Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Genting di penghujung acara


__ADS_3

Beberapa purnama terlewati hingga tiba pada hari yang ditentukan oleh putra mahkota Tyaga untuk meluncurkan produk baru hasil dari brainstorming. Sebagai penutup cela akibat gagalnya meluncurkan mobil sport yang diproduksi Tyaga otomotif tahun lalu. 


Sesuai yang terjadwal semua orang telah bersiap, termasuk Bree dan juga Filia. Dokter jiwa itu terlihat cantik mengenakan gaun berlengan pendek berwarna navy, ditambah tatanan rambut yang dibuat wavy mempermanis tampilan gadis itu. Tulang kecantikannya sangat seksi di juntai kalung berliontin warna senada.


Hentakan high heels menarik atensi si tuan muda yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Obsidiannya terpaku pada wajah Filia yang begitu cantik menawan pandang. Dalam balutan gaun selutut itu, sang ratu memiliki kecantikan yang paripurna dari segala sisi, sekali lagi ingatan menghempas Bree Tyaga Adrian ke dalam jurang kenangan. Aroma plumeria, kecantikan yang berkilau sama persis ketika ratu pertama kali datang ke istana di hari pernikahan mereka.  


"Ratu, kau sangat cantik." Pujian lolos dari bibir Bree. "Bolehkah aku melarangmu pergi ?" Laki-laki itu mengayun langkah menghampiri dengan kedua tangan bergerak seirama mengimbang daksa tegapnya.


"Aku menghabiskan waktu satu jam hanya untuk penampilan ini dan kamu ingin melarangku pergi, apa itu adil ?" Segaris senyum tertarik di bibir yang telah dipoles warna nude. Gadis itu menghentikan langkah di anak tangga terakhir. 


"Aku tidak suka berbagi." Satu tarikan mengikis jarak antara Bree dan sang ratu, tangan kokoh laki-laki itu melingkar erat pada tubuh ramping Filia Aruna. Suaranya tipis terdengar nyaris berbisik di daun telinga gadisnya. "Kau hanya milikku dan akan tetap seperti itu." Kecupan hangat mendarat lembut dan terbenam lama di kedua pangkal alis dokter cantik pemilik hati. 


Rona merah tercetak tipis di kedua pipi Filia Aruna, keindahan itu ditunjang lagi dengan pancaran tanda pengenal di bawah kuping gadis cantik itu. Plumeria bersinar cantik di mata Bree Tyaga hingga membuat laki-laki itu tak berniat melepas jarak. 


"Tuan, mari berangkat." Interupsi Reiki yang telah bosan menunggu di ujung sofa. Laki-laki itu bersandar nyaman dengan kedua kaki dilipat melapis. Iris mata si asisten tampan itu melirik sinis adegan yang baru disaksikan seorang diri. Sungguh pandangan miris untuk pria lajang sepertinya. 


"Iya, Rei." Si tuan muda berdecak kesal merasa terganggu. "Matamu jelek sekali !" Sarkasmenya sambil menggandeng posesif Filia Aruna. 


Reiki membawa tubuhnya bangkit disertai umpat-umpatan kecil yang tak terdengar. "Tuan, saat di sana nanti jangan keluarkan keanehan anda." Laki-laki berkulit putih itu memperingatkan sambil menuntun langkah. 


"Iya, tenang saja. Kau pastikan keamanan disana khususnya untuk ratu Filia." Sedikit pun tak ada rasa tersinggung di dalam hati Bree mendengar kalimat yang terlontar dari bibir sang asisten. 


Langit terlalu cantik malam ini, ada sarayu yang berhembus seolah membelai agar terlena. Bintang dan bulan unjuk keanggunan di langit malam. Sungguh Bree tidak bisa menebak firasat apa ? Hanya saja gumpalan daging tak bertulang di dalam tubuhnya sedikit resah yang tak ditemukan penyebabnya. 


"Kau kenapa?" Merdu dan lembut suara Filia menarik kembali si tuan muda dari dunia lamunannya. Tangan gadis itu terangkat menyentuh buku-buku jari penanam cinta. 


Bree melemparkan senyum tak kalah menawan. "Aku tidak apa-apa." Jawaban itu terlihat meyakinkan. Telapak tangan si tuan muda yang besar menangkup lembut punggung tangan ratunya. 


"Katakan jika ada yang mengganggu pikiranmu." Sambung Filia lagi dengan pemindaian netra yang lekat. Ada kecemasan berjejak disana. 


"Tentu, siapa lagi teman berbagi kalau bukan kamu." Bree mengangkat tangan wanita yang menyeretnya hingga menempuh waktu hanya untuk menebus rasa bersalahnya itu lalu mengecup lembut.


"Selama ini saya teman berbagi anda, Tuan ! Kalau lupa." Sahutan Reiki sarat kecemburuan dan lebih dominan rasa iri. Sekilas lirikan mata terlihat di kaca bahwa keberadaannya ingin diakui. 

__ADS_1


"Iya-iya, tidak perlu cemburu. Maksudku teman berbagi dalam perasaan. Tidak mungkin, 'kan? Aku berbagi cinta padamu !"  


Mobil milik pimpinan Tyaga itu berhenti di pelataran gedung kantor Tyaga Fashion. Sengaja Bree mencampurkan produk barunya ke dalam Tyaga Fashion karena sudah tidak memiliki waktu lagi untuk membuat cabang baru. 


Salah seorang petugas gegas menghampiri dan membuka pintu untuk si tuan muda, tangan petugas itu terulur memberikan pengamanan untuk sang atasan. Kaki Bree berpijak diatas tanah seraya mengucapkan terima kasih, laki-laki itu menuntun sang ratu untuk keluar. 


Bree dan Filia langsung diarahkan ke aula tempat pelaksanaan launching produk baru. Langkah mereka seirama dengan tebaran aroma plumeria yang menghipnotis semua orang. Kecantikan yang dimiliki Filia tidak main-main, sehingga seluruh pasang mata tak berkedip. 


Bunga ilalang berterbangan tanpa tahu kedatangannya dari mana, menggiring langkah sepasang raja dan ratu itu. Cukup lama terdiam dan tenggelam dalam kharisma Bree dan Filia. Gumaman kecil pun terdengar memenuhi ruang rungu keduanya. 


"Filia, kamu cantik sekali." Pekik tertahan itu datang dari Irene. Sekretaris itu menahan diri agar tidak menabrak tubuh kekasih atasannya. "Aku bekerja dulu ya." Pamitnya dengan bahasa bibir. 


"Ya." Jawaban pendek dari Filia Aruna kembali menuai pujian. Sosok pencuri perhatian itu cukup cuek dengan keadaan sama seperti dulu. 


Di meja yang tak jauh, sepasang mata menatap dengan kagum disertai debaran hebat yang menggulung di dada. Xavier tersenyum tipis tak membuang pandang. "Tidak seharusnya aku mencintaimu." Hembusan nafas terdengar kasar berusaha mengusir sesak. "Aku siap menerima konsekuensinya karena aku yang memulainya lebih dulu." Laki-laki itu menatap telapak tangannya sendiri sambil tersenyum penuh luka. 


"Aku baru menyadari jika Filia memang secantik itu." Leon melontarkan pujian sambil menyangga dagu dengan kedua telapak tangan yang bertumpu di atas meja. Iris mata laki-laki itu tak berniat melepaskan tatapan pada objek cantik di depan sana. 


"Mata Bree bagus juga mencari kekasih secantik itu." Ekspresi Axel tidak jauh berbeda. Dokter tampan ini berpangku tangan bersandar santai di kursi. 


Di podium Bree menyampaikan pidatonya tentang parfum yang diluncurkan. Tak lupa pula menyebutkan mereknya, tak jauh dari posisi si tuan muda. Reiki menghela nafas lega selama pidato berlangsung tidak ada keanehan yang diciptakan atasannya. 


"Kau tegang sekali." Bisik Luna di telinga Reiki tapi tak membuang fokus pada pimpinan Tyaga. 


"Aku hanya cemas dia berulah." 


"Bukankah, tuan dinyatakan hampir sembuh?" Sahut Irene melayang tanya dengan lirikan sekilas pada lawan bicara.


"Iya, aku hanya cemas." Reiki menetralkan sikapnya agar tidak terlihat berlebihan. Bagaimanapun juga, penyakit Bree tidak boleh terendus orang lain karena akibatnya sangat fatal untuk si tuan muda.


Acara pembukaan dan perkenalan produk baru telah selesai, Bree dan Filia bergabung dengan teman-temannya di satu meja berukuran besar. Karena banyak minum si dokter cantik merasakan kantung kemihnya penuh. 


"Bree, aku mau ke toilet sebentar." Pamit Filia sambil membawa tubuh untuk bangkit dan mendorong kursi perlahan agar bisa keluar. 

__ADS_1


"Aku temani." 


Filia tersenyum. "Aku sendiri saja, Widan sedang menjelaskan terkait acara malam ini." Manik mata gadis itu tertuju pada orang yang dimaksud.


"Tidak apa-apa kalau Kakak mau menemani dokter Filia dulu." Widan menghentikan penjelasan dan memberi waktu. 


"Jangan, yang kalian bahas sangat penting. Aku hanya sebentar." Filia memutar tubuh dan mengayun kaki dengan anggun menjauh dari meja yang kini dipenuhi teman-temannya. 


"Filia mau kemana?" Luna meletakan piring kue di atas meja dan mendaratkan tubuhnya di sisi Axel. 


"Ke toilet." Jawaban singkat itu di balas oleh Leon disertai tangan yang meraih potongan kue di dalam piring. 


"Tuan tidak menemaninya?" Irene juga melontarkan tanya kemudian meletakan gelas wine yang baru saja diambil. "Kalau begitu aku akan menyusulnya." Gadis itu urung menjatuhkan tubuh di kursi.  


"Dia menolak, tidak apa-apa sebentar lagi dia kembali sekarang fokus mendengarkan Widan." Bree mengangkat wajahnya dengan tatapan tegas ke arah sekretaris utama itu. 


"Baiklah." Irene menurut dan duduk di kursi sebelah Axel. 


Penjelasan Widan tentang produk baru cukup memuaskan untuk Bree, laki-laki itu tidak menyela dan menjadi pendengar yang baik. 


"Sudah malam aku harus mengantar Mama dan Bibi Vindy pulang." Widan mengarahkan pandang pada dua wanita paruh baya yang terlihat berpamitan pada teman sosialitanya. 


"Hati-hati." Bree mengangkat lengan guna melihat mesin waktu yang melingkar disana. Benar saja waktu menjejal diri ke pukul sebelas. 


"Kenapa Filia lama sekali ?" Pertanyaan Axel membuat semua orang menegakkan duduk. 


"Apa mungkin bersama Xavier, dia keluar beberapa saat setelah Filia keluar." Seru Leon menatap wajah teman-temannya. 


"Pengawal itu." Bree membawa tubuh gegas menyusul sang ratu. Namun langkah terhenti ketika mendapatkan sosok Xavier yang melenggang masuk.


"Kenapa?" Pria berambut lurus dan bermata hitam pekat itu merasa heran karena seluruh sorot mata menatap ke arahnya. 


"Dimana Ratu Filia?" 

__ADS_1


"Apa ?" Xavier bertambah bingung. "Tadi dia sudah kembali, aku memang bertemu dengannya tadi di luar." 


Tanpa mendengar penjelasan lebih, Bree membawa langkah setengah berlari dengan raut panik, tujuan utamanya adalah toilet wanita. Sementara yang lain pergi menyusul. Reiki berlari ke arah ruang informasi dan Eros mencari ruang pengawas keamanan. Sementara Irene dan Luna menutup acara yang telah selesai memberi instruksi pada para pegawai untuk membereskan tempat acara karena tamu undangan semua telah pulang. Tak ingin ketinggalan Leon, Axel dan juga Xavier yang tak kalah cemasnya menyusul Bree dan juga Eros. 


__ADS_2