Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Kejahatan Lain


__ADS_3

Gemuruh hebat dari langit menggiring langkah seseorang yang menuruni anak tangga. Tubuh ramping terbungkus piyama tidur dan dilapisi jaket rajut warna senada dengan si tuan muda begitu cantik terlihat. Seluruh atensi menatap ke arah Filia yang membawa langkah ke ruang tengah. Tidak ada salam sapa yang terucap hanya pandangan tertuju lurus pada dua pengacara yang tersenyum tipis padanya. 


"Selamat malam Nona Filia." 


"Selamat malam, kalian tahu saya ada disini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan tubuh yang mendarat di sofa tepatnya di sisi putra mahkota. 


"Iya, maaf sebelumnya kami ke rumah anda. Ternyata kosong jadi kami bertanya pada security dan mereka mengatakan anda ada disini. Maaf kelancangan kami hingga menyusul ke sini. Ada hal yang ingin kami bahas dan segera diselesaikan." Penjelasan panjang lebar dari pengacara itu membuat tanda tanya pada wajah Bree Tyaga Adrian. 


"Masalah apa?" Pertanyaan itu mewakili semua orang yang terucap dari bibir si tuan muda. 


Sang pengacara tersenyum lalu berkata. "Tiga tahun lalu, di malam ulang tahun Nona Filia terjadi kecelakaan tepatnya tabrak lari pada kedua orang tuanya yaitu Tuan Cyrus Daniyal dan Nyonya Ilona Zanna." 


"Apa ?" Bree menoleh pada pemilik hati. "Apa itu benar?" Laki-laki itu bertanya dengan tatapan sendu.


"Benar, saat itu aku ulang tahun dan acaranya di salah satu hotel milik keluarga. Tapi malam itu ada seseorang yang menjatuhkan ku ke dalam kolam renang. Karena aku tidak bisa berenang jadi tenggelam mungkin karena itu papa dan mama yang sudah pulang panik mendengar kabar dari Irene. Di perjalanan mereka mengalami kecelakaan." Filia menceritakan dengan kaca-kaca bening menutup iris mata. Kenangan itu adalah hal yang menyakitkan untuk diingat. "Sampai saat ini pelaku nya belum juga ditemukan." 


"Untuk itulah kami datang kemari, jadi penabrak malam itu adalah Tuan Marcel." 


"APA ?!" Tubuh bibi Vindy seketika lemas. Fakta yang baru didengar sangat menjungkir balik dunia wanita itu. "Ini tidak benar." Gumamnya dalam keadaan shock.


"Truk kontainer menerobos lampu merah hingga terjadi kecelakaan malam itu adalah pengemudinya Tuan Marcel. Siang tadi detektif Eros mengabari kami, plat dan rekaman pengawas cctv yang telah dicocokkan ke tempat kejadian sangat membuktikan. Sidik jari pada setir mobil membuktikan bahwa itu milik Tuan Marcel yang baru saja kami cocokan sore tadi."


Filia menyadar lemas mendengar semua itu, akhirnya pelaku yang melarikan diri dari tempat kejadian ditemukan dan dia adalah kerabat sang kekasih. 

__ADS_1


"Tenangkan dirimu." Bree gegas menarik tubuh ratunya ke dalam dekapan. "Semua baik-baik saja." Sambungnya membenamkan kecupan di pucuk kepala gadis itu.


"Aku tidak menyangka." Pita suara Filia bergetar. "Setelah tiga tahun akhirnya pelaku ditemukan." Gadis itu terisak di dada bidang si tuan muda. 


Bree menghela nafas panjang, buntut dari laporangnya ternyata mengungkap banyak kejahatan Paman Marcel. "Aku serahkan pada kalian untuk kasus kedua orang tua Filia. Dan kasus korupsi,  Kaili tetap berjalan pada jalurnya, begitu pada yang lainnya." Laki-laki itu memberi kode pada Reiki untuk melanjutkan pembicaraan. 


"Baiklah keputusan ada di tangan Nona Filia, untuk kasus kedua orang tuanya." Si asisten tampan mengambil alih pembicaraan. 


"Aku tetap menuntut tuan Marcel, bagaimanapun kasus ini bukan main-main karena menghilangkan nyawa orang lain." Filia menyahut setelah merasa sedikit tenang. 


"Kalau begitu besok kita bertemu di kantor, Nona." 


Para pengacara itu berpamitan selepas hujan. Kini tersisa hanya Widan dan Bibi Lexa serta Bibi Vindy. Isak tangis tak lagi terdengar hanya sembab yang tersisa, iris mata Bibi Vindy kosong tanpa isi, tiba-tiba perangkat lunak di kepala tak mampu mencerna apapun. Bibir terkatup rapat dengan raut wajah murung. 


"Iya, karena sudah malam biar menginap disini saja apalagi tadi hujan jarak rumahnya sangat jauh." Bree menutupi fakta jika sang ratu tinggal bersamanya. "Kalian juga menginap disini saja sudah malam." Sambungnya membawa tubuh bangun dari sofa. 


"Iya terimakasih, Nak." Bibi Lexa membawa bibi Vindy untuk masuk ke kamar tamu yang telah dipersiapkan.


Pembahasan tentang paman Marcel berhenti seiring waktu memangkas malam. Semua orang kembali ke dalam kamar guna mengistirahatkan daksa yang lelah. Hari ini begitu terasa melelahkan untuk semua orang. Banyak fakta yang terungkap dimana semua orang mengira semua baik-baik saja. Disitulah tipu terasa karena tak selamanya apa yang terlihat oleh mata selalu indah. 


...----------------...


Gelombang sarayu menerbangkan suara binatang alam tak mengusik ruang rungu Bree Tyaga Adrian, dalam bungkusan pakaian tradisional daksa gagah itu sangat menawan. Iris mata menatap jauh pada kaki langit tak bertepi, pikiran melayang terbang ke udara. Seolah meninggalkan raga kosong tanpa nyawa. 

__ADS_1


"Beban pikiran anda sangat berat, yang mulia." 


Bagai magnet, ruh Bree kembali tertarik hingga suara pria tua berjubah putih masuk ke gendang telinganya. Laki-laki itu menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Aku masih mencerna yang terjadi, aku hanya melaporkan Paman Marcel tapi tak menyangka fakta lain juga terungkap, termasuk kecelakaan yang menimpa kedua orang tua ratu Filia. Sekarang pertanyaannya adalah apa ayah mertua ku raja Re juga ikut datang kesini ?" Bree menggulirkan pandang ke samping. 


"Tidak semua orang bisa seperti anda, Yang Mulia. Sekarang ikuti saja jalan yang telah anda pilih ini. Sejak keputusan ditetapkan anda akan mencari ratu dan menebus kesalahan maka banyak hal yang anda temui. Perjalanan anda kemari adalah untuk sebuah misi, jika dulu di istana anda gagal mengungkap tabir kematian mendiang Raja. Maka disini anda harus bisa mengupas bungkus rahasia yang ada di keluarga Tyaga. Semua yang anda hadapi di sini adalah kilas balik dari masa lalu." Pria tua itu tersenyum kemudian berkata. "Jika dulu anda tidak berguna di istana maka disini gunakan diri anda dengan baik." 


"Kata-katamu menyakiti hatiku." Ketus Bree memasang wajah tidak suka. 


"Sebentar lagi, rahasia terungkap satu persatu jangan gegabah bisa saja semua berbalik dan menyerang anda. Untuk kehadiran ratu di tempat ini akan ada masanya anda tahu jadi bersabarlah." Tubuh itu kembali di telan cahaya putih seiring katanya terhenti. 


Bree menoleh ke kiri dan ke kanan, kemudian membawa daksanya bangkit meninggalkan tempat itu. Banyak hal yang belum ia tahu, ada pertanyaan yang tidak terlontar. Ada sesuatu ingin segera ia tahu. Namun sayang, semua hanya dalam satu kata yaitu sabar. 


...----------------...


Sekumpulan awan telah berganti warna dari hitam berubah putih, sejak matahari terbit dari timur merobek pekatnya malam. Seluruh penghuni Mansion Tyaga Adrian sudah bangun dan beraktivitas, termasuk Bibi Lexa dan bibi Vindy serta Widan. 


Semakin matahari merangkak maka semakin padat  pula aktivitas, di dalam sebuah ruangan seorang laki-laki tengah menikmati puntungan candu khas kaum adam. Asap tipis mengepul cantik seiring bibir kehitamannya terbuka. Iris mata tak setajam seperti biasa, ada binar senang saat pandangan tertuju pada sang bawahan. 


"Untuk sementara apa yang kita lakukan, Tuan?" Laki-laki bermata sipit yang tak lain adalah Jesen bertanya sambil membenarkan posisi duduknya.


"Kita nikmati kekacauan ini lebih dulu." Sahut  laki-laki itu sebelum menghisap panjang nik0tin layaknya penenang yang tersalurkan karena bara api. 


"Baiklah." Jesen mengangguk pelan dan menuang kembali red wine dalam gelas seloki. 

__ADS_1


"Tunggu perintah dariku." Laki-laki itu mematikan bara api yang tersisa di ujung kampas manis. "Bree agak licin saat ini." 


__ADS_2