia, ini adalah buku besar, bukti masuk dan keluarnya beberapa barang termasuk bubuk mesiu." Ujar Hakim Ji  memberi tempat.


Raja terbangun dari rasa pesonanya, lalu menggulirkan pandangan pada dua tumpuk buku besar. Jari laki-laki itu terangkat untuk membuka lembaran buku. Sekali lagi tidak ada kesalahan di dalamnya. 


"Ratu, catatan ini benar tidak ada kesalahan di dalamnya." Raja melemparkan tatapan kecewa pada pemilik hati nya itu.


Senyum puas melengkung manis di bibir dua menteri yang tengah di interogasi, melihat tatapan kecewa dari sang raja. Mereka yakin sebentar lagi ratu juga akan mendapatkan hukuman karena menebar fitnah.


"Yang Mulia, di dalam catatan itu memang tidak ada kesalahan. Karena buku yang anda baca adalah palsu, laporan palsu !" Tegas ratu menatap tajam manik mata raja. Ia sedikit kesal, sebab laki-laki itu tidak bisa membedakan palsu dan juga asli. 


"Palsu ?" Raja membolak balik buku yang ada di tangannya. Tetap, buku itu terlihat asli. 


"Yang mulia, itu adalah laporan asli. Mungkin Ratu sedang kurang sehat." Sela menteri militer An  tersenyum meremehkan. 


"Pengawal Ta bisa dijelaskan !" Titah raja tegas, gurat kecewa dan marah tercetak jelas di wajahnya.


"Yang mulia, laporan di dalam buku ini memang palsu, semuanya telah di rekayasa dengan baik agar tidak ada kesalahan. Laporan yang asli bukan seperti ini." 


"Berikan laporan yang asli." 


Suara ratu kembali menggetarkan tubuh dua menteri yang sempat meremehkannya. Bahkan tanpa dosa dan malu, dua pria paruh baya itu terang-terangan menertawakannya. Hakim Ji kembali meletakan dua buah buku besar yang tertera tahun dibuatnya. Bahkan, catatan di dalamnya nampak tua.

__ADS_1


"Dari mana kalian mendapatkan buku ini?" 


Raja tercenung. Buku itu pernah ia lihat sebelumnya di dalam istana mendiang raja. Namun, setelah kejadian pembantaian raja. Buku itu tak tahu keberadaannya. Dan hari ini buku itu ada di hadapannya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka lembaran, benar saja banyak perbedaan di dalamnya.


"Kalian melakukan konspirasi dan berniat mengkhianati kerajaan ini ?! Apa kalian pikir karena kerabat ibu suri bisa melakukannya ?!" Amarah Raja berkobar. Buku tangannya memutih menggenggam buku besar yang asli. 


"Yang mulia, ini fitnah. Kami melakukan semuanya dengan baik dan hati-hati." 


Dua menteri membela diri dengan gugup yang luar biasa menguasai. Tak ada lagi senyum sinis penuh sarkas pada sang ratu. Hanya tatapan memohon dan lidah menjilat untuk pembelaan.


"Dimana gandum dan bubuk mesiu itu?" Raja bertanya sambil melangkah menghampiri kursi yang diduduki dua menterinya.


"Sungguh kami tidak tahu, Yang mulia." Ucap menteri militer An dengan pita suara bergetar.


"Yang mulia, gandum itu tersimpan di gudang persenjataan yang di bangun oleh menteri militer An. Lokasinya tidak jauh dari kerajaan ini arah selatan. Mereka melakukannya untuk persiapan perang melawan anda. Sebab, ibu suri menolak usul mereka untuk menjadikan pangeran sepupu anda menjadi raja." Jelas ratu lantang.


"Jadi mereka berniat melawan ku ?! Temukan gandum dan bubuk mesiu yang mereka simpan." 


Dua menteri itu bahu membahu membela diri. Mereka tak menyangka dari mana ratu dapatkan informasi itu. 


"Tuduhan ratu juga tidak terbukti karena tidak ada saksi." Seru menteri perdagangan Shu


"Hakim, bawa saksi masuk !" Titah ratu menyeringai jahat. 


Empat orang saksi melangkah masuk, tanpa di duga dua orang menteri itu meronta dari kursinya dengan ucapan permohonan ampun.


"Yang mulia mereka adalah saksi kemana gandum dan bubuk mesiu di larikan." Jelas hakim Ji dengan yakin. 


Empat orang saksi menyatakan kesaksian mereka, semenjak putra mahkota sudah mulai tahap pembenahan diri, dua orang menteri itu mulai melakukan konspirasi dan mengumpulkan bahan makanan dan juga persenjataan termasuk bubuk mesiu. Diam-diam mereka menyusun kekuatan untuk pemberontakkan, bagaimanapun juga mereka tidak ingin putra mahkota menaiki tahta terlebih dengan perangainya yang buruk. Namun, siapa sangka kedatangan permaisuri mampu menjadikan laki-laki itu seorang raja yang akan bersinar. 


"Ampun yang mulia." 


Dua laki-laki paruh baya itu memohon untuk pengampunan. Tak menyangka usaha mereka beberapa bulan ini sia-sia.

__ADS_1


"Bawa mereka." 


Prajurit tanggung menyeret dua menteri itu untuk dikurung. Meski rontaan dan permohonan masih saja dilakukan mereka. Namun, prajurit terlatih itu menulikan telinga. 


Raja menghela nafas panjang, kecewa yang sempat singgah di hatinya pada ratu karena dituduh menebar fitnah menguap begitu saja, berganti senyum penuh cinta dengan iris mata penuh damba. 


"Ratu dari mana kamu mendapatkan buku besar yang asli ini?" Raja meraih jemari ratu lalu menggenggamnya lembut.


"Yang mulia, buku besar itu hampir saja dibakar oleh menteri militer An. Tapi pengawal ibu suri menyelamatkannya. Sebelum kedatangan saya kesini. Ibu suri sudah curiga adanya pengkhianat karena buku besar itu ingin dimusnahkan. Sejak itulah, ibu suri membiarkan mereka mengganti buku itu dengan buku baru. Dan menyelesaikannya setelah anda menjadi raja." 


"Kau dan ibu suri sudah tahu ?" Raja menarik tubuh ratu ke dalam pelukannya. Bibirnya tak henti mengecup penuh cinta pucuk kepala ratunya.


"Iya." 


Raja dan ratu meninggalkan tempat itu, saling bergenggaman tangan dan mengayunkan langkah berirama anggun. Meski cuaca mendung, tak menghitamkan rasa di hati mereka. Bunga cinta itu bersemi indah di ladang hati, tersiram kasih sayang sebagai pupuknya. 


Pangeran kedua tersenyum melihat keharmonisan kakak laki-lakinya itu. Berita penangkapan menteri perdagangan dan juga militer sudah tersebar di penjuru kerajaan. Banyak menteri yang tak menyangka, abdi setia yang tak lain adalah kerabat ibu suri sendiri melakukan pengkhianatan. 


"Apa dia tidak malu menginginkan tahta milik putra mahkota." Cibir salah satu menteri. 


"Seandainya putra mahkota tak bisa menjadi raja, masih ada pangeran kedua." Sahut yang lainnya. 


"Tapi pangeran Nev tidak akan pernah menjadi raja, karena selir Ve bukan dari bangsawan." 


"Ah, itu benar." 


Gumaman itu seperti kumbang melubangi papan dengan dengungan masing-masing disertai opini sendiri. 


Raja dan ratu tiba di balai istana, pengangkatan menteri baru akan dilaksanakan besok hari. Tak lupa raja juga memberitahukan penyebab ditangkapnya dua menteri itu. 


"Ratu adalah ancaman ! Singkirkan dia maka tidak ada penghalang yang tangguh." 


 

__ADS_1


__ADS_2