Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Penobatan


__ADS_3

Memasuki konflik dan perubahan gelar


🌷 Selamat membaca 🌷


...----------------...


Mega di cakrawala sangat elok menghias pagi. Sang bayu ikut serta bahagia menyambut hari baik ini, rona sumringah penuh bangga menghias wajah tua Ibu Suri. Sekian lama perjuangan untuk menempa sang putra mahkota akhirnya telah tiba. Pembuktian dan kerja keras permaisuri mampu mengantarkan laki-laki itu menuju singgasananya. 


Tiap kata dan adegan yang terjadi di antara mereka sangat membekas di hati sang permaisuri. Bangga pun terselip di gumpalan lunak dalam tubuhnya. Langkah anggun wanita itu berayun seirama dengan langkah laki-laki tegap disisinya. 


Penyambutan sangat sempurna, aura bahagia sangat terasa untuk menyambut raja baru. Setelah beberapa waktu lalu tampuk pemerintahan dikendalikan seorang ibu Suri. Sangat terasa kristal bening pecah di sudut mata tuanya, bukan karena kerapuhan melainkan haru yang tak dapat ia tutupi. Dinasti raja, darah daging mendiang putranya kini duduk diatas singgasana. 


"Yang Mulia raja" 


Begitu gelar pertama kali terucap di bibir ibu suri. Baru saja penobatan raja selesai tak luput pula permaisuri juga dinobatkan menjadi ratu. 


"Hormat kami yang mulia." 


Salam sapa dari para menteri menggema di aula kerajaan, di sana juga hadir Selir Ve dan pangeran Nev. Senyum bahagia terlukis di wajah tampan laki-laki itu. Ini yang diinginkannya sejak dulu memiliki raja masa depan. Putra kedua bukan buta dan tuli, ia tahu pilih kasih perdana menteri Ma padanya dan juga putra mahkota.


Acara penobatan telah selesai, raja masih menduduki kursi singgasananya, di sampingnya duduk pula sang ratu yang tak lain permaisuri. 


"Yang mulia ratu, terima kasih atas pengabdian anda." Ibu Suri menyentuh lembut pergelangan tangan Ratu.


"Ibu Suri, saya akan tetap mengingat perjanjian dan detik ini saya sudah memenuhi sepenggal janji itu."


"Ya." Ibu Suri mengangguk lemah. "Janji anda masih ada, saya berharap kelak janji itu terbukti." Harap ibu Suri dengan tatapan lekat pada wanita cantik di sisi raja.


"Ibu Suri tidak perlu mencemaskannya, saya dan Ratu akan mengupas permasalah beberapa tahun silam." Yakin Raja pada nenek kesayangannya itu.

__ADS_1


"Itu harus yang mulia, dengan begitu nama Ayah Ratu akan bisa dibersihkan." 


"Saya akan membuktikannya, jika Ayah tidak terlibat dengan konspirasi itu." Tegas Ratu. Obsidian tajam dan indah itu menguar keyakinan.


...----------------...


Dua bulan kemudian


Aktivitas menjadi raja sudah teratur bersama Ratu. Bukan lagi bermalas-malasan seperti masih menjadi putra mahkota. Di istananya, raja tengah mempelajari sebuah surat yang datang dari kota tetangga. Di sisinya ada pengawal pribadi yang dianugerahkan kecerdasan untuk selalu mendampinginya. 


"Yang Mulia, sejak dua bulan belakangan ini, mereka mengeluhkan pasokan gandum tak sampai di sana." Lapor pengawal Ta


"Benarkah, lalu dimana gandum-gandum itu ? Bukankah kita selalu mengirimnya, di buku laporan perdagangan ini tertulis." Raja menunjukkan laporan pengiriman gandum.


"Itu yang sedang hakim selidiki dan juga di bagian gudang senjata. Mereka tidak mendapatkan kiriman bubuk mesiu terbaru." 


"Cari tahu kapan waktu pengiriman, mari kita lihat sendiri." Titah Raja dengan tegas.


"Baiklah, laporkan secepatnya. Dimana Ratuku ?" 


"Ratu sedang bersama Selir Ve, Yang mulia." 


Tubuh tegap itu bangkit lalu melangkah keluar meninggalkan istana, tujuannya adalah sang ratu hatinya. Ya, entah sejak kapan perasaan cinta bersemi di dalam gumpalan daging lembut di tubuhnya semakin dalam. Sejenak saja tak melihat wajah cantik ratunya, rindu itu menggunung di dalam dada. 


Pantulan matahari menimpa tubuh raja sehingga menciptakan pesona yang amat luar biasa. Tatapan tajam dari manik mata Raja langsung mengarah pada sosok yang dirindukan. Tak jauh dari ayunan langkahnya, ratu duduk di balai seni terbuka. Di sana ada pula selir mendiang raja. 


"Yang mulia raja tiba." Seruan seorang pengawal ratu mengalihkan atensi semua orang yang berada di sana.


Ratu dan yang lainnya membawa tubuh mereka berdiri menyambut hormat kedatangan raja. 

__ADS_1


"Yang Mulia." Sapa Ratu menunduk sesaat lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat sosok yang berdiri tegak di hadapannya. 


Ya, sikap permaisuri berubah setelah bergelar ratu. Tuntutan aturan bangsawan memang melekat di dirinya. Bagaimana mengharuskan dirinya bersikap menjadi permaisuri dan juga sekarang menjadi ratu.


"Ratu, apa yang kamu lakukan disini ?" Iris mata raja melirik ke arah selir Ve yang menunduk.


"Yang Mulia, saya sedang mengajari Selir Ve untuk bermain kecapi." 


"Benarkah ?" Selidik raja menatap dua buah kecapi.


"Benar yang Mulia, saya harap anda tidak keberatan." Sahut Selir Ve lembut.


"Pelajaran ini bisa dilanjutkan besok lagi, sekarang ratu silahkan kembali ke istana mu." Titah raja tersenyum penuh cinta.


"Baik, yang mulia." 


Ratu dan Selir Ve menjawab bersamaan, sedetik kemudian, Selir Ve memutar tumitnya untuk meninggalkan balai seni. Sementara raja meminta tangan ratu untuk ia genggam. 


"Mari kita kembali ke istanamu, hari beranjak sore. Harusnya kau beristirahat." Sedikit omelan raja berikan pada ratunya. 


Ratu hanya tersenyum, mereka melangkah bersama-sama. Senyum bahagia itu tak pudar di wajah keduanya. Satu senti saja, raja tak membiarkan tangan ratu lepas dari genggamannya. 


...----------------...


Usai bermanja-manja, menghabiskan waktu berdua saling memadu kasih. Memupuk semaian cinta dalam hati masing-masing. Kini raja telah kembali ke istananya, malam ini laki-laki itu akan bekerja di istana tanpa mengganggu waktu istirahat sang ratu. 


Hari baik ini masih di sambut malam dengan cerah, di dinding langit bulan sabit tergantung indah selaras dengan rupa seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam. Entah laki-laki atau wanita, namun jejak kakinya begitu lincah dan tangkas melompati tembok di samping istananya. 


Bak belut, tubuhnya lincah menyusup-nyusup di sela rerantingan pohon. Hingga dengan tangkasnya menginjak tanah keluar dari istana. Berbekal informasi dari seorang mata-mata terpercaya, bahwa pengiriman barang ke kerajaan tetangga akan di lakukan malam ini. 

__ADS_1


Tubuhnya mendarat di atas kuda yang telah disiapkan, lalu memacunya dengan cepat dalam penyamaran. Tujuannya adalah dermaga tempat kapal barang yang akan bertolak. Iris matanya tajam memindai aktivitas dermaga itu. Namun sayang, kehadirannya di curigai seseorang.


"Ikuti orang itu." 


__ADS_2