Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Bekerja dari Mansion


__ADS_3

Hima malam semakin menebal sehingga menciptakan sensasi dingin menusuk kulit. Seorang laki-laki bersandar nyaman di pilar bangunan rumah kayu. Menyaksikan embun yang turun dengan sedikit laju dari jendela rumah. Tatapan sendu dengan bibir terkatup rapat menandakan jika dirinya tidak baik-baik saja. Dalam balutan pakaian tradisional itu, harusnya dingin terasa memeluk daksa. Namun sayang, semua itu tak berlaku dan juga terasa, akibat pikiran yang tak lagi menetap di tempurung kepala. 


"Kau menyukai tempat ini, yang mulia?" 


"Karena tempat ini adalah satu-satunya yang ternyaman melepas beban di hatiku. Tidak ada orang tahu seberapa berat, sakit, gelisah dan kerinduan yang membelenggu." Jawaban dengan intonasi rendah ini terdengar sedikit rapuh. Laki-laki itu masih menuntun pandang pada hima malam.


"Kabut menutupi pandangan kita apabila tebal seperti itu." Pria berjubah putih berdiri di sisi jendela berseberangan. "Namun, untuk mencairkannya maka butuh cahaya matahari. Begitu pula padamu, bukankah, butuh pintu untuk pulang? Tempat ini yang kau tuju saat pertama kali kehilangan ratu, menangis seorang diri dibawah pohon memeluk guci abu. Dan di tempat ini pintu untukmu pulang jika kau gagal." 


...----------------...


Cahaya tipis kekuningan menyilaukan mata dari kaki langit sebelah timur, panasnya memanjakan kulit dan mentransfer banyak kebaikan. Bree Tyaga Adrian tidak ingin kehilang kehangatan itu, ia sudah berdiri di muara balkon kamar membiarkan daksanya dimandikan cahaya mentari. 


"Tuan, seperti yang dibicarakan. Anda akan tinggal di mansion untuk beberapa hari." Reiki meletakan beberapa dokumen untuk dikerjakan atasannya di rumah.


"Hm." 


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" Asisten yang memiliki tinggi setara dengan Bree ini menegakkan posisi tubuhnya yang menunduk meletakan pena. 


"Tidak ada, kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi di kantor." Bree memutar tubuh lalu melangkah dan menjatuhkan tubuh di tepi kasur.


"Baiklah." Reiki sekali lagi memastikan kondisi sang atasan kemudian meninggalkan ruangan itu. 


Bree menatap punggung bawahannya yang setia, hingga tersemat senyum tipis di ujung bibir merah alami itu. Tangannya bergerak meraih berkas diatas meja, kemudian membacanya dengan seksama. Saat ini beberapa orang kepercayaannya yaitu pengawal terlatih milik Tyaga Group tengah mengumpulkan kelopak kering di kebun plumeria. Si tuan muda tidak akan membiarkan orang lain masuk daerah larangannya itu. 


"Bree."


Suara lembut menembus ruang rungu menarik atensi si tuan muda tertuju pada pemilik suara, desiran hebat pun ikut menyapa ruang dada. Seulas senyum otomatis tercipta kala ruang pandang tertawan pada pemilik cinta. 


"Ratu Filia, kamu tidak bekerja." Daksa yang tadinya duduk cepat berdiri menyambut sang pujaan hati.


"Aku akan menemanimu disini, asisten Rei bilang beberapa hari kedepan kamu bekerja dari Mansion." Filia mengayunkan langkah disertai senyum indah yang merekah. 


"Apa tidak mengganggu jadwal mu?" Pertanyaan itu diiringi tatapan penuh cinta dan damba. "Tidak apa-apa, aku bekerja dari mansion sementara waktu." Bree meraih jari-jari halus milik sang ratu menggenggam dengan hangat mengirim getaran rasa. 

__ADS_1


"Aku sudah mengirim pesan pada Xavier, dia juga bisa menggantikan waktu visitku. Kami sering melakukan itu." 


Air muka berubah, si tuan muda di landa cemburu. "Baiklah." Hembusan nafas menekan rasa panas yang menjalar di dada terdengar kasar.


"Mari sarapan." Filia sekali lagi tersenyum karena dapat merasakan aura cemburu laki-laki yang duduk di tepi kasur memegang tangannya hangat.


Bree mengangguk dan membawa tubuhnya bangkit tanpa melepaskan tautan tangan yang masih erat menggenggam. Laki-laki itu meletakkan dokumen di atas meja dan melanjutkan langkah.


Bibi Joana menyambut dengan senyum menawan di ujung tangga. Wanita paruh baya itu merasa bersyukur karena raut bahagia masih membingkai wajah si tuan muda. 


"Selamat pagi."


"Selamat pagi bibi Jo, apa Rei sudah berangkat ?" 


"Sudah, Tuan." 


Bree tak bertanya lagi lalu menarik kursi untuk Filia. Perlakuannya semakin membuat gadis itu merasakan getaran dan debaran yang yang dikirim oleh putra mahkota.


...----------------...


"Rei, dimana Kak Bree?" Setengah berlari Lisa mengejar langkah lebar laki-laki itu. 


"Di Mansion." Tanpa berhenti Reiki menjawab dan melemparkan senyum pada dua sekretaris utama. "Selamat pagi." Ucapnya pada dua gadis itu. 


"Pagi, Rei." Irene menjawab sambil melirik ke arah Lisa yang terlihat kesal. 


"Apa Kak Bree sakit?" Lisa belum menyerah masih menyamakan langkah untuk mencari tahu informasi lali-laki pujaan. 


"Tidak."  Reiki berdiri menunggu pintu lift terbuka setelah Irene memencet tombol di sampingnya. 


"Istirahat makan siang, aku dan Irene akan kesana. Ada dokumen yang harus ditandatangani hari ini oleh Tuan Bree." Luna bersuara setelah mereka masuk semua. 


"Lancang sekali kamu ! Orang luar tidak diperbolehkan untuk masuk ke Mansion ! Titipkan padaku saja, biar nanti aku kesana sekalian menjenguk Kak Bree." Seru Lisa dengan intonasi sedikit tinggi. 

__ADS_1


"Maaf Nona Lisa, bekerja sesuai tugas masing-masing saja." Irene menatap sinis.


"Bawa sesuatu, di sana ada Dokter Filia." Reiki bersuara menghentikan bibir Lisa yang mulai terangkat.


"Kenapa wanita gatal itu ada disana ?!" Tak sabar gadis itu langsung menyerobot. Kedua tangannya terkepal erat dengan raut wajah merah. 


"Lisa ! Jaga bicaramu !" Bentak Luna tanpa embel-embel nona. "Semakin kamu bersikap seperti itu, maka terbukti bahwa kamu tidak sama dengan tuan Bree. Kerabat yang yang kau bangga-banggakan itu !" Sambungnya menatap tajam pada gadis itu. 


Lisa terdiam, sikap yang ditunjukkan Luna saat ini sedikit menakutkan. Ya, Lisa kehilangan wibawanya apabila menyangkut gadis-gadis di sekeliling Bree. Sementara  Reiki hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan tiga karyawan itu. Bukan hal baru lagi, Lisa akan berapi-api mendengar ada gadis lain yang dekat dengan atasannya. 


"Rei." Widan datang menghampiri setelah laki-laki itu keluar dari lift. "Apa Kak Bree tidak ke kantor?" Tanya nya setelah Irene dan Luna masuk ke ruang transparan tempatnya bekerja yang ada di samping pintu masuk ruangan presiden direktur. 


"Iya, beberapa hari kedepan tuan akan bekerja dari rumah." 


"Baiklah, plumeria kering akan tiba sore ini. Pengerjaan merek hampir rampung dan botol kacanya juga sudah sembilan puluh lima persen selesai." Widan menjelaskan sejauh mana progres produk baru Tyaga. 


"Iya, setelah plumeria kering tiba kita akan pilih. Karena Tuan juga akan membuat aroma terapi dari bahan yang sama." 


"Benarkah, kenapa tidak dibicarakan kemarin?" Widan tampak terkejut atas rencana dadakan Bree. 


"Itu hanya semacam bonus dari parfum." Reiki tersenyum kemudian melanjutkan langkah. 


Widan mengangguk kemudian kembali ke ruangannya. Laki-laki itu hanya bisa berkata setuju untuk apapun gebrakan Bree Tyaga. Sebab, kali ini si tuan muda akan turun langsung meracik bahan untuk parfum. 


...----------------...


"Apa sudah ditemukan keberadaan, Yohan?" Seorang laki-laki menatap tajam ke arah kaca pembatas. Manik matanya terpaku pada sebuah bangunan yang sama tingginya pada lantai yang saat ini ia pijak.


"Belum Tuan, tak hanya itu. Keberadaan Regi juga sepertinya tidak aman lagi di Desa. Orang-orang Reiki semakin bergerak cepat." 


"Sepertinya mereka semakin waspada, keamanan Bree juga diperketat. Tinggalkan rencana untuk melenyapkannya. Pindahkan Regi ke kota dan cari sepasang asisten Mansion tuan Adrian yang menjadi saksi saat itu. Semua kekacauan ini karena kecerobohan kalian, jadi bereskan tanpa meninggalkan jejak !" Laki-laki itu sebisa mungkin menahan rasa amarah yang luar biasa akibat gagalnya orang yang ditugaskan. 


"Baik Tuan, lalu bagaimana tentang Tuan Bree?" 

__ADS_1


"Biarkan dia lengah dulu, setelah keamanan berkurang kalian bergerak kembali dan saya tidak mau kabar kegagalan lagi. Sebagai ganti tugas saat ini, pindahkan Regi dan temukan sepasang suami istri itu."  Telepon diputus ternyata amarah masih saja bersemayam dalam hati. Dengan penuh kesadaran, laki-laki itu melemparkan gelas wine ke dinding. 


__ADS_2