
Bunga ilalang putih beterbangan di bawa angin dan hal itu sangat indah di ruang obsidian milik Bree Tyaga Adrian. Laki-laki itu bersandar di sebatang pohon rindang menikmati sarayu senja yang menampar tubuhnya, dalam balutan pakaian tradisional ketampanan Bree semakin bersinar seperti yang ramai diperbincangkan orang selama ini.
"Kau menikmati senja ini, yang mulia."
"Tentu saja." Bree tersenyum. "Lihat bunga ilalang itu sangat cantik di bawa angin." Sambungnya menunjuk dengan sorot mata.
"Bagaimana rasanya saat seseorang hampir saja melenyapkanmu?" Sosok berjubah putih maju selangkah sambil menengadahkan tangan ke depan seolah menangkap bunga ilalang yang berterbangan.
"Sangat menakutkan, dalam hatiku gelisah jika saat itu aku berhasil dilenyapkan. Untuk apa hadirku di era ini bila tidak bisa bersama ratuku."
"Begitulah yang dirasakan ratu saat kau menjatuhkan hukuman eksekusi untuknya."
Bree menggulirkan pandang ke arah pria tua itu. "Jadi, secara tidak langsung ada timbal balik sebagai bentuk hukumanku."
"Bisa dikatakan begitu." Pria tua itu terkekeh. "Masih ada kejutan menunggumu hari esok." Ucapnya lenyap seiring cahaya putih yang menelan.
...----------------...
Di pembaringan king size, Bree perlahan membuka kelopak mata pembungkus manik mata hitam pekatnya. Laki-laki itu tak serta merta bangun, benaknya masih mengingat percakapan dengan pria tua berjubah putih tentang kejutan yang menunggu hari ini.
“Tuan, anda sudah bangun?” Reiki mengetuk daun pintu sebelum melangkah masuk. “Ada kabar baik pagi ini.” Sambungnya sambil membuka pintu balkon kamar.
“Berita apa ?”
“Pak Alfon bersedia menjual lahan plumeria nya. Jadi kita bisa melihat kesana dan izinkan saya untuk mengatur beberapa pengawalan untuk berangkat.” Reiki meletakan beberapa perlengkapan si tuan muda.
“Iya.” Bree bangkit dari tempat tidur lalu mengayunkan langkah untuk ke kamar mandi.
Sambil menunggu dengan sabar, Reiki duduk di sofa dan menghubungi pengawal andalan Tyaga. Laki-laki itu tidak akan ambil resiko atas keselamatan atasannya. Mungkin yang terjadi hari kemarin adalah sebuah keberuntungan dalam keadaan terdesak. Bagaimanapun dia adalah orang yang sangat tahu tentang seorang Bree Tyaga Adrian. Laki-laki yang tidak pandai mempertahankan diri dari serangan lawan, selalu menggunakan perasaan dalam bertindak, tidak tegas mengambil sebuah keputusan.
“Nanti malam tuan Leon akan berkunjung bersama tuan Eros, mereka sudah mendapatkan hasil yang saya temukan di Mansion lama.” Reiki meraih hair dryer untuk mengeringkan rambut setengah basah si tuan muda.
__ADS_1
“Baiklah.” Bree melingkarkan jam mewah di pergelangan tangannya. Sekali lagi ketampanan itu membius mata. “Ayo kita turun.” Sambungnya setelah mematutkan tampilannya di kaca.
Di undakan tangga, pantulan suara sepatu Bree dan juga Reiki menggema menarik atensi Filia dan juga bibi Mei di ruang tengah. Gadis itu kembali terhipnotis, pesona si tuan muda memang tidak diragukan. Seberapa pun usahanya untuk tidak mengindahkan kelancangan pesona itu masuk kedalam relung hati. Tetap saja ia goyah. Filia membuang pandangan kearah lain tak ingin terperangkap di dalam ruang obsidian si putra mahkota.
“Selamat pagi Ratu Filia, bibi Mei.” Bree menyapa sambil menghampiri. Seulas senyum selalu membingkai penuh kehangatan cinta sejak dulu.
“Selamat pagi, tuan.”
“Ratu, wajahmu merah, kamu demam?” Si tuan muda nampak panik dan menempelkan punggung tangan di kening sang ratu.
“Ti–tidak.” Filia gelagapan. “Aku baik-baik saja.” Sambungnya tersenyum kaku. Di serambi kiri sumber kehidupannya menggila tak biasa. Nafasnya tercekat di telan kegugupan. Ia pun mengutuk rasa aneh itu dalam dada.
“Syukurlah, mari sarapan.” Bree mengapit tangan Filia untuk melangkah bersamanya. Perasaan cinta itu masih sama tidak berkurang atau berubah yang ada semakin bertambah setiap hari. Laki-laki itu harus memupuk sabar yang banyak untuk bisa merengkuh ratunya seperti dulu.
"Tuan, silahkan. Hari ini saya memasak menu kesukaan anda." Tak butuh lama bibi Joana memahami selera baru sang atasan.
"Terimakasih, Bi." Bree sumringah melihat menu yang dihidangkan. "Ratu Filia, bukankah makanan ini juga kesukaanmu?"
"Tentu saja aku tahu segala tentangnya." Bree melirik ratunya disertai senyum ketulusan yang meruntuhkan pertahanan.
"Tuan, jangan terlalu baik padaku." Filia menipiskan senyum ada selaput kabut di iris manik matanya.
"Ratu, kehadiranmu saat ini tak cukup membayar rasa bersalah dan dosaku di masa lalu, yang paling memukul adalah. Kamu pergi dengan kondisi hamil saat itu. Aku minta maaf karena ketidak tahuanku ada penerusku di dalam rahimmu." Bree berucap dengan sungguh-sungguh, kalimat itu lahir dari dalam hatinya.
Kepala semua orang tertunduk ke bawah termasuk Reiki. Entah kenapa pernyataan yang baru mereka dengar seperti bukan cerita konyol ataupun halusinasi si tuan muda. Mendengar getaran dari penghantar suara Bree, semua orang berpikir itu begitu menyakitkan dan tidak mudah untuk dilupakan.
"Tuan." Filia menelan rasa yang tidak bisa dijabarkan dengan kata. Lepas semua rasa itu, ada pasien yang duduk di hadapannya. Tak seharusnya kebersamaan ini mengukir rasa tak biasa tumbuh di dalam gumpalan daging lembutnya. "Perlakuanmu selama kita bertemu sudah cukup membuktikan, jika kamu sungguh-sungguh menebus rasa bersalah itu. Sekarang kita sarapan dulu." Lanjut gadis itu tersenyum.
Bree menghela nafas panjang terasa lega, setidaknya sang ratu mulai menerima permintaan maafnya dan juga sesal yang selalu membelenggu hati selama ini. "Hari ini, aku kembali ketempat kemarin. Kemungkinan akan pulang sore." Ucapnya sesaat sebelum makan.
...----------------...
__ADS_1
Afeksi selalu berperan dalam segala tindakan, bibir bisa menolak tapi kalbu selalu mendamba. Seperti itulah yang tengah dirasakan seorang gadis cantik yang meletakan kepala dengan posisi miring di atas meja kerja.
Bibir semerah delima itu berkata 'Jangan terlalu baik padaku' namun nyatanya hati tetap menginginkan lebih. Fakta berkata rindu saat mata tak bertemu pandang, gelisah dalam menunggu saat hati tak lagi diketuk. Cemas membelit jiwa ketika raga di sayang jauh dari tubuh.
Filia memiringkan kepala kekiri dan ke kanan, gurat frustasi kentara di wajah cantiknya. Bibir dikulum kesal atas rasa yang selalu meresahkan di dalam dada.
"Kenapa?"
"Xavier." Filia membawa tubuh duduk sempurna di kursi. Gadis itu terdiam belum berniat menjawab.
"Fil, kenapa ?" Intonasi lembut laki-laki itu melahirkan kecemasan.
"Kemarin, Bree di serang seseorang."
"Apa ?!" Kaleng minuman di tangan Xavier refleks terjatuh. "Apa dia terluka ? Bagaimana kondisinya saat ini?"
"Hanya luka kecil, mobilnya terbakar di tengah jalan. Beruntung dia dan asisten Reiki bisa keluar sebelum terjadi ledakan. Saat ini produk barunya dalam masalah. Penyuplai plumeria gagal memenuhi pesanan. Lahannya terbakar untuk itu Bree dan juga asisten Rei kesana untuk melihatnya."
"Aku tahu, Bree bukan orang biasa. Dia dikelilingi musuh yang tidak terlacak dimana saja keberadaannya. Dari kematian orang tuanya saja kita bisa mempelajari ada masalah pelik yang tidak bisa dituntaskan dengan mudah. Jadi, selagi kamu ada di Mansion tolong hati-hati." Xavier menatap lekat hitamnya obsidian Filia.
"Aku sangat mengkhawatirkan Bree. Selama di Mansion dia memperlakukan aku dengan baik."
"Fil, seandainya aku di posisi Bree. Apa kamu juga mencemaskanku?"
Gadis ini menoleh lalu menatap lamat wajah temannya itu. "Tentu saja, kamu adalah temanku."
Mencelos, Xavier tersenyum dalam perih. Lagi, kata 'Temanku' adalah tembok pembatas yang susah untuk di robohkan. "Bagaimana perkembangan bibi Chen dan juga paman Gio?" Laki-laki itu mengalihkan topik pembicaraan.
"Sedikit lebih baik, malam ini semua orang akan berkumpul di Mansion untuk memberikan hasil pemeriksaan. Kemarin asisten Reiki menemukan kertas di dalam sarung bantal milik Nyonya Ivanka. Masih tersisa debu serbuk di dalam lipatannya, dan Leon akan mengatakan hasilnya malam ini."
"Aku akan datang." Xavier meletakan satu kaleng minuman di atas meja. "Ayo visit." Lanjutnya tersenyum.
__ADS_1
Filia meraih kaleng minuman dan menatapnya sejenak, ingatannya selalu tertuju pada laki-laki yang akhir-akhir ini mengusiknya. "Aku harus bertemu Irene dan Luna."