Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Singgasana yang goyah


__ADS_3

Di atas pembaringan, Bree mendengar samar pintu kamar diketuk cukup keras. Dengan sedikit malas ia membuka kelopak mata lalu mengerjap perlahan ke arah pintu yang terdorong. Disana ada Reiki yang tertangkap netranya berdiri dengan gurat kecemasan yang mewarnai pagi ini. 


"Ada apa, Rei ?" Bree bertanya sembari membawa daksanya bangun. Tangan kanan laki-laki itu menutup mulut yang setengah menguap. "Aku tidur larut malam." Lanjutnya melirik kesamping dimana peralatan merajut masih berserak.


"Tuan, cepat mandi." Reiki gegas menyiapkan pakaian kerja untuk sang atasan. Tak lupa beberapa berkas yang akan dibawa.


Bree tak menyahut namun menuruti perintah. Ia turun dari kasur setelah nyawanya terkumpul dengan benar. Sementara menunggu si tuan muda mandi, Reiki menghubungi Luna dan Irene tak luput pula menghubungi para tim pengacara Tyaga. Tidak hanya itu si asisten tampan ini menyiapkan beberapa hal sebagai penyangkal. Apa yang dicemaskan sekarang terjadi. 


"Kamu kenapa gelisah, Rei?" Bree keluar dari kamar mandi lalu menyambar handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. 


"Tuan, apa yang saya cemaskan sekarang terjadi." Reiki meraih remote televisi dan menyalakannya. 


Bree masih menggosok rambutnya sambil melihat ke layar televisi tentang berita pagi. Di layar menampilkan foto wajahnya dan beberapa video tentangnya yang beberapa kali berkunjung ke rumah sakit jiwa. Bahkan kertas yang serupa diberikan Filia juga beredar.  


"Mereka memberitakan aku?" Si tuan muda nampak seperti danau yang tenang tanpa gelombang. 


"Iya, mereka sudah mendapatkan berita itu lalu menyiarkannya pagi ini dan juga para pemegang saham akan mengadakan rapat darurat tentang ini. Karena saham Tyaga Group mulai terganggu." 


"Baiklah." Bree mulai mengenakan pakaian dengan iris mata dingin menatap kaca. Entah apa yang ada dibenak pria itu hingga tak terlihat panik sementara Reiki sudah ketar ketir sejak tadi. Tanpa berkata laki-laki itu memutar tumit meninggalkan kamar. 


Suara pantulan sepatu mengisi ruang rungu ketiga laki-laki yang fokus menatap layar televisi. Di sana Leon dan Axel benar-benar marah melihat berita tentang Bree. Yang dinyatakan mengalami gangguan mental pasca koma dengan bukti video, foto, serta surat yang sama persis diberikan pada Reiki. 


"Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terbongkar cepat. Padahal baru saja Eros hari ini ingin menemui Filia." Leon meremas ponsel di tangannya. 


"Kita kawal Bree untuk menghadapi ini." Axel menghela nafas panjang menundukan kepala.


"Aku akan tetap menemui Filia." Eros berpikir dan memulai penyelidikan. 


"Apa kalian akan kenyang hanya melihat benda itu?"  Suara Bree mengejutkan tiga laki-laki yang saling menahan kesal. Mereka merotasi tubuh melihat pemilik suara. Tatapan mereka cemas sementara yang sedang diberitakan terlihat santai.


"Bree, jangan cemas kami akan mendampingimu." Axel melangkah berdiri di hadapan sang sahabat. 


"Ayo sarapan." Bree tersenyum tipis. 


Mereka sarapan dalam diam, empat laki-laki yang semeja dengan Bree ini nampak gelisah dengan iris mata bergulir tak tentu arah. Ragam pikiran dan sanggahan akan mereka curahkan untuk membela Bree Tyaga. 


...----------------...

__ADS_1


Pemberitaan semakin menyudutkan sang pimpinanan Tyaga. Meskipun saham terbesar milik Bree tetap saja menjadi gunjingan karena pimpinannya mengalami gangguan jiwa. Akan seperti apa Tyaga group kalau pemimpinnya gila. 


"Apa pemberitaan ini tidak bisa dihentikan?" Bibi Vindy datang lebih cepat setelah menonton televisi di rumahnya. 


"Aku sudah berusaha, Bi. Tapi pemberitaan ini semakin melebar bahkan jadi nomor satu di semua stasiun televisi." Widan menempelkan kembali benda pipih di telinganya. 


"Vindy, tenganlah. Widan sedang berusaha." Bibi Lexa mengusap pundak sang adik. 


"Ma, sebagian karyawan berencana mengadakan demo bagaimana ini?" Widan melemparkan tatapan pada sang ibu. 


"Kenapa begitu ?" Bibi Lexa melangkah ke arah kaca di sana masih nampak sepi. "Demo dimana ?" Tanyanya kembali melemparkan pandang pada putranya. 


"Di grup kantor mereka mulai menyusun anggota. Mungkin beberapa menit lagi sudah ramai."


"Tuan, Nyonya. Tuan Bree sudah tiba di lobby." Irene menghampiri dengan gurat kelegaan. 


"Irene, hari ini akan ada rapat dadakan. Nanti kalian pasti diikutsertakan untuk bersaksi. Apa pemberitaan itu benar dengan bukti-bukti yang ada." Bibi Lexa menghampiri sekretaris utama Tyaga Group itu. 


"Iya Nyonya, saya akan menyampaikan apa pun yang saya tahu." Irene meremas jarinya merasa cemas. Karena jawabannya belum di diskusikan bersama Reiki. 


"Bree." Bibi Vindy berniat menghampiri tapi langkahnya terhenti karena senyuman tipis dari sang keponakan. 


Bree melanjutkan langkah dengan tenang bersama Reiki dan dua sekretarisnya. Laki-laki itu tak terlihat panik atau ketakutan. Sambil menunggu rapat diadakan Bree melanjutkan pekerjaannya. Tanpa perduli apa yang akan dihadapinya. 


"Tuan, apa langkah yang kita ambil ?" Irene berucap dengan takut-takut. Kedua tangan gadis itu saling bertautan mencari kekuatan. "Keadaan semakin kacau, sebagian karyawan sudah berdatangan untuk demo." Lanjutnya memberanikan diri mengangkat wajah.


"Katakan apa saja yang kalian ketahui, apabila para komisaris bertanya." 


"Tuan, anda tahu itu sangat merugikan posisi anda saat ini." Sahut Reiki usai menerima telepon. 


"Tidak masalah." Dengan santainya si tuan muda menyahut tanpa beralih pandang.


Reiki mengusap wajahnya kasar. Laki-laki ini tidak bisa menebak seperti biasanya isi kepala sang atasan. 


Sesuai waktu yang disepakati, rapat diadakan. Di dalam sebuah ruangan ketegangan semakin terasa setelah pemilik saham mengungkapkan opini masing-masing. Belum lagi tanya jawab yang diberikan komisaris. 


"Sekretaris Irene, kau bekerja bertahun-tahun disini apa yang kamu ketahui tentang atasanmu." 

__ADS_1


Irene menatap sejenak ke arah Bree sebelum menjawab. Gadis itu berharap sang atasan berkata meski dengan isyarat. Tapi sayang Pimpinan Tyaga itu hanya diam saja. 


"Semenjak bangun dari koma, tuan Bree memang mengalami perubahan. Sering berhalusinasi dengan zaman kuno." 


"Tuan Bree memang menjalani pengobatan. Pimpinan kami tidak dalam gangguan mental, tuan Bree bisa bekerja dengan baik selama ini bahkan membuat gebrakan baru yaitu perfume plumeria." Sahut Luna jujur dan membela. 


"Sebenarnya saya yang mengatur itu, Tuan Bree hanya mengikuti." Reiki ikut bersuara. "Memang saat bangun dari koma, tuan mengalami ketidak wajaran maka dari itu saya berinisiatif pencari pengobatan. Tapi sejauh ini tuan Bree sehat sesuai dengan laporan medis tentang kesehatannya dan juga laporan kesehatan dari dokter menangani kejiwaannya." Laki-laki itu meletakan laporan kesehatan yang telah dipersiapkan dari Reiki dan juga dari Filia. 


"Dan secara tidak langsung, kalian menyetujui kalau Bree memang dalam kondisi gangguan mental." Salah satu komisaris menunjuk kasar kertas laporan kondisi kesehatan si tuan muda di atas meja. "Hasil yang beredar laporannya jika Tuan Bree belum dinyatakan sembuh. Dimana antara dua laporan ini yang benar?"


Reiki, Luna dan Irene menunduk bersama para petinggi lainnya. Para tim pengacara yang diketuai oleh Kaili juga tak bersuara. Karena mereka memang benar-benar tidak tahu. 


"Pengacara Kaili, buktikan kebenaran tentang dua laporan kesehatan itu dan cari dokter yang menangani tuan Bree. Minta pertanggung jawabannya kenapa dua surat itu berbeda hasil laporannya ?" 


"Baik, saya akan mengecek kebenaran surat ini. Paling lambat nanti sore." Kaili mengangkat kepalanya bersama tim pengacara lainnya.


"Rapat sampai disini, siapkan nama dua kandidat yang akan menggantikan posisi Bree." 


Semua anggota rapat keluar tanpa suara masih dengan keterkejutan mereka. Karena Bree akan dilengser meskipun pemilik saham terbesar. Namun kondisinya yang tidak sehat jiwa, membuat dirinya akan meninggalkan kursinya. 


Setelah ruangan sepi, Irene dan Luna mengucapkan maaf berkali-kali. Dengan perasaan terluka kedua gadis itu menyeret langkah keluar. 


"Tuan, maaf karena keputusan saya. Anda menghadapi ini semua." Reiki menundukan kepala tak kuasa menatap wajah sang atasan. Putih manik mata laki-laki itu telah berganti merah dengan kaca-kaca kristal yang mengurung. "Seharusnya saya tidak gegabah mengambil keputusan dan meminta dokter Filia terlibat. Maafkan saya." Sambung nya dengan pita suara sedikit bergetar. 


Bree tersenyum tipis lalu membawa tubuhnya bangkit ke sisi jendela kaca ruangan itu. Obsidian hitam pekatnya melihat kebawa di mana para karyawan yang berdemo membawa spanduk meminta penurunan dirinya dari kursi kepemimpinan. Tak lama suara yang sayup terdengar dari ketinggian dimana kakinya berpijak saat ini nampak diam dan tenang. Seorang perwakilan komisaris berdiri di hadapan para pendemo untuk bicara. Tak berselang lama pendemo itu membubarkan diri dari pelataran gedung. 


...----------------...


"Kau lihat dari hasil kecerobohan mu?" Eros menatap tajam ke arah Filia dan Xavier yang menonton televisi. "Bree dilengser dan tiga hari lagi penunjukan pimpinan baru Tyaga Group." 


"Tapi kami tidak membocorkannya." Sangga Xavier cepat. Dua manik matanya melirik ke arah Eros. "Dan laporan yang asli adalah yang diberikan Filia. Tapi dari mana laporan yang satunya itu beredar ?" 


"Bagaimana bukti-bukti itu bisa keluar ? Sementara Reiki selama ini bekerja dengan hati-hati dan teliti. Kalau kalian memang bertanggung jawab dengan kondisi seseorang maka kalian pasti berhati-hati." Eros berkata penuh dengan isyarat jika pihak Filia dan Xavier  yang ceroboh dengan informasi Bree yang beberapa kali datang ke rumah sakit jiwa. "Aku bisa pastikan kedua laporan itu sama aslinya karena dikeluarkan dari rumah sakit ini." 


"Aku tidak peduli tidak mau memperdulikannya. Masalah ini bukan masalahku !" Dengan tegas Filia berucap. Hati gadis itu tak merasa tersentuh dengan masalah yang dihadapi Bree. 


 

__ADS_1


__ADS_2