
Rembulan semakin unjuk pesona menambah bumbu drama yang diciptakan seorang Bree Tyaga Adrian. Sinar keanggunannya memandikan semua orang yang tengah menikmati pesta tahunan versi kerajaan yang diminta si tuan muda. Demi hanya untuk mengenang masa lalu dan membangkitkan rasa cinta yang hampir terkubur bersama kisah dulu, Bree menggelontorkan banyak uang agar kenangannya kembali bangkit bersama pemilik jiwa dan raga.
Tidak ada yang berkurang dari degup sumber kehidupan di serambi kiri milik putra mahkota Tyaga. Masih berdetak dengan durasi yang sama. Seperti aliran listrik yang menyusup kedalam tendon menggetarkan seluruh saraf mengirim sinyal cinta ke muara hati Filia Aruna.
Sudut bibir Bree tertarik melihat tanda pengenal ratu yang sejak tadi menyala yang hanya dirinya sendiri dapat melihat. Hari ini laki-laki itu bahagia melihat hasil lukisan yang nyaris sempurna seperti miliknya dulu. Bahkan Filia tidak berkedip melihat dirinya yang dilukis dengan begitu indah.
"Terimakasih untuk semua ini." Kaca-kaca haru mulai membungkus obsidian Filia Aruna. Manik mata gadis itu menatap dalam pada hitamnya netra sang pemilik cinta. "Ini semua tidak akan pernah terlupakan." Sambungnya dengan nada yang dikelola oleh pita suara menghantarkan gelombang getar.
"Ratu, semua ini untukmu. Karena tidak mungkin aku membawamu kembali ke istana jadi aku membuatnya disini." Bree menggenggam lembut kedua tangan gadis itu. "Kamu bahagia, maka aku lebih bahagia." Satu kecupan mendarat lembut dan terbenam lama di kening Filia.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jika suatu saat kau sembuh dari dunia istanamu. Maka jangan lupakan aku, jangan memintaku untuk pergi dan jangan pula membenciku karena memanfaat kondisimu untuk menyelamatkan hatiku yang serakah untuk memilikimu." Lolos butiran bening di pipi putih dokter cantik itu.
"Kau mencintaiku ? Maka aku lebih mencintaimu karena cinta itu aku sampai disini. Ketika kaMu tersadar siapa aku, benci saja aku sepuas hatimu tapi berikan maaf tulus yang kamu miliki untukku." Bree merengkuh tubuh ramping sang ratu kedalam pelukan.
Tak jauh dari sana tiap pasang mata menyaksikan adegan manis yang mendorong jiwa-jiwa kesepian agar membebaskan diri dari kesendirian. Dengan berbagai ekspresi dan afeksi mereka hanyut dalam drama percintaan si tuan muda.
Tanpa mereka sadari dari sekian banyak orang disana ada yang menatap penuh luka, sesak bersayap di dalam dada tanpa menyisakan ruang. Gejolak cemburu membangkitkan iblis obsesi untuk merampas bahagia dua insan yang ada didepan mata.
Xavier mengepal tangan hingga buku-bukunya memutih untuk menghalau rasa menyiksa dan sesak yang mendera. Sekuat tenaga melebur rasa cinta itu namun tetap tak mampu dan kesakitan pun mengiringi langkah dalam menuju pencipta rasa.
"Aku tahu ini sakit, Filia mencintai tuan Bree dan kamu harus berbesar hati menerima dan menyimpan cinta sendirimu." Irene berkata tanpa melirik pada objek yang kini menikmati rasa sakit hati.
Xavier mengangguk. "Aku tahu, tapi aku masih memiliki hak untuk menyampaikan perasaanku, bukan?" Laki-laki itu meraup oksigen sebanyak-banyaknya mentransfer ke paru-paru biar sedikit longgar.
"Tentu." Luna menyahut sambil menggeser pandang pada lawan bicaranya. "Ungkapkan perasaanmu semoga dengan begitu kau merasa lega tapi jangan berharap ada jawaban bahagia sebab semua orang tahu hati Filia bertuan pada siapa." Lanjutnya kembali menatap kedepan yang dimana sepasang insan masih betah membelit tangan mengurung satu sama lainnya.
"Aku mengerti." Xavier menjatuhkan pandang ke tanah menahan selaput kabut yang tiba-tiba turun. "Tidak seharusnya perasaan ini ada." Laki-laki itu terkekeh pelan. "Huff." Xavier mengangkat kepala dengan pandangan begitu lurus pada pemilik hati yang tak mungkin dimilikinya. "Rasanya masih sama tidak berbeda tetap saja sakit."
"Friendzone ! Tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita." Irene menyeruput wine dari gelas yang dipegang. "Tapi memang tidak bisa dihindari karena perasaan itu tiba-tiba hadir begitu saja." Lanjutnya menatap air merah di dalam gelas. "Maka dari itu aku membatasi hatiku pada makhluk yang bernama laki-laki karena hatiku tidak siap untuk luka kembali."
__ADS_1
"Kalian berdua memang memiliki kisah yang sama." Luna membidik kamera yang dipegang pada objek menurutnya begitu menarik. "Garis rahang yang bagus." Ucapnya tersenyum menatap hasil tangkapan kameranya.
Sementara di tempat lain, si tuan muda menyelesaikan urusan tentang kenangan. Kini Bree melanjutkan acara kedua yang telah dipikirkan secara matang dan tenang. Laki-laki itu menarik tangan Filia ke tengah semua orang lalu menatap lembut gadis itu.
"Ratu, di masa lalu kau memang permaisuriku sekaligus ratu di istana dan dalam hubungan itu kita resmi menikah, karena di tempat ini pernikahan itu tidak diakui dan mungkin terdengar mustahil. Maka di tempat ini di hadapan semua orang aku, Bree Tyaga Adrian memintamu untuk menjadi istri, menjadi pendamping hidupku yang siap menua bersama dalam ikatan pernikahan. Maukah kau menikah denganku?" Bree menurunkan tubuh kebawah bertumpu pada satu lutut lalu membuka kotak yang menyerupai akar pohon dan di dalamnya ada cincin yang terbuat dari tangkai ilalang.
Semua mata menatap heran bercampur takjub, drama apalagi ini ? Begitu tanya dalam benak semua orang. Apa putra mahkota Tyaga sudah bangkrut sehingga melamar kekasihnya memakai cincin dari tangkai ilalang ?
Filia tersenyum dengan jejak kristal bening membasahi pipi. Siapkah hatinya terluka lebih dalam, apabila Bree tiba-tiba melupakannya jika sudah sembuh. Namun gumpalan lembut di dalam hatinya serakah dan menanggalkan perasaan gelisah. Dengan penuh keyakinan kepala gadis itu mengangguk pelan.
"Iya aku mau."
Pecah, seluruh kekuatan hati Xavier retak dan pecah mendengar tiga kata lahir dari bibir Filia. Pupus harapan memiliki, hanya tersisa torehan luka yang tidak tahu pelakunya siapa menggores pisau kasat mata ke dalam hatinya. Filia ! Sudah pasti tidak karena gadis itu tidak mendengar ungkapan cinta Xavier. Bree ! Jelas laki-laki itu tidak terlibat apapun karena perasaan Xavier tidak bersamaan dengannya. Pelakunya adalah dokter tampan itu sendiri karena rantai pertemanan yang membuatnya takut untuk mengungkapkan rasa.
"Kendalikan hatimu." Irene meletakan telapak tangan di pundak Xavier. "Aku pernah merasakannya, setidaknya kau sakit tapi tidak malu. Coba lihat aku sudah sakit, malu juga karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Yang mana lebih buruk?" Gadis itu tersenyum.
Bree masih pada posisinya, menatap tanpa kedipan. Perangkat lunak di dalam kepalanya masih mencerna, apakah jawaban Filia nyata? "Ulangi Ratu."
"Aku bersedia menikah denganmu." Filia menuntun laki-laki itu bangkit. "Cincin ini unik." Sambungnya meraih benda yang dimaksud lalu memasukan ke jari manisnya. "Kau membuatnya sendiri?"
"Ya." Bree tersenyum. "Jadi kau mau menikah denganku?"
Semua orang menepuk dahi masing-masing. Apakah Si tuan muda belum yakin ? Melihat sang atasan mulai bertingkah Reiki melangkah menghampiri lalu dengan lancang mencubit keras pergelangan Bree.
"Sadar Tuan ! Dokter Filia menerima anda." Asisten tampan itu tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih.
"Kau mencubitku ?!"
"Biar anda cepat sadar." Reiki menjawab santai. "Ck, anda sudah bangkrut, tuan ? Kenapa memberi dokter Filia cincin tangkai ilalang ini?"
__ADS_1
Bree memicingkan mata. "Dasar pria tidak romantis !" Laki-laki itu tidak berniat menjelaskannya lalu kembali menatap Filia. "Cincin asli akan aku berikan nanti malam." Lanjutnya tersenyum lembut.
"Aku kira kau jatuh bangkrut, hampir saja aku memesan cincin untuk Filia." Sahut Leon dengan sombong. "Aku malu ketika kau melamar Filia dengan cincin itu."
"Kau tidak tahu maknanya, Leon." Eros berseru sambil melihat jari Filia. "Cincin ini nanti yang menjadi kotak kenangan hingga tua." Lanjutnya penuh kenangan.
"Kalau begitu jika aku memiliki kekasih akan melamarnya dengan jarum suntik." Axel berpangku tangan mengelus dagunya.
"Aku iri, suatu hari nanti aku meminta kekasihku untuk melamar dengan kalung dari tangkai daun singkong." Luna ikut berkhayal seperti Axel.
"Saya juga akan melamar seorang wanita dengan kacamata gunung squishy yang disulam nama kami." Reiki terhanyut dalam obrolan tak berfaedah itu. Bahkan kadar kem€sumannya tiba-tiba naik drastis.
"Kalau aku si wanitanya, aku tolak mentah-mentah bikin malu saja." Sinis Irene sambil melipat tangan di dada.
"Aku punya ide ! Bila aku memiliki kekasih maka aku akan melamarnya dengan beberapa cairan formula." Leon bahkan tersenyum-senyum dengan rencananya.
"Ternyata kalian tidak kreatif sama sekali ! Dan kau, Rei ! Melamar dengan benda itu bidadari pun tidak akan mau menerimanya." Cibir Bree melirik kesal. Suasana romantis yang diciptakannya sedikit berantakan. "Jadi kau menerimaku, ratu?"
Filia mengangguk. "Iya."
"Aaah, terimakasih." Bree girang memeluk erat dan menghujani wajah pemilik hatinya itu dengan bertubi-tubi kecu-pan.
"Jadi dia belum sadar juga ?!" Axel menggeleng sambil berkacak pinggang.
Rencana dan kalimat frontal yang lahir dari bibir teman-teman Bree mampu menciptakan lengkungan senyum di wajah Xavier. Pesta berakhir seiring matahari kembali ke peraduannya.
...----------------...
"Waktunya bergerak, aku mendukungmu kali ini." Suara seorang laki-laki terdengar senang mengirim suara melalui telepon. Sesaat kemudian tawanya menggema terdengar mengerikan. "Bree selesai sudah kesenanganmu !" Ucapnya menenggak habis air berwarna kehitaman dari dalam gelas.
__ADS_1