Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Uji Coba


__ADS_3

Siluet pagi nampak di ufuk timur. Demi udara segar tanpa terkontaminasi, Bree Tyaga Adrian sudah membuka pintu balkon kamarnya. Kebiasaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, laki-laki itu mendaratkan tubuh di sebuah kursi lalu menatap jauh. 


"Ratu aku merindukanmu." Bergumam pelan melepas rasa rindu dengan sebuah ungkapan. 


Pandangannya jatuh pada tanah kosong yang akan di bangun taman plumeria. Bree Tyaga akan membangun taman yang pernah ia buat untuk ratu di istana. Sebagai simbol pengabdian dan keabadian. Seperti cintanya yang abadi hingga menyeretnya ke lorong waktu berbeda.


"Tuan, anda sudah bangun ?" Reiki mendorong daun pintu dari luar. "Saya boleh masuk ?" Tanyanya kembali.


"Iya, masuk saja." 


Reiki mengayunkan langkah, lalu menghampiri Bree di balkon kamar. "Tuan, mulai hari ini taman plumeria akan dibuat dan juga beberapa perabotan sesuai keinginan anda segera datang." Ucapnya menjatuhkan diri di kursi. 


"Untuk taman plumeria, biar aku yang mengaturnya. Ambil kertas dan pena bulu." 


"Pena bulu ?" Reiki menatap heran.


"Ya pena bulu, aku sendiri yang akan menggambar tamannya. Seperti taman yang pernah aku buat untuk ratuku." Senyum bangga terukir di wajah Bree. Bahkan binar matanya penuh kehangatan.


Reiki mengangguk lalu pergi ke ruang kerja. Sangat disayangkan jika pena bulu di gunakan. Sebab, itu merupakan hadiah yang diberikan mendiang kakek Bree Tyaga Adrian. Selama ini sebelum kecelakaan terjadi Bree tidak pernah menggunakannya. 


"Ini Tuan." Reiki meletakan pensil bulu beserta tintanya di atas meja. Tak lupa pula kertas kosong sebagai tempat menggambar. 


Bree meraih pena bulu itu. "Kau tahu ini hadiah dari mendiang kakek ku dan akan aku gunakan untuk menggambar taman plumeria. Jika nanti ratuku kembali, maka taman kesukaan nya sudah siap." Laki-laki itu mencelupkan pena bulu ke dalam tinta. 


"Tuan, berita bangunnya anda sudah tersebar. Apa perlu saya menambahkan pengawalan ?" 


"Tidak perlu, bagaimana kasus kecelakaan ku?" Bree masih menggores kertas dengan tinta pena bulu 


"Saat itu, kendaraan yang digunakan anda sebagai uji coba sudah di sabotase. Mekanik yang melakukannya menghilang entah kemana, hingga saat ini belum ada titik terangnya." Jelas Reiki. "Sebelum kecelakaan itu, apa ada yang anda ingat?" 


"Iya." 

__ADS_1


...----------------...


Kilas balik…


Enam bulan lalu…


Tyaga otomotif mengeluarkan produk baru, mobil sport yang dilengkapi alat-alat canggih. Sebelum dipasarkan, Tyaga otomotif mengadakan uji coba kelayakan dan keamanan untuk konsumen. 


"Anda siap, Tuan?" Reiki menghampiri Bree yang tengah bersiap. 


"Iya, aku akan pergi ke pemakaman kedua orang tuaku. Sebelum hari peluncuran produk baru Tyaga otomotif. Aku ingin menunjukkannya kepada Papa. Pasti beliau senang." 


"Saya akan menyiapkan acara peringatan kematian tuan dan nyonya besar." Reiki mengikuti langkah Bree untuk keluar dari ruangannya. 


"Cuaca sangat cerah." Bree menengadahkan wajahnya ke atas. "Kalian pantau melalui monitor itu, aku tidak lama." Laki-laki ini melanjutkan langkah ke arah mobil.


"Hati-hati tuan, semoga uji coba ini berjalan mulus." Doa Reiki menutup pintu mobil. 


Beberapa karyawan dan petinggi kantor mengantarkan Bree untuk uji coba, keberangkatan nya kali ini tidak didampingi Reiki dan juga sopir pribadi. Di kursi sisi kemudi satu buket bunga telah ia persiapkan. Bree mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Apa itu?" Tunjuk salah satu manajer ke arah tempat mobil Bree terparkir sebelumnya.


Reiki melangkah menatap badan mobil yang menjauh. "Apa sebelum mobil tuan di sini ada mobil lain ?" Tanyanya dengan nada cemas.


"Ada Tuan, mobil milik salah satu karyawan." 


"Semoga saja aman." Gumam Reiki. "Hari ini tuan Bree ingin mencoba sedikit jauh." Sambungnya lalu menghubungi Bree. "Tuan, bagaimana ?"


"Rei, aku belum jauh." 


"Hati-hati, Tuan." Reiki memutuskan telepon. Ia duduk di salah satu kursi lalu memantau monitor yang mengawasi mobil.

__ADS_1


Bree Tyaga Adrian mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata. Laki-laki itu mencoba seluruh fasilitas yang ada di dalam mobilnya. Semua nampak normal dan bisa di gunakan. Senyum bangga pun mengembang sempurna di bibir. "Papa pasti bangga." Gumamnya menambah kecepatan. "Pemandangan laut memang menyegarkan mata." Bree melemparkan tatap sekilas ke arah laut. Perjalanan semakin jauh meninggalkan jantung kota. Kini mobil Bree sudah memasuki pinggiran kota dimana tempat kedua orang tuanya di makamkan. Bree berniat mengurangi kecepatan karena tujuannya hampir sampai.  "Kenapa ini ?" Ia menginjak pedal rem tapi tidak terlalu mengurangi laju. Semakin lama rem semakin tidak berfungsi. 


Bree mengirim sinyal kepada Reiki tapi sayang semua perangkat navigasi tidak berfungsi. Laki-laki itu berusaha mengurangi kecepatan yang ia bisa namun na'as dari arah depan ada truk yang bergerak ke arahnya. Hingga keseimbangan pun tak dapat lagi. Mobil Bree menghantam tebing lalu terbalik. Laki-laki itu merasakan benturan begitu keras menghantam badan mobilnya, Bree tak bersuara menahan sakit yang begitu dahsyat di tubuh. 


Di tempat lain Reiki panik mobil Bree tidak terlacak lagi. Warna merah yang bergerak di layar monitor berhenti dan hilang.  "Susul Tuan Bree !" Laki-laki itu gegas pergi ke halaman kantor usai meminta sopir menjemput mobil milik Bree. Ia membawa beberapa orang kepercayaan untuk menyusul atasannya. Di tengah perjalanan Reiki mendapatkan telpon dari nomor tak dikenal. "Hallo." Jawabnya sambil meminta sopir menambah kecepatan karena jalanan sedikit sepi. 


"Tuan, kami menemukan tuan Bree Tyaga Adrian mengalami kecelakaan." 


"Ya Tuhan, bagaimana kondisinya?" Reiki gemetar hebat beriringan dengan pita suara yang sedikit bergelombang.  Kecurigaannya benar. Perasaan nya sudah tidak nyaman melihat ada setitik cairan di bawah mobil Bree. Jantung laki-laki itu seolah lepas dari biliknya, karena degupan kencang yang menghantam. 


"Sangat parah, sekarang kami dalam perjalanan ke rumah sakit. Anda menyusul ke sana saja. Saya akan kirim alamatnya." 


"Baiklah." Reiki meminta sopir untuk mengurangi kecepatan sambil menunggu share location rumah sakit yang dituju. "Harusnya aku memeriksa cairan itu." Gumamnya penuh sesal. Satu titik air mata mewakili rasa yang tidak dapat diungkap jatuh membasahi kemeja asisten tampan itu. 


Pesan masuk, kini Reiki langsung meminta sopir untuk menyusul Bree ke rumah sakit. Setiba disana ia gegas berlari menuju ruang IGD. 


"Tuan." Panggil salah satu pasangan suami istri. 


"Anda yang menolong tuan Bree ?" 


"Iya, kami baru pulang berkunjung dari makam putra kami. Dan menemukan mobil terbalik, suami saya mengenali pengemudi nya, Tuan Bree." Jelas wanita paruh baya itu.


"Terimakasih sudah menolongnya." 


"Sama-sama Tuan, karena anda sudah disini kami harus pulang. Karena malam ini upacara peringatan kematian putra kami." Pamit seorang laki-laki paruh baya. 


"Baiklah, terimakasih." Reiki mengantarkan mereka hingga keluar dari halaman rumah sakit 


Kilas Balik selesai.


  

__ADS_1


__ADS_2