
Seperti yang telah diagendakan. Penurunan jabatan, pemilihan pemimpin baru dan peresmian. Semua terjadi dalam beberapa minggu belakangan. Semua orang sudah bersiap menerima pemimpin baru Tyaga. Dengan afeksi masing-masing.
Di dalam aula kantor, semua orang telah menunggu peresmian baru. Binar bahagia masih saja membingkai wajah Widan dan Bibi Lexa. Tatapan angkuh dengan seringai kuasa telah terlihat. Tidak ada lagi sikap seperti biasa yang menggambarkan keramahan dan bijak.
Bree duduk dengan tenang di kursi disertai manik mata memindai wajah-wajah di dalam ruangan itu. Di sampingnya ada Axel dan Leon. Sementara Reiki begitu sibuk bersama Irene dan Luna.
Matahari enggan merangkak memberikan terik, masih bertahan di posisi dengan cahaya yang tak mampu menembus kerudung hitamnya. Seolah semesta ikut merasakan pedihnya hati sebagian besar staf kantor yang menyaksikan pergantian pimpinan itu.
"Karena semua telah hadir termasuk juga tuan Bree Tyaga Adrian. Maka kita langsungkan saja acara ini." Suara MC mengalihkan atensi dari bincang-bincang basi para pengusaha yang hadir.
"Boleh saya ambil alih sebentar ?" Reiki menyuarakan keinginan di salah satu mikrofon yang aktif.
"Boleh."
"Terimakasih." Reiki melemparkan senyum tipis kepada semua orang. "Tuan Bree menyiapkan hadiah untuk Tuan Widan sebelum menduduki kursi pemimpin. Sebagai bentuk apresiasi kinerjanya yang sangat baik selama ini agar Nyonya Lexa merasa bangga memiliki putra seperti Tuan Widan." Laki-laki itu dapat melihat lengkungan senyum bangga di bibir Bibi Lexa. "Bagaimana Tuan Widan, anda bersedia untuk menerima hadiah dari Tuan Bree sebelum peresmian ?"
"Iya, sebelumnya saya mengucapkan terimakasih karena tidak menyangka diberi hadiah sebelum peresmian. Pastinya Tuan Bree meluangkan waktu banyak untuk menyiapkan semua ini." Widan menangkup kedua telapak tangannya lalu mendaratkan kembali daksa di kursi.
"Baiklah, hadiah pertama." Reiki melirik ke arah Irene dan Luna dan kedua gadis itu mengangguk. "Seseorang ingin menyapa anda dan juga Nyonya Lexa. Mungkin dia salah satu orang penting untuk anda di masa lalu. Dia juga mengatakan kalau merindukan anda maka dari itu dia meminta menjadi bagian hadiah untuk Tuan Widan dan juga Nyonya Lexa."
Udara tiba-tiba terasa panas di dalam ruangan full Ac itu. Gumaman penasaran mulai terdengar menembus ruang rungu Widan dan juga Bibi Lexa. Gumpalan daging lembut di tubuh laki-laki berambut ikal itu sedikit terusik dengan orang dimaksud Reiki.
Layar proyektor menyala tak lama muncul video seorang laki-laki muda bermata sipit dengan bibir kemerahan tengah tersenyum tipis. "Apa kabar Tuan Widan ?"
Pemilik nama membeku dengan iris menatap tak percaya pada sosok yang kini muncul di layar proyektor. "Kamu mengenalku ?" Widan berusaha tetap tenang meski gurat gelisah sudah terbaca dengan jelas.
"Tentu, bukannya anda yang mengirim saya untuk mencari Yohan dan membunuh Tuan Bree bila ada kesempatan?"
"Apa maksudmu ?" Widan mengepal tangan geram tanpa mengalihkan pandang pada layar lebar di depannya.
"Dikesempatan ini, saya ingin mengakui kejahatan yang pernah saya lakukan di masa lalu pada Tuan Bree dan juga Dokter Axel."
Pernyataan itu sontak disambut ricuh dengan perang opini dan juga tanggapan negatif untuk Bree. Semua yang hadir tidak serta merta percaya begitu saja pada orang yang kini bicara pada Widan di layar proyektor.
"Cara anda begitu rendah Tuan Bree, hanya untuk mempertahankan kursi anda, sampai menyewa orang lain untuk mengacaukan acara ini."
Celetuk sinis dari seseorang otomatis merotasikan kepala pada sosok yang masih diam di kursinya. Bree hanya menyimak tanpa bersuara namun aura gelap tidak dapat dipungkiri dari sorot obsidiannya. Aura tak biasa menguar dari seorang Bree Tyaga.
"Kenapa Bree, kamu tidak rela jika Widan menggantimu sementara ? Ini tidak lama, Nak. Hanya sampai kau sembuh." Playing Victim. Bibi Lexa menatap si tuan muda dengan selaput kabut kekecewaan.
"Nama saya Jesen, selama ini saya bekerja di bawah naungan Tuan Widan. Beberapa tahun lalu saya melakukan kejahatan." Laki-laki bermata sipit itu mulai membuat pengakuan.
Kilas Balik…
Di dalam Mansion utama Tyaga, Tuan Adrian dan Nyonya Ivanka menghabiskan waktu libur bersama dengan keluarga. Masih seperti sebelumnya karena minimnya waktu luang mereka memutuskan untuk berkumpul di akhir pekan.
"Pa, aku dan Axel ingin pergi berburu." Bree menjatuhkan tubuh di sofa tunggal menghadap pada kedua orang tuanya.
"Berapa lama ?"
"Dua hari, hanya kami berdua tanpa pengawal." Bree menatap penuh permohonan untuk pergi tanpa pengawalan.
"Tapi itu berbahaya, kamu harus didampingi pengawal." Sela Nyonya Ivanka lembut.
"Nanti disana aku akan bertemu dengan pemburu lain, Ma. Jadi sangat tidak nyaman jika membawa pengawal." Bree menolak halus dan hanya ingin berdua.
"Apa dokter Dion dan Dokter Emilsa setuju." Tuan Adrian meraih cangkir kopi di atas meja.
"Iya."
__ADS_1
"Hanya dua hari, pulang tanpa lecet atau ini terakhir kali kamu menjelajah alam." Tegas pria paruh baya yang kini mengangguk setuju.
"Iya Pa, aku akan pulang tanpa lecet." Bree tersenyum senang. "Baiklah, aku akan berangkat sekarang menjemput Axel." Laki-laki itu memeluk kedua orang tuanya berpamitan.
"Dia suka berburu." Bibi Lexa menatap hangat sang keponakan.
"Iya, dia mewarisi aku." Tuan Adrian terkekeh dan menyesap kembali kopi miliknya.
Siapa yang menyangka percakapan minta izin itu di dengar seseorang di balik tembok ruangan. Di sana Widan menyeringai jahat, kesempatan ada di depan mata harus di manfaatkan dengan baik. Cukup lama mencari cela untuk menyelesaikan putra mahkota Tyaga itu. Sudah sangat sabar selalu di nomor duakan dalam keluarga Tyaga dan Widan ingin lebih dari Bree Tyaga Adrian.
Laki-laki berambut ikal itu memutar tumit meninggalkan tempat, langkah terayun dengan cepat mencari seseorang yang menjadi teman dan kaki tangan.
"Jesen." Widan memanggil diiringi lambai tangan serta tatapan bergulir mengamati situasi.
"Iya Tuan, anda perlu sesuatu ?" Jesen yang lebih mudah dua satu tahun itu sangat patuh dan selalu menuruti kemauan laki-laki yang dianggapnya dewa penolong itu.
"Hari ini Bree dan Axel akan pergi berburu." Suara Widan nyaris berbisik. "Kamu ikuti mereka dan bawa beberapa orang, lenyap Bree dan buat semua seperti kecelakaan. Apapun caranya !" Sorot mata yang keji berlindung di balik palsunya gurat wajah selama ini.
"Saya tidak bisa melakukannya, Tuan. Dia saudara anda." Jesen tegas menolak.
"Aku akan menghentikan pengobatan Nenekmu !"
Manik mata Jesen setengah membulat. Hari nuraninya menolak melakukan kejahatan itu, kebaikan Bree tak bisa di pungkiri meski mereka tak sedekat dirinya dan Widan.
"Baiklah." Widan menunduk membuang rasa simpatik dalam hari. Apakah sekarang hidupnya dikendalikan ?
Widah tersenyum puas dengan perasaan senang menepuk lembut pundak Jesen. "Bagus, kalau kau berhasil selesai pengobatan Nenekmu akan di pindahkan ke panti jompo. Jadi, kami tidak perlu repot lagi pulang pergi atau membayar tetanggamu untuk mengurusnya."
Jesen hanya mengangguk dan memberanikan diri untuk mengangkat kepala melemparkan pandang pada punggung Widan yang sedikit menjauh. Tidak ingin melibatkan orang lain, Jesen memutuskan bergerak sendiri. Dengan mengendarai jeep hitam. Laki-laki bermata sipit itu mengikuti mobil Bree keluar dari pekarangan Mansion. Batin Jesen masih berperang, antara mau dan tidak. Namun bayang-bayang senyum sang Nenek, binar mata yang begitu menawan terpatri di ingatan laki-laki berkulit putih ini. Dengan sangat sadar kaki Jesen menginjak pedal gas semakin dalam untuk mengikuti arah mobil Bree yang nyaris kehilangan dari ruang pandang.
Mobil dikendarai Jesen berhenti di komplek perumahan dokter Dion. Ia sengaja menunggu Bree menjemput Axel di sana. Pikiran masih keruh, sanggupkah ia melenyapkan Bree Tyaga Adrian ?
Berkendara saling kejar dan mencari ruang. Dua buah itu memasuk lokasi hutan barat kota. Mobil Bree memasuki kawasan hutan untuk berburu, memarkirkan mobil dengan benar. Bree dan Axel keluar membawa peralatan berburu. Sekali lagi Jesen dilema, tapi bayang wajah sang Nenek menari di pelupuk mata.
"Maafkan saya Tuan Bree dan untuk anda dokter Axel terpaksa untuk terseret." Jesen melepaskan kain yang diikat oleh Bree dan juga Jesen di pohon sebagai penanda jalan. "Aku harus mengubah jalur ini kalau tidak salah ada hutan sangat tebal disana dengan medan yang hampir sama dan curam. Kalau mereka tersesat butuh waktu dua hari untuk keluar, kalau mereka yang tidak berpengalaman bisa saja mati disana." Laki-laki bermata sipit itu mengatur jalur sesuai keinginannya.
Kilas Balik Selesai…
...----------------...
Jesen menarik nafas panjang setelah menyelesaikan ceritanya. Tatapan bersalahnya begitu terlihat nyata di dalam keheningan semua orang.
"ITU FITNAH !" Widan berteriak dengan jari telunjuk mengarah ke layar proyektor. Garis-garis merah menjalar ke putih mata laki-laki itu, rahang mengeras dengan gigi bergemeletuk.
"Jesen apa ini balasanmu untuk kebaikan yang kami lakukan pada Nenekmu ?" Intonasi lembut dari Bibi Lexa serta linangan air mata membuat atensi berpindah ke arahnya. Wanita paruh baya itu masih berdiri dengan tangan mengepal di dada sangat terlihat jika dirinya tersakiti disini dengan banyaknya fitnah yang datang.
"Ini bukan fitnah, sejak hari itu saya tidak lagi memiliki kehangatan di dalam hati semua beku terlebih Nenek yang saya sayangi tidak tahu keberadaannya. Beruntung Tuan Bree memberikan saya kesempatan saat saya menjadi tawanannya." Jesen melemparkan senyum. "Terimakasih Tuan Bree, saya senang berkumpul kembali bersama Nenek saya. Tapi setelah hari ini, saya akan menitipkan beliau pada anda karena saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan saya." Pria yang berparas baby face itu merubah mimik wajahnya serius. "Kejahatan yang saya lakukan telah menghancurkan kebahagiaan keluarga Tyaga, karena ulah saya Tuan Adrian dan juga Nyonya Ivanka meninggal dengan cara bunuh diri karena merasa putus asa sebab Tuan Bree dan juga Dokter Axel dinyatakan menghilang dan meninggal dunia setelah enam hari masa pencarian. Pengakuan ini bukan karena paksaan ataupun tekanan dari pihak keluarga Tyaga. Tapi memang karena saya ingin berubah lebih baik."
Kilas Balik….
Beberapa Minggu yang lalu semenjak bocornya informasi tentang Bree dan cukup membuat keributan di Tyaga Group. Si Tuan muda mulai menyusun strategi, waktunya mengeluarkan senjata yang dipersiapkan selama ini.
"Tuan, anda siap ?" Reiki mengenakan jaket berbahan levis lalu mengaitkan topi di kepala.
"Iya, pastikan jejak kita tidak tercium siapa pun." Bree meraih ponsel dan menyimpannya ke saku jaket.
Dua lelaki itu mengayun langkah untuk pergi ke Mansion lama. Persiapan yang disusun Bree tak mendapatkan penolakan dari teman-temannya. Mengendarai mobil cukup lama kini mobil jeep itu berhenti di pelataran Mansion lama. Sengaja tidak menggunakan mobil mewah milik Bree untuk menyamarkan pergerakan mereka.
Derap langkah mengisi sunyinya Mansion lama. Tujuan Bree dan juga Reiki adalah kamar atas tempat dimana para tawanan di kurung mewah.
__ADS_1
Reiki membuka pintu kamar yang dihuni salah satu tawanan. "Silahkan masuk Tuan." Ucapnya mendorong daun pintu dengan lebar.
Bree membawa langkah untuk ke dalam, di ruang kamar yang luas itu. Seorang laki-laki tengah duduk di sofa panjang dengan mata tertuju pada layar televisi. Dihadapannya terhidang beberapa cemilan siang.
"Berita anda sangat ramai Tuan."
"Memang meresahkan menjadi orang terkenal." Bree menyahut dengan percaya diri dan mendaratkan tubuh di atas sofa. "Kemana-mana selalu menarik perhatian, kau lihat betapa tampannya aku disana." Manik mata si tuan muda tertuju pada layar datar yang menempel di dinding. "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Percuma Tuan, saya tidak membocorkan siapa yang mengirim saya malam itu."
"Benarkah, bagaimana kalau imbalannya ini, Jesen ?" Reiki melemparkan beberapa foto di atas meja lalu meletakan tablet yang memperlihatkan video seorang lansia tengah duduk di kursi roda dengan senyum mengembang ketika bicara dengan Bree.
"Nenek." Suara Jesen tercekat. Kaca-kaca rindu mulai mengabut dengan pergolakan rasa kian merundung. "Ba—bagaimana ka—kalian tahu tentang Nenekku?" Suara pria bermata sipit itu merendah dan bergetar ada tangis tertahan disana.
"Re terakhir kali kau bertemu Nenekmu saat memasukannya di panti Jompo. Setelahnya Nenekmu dipindahkan tanpa sepengetahuan mu oleh Widan. Dengan begitu dia bisa mengendalikan kamu."
Suara Bree menarik atensi Jesen. Laki-laki itu menatap bingung bercampur tanya. Ia belum berucap tapi kenapa putra mahkota Tyaga itu sudah tahu lebih dulu.
"Dari mana anda tahu, kalau itu Tuan Widan ?"
Bree tersenyum. "Aku tahu saat kau satu ruangan bersama Yohan disana kalian membicarakan banyak hal tentang Widan dan Bibi Lexa dan semua terdengar di dalam penyadap suara. Aku hanya menunggu waktu yang tepat saja. Disini aku hanya meminta kerja sama mu untuk mengakui kejahatannya sendiri disaat peresmian Widan nanti."
Jesen hanya diam berusaha mencerna segala yang akan terjadi. Membaca situasi dengan pertimbangan yang matang. Cukup sekali terjebak bersama Widan dan membunuh hati nuraninya.
"Sekarang Nenekmu sudah dipindahkan, posisinya aman dan juga terpantau. Kalian bisa berkumpul ditempat ini sampai tiba waktunya peresmian. Kami juga akan mengeluarkan mu dari kamar ini." Suara Reiki seolah amunisi untuk Jesen.
"Apa aku bisa mempercayai kalian ?"
"Tentu saja." Sahut Bree beriringan dengan daun pintu terbuka. Di ambang pintu seorang lansia duduk tersenyum di kawal oleh perawat wanita.
"Jesen." Suara serak penuh kerinduan dihantarkan kotak suara hingga menimbulkan getaran pada pitanya.
"Nenek." Tangis Jesen pecah, gegas daksa tegapnya bergerak memeluk erat sang Nenek. Menumpahkan segala kerinduan yang tersimpan selama ini. "Nenek sehat ?" Tanya terbata-bata bersimpuh di depan kursi roda. Linangan air matanya tak mampu terbendung.
"Nenek sehat, kau jahat sekali tinggal di tempat mewah ini tidak mengajak Nenek. Dasar anak nakal !" Wanita lansia itu menepuk pundak sang cucu yang masih bergetar hebat.
"Aku memang jahat Nek. Maafkan aku, maafkan aku." Jesen meraih kedua tangan Nenek yang telah keriput lalu menciumnya berulang-ulang sambil terisak.
Reiki melirik perawat yang berdiri di belakang kursi roda. Dengan isyarat agar membawa Nenek keluar dari ruangan itu.
"Nek, saatnya anda makan siang. Nanti kita kesini lagi."
"Baiklah. Sen, Nenek makan siang dulu. Kamu juga makan. Nanti Nenek kemari lagi."
Jesen mengangguk dan membiarkan kursi rodanya Neneknya ditarik. Tubuhnya masih terpaku di muara pintu hingga bayang kursi roda sang Nenek ditelan pintu lift.
"Bagaimana ?" Interupsi Reiki melangkah dan menutup pintu.
Jesen berdiri lalu menyeka jejak air matanya. Laki-laki itu menyeret langkah untuk kembali ke duduk berhadapan dengan si tuan muda.
"Saya bersedia, terimakasih karena kalian sudah mempertemukan saya dan Nenek. Jujur saya merasa bebas dan lega setelah melihat Nenek dalam keadaan sehat."
"Baiklah, karena kamu sudah bersedia. Mulai hari kamu bebas keluar masuk kamar ini ingat hanya lingkungan Mansion. Disini tidak hanya kamu dan Nenek. Tapi ada beberapa orang yang tidak boleh kamu temui." Reiki mengaitkan gelang yang terdapat alat penyadap. "Gelang ini tidak bisa kamu putuskan karena alatnya hanya ada pada Tuan Bree atau pembuatnya saja. Selain itu Cctv memenuhi tiap ruang Mansion. Jadi dari sudut manapun gerak gerik mu akan terlihat. Semua orang mengenakan gelang ini termasuk Nenek untuk menjaga keamanannya."
"Iya. Saya mengerti saya ucapkan terimakasih. Dan meminta maaf yang sebesarnya kepada Tuan Bree atas kejahatan yang pernah saya lakukan."
Kilas Balik Selesai.
__ADS_1